ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Insiden


__ADS_3

"Tu.. Tuan." Gloria tergagap.


"Ambilkan aku baju ganti." Ucap Shaka memerintah.


"Baiklah." Gloria segera membalikkan badannya, ia membuka matanya lalu berjalan kembali ke ruang ganti. Mengambil kaos dan celana santai, kemudian keluar dengan memejamkan matanya kembali. Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah Shaka berdiri, namun tiba-tiba, BRUKK.. Kaki Gloria tersandung sofa.


"Aau" Pekiknya. Saat hampir benar-benar terjatuh, Gloria sempat berpegangan kepada sesuatu. Namun sial! yang dibuatnya pegangan adalah handuk yang melingkar di pinggul Shaka, tentu saja handuk itu langsung terlepas dari tempatnya. Gloria tersadar, ia mendongakkan kepalanya. Seketika matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan tak terduga di depannya.


"Kau mencoba merayuku.?" Shaka berkata santai dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, tangannya bersedekap didepan dada.


"Tidak!!." Gloria membalikkan badannya dan merutuki kebodohan yang ia perbuat.


"Balikkan badanmu." Shaka memerintah. Gloria segera membalikkan badannya namun matanya masih tertutup. Shaka meraih pakaiannya yang digenggam Gloria.


"Buka matamu!." Perintah Shaka.


"Tapi tuan, Saya.."


"Cepat buka matamu!." Shaka memotong perkataan Gloria. "Kau sudah menikah denganku, jadi kau harus terbiasa melihat ini." Shaka memakai bajunya, lalu memakai kembali handuknya yang terjatuh.


Gloria membuka matanya perlahan, setelah memastikan Shaka sudah memakai baju, ia membuka matanya sempurna.


"Bagaimana aku memakai celana tanpa celana dalam?, segere ambilkan itu!." Shaka menatap wajah Gloria yang menunduk.


Gloria mendongakkan kepalanya, mulutnya terbuka lebar. Beberapa saat kemudian ia baru tersadar, "Apa tuan? Haruskah aku juga yang mengambilkannya?."


"Kenapa tidak? Apa kau tak mau melayani suamimu sendiri?." Perkataan lembut Shaka terdengar seperti sebuah ancaman.


"Aku akan segera mengambilkannya." Gloria segera berlari kecil menuju ruang pakaian.


Sesampainya di dalam ia menggerutu tiada henti, entah nasib sial apa yang menimpanya lagi setelah ini. Kalau di pikir-pikir lagi, kenapa juga dia mau menikah dengan lelaki sedingin es itu. "Aah iya, aku mau menikah dengannya karena dia sudah merebut harta berhargaku." Gloria tersenyum getir.

__ADS_1


"Ini Tuan." Gloria menyerahkan celana dalam lelaki itu dengan wajah merona menahan malu.


"Tetap disini! Jangan berbalik dan jangan memejamkan matamu!." Entah apa yang di fikirkan Shaka, lelaki itu menyuruh Gloria menontonnya yang sedang memakai celana.


Gloria menurut saja, ia tak tahu kenapa tubuhnya mengikuti setiap perkataan lelaki itu. Sesekali ia mengedip-ngedipkan matanya. "Ini benar-benar gila!! lelaki ini benar-benar gila!." Gumam Gloria dalam hati.


"Ayo kita turun untuk makan malam." Ucap Shaka saat selesai memakai pakaiannya.


"Itu Tuan.. Apakah kau punya hairdryer?." Gloria menunjuk rambutnya yang masih basah. "Aaah kau lelaki, kau pasti tak punya. Kau takkan butuh itu." Ia menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Itu, didalam sana." Shaka menunjuk ke sebuah meja rias yang penuh dengan produk kecantikan.


"Apa! Tuan kau ternyata punya hairdryer." Gloria terperanjat.


"Aku juga sudah menyiapkan beberapa produk kecantikan untukmu." Ucap Shaka dengan dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Tuan.. Kau ternyata sangat baik." Gloria terharu, ia segera bergerak menuju meja rias itu. Dia mengambil hairdryer dari dalam laci, lalu memakainya. Setelah ia mengeringkan rambut coklatnya yang panjang, ia memeriksa perlengkapan make up di depannya satu persatu, terlalu banyak produk. Tuan muda itu bilang beberapa produk, tapi di atas meja ini ada sangat banyak produk kecantikan.


"Kau sudah selesai?." Tanya Shaka yang berada di belakangnya, Gloria segera berdiri dan memutar tubuhnya. "Kau menungguku Tuan.? "


"Ya, kau tak akan tahu dimana letak meja makan kalau aku meninggalkanmu." Entah Shaka peduli dengan Gloria atau dia hanya tak mau menunda makannya kalau saja harus menunggu Gloria tersesat untuk menemukan ruang makan.


"Ayo!." Shaka berjalan dengan gagahnya, meski hanya memakai kaos dan celana pendek, tak mengurangi kadar ketampanan lelaki dingin itu. Melewati beberapa ruang, lalu menuruni tangga dan melewati beberapa ruang lagi. Sementara itu Gloria mengekorinya dari belakang sepertinya anak ayam yang mengekor pada induknya.


Sampailah mereka pada ruang luas yang terdapat meja besar, sudah tersaji berbagai macam hidangan di meja itu. Shaka menarik kursi lalu duduk diatasnya, "Kenapa masih berdiri, duduklah.!"


"Baik tuan." Gloria segera menarik kursi yang terletak agak jauh dari Shaka. Lalu mendudukinya.


"Terlalu jauh, duduklah disini." Shaka menepuk kursi di sebelahnya.


"Ba.. Baiklah." Segera Gloria berganti tempat duduk.

__ADS_1


"Ambilkan aku makanan." Shaka menatap Gloria lalu menuntun Gloria kearah makanan di depannya hanya dengan lirikan matanya.


"Kau mau makan yang mana Tuan?," Gloria bingung karena terlalu banyak makanan yang tersaji.


"Apa yang kau ambil, aku akan memakannya. Aku bukan orang pemilih." Jawab Shaka tanpa ekspresi.


"Ini Tuan, silahkan." Ucap Gloria dengan tersenyum setelah menaruh beberapa menu di piring Shaka.


"Hmm". Hanya itu keluar dari mulut lelaki dingin itu.


"Apa dia tak bisa mengucapkan terimakasih?, aah sudahlah lebih baik aku juga cepat makan. Lihatlah semua makanan enak ini, aku takkan menahan malu, aku akan mengambil banyak makanan." Batin Gloria.


Namun lain di hati, lain tindakan. Gloria hanya menaruh sedikit makanan di piringnya, sangat sedikit. Ia terlalu takut dan gugup dengan Tuan Muda yang berada di sampingnya itu. Untuk menelan makanannya saja terasa sangat sulit.


Shaka memperhatikan Gloria dengan ekor matanya, wanita itu seperti tak bernafsu dengan makanan yang sudah ada. "Bibi Rick.. Buatlah menu yang lain sepertinya istriku tak menyukai makanan ini." Perkataan Shaka di tujukan kepada seorang wanita paruh baya di sudut ruangan, suaranya pelan namun wanita itu bisa mendengar nya dengan jelas.


"Baik tuan." Wanita bernama Ricka yang merupakan kepala pelayan segera menghampiri Gloria. "Kau ingin makan masakan apa Nona?, masakan Inggris? Spanyol? Cina?." Tanya Bibi Ricka.


"Tidak, tidak. Aku sangat suka dengan makanan ini, ini sangat enak." Gloria menolaknya, ia mengibaskan tangannya dengan cepat.


"Kalau kau suka, kenapa kau makan sangat sedikit." Shaka menoleh menghadap Gloria.


"Itu.. Karena memang porsi makanku segini." Ucap Gloria sangat pelan dan sedikit ragu.


"Bibi Rick, kau boleh pergi." Ucap Shaka pada kepala pelayannya, tangannya mengibas 1 kali.


"Baik tuan." Bibi Ricka mundur perlahan, lalu memutar tubuhnya. Kemudian berjalan menjauh dari meja makan kembali ke sudut ruangan.


Shaka dan Gloria melanjutkan makan malam mereka dengan tenang dan tanpa ada perbincangan lagi. Sebenarnya hanya Shaka yang tenang, karena Gloria sebenarnya sangat gelisah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2