
Sepulang dari rumah sakit, Samuel bersama para ahli IT kepercayaannya berkumpul di apartemennya. Mereka mencari orang-orang di balik akun yang membuat postingan di forum kampus yang menghina Gloria.
"Setelah mendapat informasi tentang orang-orang ini, segera jemput paksa mereka dan bawa ketempat biasa.!." Titah Samuel pada orang-orang terbaiknya.
"Siap bos." Jawab mereka serentak.
Suasana menjadi hening ketika Sam dan orang-orang nya berkutat di depan laptop mereka, hanya terdengar suara ketikan keyboard dari jari-jari mereka yang lincah.
Orang-orang kepercayaan Sam adalah team inti pilihan Shaka yang ia bawa dari berbagai negara, tugas mereka untuk melindungi keamanan data ARS Corp di Indonesia maupun di negara yang lain. Jadi sangat mudah bagi mereka jika hanya untuk mencari informasi tentang seseorang.
Sebenarnya Sam bisa mendapat data diri orang-orang di forum itu dari pihak kampus, namun untuk informasi lain yang lebih lengkap Sam harus meminta bantuan dari Team nya.
Tak butuh waktu satu jam, Sam beserta team nya menemukan dalang dan otak utama dari postingan di forum itu. "Heh.. Ternyata memang kau gadis iblis." Saat ia mengetahui Joelly sebagai orang pertama yang menyebar foto Gloria.
"Kalian segera tangkap orang-orang ini, kecuali gadis bernama Joelly." Ucap Sam pada pengawalnya.
"Lalu bagaimana dengannya bos? Apa dia akan kita biarkan saja?." Ucap salah satu ahli IT.
"Tuan Shaka sudah punya rencana sendiri dengan gadis itu." Mata Sam masih terpaku pada layar laptop di depannya. "Kenapa kalian masih disini, cepat tangkap mereka dan bawa ke tempat biasa.!" Bentak Sam pada pengawal yang masih berdiri di belakangnya.
"Baik Bos..!." Dengan gerakan cepat mereka meninggalkan Sam beserta Team nya.
"Dan kalian kenapa hanya diam, cepat hubungi team lapangan untuk membantu para pengawal agar urusan kita cepat selesai!." Ia beralih membentak team nya.
Dengan gesit mereka menghubungi team yang dimaksud agar melaksanakan tugas yang Samuel berikan.
Sam kembali menatap layar laptopnya, "kalian akan mendapatkan hadiah menarik sesaat lagi." Ucap Sam lalu beranjak dari duduknya dan menyambar kunci mobil yang barada di atas meja.
Mobil hitam mengkilap milik Sam melaju kencang ke kediaman Shaka. Ia memasuki pekarangan besar rumah mewah itu kemudian memarkirkan mobilnya di sebelah mobil-mobil Shaka yang berjejer rapi.
Dengan langkah cepat Sam masuk kedalam rumah, "Bibi Rick, bisa kau panggil kan Tuan Shaka?." Tanya Sam pada bibi Rick yang terlihat sedang mengawasi beberapa pelayan yang membersihkan rumah. Dulu sebelum Shaka menikah ia pasti akan langsung masuk kedalam kamar Bosnya itu, namun sekarang bos nya sudah beristri tentunya ia tak kan bersikap sama.
"Tentu sekretaris Sam, silahkan duduk dulu." Bibi Rick menaiki tangga menuju ke kamar sang tuan rumah.
Tok.. Tok..
Mendengar pintu di ketuk Shaka bangun dari baring nya kemudian membuka pintu.
"Tuan, ada sekretaris Sam menunggu di bawah." Ucap bibi Rick dengan sopan.
"Ya." Singkat Shaka lalu ke luar dari kamarnya.
__ADS_1
Shaka nampak bingung setelah mendengar perkataan Sam, ia bimbang antara ingin di rumah menemani istrinya atau pergi ke rumah kosong miliknya untuk menyelesaikan urusan dengan iblis-iblis kecil yang menghina istrinya selama ini.
"Bos.. Bisakah kau tak berputar-putar di depanku?, kepalaku pusing melihatmu seperti itu. Sangat mengesalkan!." Hardik Sam sambil mengurut keningnya, ia jengkel melihat bosnya berputar-putar mengelilinginya.
"Diam kau!!." Bentak Shaka dan langsung menghentikan kakinya dengan menatap tajam Samuel.
Samuel bergidik, lalu berkata"Bukankah kau sendiri yang menyuruhku mengumpulkan mereka bos? Kenapa sekarang kau bingung seperti ini, kau berubah pikiran? Kau tak ingin menghukum orang yang mencaci nona?."
"Apa yang kau katakan!! Aku tak kan mengampuni mereka!." Ujar Shaka dingin.
"Lalu tunggu apa lagi? Ayo pergi bos!." Hardik Sam jengkel.
"Ck.. Aku masih ingin menemani istriku dirumah." Shaka menatap Sam dengan kesal.
"Ada Bibi Rick, dia pasti menjaga nona Gloria dengan baik. Kau tak usah khawatir bos." Pekik Sam.
Shaka diam sejenak, "Baiklah... Tunggu di sini sebentar." Ia pergi dari hadapan Sam menuju kamarnya.
"Sayang.. Aku pergi keluar sebentar, aku akan segera kembali setelah urusanku selesai." Bisik Shaka pada seorang wanita yang terlelap di atas ranjangnya, kemudian ia mengecup lembut kening wanita itu.
***
Sebuah mobil limited edition berhenti di halaman rumah mewah, tak lama kemudian turunlah seorang lelaki tampan dari mobil itu lalu berjalan cepat ke dalam rumah miliknya di ikuti seorang lelaki di belakangnya.
Hanya dengan tatapannya, Shaka membuat semua yang berada di dalam rumah itu sesak dada dan mengucurkan keringat dingin. Beberapa dari mereka bahkan memegang jantungnya yang mungkin sebentar lagi akan berhenti berdetak.
Sejak kejadian di hotel, mereka semua tahu bahwa mereka telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan mengusik kehidupan seseorang yang paling berkuasa di negaranya.
Shaka duduk di kursi paling depan, tepat menghadap ke arah orang-orang yang telah ia kumpulkan. Dia diam cukup lama, mengetuk-ngetuk kursi dengan jemarinya dan mengitari pandangannya pada setiap wajah di depannya yang sudah nampak cemas dan gelisah.
"Kalian pasti tahu kenapa kalian berada disini." Ucap Shaka pelan namun menusuk telinga mereka yang di depannya. Membuat tubuh mereka serasa kaku tak bisa bergerak.
"Kenapa diam?, kalian tahu kan? Cepat jawab!!." Teriak Shaka.
Namun mereka semua tak ada yang berani mengeluarkan suara, beberapa di antaranya bahkan sudah pingsan karena terlalu takut.
"A.. Apa salah kami tuan?." Tiba-tiba satu di antara mereka bersuara.
"Sungguh? Kau tak tahu? Apa perlu ku hadirkan istri ku disini?." Ujar Shaka pada gadis itu.
"Ta.. Tapi.. Kami tak terlibat dalam kejadian di hotel itu." Gadis itu masih mencela.
__ADS_1
"Aah kau tak terlibat ya... Sam! Perlihatkan pada mereka!!." Sesaat kemudian layar besar di depan mereka menyala. "Bagaimana dengan ini! Kau masih tak terlibat?.. Kalian orang-orang di balik postingan ini kan." Shaka tersenyum pada gadis itu, namun senyumnya nampak menyeramkan di mata mereka yang melihatnya. Hingga semua orang yang berada di sana tak bisa menyangkal lagi.
Sam berbisik di telinga Shaka, "Ooh jadi nama mu Septi, kau teman gadis iblis itu ya!!, tenang saja aku akan memberikan hadiah untukmu seperti yang di dapatkan temanmu bernama Joelly itu. Hahaha." Shaka tertawa lantang membuat suasana di rumah itu semakin mencekam. Kemudian ia berucap, "Bagaimana kalau kalian ku laporkan ke polisi dan kalian siap-siap mendekam di penjara."
Bruk... Suara lutut beradu di lantai, semua orang di hadapan Shaka berlutut serempak. Mulai terdengar riuh dari ruangan itu.
"Tidak tuan, jangan laporkan saya ke polisi. Saya berjanji tak akan mengulangi lagi."
"Iya tuan, saya juga berjanji tak akan menghina Gloria lagi."
"Tolong ampuni kami semua tuan Shaka."
Semua yang berada disana satu per satu mulai membuka suaranya, serta menjerit dan menangis memohon ampun.
"Baiklah.. Baiklah.. Lagipula istriku pasti tak akan menyukainya, ia terlalu baik hati."
Ucapan Shaka bagai angin segar bagi mereka semua, namun tak berlangsung lama setelah Shaka mengeluarkan kalimat lagi.
"Sebagai gantinya kalian akan membayar 10 milyar, bagaimana?." Tanya Shaka pada 50 orang di depannya.
"Apa! Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu tuan?."
"Benar tuan, saya tak punya uang sebanyak itu."
"Saya setuju" Ucap Septi lantang. Kalau hanya 10 milyar ia yakin Joelly pasti akan meminjaminya.
Shaka mengerutkan keningnya, "Kau lagi.. Apa kau bisa membayarnya? Apa pekerjaan ayahmu sebagi guru cukup untuk menjamin 10 milyar?." Shaka mengetahui informasi tentang Septi karena Sam berbisik di telinganya. "Aaah.. Apa kau akan meminjam pada temanmu yang bernama Joelly itu?. Lebih baik kau urungkan niatmu karena temanmu itu sekarang sudah tak punya apa-apa lagi, bahkan lebih buruk dari itu."
Ucapan Shaka sukses membuat Septi mematung. "Tolong ampuni saya tuan." Akhirnya itu yang keluar dari mulut Septi, di iringi teman-temannya yang lain.
"Oke.. Oke.. Aku tak akan menyuruh kalian membayar, lagipula aku tak kekurangan uang." Shaka mengangguk-anggukan kepalanya.
"Terimakasih Tuan Shaka." Ucap mereka serempak.
"Tetapi kalian tak bisa berkuliah lagi di kampus milikku, dan satu lagi kalian tak akan di Terima di Universitas lain di negeri ini ataupun di luar negri, kalian juga tak akan bisa bekerja di perusahaan manapun.!!." Pekik Shaka. "Seharusnya kalian mencari ilmu dengan benar dan membanggakan orangtua kalian!! Bukan mencari masalah yang merugikan masa depan! Aku kasihan pada orangtua kalian yang sudah bersusah payah membesarkan anak yang tak punya moral seperti kalian ini."
"Tidak tuan.. Saya mohon ampuni saya."
"Masa depan kami akan hancur jika kami tak bisa kuliah dan bekerja."
Semakin terdengar riuh dan isak tangis di dalam ruangan itu. Shaka yang mendengarnya sudah tak tahan lagi akhirnya ia keluar dari rumah mewah miliknya. "Bos.. Apa hukuman mu itu tak terlalu ringan?." Ucap Sam yang mengekor di belakang Shaka.
__ADS_1
Shaka menghentikan langkahnya, "Sam, aku sudah sekuat mungkin menahan amarahku. jadi kau tak usah memancing ku lagi." Shaka menatap Sam tajam dengan ekor matanya. "Aku akan pulang, sisanya ku serahkan padamu." Tanpa menunggu jawaban dari Sam, Shaka sudah melanjutkan jalannya lagi.
**