
"Pasti Sekretaris Sam yang menelfonmu." Ucap Gloria dengan mulut yang masih mengunyah makanan, "Berangkatlah ke kantor kau sudah berdiam lama dirumah, sekretaris Sam pasti sangat membutuhkanmu, Lagipula aku sudah tak apa-apa."
"Tidak, aku masih ingin menikmati waktu bersamamu. Biarkan sekretaris sialan itu mengerjakan tugasnya, aku menggaji nya memang untuk bekerja keras. Kau sudah menyelesaikan sarapan mu? Ayo kita berjalan-jalam di taman belakang." Shaka mengulurkan tangannya.
"Ya!." Gloria meraih tangan Shaka dengan semangat.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di pekarangan belakang rumah Shaka, pekarangan yang di sulap menjadi taman bunga warna warni. Terdapat hamparan bunga-bunga cantik disana, seperti ladang bunga yang luas namun di belakang rumah sendiri.
Gloria memejam matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, aroma harum bunga yang penuh kombinasi menjadi relaksasi bagi yang menghirupnya.
"Ini sangat menenangkan." Gumam wanita itu dengan menggandeng erat tangan Shaka.
"Kau belum kesini sejak aku menunjukkannya padamu saat itu?." Tanya Shaka heran.
"Aaah iya, kau terlalu sibuk kupikir itu tak menyenangkan jika berjalan di taman sendirian." Gloria sedikit tersenyum kecut.
"Maafkan aku, aku akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu. Ku kira selama ini kau takkan mengeluh tentang jadwalku yang padat." Shaka menatap Gloria dengan sorot mata bersalah.
"Tak apa.. Hei lihat! Orang-orang itu sedang berkebun, bolehkah aku bergabung dengan mereka?." Gloria menunjuk beberapa pelayan wanita yang sedang menanam bunga.
Shaka mengangguk, "Ya, tapi kau harus hati-hati."
Tanpa menunggu lama, Gloria berlari dengan riang menuju ke arah pelayan-pelayan itu. Sedangkan Shaka memilih duduk di bangku taman menyaksikan Gloria dari kejauhan.
"Nona.." Para pelayan langsung menghentikan aktifitasnya dan berdiri setelah tahu kehadiran nona muda mereka, kemudian membungkukkan badan mereka serempak.
"Aaah apa yang kalian lakukan, bersikaplah biasa padaku. Jangan samakan aku dengan tuan muda kalian."
Para pelayan itu saling bertukar pandang, lalu melihat sosok tuan mudanya yang sedang berteduh di kejauhan sana sedang menatap ke arah mereka. "Tapi Anda istri dari tuan muda kami, tentu saja kami harus menghormati Anda seperti tuan muda, Nona." Ucap salah satu pelayan.
__ADS_1
"Terserah kalian, ayo lanjutkan hal yang kalian lakukan aku akan bergabung dengan kalian disini." Gloria mengambil beberapa bunga dan mulai menanamnya.
Cukup lama Gloria berkebun ria bersama para pelayannya sampai tak terasa matahari sudah semakin tinggi dan udara juga semakin panas. "Sayang, berhentilah.. Ayo masuk kembali ke dalam rumah, hari sudah semakin siang kau bisa sakit jika berlama-lama di bawah terik matahari." Gloria menoleh ke arah Shaka yang sudah berada di sampingnya.
"Dan kalian! Aku memang membolehkan kalian merawat bunga-bunga ini, namun bukan berarti kalian bisa se-enaknya menghabiskan waktu di sini. Apa kalian tak punya kerjaan lain?!." Shaka beralih menatap para pelayannya dengan pandangan dingin, seketika para pelayannya bergidik dan melarikan diri satu per satu tanpa berani berucap apapun pada tuannya.
"Hei..! Paling tidak kalian mengucapkan permisi dulu padaku!, dasar tak tahu sopan santun.!" Gerutu Shaka pada para pelayannya. Ia berteriak sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah para pelayan yang kabur.
Gloria yang melihat tingkah Shaka pun melempar tawa kecil, "Sudahlah.. Gimana mereka mau berpamitan padamu, sedangkan kamu sudah marah dan mengusir mereka terlebih dulu."
"Ck.. Kau harusnya membelaku bukan lebih membela pelayan-pelayan itu, aku ini suamimu bukan orang la.." Shaka berdecak kesal tanpa henti.
Cup.. Gloria mengecup pipi Shaka agar lelaki itu berhenti bicara, "Sudah.. Ayo masuk ke dalam rumah." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Shaka.
"Sayang.. Bolehkah aku meminta lagi, pipiku yang satu belum kau cium." Shaka mengejar Gloria sambil memegang sisi pipinya yang belum Gloria cium.
***
Ia yang merasakan hembusan angin malam yang semakin kencang mengeratkan tangannya pada segelas teh hangat yang ia pegang, sesekali ia menyesap perlahan.
Ia menikmati waktu senggangnya saat ini, di bawah hamparan cahaya bulan dan awan yang hitam, tak ada satupun bintang yang nampak pada malam ini. "Entah bersembunyi kemana mereka." Gumam wanita itu pelan sembari menengadahkan kepalanya ke atas, hingga tiba-tiba ia merasakan tubuhnya menghangat.
"Sudah ku bilang, jangan terlalu lama bermesraan dengan angin malam." Ucap Shaka yang sudah merengkuh tubuh Gloria dari belakang, "Tak ada yang boleh membelai tubuhmu selain aku, sekalipun itu angin yang melewati kulitmu ini."
"Alasanmu sungguh tak masuk akal." Ucap Gloria tanpa menengok Shaka.
"Setidaknya tatap aku saat berbicara, apakah awan hitam itu lebih menarik dari pada aku sehingga kau tak berhenti menatapnya? apa kau tak tahu kalau aku begitu cemburu?."
"Kau berbicara seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta, segala yang ada di sekitarmu kau cemburui tanpa alasan. Kau terlalu tua untuk itu, suamiku. Hehe." Gloria terkekeh sendiri dengan apa yang ia katakan. Sebenarnya di hatinya sungguh bahagia mendengar pengakuan Shaka yang cemburu untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
"Kau semakin pintar bicara ya.." Shaka mengeratkan pelukannya.
"Ka.. Kau terlalu kencang, aku tak bisa bernafas suamiku. Dan ke arah mana tanganmu itu! apa kau tak bisa mengkondisikan nya." Pekik Gloria saat tangan Shaka merangsak masuk ke dalam bajunya.
"Tentu saja ke tempat favoritku.." Bisik Shaka tepat di telinga gloria.
"Aah.. Hentikan sekarang, gelasku akan terjatuh." Lirih Gloria saat tangannya semakin bergetar karena sentuhan Shaka, seketika Shaka menghentikan aktifitasnya itu lalu mengambil alih gelas Gloria dan menaruhnya di meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ayo kita lanjutkan di dalam." Goda Shaka pada Gloria yang sudah menahan semburat merah di pipinya..
"Tidak!."
***
Sementara itu, di waktu yang sama namun di tempat berbeda. Seorang lelaki tampan berpostur tinggi terlihat sangat kacau di temani banyak botol minuman keras di depannya.
Entah sudah berapa teguk yang ia minum hingga kesadarannya semakin tak terkendali, teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan lelaki itu ber mabuk-mabukan seperti itu.
Sungguh ini bukanlah sifatnya, pemandangan ini sangatlah langka mereka temui. Mengingat perangai lelaki itu yang tak suka pergi ke Bar, apalagi menyentuh minuman keras. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang mereka lihat sekarang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?." Tanya salah satu temannya.
"Mengapa kau bertanya, pasti ini menyangkut tentang hati dan wanita." Saut temannya yang lain.
Dengan kesadaran yang masih sedikit tertinggal, lelaki itu mulai berbicara. "Dia.. Aku sangat mencintainya, namun kenapa dia tak mau kembali padaku."
Teman-teman nya mulai saling pandang dan penasaran, "Dia?."
"Gloria ku.. Wanitaku yang sangat kucintai.."
__ADS_1
***