
Pagi ini, Samuel dengan setelan jas nya sudah duduk di meja makan rumah Shaka, ia bersiul ria seolah dialah sang Tuan rumah. Memakan sepotong sandwich dan meminum susu hangat yang terhidang di meja makan.
"Bibi Rick, dimana Tuan mudamu? Kenapa dia tak kunjung turun untuk sarapan?." Sam bertanya pada Bibi Rick yang sedang memperhatikan pelayan menghidangkan makanan.
"Mungkin sebentar lagi Tuan Sam." Jawab Bibi Rick.
Dan benar saja, dalam hitungan menit nampak Shaka masuk ke dalam ruang makan di ikuti oleh Gloria di belakangnya.
Shaka mengerutkan dahinya ketika melihat sekretarisnya sudah mendahuluinya di meja makan.
"Samuel..!!!" Suara bariton itu menggema didalam ruangan yang cukup besar itu.
"Selamat pagi Tuan.." Sam menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Kau menghilang beberapa hari, dan sekarang muncul di meja makanku.! Berani sekali kau!!." Shaka menarik kursi Sam hingga membuat Sam hampir terjungkal kebelakang.
"Ayolah Tuan.. Aku bukan menghilang, tapi aku sedang perjalanan bisnis." Samuel mengelak dengan alasan pekerjaan.
"Perjalanan bisnis kau bilang?? Perjalanan bisnis bersama wanita-wanita mu!!." Bentak Shaka.
"Ssstt.. Tuan jangan bocorkan rahasiaku, disini ada istrimu, aku tak mau memberi kesan buruk saat pertama bertemu dengannya." Sam berbisik di telinga Shaka, namun suara nya tak cukup pelan sehingga Gloria masih bisa mendengarnya.
"Selamat pagi Nona Gloria." Sam tersenyum ramah pada wanita yang berada di samping bos nya.
"Pagi juga Tuan." Gloria juga membalas senyum Sam.
Shaka melirik mereka bergantian, lalu memukul kepala Sam dengan telapak tangannya.
"Sialan lo Shaka, lo mukul kepala gue." Sam mengelus kepalanya.
"Sam, aku ini bosmu!! Bersikaplah formal padaku. Sudah ku bilang berulang kali, jangan memanggilku dengan panggilan sok akrab seperti itu."
"Kita kan memang akrab bos.. Apa lo lupa dulu kita juga sering tidur berdua." Sam menggerakkan alisnya naik turun.
"Samuel!!, lo bener-bener sekretaris sialan." Bentak Shaka, dia pun akhirnya juga menghilangkan sikap formalnya.
"Tuan, sebaiknya kita segera sarapan." Gloria yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran dua lelaki tampan itu pun akhirnya membuka suara.
"Kau benar Nona Gloria, ayo kita sarapan." Sam menoleh ke arah Gloria.
__ADS_1
Shaka yang melihatnya segera melempar tatapan membunuh ke arah Sam, "Istriku berbicara kepadaku, kenapa kau yang menyahutnya."
"Nona Gloria tadi menyebut Tuan, berarti juga memanggilku. Benarkan Nona Gloria??." Sam kembali tersenyum lebar.
"Samuel!!, berhenti tersenyum seperti itu kepada Istriku, kau takkan bisa menggodanya seperti wanita-wanita mu itu!." Teriak Shaka.
"Dan kau!, jangan tersenyum kepada pria lain selain suamimu." Shaka menatap tajam Gloria.
"Apa kau cemburu?? Upss..." Gloria langsung membekap mulutnya dengan tangan. Bisa-bisanya dia tak bisa mengontrol mulut kecilnya hingga berkata seperti itu.
Sementara itu Shaka terdiam mendengar ucapan yang terlontar dari mulut istrinya, beberapa detik kemudian dia baru membuka suara "Ambilkan aku makanan." Menyerahkan piringnya ke Gloria.
Sementara Samuel sudah terlebih dulu menyantap makanan di depannya, seakan perutnya tak pernah kenyang padahal baru saja dia memakan beberapa potong sandwich.
***
"Bos, kau cemburu? Benarkah itu?." Sam yang menahan rasa penasarannya dari tadi akhirnya bertanya juga.
"Jangan membahas itu, fokuslah menyetir." Shaka menyenderkan punggungnya di kursi dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Tibalah mereka di depan gedung tinggi pencakar langit bertuliskan ARS Corp. Tubuh tegap atletis dan wajahnya yang rupawan membuat setiap karyawan yang di lewatinya terpana, beberapa karyawan wanita memasang senyum terbaiknya berharap sang bos akan menatap mereka. Namun itu hanyalah mimpi yang tak pernah bisa terwujud bagi mereka, karena pandangan Shaka selalu menatap lurus kedepan, tak pernah peduli apa yang di sekitarnya.
"Sam, bagaimana hasil penyelidikan tentang kecelakaan proyek itu." Shaka mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen yang ia pegang.
"Perusahaan menutup rapat kasus itu Bos, aku belum menemukan petunjuk apapun." Sam menggeleng kepala. "Tunggu! Bukankah kau sudah menjadi CEO saat itu?." Lanjut Sam.
"Sam, bukankah saat itu juga kau sudah menjadi sekretaris ku? Harusnya kau lebih tau daripada siapapun kalau saat itu aku baru 1 tahun menjadi CEO, dan itu masih di awasi oleh Ayahku."
"Kau benar juga bos, Oh ya Ayahmu! Kalau itu hanya kasus kecelakaan biasa kenapa Ayahmu menutupi kasus itu."
"Jadi yang kau maksud Ayahku ada hubungannya dengan kecelakaan proyek itu? Atau Ayahku ada hubungannya dengan kematian Ayahnya Gloria, sehingga dia menyembunyikannya?." Shaka mengetuk meja dengan jarinya.
"Aku hanya menduganya bos, aku akan menyelidikinya lagi."
"Jika memang kecelakaan itu ada hubungannya dengan Ayahmu, kau harus memperlakukan istrimu lebih baik lagi bos."
"Kau benar Sam, aku tak pernah mengira ini."
"Baiklah bos kalau begitu aku akan pergi ke ruangan ku, banyak berkas yang harus ku siapkan. Jika sudah selesai aku akan membawanya kesini." Sam melangkah pergi sebelum Shaka mempersilahkannya sehingga ketika ia akan mencapai pintu Shaka memanggilnya.
__ADS_1
"Tunggu Sam."
Segera Sam membalikkan badannya "Ada apalagi bos?."
"Ganti Biodataku di data perusahaan, cantumkan nama Gloria sebagai istriku. Tetapi jangan memajang fotonya."
"Ada lagi bos?"
"Tidak, kau boleh pergi."
"Baik bos." Sam segera pergi meninggalkan ruangan Shaka.
Sepeninggal sekretaris nya itu, Shaka mengurut pangkal hidungnya. Ia menghela nafas berat, ia tak menyangka wanita yang ia nikahi adalah anak dari karyawan ARS Corp yang meninggal karena proyek 6 tahun lalu. Apakah memang takdir sengaja mempertemukan mereka? Haruskah ia melupakan saja kasus itu dan pura-pura tidak tahu.
Tidak, tidak bisa seperti itu. Ia tak akan pernah tenang sebelum mengetahui kebenarannya, apalagi korban proyek itu adalah ayah istrinya yang berarti adalah Mertuanya. Sekarang ia hanya bisa berharap semoga saja kasus itu tak ada sangkut pautnya dengan Ayahnya sendiri. Aku sudah merenggut hidup Gloria secara paksa, aku tidak akan membuatnya terluka lagi.
"Kenapa aku begitu perduli dengan dia??." Gumam Shaka frustasi, ia memijat keningnya, ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan nya sendiri. Hingga ia menemukan alasan yang tepat, "Tentu saja aku peduli karena aku merasa bersalah padanya, lagipula aku adalah suaminya. Ya benar aku adalah suaminya. Seorang suami haruslah peduli dengan istrinya, memang begitu kan."
Ya, dia meyakinkan dirinya sendiri kalau alasannya itu memang benar. Namun, beberapa menit kemudian ia mulai ragu. Apakah kepedulian nya hanya karena rasa bersalah atau karena ia menyukai wanita yang sudah mengisi harinya beberapa hari ini.
"Aaaahhh.. " Shaka benar-benar frustasi, ia menjambak rambutnya dengan jemarinya.
.
.
.
.
Silahkan tekan like dan tulis komentar sebagai dukungan untuk Author.
Thank you.
.
.
.
__ADS_1