ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Rencana Jacob


__ADS_3

Tepat pada pukul 4 dini hari mobil yang di tumpangi Gloria tiba di pinggiran kota, di sebuah desa kecil yang nampak sunyi karena penduduknya masih banyak yang terlelap. Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang terlihat tua namun cukup besar dan terawat, "Alamatnya benar yang ini." Ucap wanita itu pada sang supir.


Gloria turun dan mengedarkan pandangannya pada sekitar rumah, nampak sedikit menyeramkan karena hari masih gelap apalagi beberapa pepohonan tumbuh di sisi samping rumah itu. "Pak, sekarang bapak boleh pulang. Terimakasih sudah mengantar saya sampai sini, saya minta maaf karena sudah mengganggu jam tidur bapak." Gloria memasang wajah bersalah.


"Itu memang sudah tugas saya, jadi nona muda tak perlu sungkan. Nona kalau butuh bantuan saya silahkan hubungi nomor saya, nona masih menyimpannya kan?." Tanya supir itu yang merupakan supir pribadi Gloria.


"Tentu saja pak, sekali lagi terimakasih." Selain bibi Rick, Gloria juga cukup akrab dengan sang supir karena sudah beberapa bulan supir itu menemani Gloria pulang pergi ke ke kampus.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Sebentar lagi matahari akan muncul saya harus sampai rumah sebelum tuan muda pulang, kalau tidak tuan muda pasti akan curiga. Saya harap Nona bisa jaga diri sebaik mungkin." Ucap supir itu yang di angguk Gloria, di menit berikutnya supir itu sudah melajukan mobilnya menjauh dari pekarangan rumah itu.


Sepeninggal supirnya, Gloria meraih kunci pemberian bibi Rick dari dalam sakunya dan mulai memasukkannya ke lubang pintu.


Ceklek..


Pintu terbuka, terlihatlah ruangan yang bersih dengan lampu yang sudah menyala. "Mungkin seseorang membersihkan rumah ini dengan teratur." Gumam Gloria ketika matanya tak menangkap sedikitpun debu dalam ruangan itu.


Dengan asal ia memasuki salah satu ruangan yang ia yakini sebagai kamar, dan benar saja saat ia membukanya terlihatlah sebuah ranjang berukuran sedang berada di dalamnya. "Aku akan istirahat sebentar sebelum menjelajah rumah ini." Ucapnya saat rasa kantuk tiba-tiba datang menghampiri.


Ia berbaring menatap langit-langit kamar dan teringat kembali dengan seseorang yang ia cintai. "Aku berharap masih bisa bertemu denganmu, bagaimana bisa kau menyuruhku pergi dari hidupmu begitu saja sedangkan hatiku sudah kau bawa. Aku mencintaimu Shaka.."


***


Hari sudah siang, Shaka masih berada di apartemen Samuel. Ia masih di sibukkan dengan pencarian lelaki yang ada di foto bersama Gloria, yang tak lain adalah Jacob.


"Bodoh!!. Apa saja yang kalian lakukan, mencari 1 kecoak kecil saja kalian tak becus.!." Bentak Shaka pada bawahan yang ia kerahkan. Salah satu orang kepercayaan nya melaporkan jika memang Jacob lah dalang di balik pengiriman foto dan bunga. Dan tepat setelah mengirim bunga ke rumah Shaka, Jacob melakukan perjalanan ke luar negri.


"Cari dia secepat mungkin, gunakan pesawat milikku.!. Berani-beraninya dia bermain denganku!." Shaka mengeratkan rahangnya hingga terdengar suara gertakan dari gigi-giginya.


Sam memberikan intruksi kepada seseorang di ujung telfonnya untuk menyiapkan pesawat milik Shaka. Namun tepat setelah ia mengakhiri panggilan seorang ahli IT berteriak keras padanya.


"Sekretaris Sam, aku menemukannya! Dia tidak keluar negeri! Melainkan ia masih di kota ini. Dia berada di sebuah apartemen kecil di sudut kota!!."


"Sial!! Bren*sek itu mengecoh kita." Umpat Sam sambil mengepal tangannya.


"Karena dia yang memulai mari kita ikuti permainannya. Sam, kita ke sana sekarang." Ucap Shaka dengan sorot mata membunuh.


Tanpa menunggu waktu lama, Shaka dan Sam menuju ke tempat di mana Jacob berada di ikuti para anak buah mereka.


***


"Kepung semua tempat, pastikan lelaki Bren*sek itu tak bisa kabur kemana pun!." Perintah Sam pada anak buahnya, ia menempatkan banyak anak buahnya sebelum jarak 20 meter dari apartemen.


Awalnya ia dan anak buahnya akan langsung masuk ke apartemen yang Jacob tempati, namun Shaka memaksa ingin menyelesaikan sendiri urusannya dengan Jacob.

__ADS_1


"Ini bos.. Dia di dalam sini." Ucap seorang ahli IT menunjuk sebuah kamar bertuliskan nomor 061. "Aku akan meretas passwordnya."


Beberapa saat kemudian, pintu apartemen itu berhasil terbuka.


BRAK...


Shaka menendang pintu sekuat kakinya. "Keluar kau Bren*sek.!." Teriak Shaka dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.


Terlihat seorang lelaki sedang duduk santai di ruang tamu sambil menyesap secangkir kopi. "Kau tak perlu berteriak, bukankah aku sudah ada di depanmu sekarang?." Seringai jahat muncul di bibirnya.


Bug.. Shaka melepas pukulannya ke wajah lelaki itu hingga berdarah di sudut bibirnya.


"Ooh.. Ternyata CEO ARS Corp memiliki tempramen yang sangat buruk, bukankah tak sopan jika bertamu ke tempat oranglain dan langsung memukul sang tuan rumah." Mengelap darah di bibirnya dengan jempolnya.


"Hentikan omong kosongmu Jacob!, apa maksudmu mengirim foto-foto dan bunga itu!!."


"Hahaha." Jacob tertawa keras. "Bukankah sudah sangat jelas?, aku hanya menunjukkan rasa cintaku pada kekasihku. Apa aku salah jika menunjukkan foto mesra ku bersama kekasihku?.. Ups.. Maksudku istrimu." Ucap Jacob dengan entengnya.


"Kau!!!.."


Bug..


Shaka mendaratkan pukulannya di perut Jacob hingga lelaki itu tersungkur ke lantai.


"Aah.. Ini sedikit menyakitkan.." Jacob meringis memegang perutnya lalu berusaha kembali berdiri. "Apa kau juga melakukan ini kepada istrimu setelah kau tahu tentang kami?."


"Oh! Dari raut wajahmu sepertinya kau melakukan hal yang sama kepada istrimu, dia pasti sedang kesakitan saat ini. Ternyata kekejaman tuan muda Shaka bukan hanya sekedar rumor, bahkan kepada istrinya juga tak segan berbuat kejam. Apa kau juga mengusirnya?."


Deg..


Lagi, jantung Shaka seakan mau berhenti setelah mendengar kata yang Jacob lontarkan lagi. Raut wajahnya semakin memburuk.


"Hahaha... Kau tak usah menjawab, aku sudah tahu jawabannya." Jacob kembali tertawa lantang, ia merasa saat ini kemenangan sedang berpihak padanya.


"Kau pasti sudah merencanakan ini kan!!." Bentak Shaka geram.


"Menurutmu?." Jacob menyeringai puas. Kali ini ia pasti akan mendapatkan gloria lagi.


"Brengsek!! Dasar bedebah!." Shaka memukul Jacob lagi namun kali ini Jacob menepis pukulan Shaka.


"Sebaiknya kau segera cari istrimu sebelum aku menemukannya. Ooh tunggu! apa menurutmu dia mau kembali pada lelaki kejam sepertimu?. Kurasa tidak!."


"Benar, apa Gloria mau kembali dengan lelaki kejam sepertiku? Aku telah mengusir dia dari rumah tanpa memberi dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya, dan aku bahkan... Berkata cerai padanya." Dalam batin Shaka.

__ADS_1


Seketika matanya melebar saat ia teringat dengan perkataannya yang akan menceraikan Gloria, bagaimana bisa ia dengan mudah berkata seperti itu. Bukankah ia sudah berjanji akan menjaga Gloria sebaik mungkin seumur hidupnya.


"Sial!!." Shaka memaki dirinya sendiri.


"Hahaha.. Setelah kau membuang istrimu, aku akan mengambilnya kembali. Hmm.. Dia pasti butuh sandaran saat ini, aku akan mendatanginya dan memberinya belaian serta kasih sayang, dia pasti akan luluh dan kembali ke pelukanku." Jacob berucap dengan penuh percaya diri.


"Kau sengaja menjebakku agar kau bisa merebut dia dari sisiku!! Sepertinya peringatanku terkahir kali tak membuat mu Jera. Brengsek aku akan menghabisimu!." Shaka ingin sekali menghabisi lelaki yang ada di depannya, ia mencoba memukulnya lagi namun Sam segera menghentikannya.


"Bos.. Biarkan anak buah kita yang melakukannya. Sebaiknya kau segera pulang dan memastikan keadaan nona Gloria." Ucap Sam tepat di telinga Shaka.


Tanpa berkata lagi, Shaka bergegas keluar dari apartemen Jacob.


"Kalian bereskan ******** ini, jangan langsung membunuhnya. Aku tak mau dia merasakan kematian dengan begitu mudah." Ucap Sam pada anak buah yang menemaninya, namun sorot matanya tertuju tajam pada lelaki yang kini di depannya. "Kau nikmatilah hadiah dariku sebaik mungkin, itu balasanmu karena berani mengusik hidup tuan kami."


Di detik berikutnya Sam sudah melangkahkan kakinya menyusul Shaka keluar dari tempat itu.


***


"Bos.. Are you oke?." Tanya Sam pada Shaka yang sedari tadi termenung.


"Fokus saja menyetir, tambah kecepatannya agar kita segera sampai rumah." Ucap Shaka dengan suara lemah.


"Bos.. Kau pasti memikirkan nona, kenapa tak menelpon nya?." Saran Sam.


"Tidak, dia pasti tak mau mengangkat telpon dari ku." Shaka menghela nafas berat.


"Kalau begitu telfon kerumah, dan tanya tentang nona Gloria kepada bibi Rick."


Shaka menghela nafas lagi, kemudian merogoh ponsel dari dalam sakunya.


Tut.. Tut..


"Halo." Terdengar suara wanita separuh baya.


"Bibi Rick, bagaimana keadaan istriku?." Tanya Shaka langsung.


"Itu... Nona muda.. Pergi dari rumah dini hari tadi."


Shaka menghela nafas lagi, ia sudah tahu ini pasti terjadi karena dia sendiri yang menyuruh istrinya angkat kaki dari rumah.


"Aku akan segera pulang.."


Tut. Tut.. Shaka mematikan telponnya.

__ADS_1


"Bagaimana bos?." Tanya Sam tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Namun Shaka tak menjawab apapun, lelaki itu hanya diam dan sesekali memejamkan mata.


**


__ADS_2