Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab.11 Malam Pertama yang Absurd


__ADS_3

Dengan wajah dingin dan penampilan kusut Prince berjalan mendekat ke arah Amora. Langkahnya pelan namun penuh ketegasan, seperti pemangsa yang menangkap buruan kecilnya.


"Mengapa kau memilih memakai kamar ini?" tanyanya dengan suara dalam dan berat. Tatapan tajamnya seakan melingkupi tubuh Amora, membuat kulit Amora meremang dan kakinya gemetar. Sejatinya dia takut dengan Prince hanya saja harga dirinya yang tinggi membuat dia berusaha untuk berdiri tegak di depan Prince.


Amora memilih duduk di kursi sofa terdekat karena sudah tidak sanggup untuk duduk lebih lama. Menelan salivanya dalam-dalam mengatasi kegugupan.


"Akh, kita menikah hanya karena ada urusan bisnis, jadi tidak perlu untuk bersama."


'Apakah ini jawaban yang pas, ya Tuhan, bagaimana jika pria galak ini bertambah marah.'


Amora takut jika Prince menodainya di malam pertama. Lebih tepatnya memaksa untuk melayaninya. Padahal kondisi tubuhnya juga belum fit dan dia tidak rela jika malam pertamanya dilakukan karena paksaan.


Prince berhenti di depan Amora. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat wanita itu merasa kecil dan tidak berdaya.


Tubuh besar itu membungkuk dan memegang dua pegangan kursi sofa, lebih tepatnya mengungkung wanita itu. Wajahnya kini tepat di depan Amora.


"Kau itu istriku, jadi tidur di kamarku!" tegas Prince. Nafasnya yang hangat dan berbau alkohol menerpa wajah Amora.


Dengan memberanikan diri Amora menatap Prince, pupil mata mereka bertemu, hendak membaca pikiran masing-masing.


"Akh, aku tidak mau. Kau begitu menakutkan, bagaimana kalau nanti kau memangsaku padahal aku begitu kecil. Kau kembali saja ke Mba bulan mu itu. Berapa umurnya? Apakah sama sepertimu atau lebih tua lagi?" celetuk Amora dengan persiapan batin yang matang. Sudah siap jika Prince bertindak diluar dugaan karena pria itu sangat mencintai istri pertamanya itu. Lebih tepatnya pelakor yang menjadi istri pertama.


Prince malah tertawa keras. Dia geli dengan apa yang ada di otak Amora.


"Aku tidak tertarik padamu, lihat tubuhmu kecil seperti papan triplek. Lagi pula kau lemah pasti tidak bisa mengimbangi staminaku. Aku akan membentukmu dulu agar lebih seksi dan berisi serta melatih agar menjadi wanita yang kuat dan punya stamina lebih untuk melayaniku di tempat tidur."


Netra besar Amor bertambah melebar. Bulu matanya yang lentik pun ikut bergerak seperti ombak pantai. Bibirnya yang merah seperti buah Cherry merekah, mendengar pernyataan Prince yang sangat merendahkannya.


Prince baru sadar jika wanita yang dulu dipikirnya masih kecil kini berubah jadi wanita yang cantik dan menarik hanya saja tidak cukup membuatnya tergila-gila.

__ADS_1


"Biar Mba Bulan saja yang melayanimu, aku tidak berminat," ujar Amora memalingkan muka ke arah lain.


Prince menjauhkan wajahnya. Perkataan Amora selalu membuat dia kesal dan marah. Namun, ini malam pertama mereka dan dia tidak ingin menambah daftar masalah lagi.


Prince menarik tangan Amora. "Ayo kita ke kamar."


"Aku tidak mau dengan pria yang telah bersama dengan wanita lain. Bau wanita itu yang menempel di tubuhmu membuatku muak."


Berbicara dengan wanita ini membuat kepala Prince hampir pecah. Dia selalu mengeluarkan bisa yang meracuni pikiran dan hatinya. Prince sudah hampir habis kesabaran. Dia langsung saja mengangkat tubuh kecil Amora.


"Prince!" teriak Amora memberontak dengan memukul punggung Prince. Pukulan itu tidak berarti apapun bagi Prince.


"Daripada kau gunakan tenagamu untuk memukulku lebih baik kau gunakan nanti untuk memijatku."


"Ho... ho... jangan bermimpi, aku tidak akan mau memijat kau. Aku bukan pelayanmu!" jawab Amora.


"Kau bukan pelayanku tapi istriku dan tugas istri adalah melayani suaminya."


Amora berdiri di atas tempat tidur. "Aku tidak akan pernah melakukan tugasku sebagai istri jika kau masih bersama dengan Luna. Titik tidak pakai koma dan tidak ada tawar menawar."


Prince membuka kancing bajunya membuat mata Amora melebar.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Amora panik. "Aku tidak menarik katamu jadi jauhi aku." Amora mengambil bantal dan menutup tubuhnya dengan itu.


"Tidak menarik tapi bisa kugunakan."


Otak Amora terhenti seketika, pikirannya mendadak membayangkan jika Prince baru saja bersama dengan Luna. Tubuhnya bergidik jijik.


"Tidak, aku tidak mau. Jika kau memaksa aku akan panggil Kakek Liu."

__ADS_1


"Silahkan teriak saja sesuka hatimu. Asal kau tahu kamar ini menggunakan peredam suara.''


Amora lupa dengan hal itu.


Prince melepas kemeja putihnya dan memperlihatkan tubuhnya yang bidang. Amora menutup wajahnya dengan bantal, masih dengan posisi berdiri.


Tidak lama kemudian suara pintu kamar mandi terbuka.


"Aku akan mandi dulu, kau bersiap-siap ya. Pintu kamar telah kunci sehingga kau tidak bisa kabur," ujar Prince menahan tawa sebelum menutup pintu kamar mandi.


Setelah melihat suasana aman. Amora menurunkan bantal dari wajahnya dan melihat ke sekitar. Dadanya berdegub kencang karena saking gugupnya.


Dia tadi berpikir dan berpikir. Awalnya berpikir jika dia akan merayu Prince saja lalu membuat dia jatuh cinta lantas menghempaskan Mba Bulan itu.


Namun, setelah dipikir lama, pikirannya berubah lagi. Rasa jijik membayangkan Prince bermesraan dengan wanita lain itu membuat dia enggan untuk melakukan rencana awal.


Lebih baik dia mempertahankan kehormatannya dan diberikan pada orang yang dicintai olehnya dan mencintainya. Ya, dia harus melakukan itu dengan sepenuh hati.


Amora dengan cepat turun dari tempat tidur mengambil bajunya yang sudah disiapkan Prince di dalam lemari besar kamar itu. Dia memakai celana panjang dan pendek rangkap lima di balik gaun tidurnya. Di rasa belum aman, dia mengambil lagi lima baju yang dipakai sekalian di tubuhnya itu. Lalu memasang sabuk dengan kencang.


"Sepertinya aman," batin Amora melihat penampilannya di depan kaca. Suara knop pintu membuat dia terkejut. Dengan cepat dia pergi ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Menutupi seluruh tubuhnya hingga ke wajah. Setelah itu, dia pura-pura memejamkan mata.


Prince keluar dengan hanya memakai celana kolor berwarna putih. Dia menaikkan kedua alisnya ke atas ketika melihat Amora. Dengan tenang dia mengambil remote AC dan mematikan pendinginan ruangan itu. Dia lantas ikut masuk ke dalam selimut.


Walau dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Amora, setidaknya dia tahu jika kota Jakarta sangat panas udaranya jika AC tidak dinyalakan.


Benar saja, sepuluh menit pertama Amora sudah mulai keringatan. Sepuluh menit kedua dia sudah mulai gelisah. Sepuluh menit ketiga dia menghempaskan selimutnya dan mencari remote AC.


Prince yang melihat penampilan Amora tertawa. Tawanya kali ini adalah hal yang sudah sangat lama tidak dilakukannya. Tindakan Absurd wanita itu sungguh diluar dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2