
Gloria Angelica, gadis cantik berpostur mungil yang masih berstatus Mahasiswa. Di umurnya yang masih 21 tahun ia harus menanggung banyak beban hidup di pundaknya. Sifatnya yang baik hati serta sikapnya yang ramah membuat ia banyak disukai orang disekitarnya.
Arshaka Zalleo, lelaki tampan dengan sejuta pesona. Pandangan yang dingin dengan tatapan yang tajam menambah ketegasan lelaki berpostur tubuh Atletis itu. Kelihaian nya dalam berbisnis membuat lelaki berusia 30 tahun itu menjadi salah satu pengusaha berpengaruh di dunia.
***
Sudah beberapa kali Gloria meneliti penampilannya didepan cermin besar disalah satu ruangan rumah yang super mewah.
Beberapa jam lalu, seorang lelaki paruh baya yang mengaku dirinya seorang sopir menjemput dan membawanya kerumah besar bak istana itu, rumah berwarna putih bergaya klasik milik Arshaka.
Seorang pelayan menghampirinya, "Silahkan Nona, Tuan muda sudah menunggu anda."
Gloria mengangguk dan mengikutinya.
Entah mau di bawa kemana, Gloria hanya mengekor di belakang pelayang tersebut. Melewati ruangan demi ruangan, lalu menuruni sebuah tangga. Beberapa kali mengedarkan pandangannya.
Tak nampak banyak orang disana, hanya ada pemuda yang kemarin merampas hidupnya, dan beberapa wajah asing yang tak ia kenal.
Gloria menuruni satu persatu anak tangga, ia berjalan dengan sangat anggun.
"Gila bos!, cakep juga cewek lo." Sam menyenggol Shaka yang ada disampingnya dengan sikunya.
Shaka kemudian mendongakkan kepalanya, dilihatnya seorang gadis cantik meski tanpa senyum di wajah gadis itu. "Lumayan, setelah di make-up dia bahkan lebih cantik dari Cassy." Tak terkira sudut bibir Shaka sedikit terangkat.
"Kemarilah." Shaka mengulurkan tangannya, lalu menuntun Gloria agar duduk di sebelahnya.
Lalu berlangsunglah pernikahan yang sederhana itu, tanpa di hadiri orangtua ataupun keluarga dari kedua belah pihak.
***
__ADS_1
Sore hari.
Disinilah Gloria sekarang, di sebuah kamar besar bernuansa putih abu-abu yang ia yakini sebagai kamar sang pemilik rumah. "Tuan Shaka menyuruh saya mengantar Nona kesini, sebentar lagi dia akan kemari." Ucap pelayan yang tadi mengantar Gloria, "Nona boleh beristirahat, saya pamit undur diri." Lanjutnya lagi, kemudian pelayan itu membungkukkan sedikit badannya lalu keluar dari kamar tersebut.
"Shaka.." Gumam Gloria pelan, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi didekat balkon. Dari sana terlihat halaman yang begitu luas, dan pepohonan tumbuh dengan rindangnya. "Aku tak terlalu memperhatikannya tadi, ternyata rumah ini luas sekali, bahkan halaman sampingnya saja mungkin lebih luas dari lapangan sepak bola di sebelah Gang yang selalu kulewati." Gloria berdecak kagum.
"Apa yang kau lihat." Suara Shaka mengejutkan Gloria.
"Tttuan." Ucap Gloria tergagap, ia langsung berdiri dari tempatnya duduk.
"Kenapa kau tergagap-gagap, bukankah kemarin kau sangat galak padaku?." Shaka semakin mendekat ke arah Gkoria.
"Jangan membahas yang kemarin Tuan." Raut wajah Gloria berubah menjadi sedih, ia teringat hal buruk yang Shaka lakukan kemarin di dalam Hotel.
Shaka mengambil nafas berat, "Bersihkan badanmu, aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu disana." Menunjuk ke sesebuah ruangan berpintu kaca.
Sesampainya ia didalam kamar mandi, ia mencoba melepas gaun yang ia kenakan. Namun sayang, tangan kecil nya tak bisa meraih kancing di belakang gaun itu satu persatu.
"Bagaimana ini?.. Bagaimana aku mau mandi kalau aku tak bisa melepas kancing-kancing ini? Kenapa tadi aku mau memakai gaun seperti ini. Menyusahkan saja!." Cibir Gloria tiada henti. Lalu dia menghentikan tangannya saat mendapat sebuah ide.
"Aah.. Aku minta bantuan kepada dia saja." Gloria melangkah keluar kamar mandi, namun baru 2 langkah tiba-tiba ia berhenti. "Tungu!!, Gloria apa kau tak punya malu, dia akan melihat tubuhmu." Bicara dengan diri sendiri. "Tapi kalau tak minta bantuan kepadanya bagaimana aku bisa melepas gaun ini?, aaah sudahlah Gloria! Putus saja urat malumu. Lagipula lelaki itu sudah pernah melihat semua bagian tubuhmu." Akhirnya Gloria benar-benar keluar kamar.
Ceklek..
Ia membuka pintu kamar mandi, pandangannya mengitari seisi kamar besar itu, dan berhenti ketika melihat lelaki yang sedang duduk di atas sofa sambil memangku sebuah laptop.
Ia berjalan menuju ke arah lelaki itu, "Tuan, bisakah kau membantuku melepas kancing di gaun ini? Tanganku tak sampai untuk meraihnya." Ucap Gloria pelan.
Shaka mendongakkan wajahnya, matanya menyipit sejenak lalu ia menaruh laptop yang berada di pangkuannya ke atas meja. "Berbalik lah." Ucap Shaka kemudian ia berdiri dan melepas satu persatu kancing yang melekat di gaun indah itu. Tangannya berhenti sejenak saat kancing yang ia lepas semakin mencapai bawah, ia menelan salivanya, dilihatnya punggung putih mulus milik Gloria. Karena terlalu mabuk ia tak begitu memperhatikan tubuh wanita itu saat menidurinya kemarin, "Ternyata tubuh wanita ini sangat indah." Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa berhenti tuan?." Pertanyaan Gloria membuyarkan lamunan Shaka. "Belum ada 1 hari kau menjadi istriku, dan kau sudah memerintahkanku!, lepas sendiri gaunmu!." Teriak Shaka, segera ia kembali duduk dan meraih laptopnya.
"Maaf Tuan." Gloria segera pergi dari hadapan Shaka, ia berjalan cepat menuju kamar mandi. "Kenapa dia tiba-tiba marah?, untung saja kancingnya sudah terlepas sampai bawah." Gloria melanjutkan melepas kancing kecil itu, lalu melucuti gaun cantik yang ia pakai.
"Aku akan berendam sejenak." Gloria masuk perlahan ke bathup.
***
Gloria sudah menyelesaikan mandinya, ia keluar menggunakan bathrobe berwarna putih yang sudah tersedia di kamar mandi. Ia berjalan menuju ruangan berpintu kaca yang di tunjuk Shaka sebelum ia mandi tadi, "Dimana pakaian yang ia sediakan untukku?." Gumam Gloria saat melihat banyak pintu kaca berjejer rapi didalam ruangn itu.
Gloria membukanya satu persatu, "Bukan ini" Ucapnya saat membuka salah satu pintu berisikan setelan Jas mahal. "Bukan juga yang ini" Ucapnya lagi saat membuka pintu berisikan kaos-kaos pria, "Ini juga bukan" Ucapnya lagi saat membuka pintu yang ternyata berisi jaket dengan merk terkenal.
"Tinggal pintu ini yang belum ku buka." Ucap Gloria setelah membuka lebih dari 7 pintu besar, "Akhirnya aku menemukanmu.. Sungguh sulit untuk mencarimu." Gumamnya saat melihat pakaian wanita tergantung dengan rapi.
Gloria menatap dirinya di pantulan cermin besar di depannya, memakai pakaian bagus membuat seseorang terlihat semakin cantik, "Aaah aku tak pernah membayangkan berganti baju bisa selelah ini, apakah dia bisa mengingat semua letak pakaiannya?, harusnya Tuan muda itu memberi tulisan di setiap pintu."
Saat Gloria keluar dari ruang pakaian, ia melihat Shaka baru selesai mandi, lelaki itu hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Masih terlihat jelas tetesan air membasahi tubuh atletis lelaki berwajah tampan itu.
Deg.. Deg.. Gloria segera menutup matanya dengan tangan, sungguh dia adalah wanita normal. Melihat pemandangan di depannya meski hanya sekilas, membuat jantungnya tak bisa di kendalikan.
"Tu.. Tuan.." Mulutnya tergagap.
.
.
.
.
__ADS_1