ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Liburan?


__ADS_3

"Kenapa wanita itu bisa muncul setelah lama tak menampakkan batang hidungnya! Apa ia sekarang kekurangan uang dan mulai mengincar kau lagi untuk membiayai hidupnya! Hah itu sudah pasti, ia begitu tak punya malu. Bahkan dengan percaya dirinya ia memelukmu seperti tak punya dosa. Dia pikir hatimu seperti baja ringan yang kuat dan tak berkarat setelah ia telantarkan begitu saja, Hah..! Dasar wanita licik. Dia seperti ratu drama yang layak di hadiahi piala paling bergengsi sepanjang masa."


Samuel menggerutu di sepanjang perjalanan kembali ke hotel tempat mereka istirahat dan berlanjut saat mereka memasuki lift hotel.


"Kau yang layak mendapat piala paling bergengsi Sam, kau lebih pandai bergosip melebihi wanita manapun. Mulutmu bahkan tak lelah setelah menggerutu sejak tadi, luar biasa." Shaka berkata dengan jengah, ia menutup telinganya yang panas menggunakan telapak tangannya karena bosan mendengar bualan Sam.


"Ck.. Diam kau! Kau pikir aku tak tahu isi hatimu sekarang? Aku bisa melihat banyak bunga bermekaran di dalam sana, jangan mengelak! Kau bahkan menikmati pelukan wanita itu dan kau hampir membalasnya juga. Jika kau terhanyut oleh bujuk rayuan wanita itu dan berani menduakan istrimu, kau sama piciknya dengan dia. Pasti kalian akan menjadi pasangan serasi dan aku akan membunuhmu saat itu juga, Shaka!"


Tegas Samuel, kali ini ia berbicara layaknya sabahat yang peduli. Ia menanggalkan keformalan sekretaris dan bos saat moodnya kurang baik.


Shaka hanya diam dan mengambil nafas berat, benar kata Sam. Ia tak bisa mengelak karena yang di katakan sekretaris nya itu memang benar, meski ia tak mau menerima kehadiran wanita itu lagi namun saat ini tersirat rasa bahagia di hatinya.


Beberapa saat kemudian, lift terbuka dan mereka berjalan ke kamar mereka masing-masing yang terletak bersebelahan.


"Aku akan menghubungi Gloria," Ucap Shaka pada Sam sebelum ia menghilang di balik pintu.


Setelah menutup pintu kamar dan melepas jas serta dasi yang ia pakai, ia mengambil ponsel miliknya dan menekan nomor yang sudah terhafal betul di luar otaknya.


***


Tuan besar Zalleo dan istrinya masuk ke dalam kamar Gloria karena menantu mereka itu tak keluar kamar seharian.


Kamar besar bernuansa putih abu-abu itu sangat sepi karena penghuninya nampak termenung di ujung balkon.


Gloria berdiri di sana cukup lama menatap gelapnya malam, dengan lampu temaram menerangi hamparan rumput hijau serta warna warni bunga di taman samping mansion yang nampak tak cukup jelas, setidaknya melihat pemandangan indah di kegelapan itu sedikit mengurangi gundah di hatinya.


"Sampai kapan kau akan memunggungi kita seperti ini sayang?" Nyonya Zalleo berucap setelah ia sampai di belakang Gloria.


Sontak Gloria membalikkan badannya, "Ibu.. Ayah.."


"Ibu dan ayah sudah menunggumu lebih dari 1 jam, Gloria. Dan kau baru mendengar suaraku setelah memanggilmu lebih dari seratus kali," Ucap Nyonya Zalleo melebih-lebihkan, padahal ia dan suaminya baru sampai tak lebih dari 5 menit dan ia hanya memanggil Gloria 1 kali.


"Kau tidak mempersilahkan ayahmu ini duduk? Kaki tuaku serasa ingin putus saat ini juga." Tuan Zalleo berucap sedih sambil memijat-mijat betisnya.


"Kau sangat berlebihan pak tua." Nyonya Zalleo melirik dan mencubit suaminya.

__ADS_1


"Silahkan duduk Ayah ibu, kalian bisa duduk kapan saja kenapa harus memintaku mempersilahkannya. Maaf aku terlalu fokus pada pikiranku sendiri jadi tak tahu jika kalian sudah disini sejak tadi." Gloria berucap sopan dengan mengumbar seulas senyum yang ia paksakan.


Ayah dan ibu mertuanya segera duduk di kursi yang terletak di pojok balkon, setelah itu Gloria juga turut duduk di kursi di depan mereka.


Percayalah, Balkon di kamar Gloria sangat luas. Dan Shaka merancang sedemikian rupa agar Gloria nyaman berada di sana, karena ia tahu disanalah tempat favorit istrinya. Bahkan Shaka menaruh ayunan agar Gloria bisa bersantai dan mengganti atapnya dengan kaca transparan agar Gloria bisa melihat bintang-bintang di malam hari.


"Besok kami akan berlibur, dan kau juga harus ikut bersama kami sayang." Nyonya Zalleo sedikit mencondongkan badannya ke depan.


Kening Gloria mengerut, "Berlibur? Kenapa aku harus ikut, ibu? Bukankah aku hanya akan mengganggu liburan ayah dan ibu?" Menatap kedua mertuanya itu bergantian.


"Itu takkan lengkap jika kau tak ikut bersama kami." Sudut bibir Nyonya Zalleo terangkat penuh arti.


Kenapa? Kenapa liburan pasangan tua itu takkan lengkap jika tanpa Gloria, apa menurut mereka Gloria merupakan seorang bayi yang harus selalu hadir di antara mereka? Dan mereka akan khawatir jika meninggalkan Gloria di rumah seperti menghawatirkan bayi kecil yang belum bisa berbuat apa-apa?


"Tapi ibu.. Maafkan aku, aku tak bisa ikut bersama kalian." Gloria menggunakan salah satu jurus terampuh nya, ia memasang wajah memohon dan memelas berharap kedua mertuanya menerima penolakan Gloria.


Akan tetapi, kali ini jurusnya tak cukup ampuh untuk meluluhkan hati kedua orangtua di depannya.


"No! Tak boleh menolak," Ucap kedua orangtua itu serentak.


Tuan Zalleo mengangkat bahu sembari melirik istrinya, "Lihat saja nanti, tapi ayah yakin kau pasti akan menjadi orang yang paling senang dalam liburan kita." Ucapan Tuan Zalleo secara cepat di angguki istrinya.


"Eh, kenapa aku?" Gloria meletakkan jari telunjuknya ke mukanya sendiri dengan bingung.


"Kau pasti menyukainya, Gloria. Kami yakin!"


Gloria terlihat berfikir, ia menghela nafasnya pasrah, "Baiklah.. Aku me---" Ia tak meneruskan kalimatnya ketika ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering dan tercantum nama Suamiku di layar ponsel.


Dengan cepat ia mengambilnya, jujur saja ia sangat bahagia. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan senyum lebar di depan kedua mertuanya.


Akan tetapi, saat ia akan menjawab panggilan itu ia sangat ragu. Ia takut jika yang ia dengar nanti bukanlah suara suaminya, melainkan suara wanita seperti tempo lalu.


Kini rasa bahagia itu terselimuti rasa takut yang luar biasa, dering ponsel sudah terdengar cukup lama namun Gloria masih belum ingin menjawabnya.


Bukan, bukan belum ingin menjawab. Sebenarnya ia sangat ingin menjawab panggilan itu akan tetapi ia benar-benar takut. Sangat takut.

__ADS_1


"Kenapa, sayang?" Tanya Nyonya Zalleo saat menangkap perubahan sikap Gloria dalam sekejap.


"Aku... Takut, ibu." Lirih Gloria, dan seketika Nyonya Zalleo paham dengan apa yang di maksud menantunya.


"Baiklah biar ayah yang menjawabnya." Tuan Zalleo mengambil alih ponsel yang sudah berada di genggaman Gloria.


"Sayang.. Kenapa lama sekali kau menjawab panggilan ku, apa kau sudah tidur? Jangan-jangan kau belum sembuh, katakan! Kau masih sakit sayang?!" Rutuk seorang lelaki di ujung sana.


"Anak bodoh!!" Perkataan tuan Zalleo membuatnya menjadi pusat perhatian bagi kedua wanita yang kini bersamanya.


"Eh! Ayah! Kenapa ayah yang memegang ponsel istriku, dimana istriku? Jangan bilang terjadi sesuatu padanya! Tolong segera berikan ponselnya kepada istriku ayah."


Tanpa menjawab Shaka, Tuan Zalleo segera mengembalikan ponsel yang ia pegang kepada pemiliknya. "Dia sudah tak sabar ingin berbicara denganmu."


"Ha.. Hallo.." Ucap Gloria terbata.


"Sayang? Akhirnya aku mendengar suaramu, aku sangat merindukanmu istriku." Suara Shaka masih selembut biasanya.


Dan Gloria, ia langsung menumpahkan airmata bahagianya saat itu juga setelah mendengar suara orang yang ia nantikan beberapa hari ini. Orang yang membuat perasaannya campur aduk.


"Kau menangis?"


"Ya, aku menangis. Aku menangis karena terlalu merindukanmu."


Banyak sekali yang mereka berdua bicarakan malam itu, namun Gloria tak menyinggung tentang siapa wanita yang memegang ponsel Shaka sebelumnya. Begitupun Shaka, ia tak mengungkit apapun perihal ponselnya yang hilang setelah ia tiba di hawai.


Yang mereka inginkan saat ini hanyalah saling melepas rindu.


***


Ada yang tahu kemana Tuan Zalleo akan mengajak Gloria berlibur?


Salam hangat,


Author

__ADS_1


__ADS_2