
Shaka langsung keluar dari mobil ketika Sam belum sempurna menginjak rem, lelaki berpostur tinggi itu hampir saja terjatuh karena kakinya yang belum seimbang di atas tanah.
"Bos..." Teriak Sam dari dalam mobil.
Shaka langsung menyeimbangkan kakinya dan berlari tergesa-gesa ke dalam rumah. "Bibi Rick.. Bibi Rick!!." Suara bariton Shaka menggelegar ke seluruh rumah.
Bibi Rick yang sedang sudah beristirahat pun tersentak kaget mendengar Tuan mudanya memanggil, dengan buru-buru ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat ke asal suara.
"Saya tuan muda."
Shaka menghampiri Bibi Rick dengan tak sabar, "Kemana istriku..!." Bentaknya.
"Tuan..." Bibi Rick tak langsung menjawab.
Shaka mengusap wajahnya kasar. "Aaarrgghh..." Teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Harusnya aku tak mengusirnya begitu saja.. Aku sungguh bodoh!." Ia merutuki dirinya atas kebodohan yang ia lakukan, bagaimana bisa ia berfikiran sempit.
"Bos.. Saya akan melacak sinyal ponsel nona muda." Ucap Sam yang sudah berdiri di belakang Shaka.
"Ya! Lakukan secepatnya, ikuti aku ke atas." Shaka dengan cepat menaiki tangga.
"Siap bos!." Sam kembali ke mobil untuk mengambil laptopnya, setelah itu menyusul Shaka ke kamarnya.
"Bos... Kau kenapa?." Tanya Sam saat menangkap Shaka terpaku dengan kertas di tangannya, dan wajahnya terlihat begitu menyedihkan.
"Dia sangat mencintaiku.." Lirih Shaka mengusap air matanya yang hampir saja jatuh, ia menyodorkan kertas yang tadi ia dapatkan dari atas meja.
Sam mengambilnya, "Bos.. Ini surat dari nona." Ucap Sam, lalu di angguki oleh Shaka.
Shaka suamiku, terimakasih telah hadir di kehidupanku dan menjagaku. Apapun yang terjadi kelak di antara kita, aku tetap mencintaimu sama seperti terakhir kita bertemu. Meski nantinya kau akan melupakanku, aku akan terus dan terus mencintaimu. Gloria angelica.
Setelah membaca tulisan di kertas itu, Sam mengembalikannya ke Shaka. "Bos.. Saya akan menemukan nona secepat mungkin."
Shaka mengangguk lalu berjalan ke arah balkon. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat koper di atas ranjang, kemudian di raih nya koper itu dan memeriksa isinya, "Ia tak mengambil sedikitpun." Lirihnya karena uang yang ada di dalam koper masih utuh bahkan tak terjamah.
__ADS_1
Kemudian pandangannya beralih ke kotak obat di sebelah koper itu.
Deg.. Dia ingat, Gloria terluka saat terakhir kali mereka bersama. "Sayang.. Kau pasti kesakitan sekarang.." Lirih Shaka, karena di kuasai cemburu dan amarah ia bahkan mengabaikan kaki Gloria yang berdarah saat itu.
Akhirnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun lolos melewati manik mata coklatnya.
Shaka pun terduduk kaku di atas ranjang, ia menelusup kan wajahnya ke dua telapak tangannya sambil menyeka airmata yang lolos perlahan.
Beberapa saat kemudian ia bertanya pada Sam, "Bagaimana Sam?." Tanya nya dengan suara berat.
"Tidak bisa di lacak." Ucap Sam putus asa.
Tok.. Tok.. Bibi Rick mengeruk pintu, sebenarnya sudah lama ia berdiri di ambang pintu. Ia bahkan menyaksikan bagaimana tuan mudanya mengusap air mata.
"Tuan.. Sebenarnya saya tahu di mana nona muda." Ucap Bibi Rick pelan.
Shaka langsung menatap tajam bibi Rick, "Katakan.." Shaka berkata lembut, ia sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan suara kerasnya.
"Ini alamat rumah saya di pinggiran kota, nona muda berada disana." Bibi Rick menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat rumahnya. "Saya yang menyuruh nona muda ke sana karena saya khawatir nona tak punya tempat tinggal di luar sana. Tuan jangan menyalahkan nona muda lagi, ia sudah cukup terluka. Tak hanya batinnya namun juga raganya, saya melihat nona berjalan terpincang-pincang dengan kaki yang di balut perban." Bibi Rick memberi penjelasan, ia jelas melihat perban yang melilit kaki Gloria karena nona mudanya itu memakai sendal saat keluar dari rumah kemarin.
"Tunggu tuan!!."
Suara bibi Rick menghentikan Shaka yang hendak keluar dari kamarnya. "Apa lagi?."
"Sebaiknya tuan istirahat dulu, ini hampir larut malam. Tuan bisa menyusul nona besok pagi. Saya yakin nona pasti baik-baik saja sekarang."
"Tapi..." Shaka akui tubuhnya memang terasa sangat lelah, namun ia ingin segera bertemu dengan istrinya. "Tidak bibi Rick, aku ingin pergi kesana sekarang."
Bibi Rick sedikit tersenyum, "Tuan pasti membutuhkan ini." Menyerahkan duplikat kunci rumah.
Shaka mengangguk, "Ayo Sam! Jangan membuang waktu."
Ia berlari lalu di ikuti Sam di belakangnya. Setibanya di garasi mereka berdua segera masuk ke dalam mobil, di menit berikutnya mobil itu sudah melaju kencang keluar dari pekarangan luas milik Shaka.
***
__ADS_1
"Kita sudah sampai bos.." Ucap Sam saat pada Shaka yang masih melamun menatap ke luar jendela mobil.
"Bos.. Kita sudah sampai!." Karena tak ada sautan Sam mengulang kalimatnya lagi dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Ah! Benar ini rumahnya?." Shaka tersadar dari lamunannya. "Sam, menurutmu Gloria masih mau bertemu denganku?." Lirih Shaka dengan wajah sedikit ragu.
"Sudah cepatlah keluar dari sini dan temui istri mu bos, kau akan tahu jawabannya setelah berjumpa dengan nona muda." Ucap Sam jengah.
Tanpa berkata lagi Shaka keluar dari mobilnya lalu berjalan ke rumah di depannya. Setelah ia berada di depan pintu ia membuka pintu itu dengan kunci yang di berikan oleh bibi Rick.
Ceklek.. Ia membuka nya perlahan. Lampu rumah masih menyala, apa mungkin sang penghuni masih belum tidur.
Shaka melangkah dengan sangat hati-hati agar tak alas kakinya tak menimbulkan suara, pandangannya menyapu seisi rumah namun tak menemukan sosok yang ia cari. Kemudian ia mulai memeriksa satu per satu ruangan yang ada di dalam rumah itu.
Langkahnya terhenti pada sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka, ia membukanya sedikit lebar. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat sosok wanita tengah meringkuk di atas tempat tidur.
"Sayang..." Gumamnya.
Ia segera masuk ke dalam kamar itu dengan senyuman mengembang penuh di wajahnya. Namun, senyumnya segera menghilang saat matanya menangkap kaki Gloria yang berbalut perban, kaki wanita itu terlihat karena tak tertutup selimut.
"Sayang... Maafkan aku." Shaka menutupi kaki Gloria dengan selimut, kemudian mengusap kening Gloria yang berkerut, entah sedang bermimpi buruk apa wanita itu hingga tidurnya tak tenang.
Shaka tak ingin mengganggu tidur Gloria, ia segera ikut berbaring di samping istri terkasih nya. Lalu memeluk tubuh mungil wanita itu, sungguh hatinya begitu lega setelah melihat wanita yang ia cari.
Entah besok ketika wanita itu terbangun apa akan memaafkannya atau marah padanya, ia tak mau memikirkan sekarang.
Yang ia mau saat ini hanya bersama dengan wanita tercintanya, mendekapnya erat dan semakin erat. Dan tak akan melepaskannya lagi.
"Aku mencintaimu." Gumam Shaka seraya memejamkan matanya.
Sementara itu di luar rumah, didalam mobil Sam terus menguap karena ia sangat lelah dan mengantuk. Bagaimana tidak, ia hampir 2 malam tidak memejamkan matanya sejak Shaka berkunjung ke apartemen nya. "Sepertinya bos di dalam lancar-lancar saja, sebaiknya aku juga tidur. Mataku sudah tak punya daya lagi." Ucapnya setelah melihat jam di tangannya yang menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam.
Tak butuh waktu lama, setelah berucap seperti itu Sam langsung terlelap dengan kepala bersender ke kursi.
***
__ADS_1