
"Aaah.. Sampai kapan aku menunggu Sam! Kau dan orang-orang mu sama saja! Kalian bekerja sangat lambat!." Shaka mengacak frustasi rambutnya.
"Aku sudah bilang kau harus bersabar bos, semua butuh waktu. Kau sendiri yang bodoh! Tidak menanyakan alamatnya kepada teman istrimu itu." Sam mengutak-atik ponselnya yang dari tadi berdering.
"Diam kau Sam!." Shaka beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Sam.
"Hei bos, kau mau kemana." Sam segera mengikuti Shaka.
"Diam!! Aku mau mencari istriku." Shaka melangkahkan kakinya dengan cepat. Terjadi perdebatan kecil antara dia dan Sam, karena sekretaris nya itu mencoba menghalanginya pergi.
"Kenapa kalian berkelahi?." Suara seorang wanita sukses menghentikan tangan Shaka yang akan mendarat di perut Sam. Hingga ke dua lelaki itu spontan menolah ke asal suara tersebut secara bersama.
"Sayang.." Shaka berlari dan berhambur memeluk wanita yang membuatnya tak tenang seharian ini.
"Nona.. Syukurlah nona Gloria pulang, hampir saja aku di jadikan samsak tinju oleh Tuan Shaka." Rengek Sam dengan akting amatir nya.
"Ada apa dengan kalian?." Tanya Gloria yang masih tak paham dengan situasi yang terjadi.
"Kau dari mana saja, kau membuatku cemas. Aku mencarimu seharian, aku mengerahkan semua pengawal untuk mencarimu di seluruh kota namun aku tak menemukanmu di manapun. Ponselmu tak bisa di hubungi, kau membuatku khawatir. Kau.. Kau boleh marah padaku tapi jangan pernah meninggalkanku, sayang." Suara lantang Shaka sejak tadi siang hilang tergantikan suara yang lembut. Ia terus meracau tanpa henti sambil sesekali mengecup pucuk kepala wanita yang ia dekap.
"Jangan... Jangan pergi lagi." Lirih lelaki itu seakan putus asa.
"Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, aku hanya pergi sebentar berkunjung ke makam orangtuaku. Ponselku tertinggal di kamar mungkin baterenya habis. Lagi pula aku sudah tak marah lagi padamu." Ya! Gloria sudah memaafkan Shaka ataupun Ayahnya, sudah sejak semalam ia memikirkan hal itu matang-matang.
Kejadian di masalalu biarlah tetap menjadi masalalu meski akan sulit dilupakan. Ayah Shaka sudah menyesali yang pernah ia perbuat, Gloria tak ingin ada dendam yang menyelimuti hatinya. Masih ada masa depan panjang yang menantinya bersama keluarga kecilnya nanti. Ia, Shaka, dan juga anaknya yang masih di dalam rahim.
"Benarkah kau sudah tak marah? Kau memaafkanku? Juga Ayahku?." Shaka menatap lembut Manik mata coklat Gloria.
"Ya, aku memaafkan kalian. Ayo lain kali kita ke Spanyol untuk mengunjungi Ayah dan Ibu mertua." Gloria memasang senyum manisnya.
Shaka mengangguk, tak ada yang ingin ia katakan lagi sekarang. Yang jelas ia sangat bahagia bisa memeluk istrinya saat ini. Rasa kacau di hatinya telah musnah ketika melihat istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
Shaka terus mencium pucuk kepala Gloria, lalu berpindah ke bibir menggoda milik wanita itu. Sam yang melihat kemesraan pasangan di didepannya hanya bisa menelan salivanya, ia seakan menonton film panas secara live karena pasangan itu benar-benar beradegan semakin panas.
"Ehem.."
Deheman Sam menyadarkan pasangan suami istri itu. Gloria terperanjat dan langsung membenamkan wajahnya yang bersemu merah ke dada Shaka, dia merasa sangat malu. Sedangkan Shaka langsung melirik tajam sekretaris nya itu.
"Pergi!! Cepatlah pulang!." Bentak Shaka, membuat Sam secepat mungkin menggerakkan kakinya pergi dari hadapan bos galaknya itu.
"Ayo kita lanjutkan di dalam." Bisik Shaka lembut di telinga Gloria kemudian mencium leher jenjang milik wanita cantik itu.
Gloria yang semakin malu melepaskan diri dari pelukan Shaka kemudian berjalan cepat kedalam rumah untuk menenangkan dirinya, entah kenapa sentuhan Shaka kali ini membuatnya sangat bergairah. Darahnya berdesir hebat membuat tubuhnya lebih panas dari sebelumnya.
Shaka tersenyum kecil melihat tingkah Gloria, sejenak kemudian ia mengikuti istrinya itu dari belakang.
***
Mobil hitam mengkilap milik Shaka melaju ke kampus miliknya, pagi ini ia mengantar Gloria pergi kuliah meski istrinya itu menolak. Namun Shaka tak menerima protes sedikitpun dan tak ada negosiasi dari Gloria yang akan ia setujui.
"Apa aku menyuruhmu berhenti." Ucap Shaka yang membuat bulu kuduk sang sopir berdiri.
"Aku yang menyuruhnya." Saut Gloria, "Semua orang di dalam kampus mengenali mobilmu, itu tidak baik untukku jika semua orang melihatku turun dari mobil Tuan muda Arshaka Zalleo." Gloria menatap tajam suaminya.
Shaka menghela nafas, "Baiklah, aku mengerti." Yang di ucapkan Gloria memang benar, banyak orang yang mencecar jika ada yang melihat wanitanya itu turun dari mobil miliknya. Itu berbahaya bagi Gloria dan kandungannya.
"Nanti supir mu akan menjemputmu seperti biasa, aku ada meeting sampai malam. Tidurlah duluan tak usah menungguku pulang." Shaka mengecup kening Gloria lalu Gloria menganggukan kepalanya.
Saat Gloria berjalan masuk ke dalam kampus tiba-tiba Yuna berlari ke arahnya, "Syukurlah kau sudah ketemu." Ucap Yuna sambil mengatur nafasnya yang tersengal.
"Ketemu? Memang aku hilang?." Tanya Gloria heran.
"Kalau kau tak hilang, suamimu takkan menelfonku."
__ADS_1
"Hah? Sungguh?!!." Gloria membelalakkan matanya, ia tak mengira Shaka akan menelfon sahabatnya.
"Heem.. Ia bilang kalian ada sedikit masalah."
"Aaah iya, cuma salah paham. Aku sebenarnya pergi ke makam orangtuaku, salahku karena tak memberitahunya." Jelas Gloria, kedua wanita itu berbincang di sepanjang jalan menuju kelas.
"Harusnya kau memberitahu suamimu jika pergi kemanapun, kau tahu? Dari suaranya terdengar kalau dia sangat menghawatirkan kalian."
Gloria menghentikan langkahnya saat mendengar kata kalian dari kalimat yang baru saja Yuna lontarkan.
"Kenapa?." Tanya Yuna.
"Kau sudah tahu?." Gumam Gloria.
"Ya, suamimu yang bilang. Kenapa kau tak memberitahuku? Aaah ada keponakan kecilku disini. Hai sayang.. Ini aunty Yuna." Yuna berjongkok sedikit lalu mengelus perut Gloria, sontak semua mahasiswa disana memperhatikannya dan mulai berbisik.
"Yun, hentikan. Semua orang sedang melihat ke arah kita." Gumam Gloria sambil menyingkirkan tangan Yuna, kemudian mereka melanjutkan jalannya.
"Biarkan saja.! Mereka menggosip kan hal yang tidak jelas. Mereka tidak tahu orang yang mereka bicarakan sudah bersuami." Cibir Yuna, gadis berambut sebahu itu membela sahabatnya. "Oh ya, kau masih berhutang padaku. Kau bilang akan mengenalkan suamimu padaku, kapan itu? Apa aku perlu berkunjung ke rumah kalian?." Yuna menelisik.
Gloria menghela nafas, "Baiklah, aku akan bicara padanya dulu. Saat suamiku punya waktu mari kita makan malam bersama. Okey.."
"Shipp!." Yuna mengacungkan jempolnya. "Ngomong-ngomong soal suamimu, aku merasa suaranya terdengar familiar." Yura berucap lagi.
"Mungkin kau benar." Gloria mengangguk pelan kepalanya.
"Kau tahu? Suara suamimu terdengar seperti suara Tuan Arshaka."
Grep.. Gloria berhenti tepat di ambang pintu kelasnya, lalu ia menoleh ke arah Yuna.
"Apalagi? suamimu sungguh beruntung memiliki suara yang sama dengan Tuan tampan itu, hahaha." Yuna tertawa sendiri, sedangkan Gloria menggeleng kepala dan tersenyum kecil. Terkadang yang di tebak temannya itu tak pernah meleset.
__ADS_1
***