ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Menebak


__ADS_3

Deg.. Jantung Shaka seakan berhenti berdetak sejenak, Shaka langsung mematikan panggilan telfonnya. Gloria hamil itu artinya ia akan menjadi seorang ayah, ada perasaan yang bergemuruh meluap-luap dari dalam dadanya.


"Perasaan apa ini? Bahagia? Bukan!! Lebih dari sekedar bahagia." Gumam Shaka.


"Sam, segeralah kemari!." Shaka memanggil Sekretarisnya melalui interkom.


"Segera bos.!"


Tak butuh waktu lama, Samuel sudah muncul di hadapan Shaka.


"Ada apa kau memanggilku bos?." Samuel duduk di sofa tanpa di suruh.


"Sam, batalkan semua rapat hari ini! Aku akan pulang sekarang." Shaka memakai jas yang tergantung rapi di belakang kursinya.


"Apa!!." Spontan Samuel berdiri dari duduknya. "Tidak bisa, siang ini kau ada meeting dengan Mr. Louise dari perusahaan hamillton. Dia jauh-jauh terbang dari Spanyol untuk bertemu denganmu di Deluxe restaurant.


"Kau gantikan aku!" Shaka meraih tas kerjanya.


"Tidak bisa!! Mr. Louise ingin bertemu langsung denganmu. Dan sore harinya kau ada janji dengan Mr. Douglas Wayne dari perusahaan Mountaria group." Samuel merentangkan tangannya untuk menghadang Shaka yang akan pergi.


"Shiit!!." Shaka membanting Tasnya ke atas meja hingga beberapa berkas berhamburan. "Sial kau Sam!."


"Haha.. Jangan salahkan aku jika kau tak ingin perusahaan mu bangkrut." Sam tertawa keras melihat bos nya frustasi.


"Kau benar-benar sekretaris sialan Sam!." Akhirnya Shaka duduk kembali ke kursinya yang empuk.


"Bagus!! Duduklah yang manis seperti itu.!." Samuel mengerlingkan matanya.


"Samuel!!!." Shaka berteriak sangat keras sambil melempar sepatunya ke wajah Sam, sehingga Sam lari terbirit-birit keluar dari ruangan Shaka.


"Sekretaris Sam, kenapa kau lari seperti di kejar anjing gila." Tanya salah satu karyawan wanita yang sedang melewati ruangan Shaka.


"Hah.. Bukan anjing gila, tetapi bos yang hampir gila." Gumam Sam.


"Bos? Hampir gila?."

__ADS_1


"Ya! Bos mu yang galak itu hampir gila karena tak bisa pulang untuk menemui istrinya."


"Istri.. Apa!! Istri!!! Jadi kabar tentang bos sudah menikah itu sungguh benar?" Karyawan itu tampak sangat syok.


"Sudah! Kembalilah bekerja." Teriak Sam menatap tajam karyawan wanita itu.


***


Hampir tengah malam Shaka baru sampai di rumah, ia mengumpat Samuel tiada henti karena gara-gara kecerobohan sekretaris nya itu yang meninggalkan berkas penting untuk meeting dengan Mr. Louise, sehingga ia harus menunda pertemuannya hingga malam hari.


Shaka masuk kedalam rumah yang sudah tampak sepi, ia langsung membimbing kaki jenjangnya menuju kamar.


Ceklek.. Ia membuka pintu, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang menjadi favoritnya, karena di tempat ini ia merasakan nikmatnya memadu kasih dengan seorang wanita.


Shaka berlari kecil saat matanya menangkap sosok wanita yang ingin dia temui seharian ini sedang tertidur lelap di atas tempat tidur. Ia mengelus pelan perut rata Gloria yang tertutup selimut, lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Gloria membuka matanya perlahan saat tidurnya terganggu oleh suara gemericik air dari balik kamar mandi, dan beberapa menit berikutnya air itu tak terdengar lagi tergantikan suara pintu kamar mandi yang terbuka.


Muncullah sesosok lelaki bertubuh kekar dengan handuk terlilit di pinggang untuk menutupi bagian bawahnya. Ia menyisir rambut yang masih basah dengan jari-jari nya sehingga rambut coklat pekat lelaki itu melewati sela-sela jemarinya yang panjang dan putih.


Shaka melihat Gloria yang menatapnya dari tadi, lalu berkata "Kau terbangun? kemarilah bantu aku berganti baju."


"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku, sayang?." Shaka memegang dagu Gloria dan mendongakkan kepala wanita itu menghadap wajahnya.


"Tidak ada." Singkat Gloria memalingkan wajahnya lalu kembali berbaring ke atas ranjang.


"Benarkah?." Shaka menyilangkan tangannya di depan dada. "Lalu apa kau tak akan mengatakan tentang anakku yang berada di perutmu?."


Deg.. Gloria spontan bangun dan menatap Shaka dengan tatapan kaget juga bingung. "Ba.. Bagaimana kau tahu?." Gloria seakan susah mengeluarkan suaranya.


"Apa yang tidak ku ketahui, Istriku?." Ucapan Shaka terdengar seperti sebuah ancaman yang mengerikan.


Bagaimana bisa Gloria melupakan hal itu, lelaki di depannya sungguhlah berkuasa, tidak ada hal sekecil apapun yang tak akan luput darinya, karena mata dan telinganya seakan menyebar di seluruh pelosok negara bahkan dunia. Apalagi di dalam rumahnya sendiri.


"Bibi Rick yang memberitahumu?." Gloria menyeka keringat yang menyelinap melalui pori-pori nya. Ia harus siap dengan segala kemungkinan yang ia takutkan, tentang Shaka yang tak menginginkan anaknya atau Shaka yang akan membuangnya.

__ADS_1


"Tidak penting siapa yang memberitahuku." Tangan Shaka menyibak baju Gloria, dan menyentuh perut Gloria dengan jemarinya yang sedingin es.


"Disini..." Shaka menggantung kata-katanya.


Tubuh Gloria membeku, bahkan untuk bergerak saja ia tak mampu. "A.. Apa yang kau lakukan?." Untuk berbicara saja Gloria harus mengeluarkan semua kekuatan yang ia miliki saat ini.


Tiba-tiba, Shaka membawa tubuh Gloria kedalam dekapannya. "Apa yang kau fikirkan, hingga kau tak mau mengabariku hal sepenting ini?." Ucapan Shaka melembutkan, sangat berbeda dari detik sebelumnya.


"Aku bahagia, sangat bahagia saat mendengar kau hamil, aku akan menjadi seorang ayah."


Ucapan Shaka bagaikan nafas baru bagi Gloria, sungguh! isi hati lelaki dingin itu sangat susah di tebak.


"Kau bahagia?." Gloria berbisik pelan namun telinga tajam Shaka masih bisa mendengar nya.


"Tentu saja! Memang apa yang kau pikirkan?."


"Aku takut kalau saja kau tak menginginkan anak ini." Lirih Gloria.


"Sepertinya kau berfikir terlalu jauh." Shaka menyentil kening Gloria.


"Awww sakit." Pekik Gloria sambil mengelus keningnya yang memerah.


"Aku seorang pria dewasa, tentu saja aku menginginkan anak untuk menemaniku. Jika aku tak memiliki anak siapa yang akan meneruskan bisnisku." Shaka mengelus perut Gloria, entah kenapa jemarinya yang tadinya dingin kini terasa begitu hangat.


"Kau hanya menginginkan anakmu?, apa setelah aku melahirkannya kau akan mengambil anakku dan kau membuangku?."


"Apa yang kau lakukan seharian ini hingga kau punya pikiran yang aneh. Tentu saja aku menginginkan kalian berdua."


"Sungguh?."


"Kenapa kau terus bertanya?."


"Tentu saja aku ingin tahu, karena aku tak akan membiarkan begitu saja jika kau memisahkan aku dengan anakku."


"Apa kau pikir aku akan sekejam itu?, sepertinya otakmu itu sudah tercuci oleh drama yang sering kau tonton, Ck ck ck." Shaka berdecak sambil menggeleng pelan kepalanya. "Sudahlah, sebaiknya kita tidur. Besok kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu."

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya terlelap dengan saling berpelukan.


***


__ADS_2