
Shaka duduk di kursi kebesaran nya yang setiap hari ia tempati, tampak wajah kusut dari lelaki itu yang tak seperti biasanya. Sesekali ia mengerang dan mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan. "Shiit!." Ia mengumpat dirinya sendiri, banyak gangguan yang terlintas di otaknya sejak kepulangannya beberapa hari lalu dari rumah Gloria.
"Sam, datanglah!." Ia memanggil sekretaris nya memalui interkom yang ada dihadapannya.
Sekejap kemudian muncullah Sam dari balik pintu tanpa mengetuk terlebih dulu. Ia berjalan cepat lalu berhenti tepat di hadapan bosnya yang nampak frustasi itu. "Bos..What happen with you?."
"Sam, apa yang harus aku lakukan! Aku.. Aku tak bisa menyembunyikan dari Gloria lebih lama lagi." Shaka mengacak-acak rambut coklatnya.
"Katakan saja lambat laun pun dia akan tahu faktanya, sekarang atau nanti itu sama saja bos. Aku rasa semakin cepat kau memberi tahunya akan semakin baik." Ucap Sam dengan mimik wajah serius.
Shaka membuang nafas kasar, "Bagaimana kalau dia pergi dari sisiku Sam!."
"Kau bisa membicarakannya baik-baik dengan nona Gloria bos, kurasa kau tak perlu sekhawatir itu. Nona Gloria bukanlah orang pendendam, bukankah kau juga tahu?."
Lagi, Shaka mengusap kasar wajahnya. "Aku akan mencari waktu yang tepat, Kau kembalilah bekerja."
"Bos, setengah jam lagi meeting akan dimulai." Samuel mengingatkan bosnya dengan menyodorkan berkas yang tadi ia bawa.
"Tunda 1 jam lagi, aku akan menenangkan diriku sebentar. Jangan ada yang menggangguku sampai aku keluar sendiri dari ruangan ini." Shaka menyenderkan kepalanya yang terasa amat pusing.
***
__ADS_1
Hari ini Gloria tak masuk kuliah karena pagi tadi perutnya tak nyaman dan muntah tiada henti, karena bosan dirumah ia bermaksud mencari beberapa buku di ruang kerja Shaka untuk ia baca. Shaka mengijinkannya keluar masuk dari ruangan besar yang dipenuhi segala macam buku itu, karenanya Gloria tak segan-segan langsung membuka pintu dan matanya langsung menjelajah setiap judul buku yang ia lihat.
Setelah menemukan beberapa buku menarik ia memutuskan segera melangkahkan kakinya keluar pintu, "Isss aku menjatuhkan berkas Suamiku". Ucap Gloria saat ia tak sengaja menyenggol tumpukan berkas ketika melewati meja kerja Shaka. Ia menaruh buku yang ia bawa di atas meja lalu berjongkok memunguti kertas yang berserakan di lantai, tiba-tiba tangannya bergetar dan matanya membola saat kertas yang ia pungut tercantum foto seseorang yang dikenalnya. Ia memandangi foto itu cukup lama lalu pandangannya turun perlahan membaca setiap tulisan yang tercatat di sana satu persatu.
Deg.. Kali ini jantungnya mungkin akan benar-benar berhenti berdetak, dadanya bahkan terasa sangat sesak hingga tangannya melemas dan kertas itu jatuh kembali ke lantai.
"Bagaimana.. Bagaimana bisa.." Terdiam, ia bahkan tak mampu meneruskan kalimatnya, yang jelas dirinya saat ini begitu marah dan ingin segera bertemu dengan Shaka untuk meminta penjelasan.
Ia meraih kertas itu lagi dan mendekapnya di depan dada, lalu mengumpul kan semua tenaga agar bisa berdiri meski lututnya masih gemetar. Belum sempat ia berdiri dengan sempurna tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pandangan nya semakin lama semakin buram, hingga semua menghitam dan matanya tertutup tanpa sadar.
***
"Kau sudah bangun sayang?." Shaka menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Gloria. "Aku segera pulang saat bibi Rick mengabariku kau pingsan di ruang kerja, dokter bilang anak kita baik-baik saja hanya saja kau butuh lebih banyak istirahat." Shaka tersenyum hangat.
"Jelaskan semua tuan Shaka!." Gloria berteriak keras hingga suara nya memenuhi kamar yang ia tempati. "Cepat jelaskan.!"
"Kau seorang pembunuh Shaka! Pembunuh!!." Gloria semakin meninggikan volume suaranya, ia memukul-mukul dada Shaka dengan semua tenaga yang ia miliki hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Gloria dengarkan aku." Ucap Shaka namun Gloria masih meracau.
"Gloria!!!." Bentak Shaka, dalam sekejap suara Gloria pun sudah tak terdengar kecuali isakan tangisnya. Kemudian Shaka membawa wanita di hadapannya itu kedalam pelukannya dan berkata "Gloria dengarkan penjelasanku, tenangkan dirimu."
__ADS_1
Setelah Gloria cukup tenang Shaka mulai menjelaskan apa yang selama ini menjadi beban pikiran nya. "Awalnya aku juga tidak tahu kalau kau anak dari korban kecelakaan proyek perusahaanku, hingga aku menikahimu dan mencari tahu semua tentangmu." Shaka menjeda perkataannya.
"Aku kira kecelakaan itu memanglah murni, hingga Sam menemukan sesuatu yang janggal. Karena korban itu adalah ayahmu sekaligus mertuaku, aku menyelidikinya diam-diam. Apa kau ingat saat aku meninggalkanmu selama 2 minggu lamanya?." Sam menatap lekat wajah sendu Gloria, dan Gloria mengangguk sebagai tanda ia mengingat hal itu.
"Saat itu aku pergi ke kota C tempat proyek itu di jalankan dulu, setelah itu aku pergi ke Spanyol untuk menemui ayahku karena dia lah kunci dari semuanya."
"Ayahmu?." Lirih Gloria.
"Ya, ayahku. Meski saat itu aku sudah menjadi CEO namun semua proyek ayahku yang memantaunya. Semula ayahku mengelak semua yang aku tuduhkan, hingga aku melempar semua bukti yang sudah aku kumpulkan pada nya." Shaka menghirup nafas dalam-dalam.
"Barulah ayahku berkata jujur kalau dia yang membunuh karyawannya dengan pistol yang ia pegang saat itu, dia mendapat pesan kalau salah satu karyawannya ada yang berhianat dan mencoba untuk membunuhnya. Ayahku langsung saja percaya karena memang saingan bisnisnya di luar sana banyak yang mengincar nyawanya, saat ia bertanya kepada pengirim pesan siapa karyawannya yang berhianat, pengirim pesan itu mengirimkan foto ayahmu." Gloria terbelalak mendengar penjelasan Shaka.
"Tanpa ragu ayahku langsung menembak karyawannya dan mengatur kecelakaan di proyek agar seolah-olah karyawannya itu meninggal karena kecelakaan namun dampaknya proyek itu menjadi terbengkalai."
"Ayahmu sangat kejam tuan Shaka." Lirih Gloria, tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sesak dan tangan kirinya mengahapus airmata yang keluar tiada henti.
"Beberapa bulan kemudian barulah ayahku tahu bahwa karyawannya itu tak bersalah, itu semua konspirasi dari rival bisnisnya agar proyek besar perusahaanku gagal dan ARS Corp merugi besar. Setelah kejadian itu ayahku depresi berat, ibuku membawanya kembali ke Spanyol untuk melakukan pengobatan. Namun mereka tak memberitahuku sebab kenapa ayah mengalami depresi seperti itu, 3 tahun kemudian barulah kondisinya membaik. Gloria, Ayahku memendam rasa bersalah pada keluargamu selama 6 tahun."
Shaka meraih dagu Gloria agar wanita itu menatapnya, "Jika kau mau melaporkan ayahku ke polisi, ia siap menerimanya dan tak akan melawan asalkan itu bisa membuatmu memaafkannya."
Gloria diam, ia membalikkan tubuhnya memunggungi Shaka. "Tinggalkan aku.. aku ingin sendiri. Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya." Gloria berkata sangat pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Baiklah." Shaka membelai pucuk kepala Gloria lalu keluar dari kamarnya dengan tatapan yang sendu.
***