ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Kabar Dari Spanyol


__ADS_3

Suara sepatu menapak keras di sepanjang koridor kantor, beberapa karyawan menatap heran ke arah lelaki tampan yang berlari terburu-buru. Tak biasanya Shaka terlihat sepanik itu, wajahnya yang tegas dan selalu tenang sungguh berbanding terbalik dengan siang ini setelah ia mendapat kabar dari Spanyol tentang ayahnya yang tiba-tiba di serang sekelompok orang dan kondisinya sekarang kritis.


"Sam, atur keberangkatan ku ke Spanyol sekarang juga. Siapkan pesawat dalam 1 jam dari sekarang, aku akan menjemput Gloria kemudian kita bertemu di bandara," Seru lelaki itu tanpa menghentikan ayunan kakinya.


"Siap bos!" Saut Sam yang berusaha mengimbangi kecepatan langkah kaki Shaka.


Sesampainya di tempat parkir mereka berdua berpisah dengan mengendarai mobil masing-masing.


"Bodoh! Jika kau tak bisa menyetir enyahlah dari pekerjaanmu!." Shaka meninggikan suaranya karena sang supir tak mau menambah kecepatan mobilnya.


Tak terdengar sautan dari sang supir, lelaki yang hampir berumur separuh abad itu tetap fokus pada jalanan yang begitu padat. Ia paham betul dengan sikap bos nya yang sudah ia temani bertahun-tahun lama nya, lebih baik diam dan mendengarkan gertakannya daripada meladeni setiap umpatan yang keluar dari mulut lelaki yang bernama Shaka itu.


"Injak Gas nya lebih dalam! Aku harus sudah berada di bandara 1 jam lagi!"


"Mustahil tuan." Spontan mulut sang supir menjawab tanpa sadar, supir itu merutuki kebodohannya sendiri meski memang yang ia katakan tidaklah salah. Perjalanan dari kantor ke rumah saja harus memakan waktu paling cepat 1 jam, belum lagi perjalanan menuju Bandara yang memakan waktu lebih lama.


"Kau..--" Hampir saja Shaka memarahi supir itu, namun ucapannya terhenti saat ponsel miliknya berdering.


"Sayang.. Kau sudah makan siang?" Terdengar suara lembut seorang wanita dari balik benda pipih yang menempel di telinga Shaka.


"Tidak sayang, aku belum makan. Kebetulan sekali kau menelfon, bersiap-siaplah kita akan berangkat ke Spanyol sekarang juga."


"Spanyol? Kenapa sangat mendadak? Apa terjadi sesuatu disana?"


"Ya, Aku jelaskan setelah sampai rumah, sekarang aku dalam perjalanan. Tolong kau persiapkan kebutuhanku dan juga kebutuhanmu selama di sana."


"Baiklah sayang, berhati-hati lah dan jangan menyuruh supirmu mengebut. Sampai jumpa di rumah suamiku."

__ADS_1


Di detik berikutnya Shaka sudah menjauhkan ponselnya dari telinga.


***


Gloria mondar-mandir di depan rumah menanti kepulangan Shaka, sesekali ia mengintip ke luar pagar yang berjarak lumayan jauh karena terpisah halaman rumah yang luas. Hatinya sungguh tak tenang setelah suaminya berkata mengajaknya ke Spanyol setengah jam yang lalu dan berkata terjadi sesuatu di sana.


Firasatnya menjadi buruk, pasti ini ada hubungannya dengan orang tua suaminya. Jika hanya menyangkut perusahaan pasti suaminya tidak tiba-tiba mengajaknya ke luar negeri.


Di menit ke 40 akhirnya yang di tunggu telah sampai di rumah, terlihat mobil hitam favorit Shaka masuk ke dalam pekarangan rumah miliknya.


"Sayang..." Setelah turun dari mobil Shaka berlari ke arah Gloria yang nampak gusar.


"Katakan, apa yang terjadi?." Gloria langsung menanyakan pertanyaan yang sedari dari memutar di otaknya.


Shaka memeluk Gloria sebentar sebelum menjawab pertanyaannya, "Ayahku di serang seseorang dan sekarang ia kritis." Bibirnya sedikit bergetar saat mengatakan kondisi Ayahnya.


Gloria terperanjat, "Apa? Siapa yang melakukan itu, apa saingan bisnismu?."


Setelah mengambil koper yang sudah Gloria siapkan, mereka berdua segera pergi ke bandara.


***


Shaka memandangi wajah Gloria dari samping, ia mengulum senyumnya kala melihat wajah teduh wanita yang berada di samping yang itu. Setidaknya itu membuat hatinya lebih tenang di antara kekhawatiran tentang ayahnya.


"Suamiku.. Kenapa menatap ku seperti itu?." Gloria mengalihkan pandangannya pada lelaki yang kini tersenyum lembut padanya.


"Ayah pasti baik-baik saja, aku yakin itu. Ia pasti lelaki yang kuat sepertimu," Ucapnya lagi saat menyadari kekhawatiran dari raut wajah Shaka, bahkan manik mata coklatnya nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ya." Hanya itu yang keluar dari mulut Shaka, kemudian ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke bahu Gloria lalu memeluk wanita itu.


"Terimakasih," Lirihnya pelan. Ia tak tahu harus berkata apalagi, ia bersyukur memiliki istri berhati malaikat seperti Gloria.


Bagaimana tidak? Sedari tadi wanita itu mencoba menenangkannya bahkan merapalkan doa terus menerus untuk ayahnya, wanita itu seakan sudah lupa jika orang yang ia doakan adalah pembunuh yang mencelakai ayah kandungnya dulu.


"Untuk apa berterimakasih?."


"Semuanya.. Untuk semuanya."


Lalu tiba-tiba jet yang mereka tumpangi sedikit bergoyang saat melewati awan-awan pekat, sehingga mereka membenarkan posisi duduknya. Ya, mereka sekarang berada di dalam jet pribadi milik Shaka yang akan membawa mereka ke Spanyol.


Tapi tak selang berapa lama Gloria mendekatkan diri dan memeluk Shaka saat jet kembali bergoyang, "Aku takut."


Tak di pungkiri, ini adalah pengalaman pertamanya menaiki kendaraan udara. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga sederhana tentu saja ia tak pernah bepergian menggunakan pesawat.


"Hehe." Shaka terkekeh melihat Gloria yang kini berada di pelukannya, lalu mencium kening wanita itu. "Apa yang kau takutkan? Jangan katakan ini pengalaman pertamamu naik pesawat."


Gloria langsung menganggukkan kepalanya, ia tak malu mengakui kebenaran dari pernyataan Shaka.


"Ada aku, tidak usah takut." Shaka mengeratkan pelukannya, namun matanya menatap tajam pada seseorang yang duduk berjarak 1 kursi di depannya.


Samuel yang merasa dingin di tengkuknya pun menoleh ke belakang, benar saja! Bosnya menatapnya dengan bola mata yang seakan mau keluar dari tempatnya. Sam yang merasa dirinya terancam segera beranjak dari duduknya dan pergi sejauh mungkin dari pandangan bos nya.


Sedangkan Shaka, ia mengutuk keras Samuel di dalam hatinya. Langit begitu luas, kenapa pilot melalui awan pekat sehingga jet mereka bergoyang dan membuat istrinya menjadi takut. Apa sekretaris sialan nya itu tak memberi tahu pilot untuk berhati-hati.


Shaka menatap Gloria saat merasa kan pelukan tangan wanita itu mengendur, ternyata istri mungilnya itu tertidur di pangkuannya. Entah wanita itu terlalu takut hingga memilih tidur atau wanita itu merasa dekapan Shaka terlampau nyaman hingga membuatnya terbuai dan tak sadar matanya telah terlelap.

__ADS_1


Shaka menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Gloria, "Kau segalanya.."


***


__ADS_2