ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Murka Shaka 2


__ADS_3

"Kerumah sakit sekarang!!!." Teriaknya hingga otot-otot lehernya menonjol keluar.


Lelaki itu membopong tubuh Gloria yang sudah terkulai, "Kalian bodoh! Kenapa masih berdiri disini, cepat siapkan mobil.!!" Gertakan Shaka membuat semua pengawalnya berhamburan dan menuju mobil masing-masing, meninggalkan orang-orang yang masih terpaku dengan apa yang mereka lihat.


Sedangkan Joelly, wanita itu terduduk di lantai karena ia sadar sepertinya ia sudah berurusan dengan orang yang salah. Beberapa bisikan juga terdengar dari orang-orang di kerumunan itu, banyak di antara mereka yang takut dan terkejut.


Sam berlari secepat yang kakinya bisa, menuju mobil yang terparkir kemudian membuka pintu untuk Tuan mudanya. Sedetik kemudian mobil itu melaju kencang di jalanan.


"Pak, ijinkan saya ikut. Gloria adalah sahabat saya, kumohon." Yuna menghentikan mobil pengawal yang akan meninggalkan tempat parkir, wanita itu masih menangis mengingat kondisi sahabat baiknya.


"Baik, silahkan nona masuk." Tanpa pikir panjang pengawal itu menyuruh Yuna masuk ke dalam mobil, karena pengawal itu melihat sendiri saat Yuna menangis sambil memeluk nona mudanya tadi.


Sebulir airmata lolos dari mata Shaka, jatuh tepat mengenai pipi Gloria. Ketegarannya runtuh saat merasakan darah dari balik gaun Gloria semakin banyak, "Ku mohon, kalian harus baik-baik saja." Lirih lelaki itu dengan mata memerah menahan airmatanya agar tak tumpah semakin banyak.


Shaka menatap wajah Gloria yang semakin pucat, entah Shaka mencintai atau tidak wanita yang kini ia rengkuh, terlepas dari itu saat ini ia hanya ingin menjaganya seperti janji yang sering ia ucapkan kepada Gloria.


Ia terus memeluk erat tubuh istrinya itu di sepanjang jalan menuju rumah sakit, ia sesekali mengecup singkat dahi Gloria yang dingin. Dan merapalkan segala doa yang ia bisa agar Tuhan menyelamatkan istrinya.


Ia terus memberi tatapan sendu ke wanita yang memejamkan matanya itu, "Buka matamu.. Sayang kumohon.." Lirihnya.


Sam yang mendengarnya pun dapat merasakan kecemasan yang kini melanda bos nya itu, karena ia belum pernah melihat seorang Arshaka takut kehilangan dan memohon kepada wanita manapun termasuk kekasihnya dulu. Sungguh tuan mudanya saat ini berbeda jauh dari yang selama ini ia kenal.


"Kau menginjak gas atau rem!!." Bentakan Shaka dari kursi belakang sukses membuat Sam membuyarkan segala lamunannya. "Lebih cepat lagi!!."


**


Akhirnya mobil yang di kendarai Sam tiba di rumah sakit terdekat, ia bergegas membuka pintu agar tuannya bisa segera keluar.


Beberapa perawat datang dengan mendorong brangkar, "Tuan letakkan nona di sini.."


"Minggir! Tanganku masih kuat untuk menggendongnya.. Dimana letak ruangannya!!" Bentak Shaka pada para perawat tadi, dengan cepat perawat itu menunjukkan jalan agar Shaka mengikutinya ke ruang operasi.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka tiba di depan ruang operasi, "Sayang.. buka matamu?! Kau dengar aku kan?!" Lirih Shaka sambil perlahan membaringkan tubuh Gloria ke brangkar.


"Maaf Tuan, Anda tidak di ijinkan masuk." Ucap dokter yang akan menangani Gloria.


"Kenapa! Aku suaminya, kau tidak berhak melarangku!!." Bentak Shaka pada Dokter tersebut, dengan sigap Sam menghalangi Shaka yang akan menerobos pintu. Dan dengan cepat perawat yang lain menutup dan mengunci pintu operasi.


"Tenanglah bos, Nona pasti baik-baik saja." Sam mencoba menenangkan Shaka namun ia malah mendapat hantaman keras dari tangan Shaka tepat di perutnya.


"Apa kau buta Sam! Istriku tak sadarkan diri dan dia pendarahan.!." Lagi, Shaka melayangkan tinjunya namun gagal karena bertepatan saat semua pengawalnya tiba disana sehingga mereka menahan tubuh Lelaki itu.


"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan.!" Teriak Shaka seperti orang yang kesetanan.


Yuna yang berada jauh di belakang pengawal yang lain hanya bisa menyaksikan adegan di depannya tanpa berani membuka suara.


"Bos! Tenanglah! Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk nona Gloria." Sam masih mencoba membujuk tuan mudanya itu.


"Aaahh sial kau Sam!!. Dimana pengawal yang menjaga istriku tadi.!" Teriakan Shaka memenuhi koridor rumah sakit. Pengawal yang dimaksud pun mendekatkan diri kehadapan tuan nya sambil menelan ludahnya sendiri.


Beberapa saat kemudian barulah Shaka sedikit tenang dan berhenti memberontak sehingga 3 pengawal yang memeganginya pun melepas tangan mereka.


"Tuan.. Sebaiknya kita berdoa untuk keselamatan nona Gloria." Lirih Sam sambil menepuk pelan pundak Shaka.


Lelaki itu mengacak-acak rambutnya frustasi, bagaimana ia bisa tenang sedangkan istrinya sedang tak sadarkan diri di dalam sana.


Tiba-tiba sorot matanya terhenti pada sosok perempuan bergaun biru yang berdiri sekitar 10 meter darinya, "Kau.. Kemarilah." Ucapnya pada perempuan itu.


Dengan kaki yang sedikit bergetar Yuna berjalan ke arah Shaka. Menepis semua keterkejutan tentang yang ia ketahui malam ini, karena yang lebih penting adalah keadaan Gloria dan anak dalam kandungannya.


"Tuan.. " Ucap Yuna setelah berada di depan Shaka.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada istriku. Katakan semuanya jangan melewatkan sedikitpun." Ucap Shaka dengan sorot mata dingin dan menelisik.

__ADS_1


"Baiklah, begini tuan..." Yuna menceritakan mulai dari Joelly mendorong dan menumpahkan kan minuman di gaun Gloria, lalu mengatakan hal-hal yang tidak pantas kepada Gloria kemudian mendorong lagi sehingga Gloria terjatuh karena Yuna tak cukup cepat menahan tubuh sahabatnya itu.


"Dan lagi tuan, Joelly menyebut anak dalam kandungan Gloria sebagai... anak haram." Ucap Yuna sedikit ragu.


Shaka yang mendengarnya pun semakin meradang, berani sekali gadis kecil yang bernama Joelly itu mengusik hidup istrinya.


"Sam!!. Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?." Kini pandangan Shaka beralih pada sekretaris yang baru saja ia hajar itu.


"Tentu bos!! Aku akan membuat gadis itu berlutut memohon ampun pada mu dan nona Gloria." Sam mengepalkan tangan dan juga mengeraskan rahangnya, ia juga geram setelah mendengar cerita dari Yuna. "Aku akan memberinya balasan berlipat-lipat dari yang nona Gloria rasakan saat ini, hingga ia tak bisa lagi merasakan tidur dengan nyenyak." Gumamnya, kemudian ia merogoh ponsel dari saku jas yang ia kenakan dan menghubungi seseorang.


30 menit berlalu, Shaka masih menatap pintu operasi yang belum terbuka. "Kenapa lama sekali Sam.. Aku sudah tak sabar ingin menemui istriku." Lirih Shaka yang duduk kursi tunggu.


"Sabar bos.." Hanya itu yang keluar dari mulut Sam, karena kalau ia banyak bicara dan ternyata salah menurut Shaka maka Sam akan di jadikan samsak tinju lagi.


Selang beberapa lama pintu ruang operasi terbuka, dan muncullah wanita cantik ber jas putih dari sana.


"Dokter.. Bagaimana keadaan istri saya." Shaka segera menghampiri wanita yang memakai jas putih itu dan melayangkan berbagai macam pertanyaan.


"Tuan Shaka, istri anda baik-baik saja. Tapi..." Memberi jeda sejenak kemudian menghela nafas, " Kandungannya.."


"Jangan kau katakan, jika itu adalah hal buruk aku tak ingin mendengarnya." Shaka memotong kalimat dokter yang belum utuh.


Shaka bukan orang bodoh, ia tahu betul dengan apa yang akan di katakan oleh dokter itu. Ia harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi karena ia merasakan sendiri darah yang keluar dari organ intim Gloria, begitu banyak hingga jas dan celana yang ia kenakan saat ini terlumur oleh darah itu. Jika saja pakaian yang ia kenakan tak berwarna hitam, sudah pasti akan membuat tak nyaman orang yang memandangnya.


Dokter itu mengangguk lalu pergi tanpa berucap apapun lagi, meninggalkan Shaka dan yang lainnya di sana.


"Bos..." Sam mencengkram pundak Shaka yang bergetar, entah lelaki itu sedang menahan amarah atau airmata. Yang jelas, tubuh Shaka benar-benar bergetar hebat.


Sedangkan Yuna, airmata perempuan itu sudah tumpah untuk yang sekian kalinya dalam malam ini. Bagaimana tidak, ia sudah berteman sejak lama dengan Gloria. Tentu saja ia merasakan kesedihan yang luar biasa atas hal yang menimpa Gloria sekarang.


Mereka masih melayang dengan pikirannya masing-masing hingga suara roda brangkar mengalihkan pandangan mereka pada sosok wanita yang terbaring di atasnya.

__ADS_1


***


__ADS_2