
Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemen Sam, ia tak peduli dengan jalanan yang sangat padat serta bising klakson dari mobil yang ia selip.
"Sial!!." Umpat lelaki itu setelah membuka pintu apartemen milik Sam, tentu saja ia tahu password nya sehingga ia bisa menyelonong masuk begitu saja.
"Bos..! Kenapa kau ada disini? Bukankah kau sedang melepas rindu dengan nona Gloria?." Tanya Sam yang baru keluar dari kamarnya.
"Jangan sebut nama wanita murahan itu di depanku! Aku tak mau mendengarnya." Ketus Shaka memaki Gloria dengan kesal.
"Wanita murahan?", Sam mengernyit bingung.
" Ya! Apalagi kalau bukan wanita murahan! Dia sudah menikah tapi dia bertemu dengan pria lain di belakang suaminya, dan lagi! Dia mendapat kiriman bunga mawar merah, itu pasti kiriman dari kekasihnya.!. Aaah!!." Shaka menendang meja kaca di depannya hingga pecah.
"Gawat! Bos hentikan emosimu, kenapa tempramen mu sangat buruk? Jika kau masih marah disini semua barangku akan hancur tak tersisa. Aku rasa ada kesalah pahaman disini, tidak mungkin nona Gloria punya kekasih di belakangmu." Sam menjauhkan prabotnya yang mudah pecah dari dekat Shaka.
"Kau masih membela wanita murahan itu!!." Shaka menatap Sam dengan sorot mata tajam.
"Aaah.. Tidak-tidak bukan begitu, tapi ku rasa nona Gloria bukan wanita yang seperti itu. Dia bukanlah wanita murahan, seharusnya kau yang paling faham bos.. bukankah malah kau sendiri yang menghancurkan hidupnya saat kau mabuk saat itu." Sam mencoba meyakinkan Shaka jika bos nya itu sudah salah menilai.
"Saat itu dia pasti sengaja merayuku agar bisa memanjat ranjang ku dengan mudah." Shaka mengelak tak terima.
"Bos.. Sadarlah.. Ada yang tidak beres disini, pasti seseorang dengan sengaja mempermainkan mu!!." Sam sedikit meninggikan suaranya, "Sekarang tenangkan dirimu lalu kita cari kebenarannya satu persatu. Aku percaya nona Gloria adalah wanita baik yang sangat menghormati suaminya."
Shaka mendudukkan dirinya di sofa, ia mengurut kepalanya yang serasa mau pecah. Ia diam cukup lama hingga Sam mulai bertanya padanya, "Apa kau kenal lelaki di dalam foto itu?."
Shaka mengalihkan pandangannya pada Sam, dari raut wajahnya terlihat jika ia sedang berfikir. "Benar, semua ini pasti rencana Lelaki brengsek itu!! Shiitt..!" Tangannya mengepal kuat lalu memukul sofa yang ia duduki.
"Segera cari tahu tentang lelaki bernama Jacob, dan bawa dia ke hadapanku!." Ucap Shaka tegas.
"Jacob? Jadi lelaki itu bernama Jacob.." Sam nampak mengingat-ingat sesuatu, "Ahay!! Aku baru ingat wajah lelaki itu, dia merupakan dosen di kampusmu bos."
__ADS_1
Shaka mengangguk, ia membenarkan jika Jacob memang dosen di STARS University. "Tapi ia sudah mengundurkan diri beberapa waktu lalu, aku selalu lebih tau selangkah daripada kamu!." Menatap sinis kearah Samuel.
Tanpa banyak bicara lagi, Sam menyuruh anak buahnya mencari Jacob ke setiap sudut kota. Mereka menunggu hasil hingga tak terasa malam sudah semakin larut.
"Bos.. Sebaiknya kau pulang untuk memastikan keadaan nona Gloria." Ujar Sam setelah mendengar cerita Shaka bahwa lelaki itu berbuat kasar kepada Gloria.
Shaka menoleh ke arah Sam sekilas, "Tidak!, aku masih belum tahu kebenarannya. Aku akan pulang setelah menginterogasi lelaki Bren*sek itu."
"Tapi.. Nona Gloria pasti sangat khawatir jika kau tak kunjung pulang." Sam menangkupkan kedua tangannya dan memasang wajah memelas.
"Mungkin kali ini tidak.."
***
Gloria bangun saat Jam di kamarnya menunjukkan pukul 01.00 malam, sepertinya cukup lama ia tak sadarkan diri. Ia terbangun dengan tubuh gemetar karena merasakan sakit, matanya menjelajahi setiap jengkal tubuhnya yang masih polos hanya terbalut selimut, ia mendapati pahanya yang menghitam karena melepuh. Ia tak kaget karena ia tahu pasti akan seperti itu jika tersiram air panas.
Ia menyentuh ranjang kosong di sampingnya, "Dia tak pulang.." Gumamnya saat merasakan seprei dingin yang tak terjamah. "Dia sungguh tak ingin melihatku lagi." Lanjutnya dengan dada yang penuh sesak, ia ingat betul dengan perkataan Shaka sebelum lelaki itu menghilang dari balik pintu kamarnya.
Tanpa sadar air mata nya terjatuh, lagi dan lagi seakan tak mau berhenti. Ia mulai mengemas barang-barangnya ke dalam koper dan berniat keluar dari rumah mewah itu malam ini juga karena sang pemilik rumah sudah mengusirnya.
Tak banyak yang ia masukkan ke dalam koper, ia hanya mengemas beberapa pasang pakaian yang sedikit terlihat usang karena sering ia pakai. Ia merasa tak punya hak atas barang-barang yang lain karena semua itu pemberian Shaka.
Pandangannya menyapu kamar yang sudah ia tempati berbulan-bulan, ruang yang penuh kenangan antara dirinya dan sang suami, mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suami. "Sudah tak ada harapan lagi untuk aku tetap tinggal disini, lagipula dia akan segera menceraikan ku." Gloria tersenyum getir setelah mendengar ucapannya sendiri.
Dengan susah payah dan tertatih dia berjalan menahan sakit di kakinya, tangan kanannya menyeret koper sedangkan tangan kirinya mengusap air matanya yang tersisa.
Tepat setelah ia menuruni tangga, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya. "Nona, apa yang Anda lakukan di tengah malam? Kenapa nona membawa koper?."
Gloria terkejut dan langsung menoleh ke asal suara, "Bibi Rick... Kenapa kau tak tidur?." Gloria malah balik bertanya.
__ADS_1
Bibi Rick melihat mata sembab Gloria yang tak bisa di sembunyikan, kemudian berganti melihat balutan perban yang melilit di kaki wanita itu. "Nona.." Bibi Rick sulit untuk berbicara, ia tahu jelas jika nona dan tuan mudanya sedang dalam masalah. Ia melihat sendiri kemarin bagaimana tuan mudanya itu menyeret paksa Gloria yang sedang terluka, dan setelah itu tuan mudanya keluar rumah dengan penuh amarah.
"Bibi Rick.. Terimakasih sudah menjagaku selama aku tinggal disini." Gloria memaksakan senyumnya, kemudian ia berbalik dan melanjutkan jalannya yang sempat terhenti. Ia tak mau berlama-lama berada di depan bibi Rick karena ia khawatir tak akan sanggup lagi menahan air matanya yang sudah mulai mengering.
"Nona.. Aku harus bagaimana?." Gumam bibi Rick sedih, ia ingin menghentikan nona mudanya namun ia tak cukup punya keberanian. Pasti nona mudanya sudah mempertimbangkan sebaik mungkin sebelum mengambil keputusan.
Namun di dalam lubuk hatinya sungguh tak tega melihat pemandangan yang ada di depan matanya itu, beberapa saat kemudian bibi Rick mengejar Gloria yang sudah berada di ambang pintu, "Nona.. Tunggu sebentar."
Gloria menghentikan kakinya lagi lalu menatap bibi Rick yang sudah menghadang di depannya, "Ada apa lagi bibi Rick?."
Bibi Rick meraih kalung yang ia pakai, lalu melepas liontin berbentuk kunci yang bertengger di kalung itu. Kemudian ia merogoh sakunya dan mengambil secarik kertas dari dalam sana. "Ini.. Nona bisa pergi ke rumah lama saya, saya tau nona pasti sedang ingin menenangkan diri. Tidak ada yang tau tempat itu termasuk tuan muda, itu terletak di pinggiran kota, Alamatnya ada disini." Bibi Rick menyodorkan kunci dan kertas yang bertuliskan alamat rumahnya.
"Bibi Rick.." Lirih Gloria, meski sedikit ragu namun ia tetap mengambil kunci dan kertas itu, sungguh kebetulan bibi Rick berbaik hati padanya. Memang sedari tadi yang terlintas di benaknya adalah kemana tujuannya setelah keluar dari rumah ini, tak mungkin ia pulang ke rumahnya karena bisa saja Shaka tak sengaja melihatnya ketika melewati daerah sana. "Bukankah Shaka bilang ia tak mau bertemu denganku lagi? Jadi pergi sejauh-jauhnya mungkin adalah keputusan yang paling benar." Batin Gloria.
"Terimakasih bibi Rick.." Gloria berhambur memeluk wanita paruh baya di depannya.
"Jaga diri nona sebaik mungkin, aku percaya nona dan tuan muda saling mencintai." Ucap bibi Rick sambil mengelus punggung Gloria. "Aku akan menyuruh supir untuk mengantar nona, ini masih tengah malam tidak ada taksi yang lewat di daerah sini." Lanjutnya.
"Tapi...."
"Nona tenang saja, supir tak akan membocorkan nya." Bibi Rick tahu akan ke khawatiran Gloria.
"Sekali lagi terimakasih.. Bibi Rick juga harus menjaga kesehatan sebaik mungkin, jika ada ke ajaiban yang membawaku ke rumah ini lagi, aku ingin melihat bibi Rick dengan kondisi yang baik seperti ini." Gloria memasang senyum di wajah cantiknya.
10 menit kemudian mobil yang akan mengantar Gloria sudah siap, Gloria segera masuk ke dalam mobil itu. Di menit berikutnya mobil itu sudah melaju pergi dari rumah mewah milik Shaka.
"Maaf nona.. Sebenarnya saya melakukan ini bukan hanya untuk nona melainkan juga untuk tuan muda, saya menyuruh nona ke rumah lama saya agar nona punya tempat tinggal yang saya bisa ketahui, akan lebih susah jika saya kehilangan jejak nona setelah keluar dari rumah ini." Gumam bibi Rick setelah mobil yang di tumpangi Gloria sudah tak terlihat lagi.
**
__ADS_1