
Luna turun dengan rasa marah dan sedih. Dia berjalan cepat meninggalkan ruangan itu membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang.
Prince yang melihat itu lantas berjalan mengikutinya mengabaikan Amora.
Amora mencegah dengan memegang tangannya. "Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" ujarnya marah.
"Kau sendiri yang memancing masalah! Aku menikahinya karena cinta, sedangkan hubungan kita ini hanya sebatas bisnis semata. Kau butuh aku untuk tetap hidup dan aku butuh kau untuk memperkuat langkahku."
Prince melepaskan tangan Amora dengan kasar dan berjalan meninggalkan ruangan pernikahan itu. Dengan lemas Amora duduk di kursi pelaminannya. Dia tersenyum pada semua orang menahan rasa sakit yang menghujam di dada.
Sedangkan di depan pintu masuk Kakek Liu memotong jalan Prince. "Prince kau mau kemana?"
Harga diri dan nama baik keluarga Amora sepertinya tersakiti oleh kelakuan Prince. Dia mempermalukannya di depan semua orang demi wanita simpanannya. Meninggalkan dia sendiri di kursi pelaminan padahal acara belum selesai.
"Aku mau pergi. Jangan halangi aku lagi karena aku sudah melakukan yang kau inginkan," ujar Prince melewati Kakek Liu begitu saja.
Amora menatap nanar pada Prince. Dia setengah mati menahan tangisnya untuk tidak jatuh.
'Prince, aku bersumpah kau akan mendapatkan bayaran mahal untuk penghinaan ini. Kau akan menangis di kakiku memintaku untuk terus bersamamu, di saat itu aku akan meninggalkanmu.'
"Amora, kau baik-baik saja kan?" tanya Essa khawatir. Amora mengangguk, sambil berusaha tersenyum.
"Jika kau ingin kembali maka aku akan mengantarmu pulang." Amora menggelengkan kepala.
Sedangkan di ruang parkir,
Prince memegang tangan Luna dan menariknya dalam pelukan. Luna menangis tersedu. Prince mengusap kepalanya lembut.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Prince.
"Tapi bagaimana dengan pernikahanmu?" tanya Luna menatap mata Prince.
"Yang penting adalah kau," ujar pria itu membawa Luna pergi masuk ke dalam mobilnya, lalu meninggalkan lokasi pernikahan.
Luna tersenyum senang. Sebenarnya dia tidak rela jika Prince menikah dengan wanita lain. Hanya saja jika dia menolak maka Prince akan meninggalkannya. Dia bertahan dengan penderitaan ini karena anak dalam kandungannya yang memerlukan seorang ayah.
***
Amora duduk di depan cermin menatap tampilan dirinya yang menyedihkan. Make up yang dia kenakan sudah luntur karena menangis sedari tadi.
__ADS_1
Dia lantas membasuh wajahnya dengan sabun dan pergi membersihkan diri. Dia tidak bisa dengan hanya menangis saja untuk bisa menang dari wanita itu.
Ini buruk dan terlalu kejam. Di hari pernikahannya dia ditinggalkan oleh suaminya yang pergi bersama simpanannya. Di malam pertamanya dia menangisi hal itu. Tidak, dia bukan wanita seperti itu. Tubuhnya mungkin lemah tapi kepintarannya di atas rata-rata.
Papa tidak mengajarinya untuk menerima semua kekalahan dengan begitu saja tanpa berusaha terlebih dahulu. Dia harus berjuang dan membuat kekalahan itu menjadi sebuah kemenangan.
Ini baru awal, bukan akhir dari hidupnya. Dia harus berjuang mulai dari sekarang.
Amora mandi dengan bersih. Setelahnya, dia memakai gaun tidur terbaik. Membiarkan wajahnya yang cantik tetap polos tanpa sentuhan make up, namun memberi wewangian vanilla yang dia sukai ke seluruh tubuh. Setelahnya dia memakai jubah tidur dan keluar kamar untuk memesan banyak makanan untuknya.
Dia akan memperlihatkan pada Prince bahwa apa yang pria itu lakukan tidak berimbas apapun padanya. Sehingga pria itu tidak berpikir bahwa hidupnya akan menderita tanpa Prince.
"Amora," panggil Kakek Liu.
"Kakek."
"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya pria itu dengan lembut seraya menepuk bahu Amora.
"Tentu saja. Kakek jangan khawatir, apa yang yang Prince lakukan tidak akan membuatku merana."
"Oh, syukurlah. Kakek sangat takut kau akan ...."
Kakek Liu mengangguk senang.
"Kau lapar?" tanya Kakek Liu.
"Aku belum makan sedari siang tadi. Mereka hanya memberiku roti di pagi hari setelah itu, kakek lihat sendiri tadi, aku harus menemui banyak tamu dan tidak sempat makan."
"Untung semua sudah berlalu."
Amora menghela nafas dan mengangguk. "Kakek sudah makan?"
Kakek Liu menggelengkan kepala. "Bagaimana orang tua ini bisa makan jika cucunya pergi begitu saja meninggalkan pelaminannya sebelum acara selesai."
"Kalau begitu kita makan bersama dan jangan bahas masalah ini lagi karena akan buat mood jelek."
Kakek Liu tertawa.
"Kau sangat menyenangkan sekali. Tidak salah jika aku memilihmu sebagai cucu menantu."
__ADS_1
Mereka lantas makan dalam suasana yang menyenangkan. Sudah lama sekali, Kakek Liu tidak merasakan kehangatan rumah. Selama ini jika keluarganya berkumpul hanya membicarakan masalah bisnis kadang persaingan tersembunyi antara anak satu dengan anak lainnya. Hal yang membuat dia sedih.
Prince yang selama ini ikut dengannya, jarang sekali berada di rumah. Waktunya lebih banyak dia habiskan di luar. Lebih tepatnya bersama dengan istri gelapnya.
"Sungguh Kakek? Nenek kah yang lebih agresif ketika itu?" tanya Amora tertawa yang mendengar cerita kakeknya tentang mendiang Nenek Prince.
Ketika makanan di piring mereka hampir habis, tiba-tiba Prince masuk ke ruang makan dengan wajah kusut. Jasnya dia sampirkan di bahu. Dia menatap ke arah dua orang yang sedang memperhatikannya.
Hati Prince setengah kesal. Dia khawatir Amora menderita dan menangis di kamar. Nyatanya, wanita itu malah nampak biasa saja. Sepertinya, hal yang terjadi dii pernikahan mereka tidak mempengaruhinya sama sekali.
Apakah pesonanya itu luntur atau memang Amora memang tidak punya perasaan apapun untuknya. Padahal selama ini dia mengira Amora mencintainya dan menunggu kepulangannya dari London dengan setia.
Seharusnya dia pun tidak kesal dengan hal itu karena tidak punya perasaan apapun pada Amora. Nyatanya, hal ini mengganggu hatinya.
"Kau pulang? Aku kira kau akan menginap di rumah wanita itu," ujar Kakek Liu. Amora sendiri nampak serius menatap makannya yang tinggal satu sendok.
"Aku lapar," ujar Prince duduk di sisi berseberangan dengan Amora.
"Kakek, aku sudah selesai. Aku mau naik ke atas."
"Ya, cucuku tersayang."
"Kau tidak menemaniku makan?" tanya Prince.
Bukannya menjawab Amora malah meliriknya sinis sambil berlalu pergi begitu saja. Kakek Liu pun ikut meninggalkan Prince sendirian.
Wajah Prince mengeras.
"Tuan apakah perlu saya masakan yang lain lagi?" tawar seorang pelayan.
"Tidak perlu." Prince bangkit dan pergi menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamar dan mendapati aroma Vanilla terasa kuat di hidungnya.
Netra tajam milik Prince mencari sosok Amora namun bayangannya saja tidak tampak samasekali.
Gigi Prince mengerat seketika. Dia lantas mencari Amora dengan bertanya pada salah seorang pelayan.
"Dimana wanita itu!" dengan dingin dan wajah yang mengeras seperti besi.
"Nona, ada kamar tamu," ucap pelayan itu dengan takut. Kakinya terasa tidak menapak bumi lagi ketika ditanyai Tuan Mudanya yang terkenal tidak berperasaan.
__ADS_1
Sedangkan Amora sedang menatap indahnya bulan dari jendela besar di kamar itu ketika Prince membuka pintu kamar dengan keras.