
Shaka sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, setelah ia memakai baju tidur yang di ambilkan Gloria.
"Tuan.. Aku akan tidur di disini, bolehkah aku minta selimut?" Gloria menunjuk sofa besar di sudut kamar.
"Tidak! Kau tidur disini." Shaka menepuk bantal di sampingnya. "Kau istriku, kau harus tidur disampingku." Lanjutnya.
Gleg.. Gloria menelan ludahnya sendiri, bagaimana bisa ia tidur dengan lelaki itu lagi. Tapi kakinya melangkah dengan sendirinya tanpa ia beri aba-aba, dan berhenti tepat didepan ranjang. Tangan dan kakinya begitu gemetar saat menaiki ranjang empuk itu, keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulit halus wanita cantik itu.
Shaka memperhatikan Gloria, mata coklat lelaki itu menatap tanpa ekspresi. Beberapa detik kemudian dahinya mengkerut. Tangan kekarnya meraih tubuh Gloria yang gemetar, merengkuhnya kedalam dadanya yang bidang. Terdiam dalam posisi itu sejenak, hingga ia bersuara, "Kenapa? Kau takut dengan ku karena perbuatanku yang lalu?."
Gloria tak menjawab, ia mematung hanya saja tubuhnya masih bergetar begitu hebat. Airmatanya perlahan luruh di pipi nya yang memucat, lalu membasahi baju tidur Shaka hingga menembus ke kulit dada.
"Maafkan aku, aku tak sengaja waktu itu. Sekarang kau sudah menjadi istriku, walau aku tak punya perasaan terhadapmu aku akan menjagamu untuk menebus kesalahanku. Tenanglah, jangan takut." Perkataan lelaki dingin itu terdengar lembut.
Entah berapa lama setelah itu, Gloria menjadi tenang. Dekapan Shaka terasa menghangat, Gloria bisa mendengar detak jantung milik Shaka sesaat sebelum lelaki itu mengendurkan tangannya. "Tidurlah!." Shaka menurunkan kepala Gloria di atas bantal dengan sangat hati-hati.
"Terimakasih tuan, aku akan mencoba menjadi istri yang baik untukmu." Gloria menatap sejenak manik mata coklat Shaka, lalu Gloria memiringkan tubuhnya memunggungi Shaka.
"Gloria, sebaiknya kau berhenti bekerja.!" Kata-kata Shaka berhasil membuat Gloria membuka lebar matanya yang hampir tertutup.
"Aku tak mengijinkanmu bekerja, apalagi dihotel ku sendiri. Namun kau masih tetap boleh kuliah." Lanjut Shaka.
"Kalau aku tak bekerja bagaimana aku membayar kuliahku Tuan." Suara Gloria terdengar pelan namun Shaka masih bisa mendengarnya.
"Tunggu!! Bagaimana Tuan tau kalau aku kuliah." Gloria segera membalikkan tubuhnya menghadap ke Shaka.
"Aku tau, dan aku yang akan membiayai kuliahmu mulai sekarang." Shaka mulai menutup matanya.
"Dia bersikap lembut beberapa menit lalu, namun beberapa menit kemudian sikapnya sudah berubah. Dia bahkan tak mau menjawab pertanyaanku." Dalam hati Gloria. Lalu ia mengikuti Shaka memejamkan matanya.
Flashback
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu Sam?!."
"Sudah Tuan." Sam menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Bagaimana hasilnya?." Shaka meraih kertas yang di berikan oleh sekretaris nya.
"Namanya Gloria Angelica, umur 21 tahun. Kuliah di Universitas STARS dan seperti yang anda tau Tuan, ia bekerja di ARS Hotel."
__ADS_1
"Jadi dia bekerja dan kuliah secara bersamaan?." Shaka mengernyit.
"Dia bekerja paruh waktu Tuan, untuk membiayai kuliahnya."
"Oke, Lanjutkan Sam." Ucap Shaka, wajahnya tak menunjukkan ekpresi apapun.
"Seorang Yatim piatu, Ayahnya meninggal karena kecelakaan dan Ibunya meninggal 1 tahun kemudian."
Shaka menarik nafasnya, raut wajahnya berubah, ia sedikit iba saat tahu wanita yang ia nodai ternyata seorang yatim piatu.
"Tuan, dulu ayahnya seorang karyawan di di ARS Corp. Kematiannya ada kaitannya dengan proyek yang ada di kota C beberapa tahun silam."
Deg.. Jantung Shaka berhenti sejenak, kejadian kecelakaan proyek 6 tahun silam kembali terputar di otaknya. Saat itu dia baru 1 tahun menjabat sebagai CEO. Kasus kecelakaan itu sengaja di tutup karena pihak keluarga tak menuntut apapun.
"Baiklah sam, kerja bagus."
Begitulah Shaka, walaupun sudah melihat semua informasi yang ia pegang, dia masih ingin mendengar dari mulut sekretarisnya itu. Ia akan mencocokkan apa yang di katakan Sam dengan data di kertas yang ia pegang.
"Lo puas sekarang?." Sam menyeringai.
"Sam, aku bosmu. Bersikaplah sopan padaku." Tatapan mata Shaka seakan dapat menembus jantung orang yang di lihatnya. Namun itu tak berpengaruh pada Samuel.
"Lo sungguh beruntung jika ada wanita yang mau kawin dengan manusia es kayak lo!!." Imbuh Sam.
"Sialan lo Sam!, cepat keluar dari rumah gue!!." Bentak Shaka yang geram dengan perlakuan sekretaris sekaligus sahabat baiknya itu.
Flashback off
***
Gloria membuka matanya, dari posisinya saat ini ia bisa melihat keluar jendela besar yang sudah tak tertutup tirai. Cahaya matahari menyusup masuk menyilaukan mata Gloria. Ia melihat kesampingnya, kosong. Lelaki dingin yang tidur satu ranjang bersamanya semalam sudah tak ada di tempatnya.
Gloria mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, ia menyimpulkan Tuan Muda itu pasti sedang membersihkan badannya. Ia segera bangkit dari posisi baringnya, berjalan keruang pakaian dan mengambilkan setelan jas serta dasi untuk Tuan muda yang kini menjadi suaminya itu. Tak lupa sepasang sepatu mahal juga ia siapkan.
"Sepertinya kau berperan menjadi seorang istri dengan baik." Ucap Shaka dari belakang Gloria.
"Ya, aku sedang berusaha Tuan." Gloria berkata semanis mungkin.
"Bantu aku memakainya." Shaka berdiri tepat di hadapan Gloria. Gloria terlihat sangat kecil, tingginya hanya sebatas dada Shaka.
__ADS_1
"Baik Tuan." Gloria membantu Shaka berganti baju. ("Kau sudah menikah dengan ku, jadi kau harus terbiasa melihatnya.") Dia hanya bisa menurut, kata-kata Shaka kemarin sore berputar di otaknya.
"Sudah Tuan." Ucap Gloria saat menyelesaikan tugasnya.
"Dasi! Kau belum memakaikan dasi!." Shaka menunjuk kerah kemejanya.
"Tapi saya tidak bisa Tuan, saya belum pernah mencobanya." Wajah Gloria memelas, membuat Shaka tak tega memarahi wanita itu.
"Aku ajari." Shaka memperagakan cara memakai dasi sebanyak 3x. "Sekarang cobalah, kau harus bisa. Aku sudah membuang waktuku hanyak untuk mengajarimu." Shaka menyerahkan dasinya kepada Gloria.
Gloria berfikir sejenak, lalu ia menarik kursi kecil dan membawanya tepat di dihadapan Shaka.
Shaka mengerutkan dahinya, "aku menyuruhmu memakaikan dasi. Tapi apa ini! Kau malah memberiku sebuah kursi!!."
"Tidak.. Bukan begitu tuan, kursi ini untuk aku berdiri. Kau terlalu tinggi, aku kesulitan meraihmu." Benar saja, Gloria langsung berdiri di atas kursi itu.
Wajah dingin Shaka berubah ekspresi, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Bukan aku yang terlalu tinggi, tapi kau yang terlalu pendek." Shaka berkata pada Gloria yang sedang berkonsentrasi mempraktekan Demo yang Shaka ajarkan tadi.
"Itu juga benar tuan, aku memang pendek." Gloria menimpali Shaka, tangan dan matanya masih sibuk dengan dasi Shaka. "Ini sedikit sulit, tapi aku sepertinya bisa melakukannya, apakah ini sudah benar tuan?." Gloria bertanya saat selesai memakaikan dasi.
"Lumayan, kau belajar dengan cepat." Shaka sudah berdiri di depan cermin. "Mandilah, aku tunggu di meja makan." Lanjutnya.
Gloria segera bergegas masuk ke kamar mandi, dan Shaka keluar kamar setelah memakai sepatunya.
Dua insan itu sekarang sudah berada di ruangan yang berbeda dengan kegiatan mereka masing-masing.
.
.
.
Silahkan tekan like dan tulis komentar sebagai dukungan untuk Author.
Thank you..
.
.
__ADS_1