ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Disappointed


__ADS_3

Ceklek..


Suara gesekan knop pintu membuat Gloria buru-buru menutup dan mengembalikan kotak hitam itu pada tempatnya.


"Sayang.. Kau meninggalkanku." Lelaki bersuara berat sudah menyapanya meski masih berada di ambang pintu.


"Aku--"


"Kenapa kau duduk di lantai yang dingin, sayang?" Shaka menyela Gloria yang hendak menjawabnya.


Deg..


Jantung Gloria masih berdenyut nyeri setelah melihat foto-foto seorang perempuan di kotak tadi dan sekarang jantungnya pun berdetak lebih cepat dengan pertanyaan Shaka yang harus ia jawab agar lelaki itu tak menaruh curiga padanya.


"Itu.. Tadi aku tak sengaja menjatuhkan bolpoin milikmu." Ia segera mendapat alasan yang pas saat melihat bolpoin yang ia pegang erat di tangannya yang berkeringat dingin.


"Kau tak harus duduk di lantai untuk mencari sebuah bolpen, sayang." Shaka membantu Gloria beranjak dari lantai. "Tubuhmu tak kalah dingin dengan lantai ini," Lanjutnya lagi saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Gloria.


Gloria hanya mengangguk lalu naik ke atas ranjang, ia mengeratkan tangannya pada seprei putih yang ia duduki. "Sayang.. Kau--" Gloria menghentikan kalimatnya karena ragu untuk menanyakan perihal foto dan wanita yang ia temui di pusat perbelanjaan.


"Iya?" Shaka bertanya selembut biasanya.


"Kau berganti lah baju lalu kita tidur, kita harus bangun pagi-pagi agar besok bisa berangkat lebih awal." Akhirnya itulah yang Gloria ucapkan dari mulutnya yang terasa keluh.


"Tentu istriku."


***

__ADS_1


Langit sudah berubah warna menjadi cerah, matahari pun sudah nampak bersinar lebih terang. Shaka keluar dari kamar mandi setelah hampir setengah jam bergelut dengan air dan sabun mandi mahal yang setia merawat kulitnya.


Ia menggosok-gosokkan handuk kecil di rambutnya yang basah, lalu berjalan santai ke ruang pakaian kemudian masuk kesana.


10 menit kemudian ia keluar dari ruangan itu dengan memakai kaos dan celana panjang, tak seformal seperti biasanya ketika berangkat ke kantor.


Ia mengerut keningnya bingung saat mendapati Gloria masih meringkuk di atas di tempat tidur, "Sayang.. Kenapa kau tak kunjung bangun?" Ucapnya seraya berjalan ke arah ranjang.


"Sayang.." Ucapnya lagi, "Panas.." Gumamnya saat ia menyentuh pipi Gloria dengan maksud membangunkan wanita itu, namun justru ia malah mendapati istrinya itu demam.


Ya, Gloria demam. Semalam wanita itu tak tidur sama sekali, ia tak bisa menutup mata dengan tenang, pikirannya juga melayang merajalela entah kemana. Memikirkan bagaimana kehidupan suaminya di masalalu, seberapa banyak wanita yang hadir di hidup suaminya, dan kenapa suaminya menyimpan foto-foto itu.


Shaka bergegas berlari keluar dari kamarnya, "Ibu!! Ibu!" Teriak lelaki itu sekeras mungkin hingga suaranya menggema memenuhi hampir setengah mansion berlantai 2 itu.


Semua penghuni yang mendengarnya segera menuju ke asal suara, "Sayang, ada apa? Kenapa kau memanggil Ibu seperti itu?!" Tanya nyonya Zalleo panik, di susul Tuan besar Zalleo dan beberapa pelayan.


"Gloria sakit, Ibu ayo cepat ikut aku ke kamar." Shaka menggandeng tangan ibunya kemudian mereka masuk ke dalam kamar.


Jleb.. Dada Shaka serasa tertusuk kayu runcing yang sangat tajam, benar kata ibunya. Harusnya ia langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya, aaah bodoh sekali dirinya.


"Aku baik-baik saja ibu," Saut Gloria lemas yang sudah bangun dari tidurnya, ia tak sengaja mendengar ucapan sang mertua.


Ibu Shaka mendekatkan dirinya ke ranjang, ia menyentuh lembut kening Gloria dengan punggung tangannya. "Kau demam sayang, ibu akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu."


"Iya ibu.." Jawab Gloria, ia tak ingin menolak karena ia memang merasakan kondisinya yang sedang tidak sehat.


"Kenapa masih disini? Cepat suruh pelayan menghubungi dokter." Ketus ibu Shaka pada putranya.

__ADS_1


"Ah! Iya ibu. Aku akan menelfonnya sendiri." Shaka mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, lalu segera menghubungi dokter.


Setelah itu, ia kembali ke ranjang dan duduk di samping Gloria berbaring. Ia memandang wajah Gloria yang pucat pasi, lalu merapikan anak rambut yang menghalangi wajah wanita itu.


"Kau segeralah berangkat suamiku, sekretaris Sam pasti sudah menunggumu di bandara. Maaf aku tak bisa menemanimu, aku sungguh minta maaf." Gloria berkata penuh salah.


"Aku yang harusnya minta maaf sayang, seharusnya aku menjagamu di saat sakit seperti ini." Ia menjeda ucapannya sejenak dan nampak berfikir, "Apa sebaiknya aku tak usah pergi ke Hawai."


"Jangan.." Gloria tak setuju. "Perjalanan bisnis ini sangat penting bagi perusahaan, kau tak boleh membatalkannya hanya karena aku. Cepat bersiaplah berangkat kau jangan khawatir disini ada ayah dan ibu yang menjagaku, iya kan Ayah.. Ibu.."


Gloria menatap dan tersenyum lemah ke arah kedua mertuanya.


"Tentu sayang, kami akan menjagamu dengan sangat baik. Kau adalah anak kami." Ucap Nyonya Zalleo kemudian di angguki Tuan besar Zalleo.


"Cepatlah berangkat." Sekali lagi Gloria meyakinkan Shaka.


"Baiklah, Aku akan berangkat setelah dokter tiba."


Gloria menggeleng pelan kepalanya, "Berangkatlah sekarang, Ibu akan mengabari bagaimana kondisiku setelah dokter selesai memeriksa ku. Jika kau menunggu itu akan membuang banyak waktumu, kasihan sekretaris Sam."


Gloria masih saja membujuk lelaki yang sedang menggenggam tangannya itu.


Shaka melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dia sudah sangat terlambat, jika harus menunggu dokter tiba Samuel pasti akan mengutuk keras dirinya karena sedari tadi sekretaris nya itu tak berhenti menelfon.


Dia diam sejenak sebelu menyetujuinya , "Oke... Aku berangkat sekarang, aku akan sering-sering menghubungimu. Dan sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan di sana dengan cepat agar aku bisa segera pulang." Ucapnya pada Gloria.


"Ibu, segera hubungi aku tentang kondisi istriku." Beralih pada ibunya.

__ADS_1


Setelah saling meyakinkan satu sama lain, Shaka bersiap berangkat ke bandara diantar oleh supir pribadinya.


***


__ADS_2