
Gloria berlari menuruni tangga saat melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dia bahkan tidak ingat jika kini di perutnya ada sebuah nyawa yang berharga.
"Stop nona!." Ucap bibi Rick yang baru saja keluar dari dapur.
Gloria langsung menghentikan kakinya, "Bibi Rick, awas jangan menghalangi jalanku. Kenapa kau menghentikan ku bibi Rick?."
"Nona apa kau lupa, kau sedang hamil." Bibi Rick menggeser badannya.
"Ups.. Anakku kau tak apa-apa kan? Maafkan ibu yang melupakanmu di dalam sini." Mengusap perutnya dengan lembut lalu kembali menuruni tangga.
"Bibi Rick, dimana Tuan mudamu?." Mata Gloria menyapu seisi ruangan namun sosok yang ia cari tidak ia temukan.
"Tuan muda sudah ke kantor sejak pukul 7 pagi tadi."
"Apa!! Kenapa dia tidak membangunkanku, apa dia sengaja membuatku telat kuliah." Gloria mengerucutkan bibirnya.
"Tuan berpesan agar nona istirahat dirumah dan tidak boleh pergi kuliah."
"Tidak bisa Bibi Rick, hari ini aku ada tugas yang harus ku kumpulkan. Jika tidak, dosen pasti tidak mengijinkan ku untuk ikut kelasnya lagi." Gloria kembali melihat jam di tangannya. "Sebaiknya aku berangkat sekarang."
"Tapi nona.."
"Biar nanti aku yang menelfon Tuan Shaka agar dia tak memarahimu." Gloria berjalan cepat ke arah pintu.
"Setidaknya nona sarapan dulu." Bibi Rick sedikit berteriak.
"Tidak Bibi Rick, aku sedang tak nafsu makan. Lagipula pagi ini perutku terasa nyaman." Gloria berteriak tanpa menghentikan langkahnya, sesaat kemudian ia sudah tak terlihat lagi di dalam rumah yang besar itu.
***
Gloria menyuruh supir mengantarkannya sampai halaman kampus, ia sudah tak peduli lagi. Toh, semua orang juga sudah pernah melihatnya masuk keluar dari mobil mewah berwarna merah mengkilap itu. Gosip juga sudah terlanjur tersebar dan semakin gencar, jadi dia tak mau terlalu mengambil pusing.
"Glo..!" Yuna melambaikan tangan saat melihat Gloria berjalan ke arahnya. "Aku kira kamu ijin lagi seperti kemarin." Lanjutnya saat Gloria sudah berada di sebelahnya.
"Aku harus menyerahkan tugas ke Prof.Erick hari ini. Kalau telat lagi aku akan habis di hakimi dosen galak itu." Gloria dan Yuna bergidik ngeri membayangkan Prof. Erick menghukum mahasiswa nya.
"Jangan.. Jangan sampai." Yuna menggeleng kepalanya dengan cepat. "Tunggu Glo, aku lupa memberitahumu." Yuna menarik tangan Gloria agar ia menghentikan jalannya.
__ADS_1
"Apa?." Gloria menatap Yuna sambil mengerutkan dahinya.
"Semua kelas hari ini di liburkan.. Tadi sebenarnya aku mau pulang." Yuna menyeringai dan menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Kenapa kau tak bilang dari tadi, iisssh dasar kau ini." Gloria mendesis. "Tapi ada apa?." Lanjutnya.
"Entahlah ayo kita kesana, aku jadi penasaran." Yuna menunjuk sekumpulan mahasiswa kemudian menarik tangan kecil Gloria.
Sesampainya di sana, mereka mendengar banyak mahasiswa membicarakan seorang tamu penting Universitas.
"Ya! Gue tadi melihatnya!!"
"Ternyata dia sangat tampan seperti rumor yang beredar."
"Gue mau jadi istrinya!."
"Jangan mimpi lo! Kalo itu gue juga mau."
Gloria dan Yuna saling berpandangan, kira-kira siapa tamu yang membuat semua mahasiswa terpesona. Sesaat kemudian Yuna menghampiri mahasiswa-mahasiswa itu. Cukup lama hingga Yuna kembali ke hadapan Gloria dengan wajah berseri-seri.
"Ada dengan wajahmu?" Tanya Gloria heran.
"Kenapa?." Gloria berusaha tenang saat sahabatnya menyebut nama suaminya.
"Dia.. Dia disini!!." Yuna berkata dengan girangnya.
"Apa!!." Kali ini Gloria benar-benar terkejut.
"Ayo kita lihat! Kita pergi ke lapangan sekarang. Aku tak sabar ingin tahu bagaimana wajahnya." Yuna menarik tangan Gloria tanpa ijin.
"Tunggu Yun, sedikit berhati-hati jangan berlari seperti ini. Aku... "
"Aah ternyata disini ramai sekali." Belum lengkap kalimat yang keluar dari mulut Gloria, Yuna sudah memotongnya saat ia melihat kerumunan mahasiswa yang berdesak-desakan.
"Tempo hari kau bilang dia sangat tampan? Tapi kau sendiri belum pernah lihat wajahnya?." Gloria heran dengan sahabatnya itu.
"Aku memang belum pernah melihat, tapi aku selalu mendengar rumor yang beredar.!. Tentu saja aku percaya kalo dia lelaki tampan. Apalagi beberapa mahasiswa tadi berkata seperti itu, ah aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan Tuan Arshaka." Lagi-lagi wajah Yuna berseri seakan-akan ia hendak bertemu dengan kekasihnya.
__ADS_1
"Aku akan menyusup kesana, apa kau ingin ikut?." Ajak Yuna.
"Aah.. Tidak, kau saja." Gloria menolaknya, dia bahkan setiap hari bertatap muka dengan wajah tampan Shaka lalu untuk apa dia berdesakan hanya untuk melihatnya di sini.
"Baiklah."
Dengan cepat Yuna berjalan ke gerombolan mahasiswa itu. Sedangkan Gloria mencari tempat duduk yang nyaman.
"Ohhoo.. Lihatlah sugar baby kita ini, kau tak ikut antri disana? Aaah lebih baik tidak, karena yang disana tak akan melirik wanita murahan sepertimu." Ucap Joelly tersenyum remeh.
Gloria menghela nafas, ia tak menghiraukan Joelly dan teman-teman yang meracau tanpa henti, ia pura-pura tak mendengarnya sambil membuka buku yang ia pegang. Namun tiba-tiba Gloria merasa mual yang tak tertahankan, ia segera berlari menuju toilet terdekat.
Joelly dan teman-temannya tersenyum jahat karena mereka akan mendapatkan gosip baru, "Wooo.. Akan ada pertunjukkan menarik. Ayo kita ikuti sugar baby itu."
"Hai sugar baby, kau sudah selesai?." Joelly menghadang Gloria di pintu toilet dengan menyilangkan tangannya di depan dada. "Ooh sepertinya disitu ada anak haram dari pekerjaanmu, aku benar kan?." Joelly menunjuk perut Gloria hanya dengan tatapan matanya.
"Minggir Joelly, kau tak perlu tau." Gloria menepis tubuh Joelly, namun segera Joelly bersama teman-temannya menghadang Gloria lalu menarik tangannya.
"Apa semua mahasiswa disini bersikap seperti kalian." Suara serak seorang lelaki menghentikan apa yang di lakukan Joelly dan teman-teman nya. Kini mata mereka tertuju pada lelaki berwajah tampan dengan setelan jas mahal yang melekat sempurna pada tubuhnya yang atletis.
Mereka terpukau dengan pesona lelaki itu, sesaat kemudian barulah Joelly sadar atas apa yang ia lakukan tadi. "Kami hanya bercanda Tuan Arshaka, iya kan?." Joelly berkata selembut mungkin sambil menatap Gloria dengan senyum penuh maksud, kemudian di angguki oleh Gloria.
"Tuan Arshaka, saya permisi. Teman-teman ayo kita pergi." Akhirnya Joelly dan teman-teman nya meninggalkan tempat itu.
"Kau baik-baik saja, sayang?." Shaka langsung bertanya khawatir, tangannya membelai lembut pipi Gloria.
"Ya, terimakasih kau sudah menolongku Tuan Shaka." Gloria tersenyum manis yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku seperti itu. Apa dia juga baik-baik saja.?" Tangan Shaka beralih pada perut Gloria.
"Ya, dia baik. Sebaiknya kau segera kembali, kalau ada yang melihat kita seperti ini kurasa itu tidak akan baik." Ucap Gloria.
"Baiklah sayang, kita lanjutkan lagi perbincangan kita dirumah. Aku akan memberimu hukuman nanti karena berani meninggalkan rumah tanpa memberitahuku. Dan satu lagi, jagalah dirimu sebaik mungkin. Andai aku tadi tak sengaja lewat disini dan melihatmu, apa yang akan terjadi dengan mu. Jika terjadi hal seperti itu lagi segera hubungi aku." Shaka mengecup kening Gloria kemudian berlalu pergi.
Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh.
***
__ADS_1
.