
"Uuhh.." Pekik Gloria saat merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Perlahan ia membuka mata dan melihat tangan kekar yang sedang melingkar di badannya dengan kencang. "Pantas saja sangat berat." Gumamnya. "Eh Tangan??." Ia melihat wajah Shaka tepat setelah ia membalikkan badannya.
Gloria tersenyum tipis, senyum bahagia karena bisa melihat lelaki yang ia cintai juga senyum getir karena ia teringat kembali dengan ucapan Shaka.
Ia perlahan menyingkirkan tangan Shaka, lalu bangkit dari baringnya.
Grep.. Shaka menarik tangan Gloria hingga wanita itu terjerembab ke atas tubuhnya. "Sayang.. Kau mau kemana?." Shaka memeluk tubuh Gloria.
"Aku harus segera pergi, bukankah kau bilang kau tak mau melihatku lagi?. Aku takut kau akan marah, jadi aku akan segera pergi dari hadapanmu." Gloria berusaha melepaskan diri dari dekapan Shaka. "Kau kesini pasti ingin memberi surat cerai padaku kan?." Bibir Gloria bergetar saat mengucapkan kata-kata cerai, hatinya sungguh tersayat mendengar kata yang keluar dari mulutnya sendiri itu.
"Sayang.. Maafkan aku.. Aku salah, aku terlalu cemburu dan tak bisa berfikir jernih saat itu. Aku tak akan menceraikan mu, aku..aku mencintaimu." Shaka menenggelamkan wajahnya ke pundak Gloria.
Gloria mengerutkan keningnya, "Cinta?.. Kau bilang cinta tapi kau tak percaya pada orang yang kau cintai?." Lirih Gloria.
Shaka beranjak dengan posisi masih memeluk Gloria, "Aku sungguh mencintaimu, maafkan aku kumohon.." Shaka menatap lekat wajah Gloria, tanpa terasa sebutir air mata lolos dari pelupuk matanya tanpa permisi.
"Aku tak menyangka Tuan Muda yang begitu angkuh bisa menangis di hadapan wanita, jika aku mengatakan nya pada orang lain pasti mereka mengira aku membual dan tak akan ada yang percaya." Gloria mengusap lembut air mata Shaka.
"Jangan meragukan aku lagi, aku tak pernah melirik lelaki lain di belakangmu apalagi selingkuh." Lirih Gloria.
"Ya, sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan ku dan kata-kata ku yang kasar kepadamu, sayang."
"Sudah, kau terlalu banyak meminta maaf.."
"Jadi, apa kau sudah memaafkan aku sayang?."
Gloria mengangguk dengan tersenyum, ia tentu akan memaafkan suaminya karena bagaimanapun semua yang suaminya lakukan terhadapnya kemarin itu karena salah paham.
Ia tak mau memperpanjang masalah lagi di saat suaminya sudah minta maaf dengan tulus. Shaka mengecup bibir Gloria sekilas lalu memeluk erat tubuh wanita itu.
"Terimakasih.. Aku berjanji tak akan mengulangi lagi, aku akan memperbaiki kesalahanku. I love you sayang." Shaka melepas pelukannya, lalu mengecup lagi bibir Gloria. Namun kecupan singkat itu perlahan menjadi lum*tan yang hangat saat mereka berdua terbawa suasana antara rindu dan nikmat, semakin dalam dan semakin dalam.
"Issss.."
__ADS_1
Shaka menghentikan lum*tan nya saat Gloria meringis kesakitan. "Sayang.. Kenapa?."
"Itu.. Kakimu menyenggol kakiku." Gloria menunjuk kakinya yang bergelantung di ranjang.
"Ya ampun.. Maafkan aku, aku tak sengaja." Shaka langsung turun dari ranjang dan memeriksa kaki Gloria.
"Kau terluka karena aku.. Aku.."
Gloria membekap mulut Shaka sebelum lelaki itu selesai berbicara." Aku tak apa-apa, hanya perlu di obati maka luka ini akan sembuh."
"Aku akan melihat lukanya, biarkan aku yang mengganti perban." Shaka membuka perlahan balutan perban di kaki Gloria. Matanya membola saat melihat begitu banyak luka di telapak kaki Gloria.
Ia memejamkan matanya saat air matanya hampir lolos lagi, ia menelan saliva nya yang terasa sangat pahit di pagi ini. Bagaimana tidak, semua luka yang ada di kaki istrinya saat ini adalah perbuatannya.
"Sayang... Ini begitu parah, ayo kita ke dokter." Bujuk Shaka dengan lembut.
"Tidak usah.. Luka ini tak seberapa di bandingkan luka di hatiku karenamu." Sindir Gloria.
"Iya.. Aku tahu.." Perkataan Shaka terdengar penuh rasa bersalah. "Aku memang sudah keterlaluan."
Shaka mengambil kotak obat, kemudian dengan telaten mengobati telapak kaki Gloria. Ia mengoleskan obat dan melilitkan perban dengan sangat hati-hati agar Gloria tak merasakan sakit. "Sudah."
"Terimakasih sayang.." Gloria melebarkan senyum di wajah cantiknya.
"Ayo kita keluar, aku ingin menghirup udara segar di pagi hari. Udara disini masih bersih sangat berbeda dengan di kota." Ajak Gloria, memang udara di tempat yang mereka tinggali sekarang masih sangat bersih karena banyak pepohonan tumbuh dengan rindang dan jauh dari hiruk pikuk polusi.
"Sayang.. Biar kubantu." Shaka memapah tubuh Gloria saat wanita itu mulai berjalan.
"Tidak-tidak aku bisa sendiri, kau jangan khawatir suamiku." Gloria berjalan dengan sedikit pincang.
"Kau tak boleh menolak." Tiba-tiba Shaka membopong tubuh Gloria.
"Aahhh.." Gloria menautkan tangannya pada leher suaminya, kali ini ia tak menolak. Jujur saja ia merasa senang dengan perhatian Shaka saat ini.
__ADS_1
"Baiklah.. Tolong bantu aku membuka pintu. Aku tak bisa membukanya sendiri karena tanganku sudah ku gunakan untuk menggendongmu." Ucap Shaka saat sampai di pintu.
Ceklek..
Setelah Gloria membuka pintu, Shaka membawanya ke teras rumah. Kemudian dilihatnya ayunan di bawah pohon di depan rumah itu. "Kita duduk di sana." Shaka menunjuk ayunan itu dengan dagunya.
"Oke..."
Shaka menurun kan tubuh Gloria dengan perlahan, "Duduklah yang nyaman sayang.." Ia mengusap lembut pucuk kepala Gloria.
"Eh.. Sepertinya ada yang kita lewatkan setelah bangun tidur!." Gloria mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Astaga..!. Kita belum mencuci muka, sayang cepat kita kembali ke dalam rumah. Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu, wajahku.. Apa ada kotoran mata di wajahku?. Aah sangat memalukan, Ayo kita segera masuk kerumah." Jerit Gloria panik.
Gloria hendak bangkit dari duduknya namun segera di cegah oleh Shaka, "Kau cantik meski kau bangun tidur, duduklah.. Tak ada yang tahu jika kau belum mencuci muka dengan wajah secantik ini, lagipula aku tak akan membiarkan orang lain menatapmu. Hanya aku yang boleh menatap wajah yang cantik ini." Shaka menangkup kan tangannya pada pipi Gloria yang sudah bersemu merah karena sanjungan Shaka.
Mereka berdua akhirnya duduk bersantai di ayunan, sesaat kemudian datanglah wanita paruh baya masuk ke pekarangan rumah itu dan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Siapa wanita itu?." Tanya Shaka pada Gloria. Ia Menunjuk wanita paruh baya yang mendekat ke arah mereka dengan lirikan matanya.
"Beliau yang membersihkan rumah ini." Jelas Gloria.
"Selamat pagi Nona Gloria.." Sapa wanita itu dengan ramah. "Tu.. Tuan.. Anda majikan Ricka?, selamat pagi tuan muda."
"Kau mengenalku?." Shaka mengangkat sebelah alisnya.
"Mmm.. Tidak tuan, hanya saja Ricka sudah mengabari saya kalau majikannya akan menyusul istrinya kesini. Aku langsung berfikir itu adalah tuan karena anda duduk bersama nona Gloria." Ucap wanita paruh baya itu dengan sopan dan Shaka mengangguk.
"Nona, ini bahan makanan yang nona pesan."
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan bibi." Gloria meraih kantong plastik berisi bahan-bahan makanan yang di pesan Gloria kemarin.
"Suamiku, bibi ini adalah teman bibi Rick. Bibi Rick meminta bantuannya untuk menjagaku dan membantuku selama aku disini." Gloria menjelaskan kepada Shaka.
"Bibi, kau boleh pulang sekarang. Biar aku yang memasak nya sendiri, aku ingin memasak untuk suamiku."
__ADS_1
"Baiklah nona, kalau begitu saya permisi nona, tuan." Wanita paruh baya itu berpamitan kemudian pergi dari rumah itu.
"Eh.. Suamiku, kau menyusulku kesini sendirian? Atau sekretaris Sam juga ikut kesini? Tapi dimana dia sekarang.."