Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 37


__ADS_3

Luna tidak bisa mengatakan apapun setelah mendengar semua perkataan Dave. Pria menolak permintaan Luna untuk mendekati Amora.


"Aku bukan pria rendah yang akan mendekati wanita bersuami untuk tujuan buruk. Kalau kau berpikir aku mau melakukannya berarti kau telah salah mengenalku. Aku hanya ingin Amora hidup bahagia entah itu dengan Prince atau pria lain," ujar Dave 


"Kenapa kau menginginkan dia bahagia, bukankah kau tidak mengenalnya sama sekali?" cecar Luna.


Dave hanya tersenyum tipis. "Saranku jaga Prince baik-baik jika tidak ingin kehilangannya karena Amora itu bukan sainganmu, levelnya jauh diatasmu."


Dave lantas pergi dari tempat itu membiarkan Luna yang termangu dengan kenyataan yang ada.


***


Amora benar-benar kesal pada Prince. Hari ini dia bertemu janji dengan Essa namun Prince malah mengurungnya dalam ruang kerja miliknya tanpa memperbolehkan dia bergerak sedikitpun.


Di depannya ada banyak tumpukan map yang harus dia kerjakan untuk dibuat laporan keuangan bulanan. Bukankah ini bagian dari urusan manager keuangan bukan bagiannya? Sial, rutuk Amora dalam hati, kesal. Dia melirik tajam pada Prince yang sedang sibuk menandatangani beberapa berkas penting di depannya.


"Jangan mengumpat, kerjakan saja urusanmu," ujar Prince.


Amora memicingkan matanya. 'Bagaimana dia bisa mendengar ucapanku padahal aku tidak mengatakan apapun.'


Amora ingin mengucapkan sesuatu tapi dipotong dahulu oleh Prince.


"Kerjakan saja semuanya. Nanti jam sebelas kau pesan makan siang untuk kita. Ini akhir bulan banyak yang harus dikerjakan jadi sepertinya kita tidak sempat keluar untuk makan," sambung Prince tanpa melihat ke arahnya.


"Kau saja, makan di sini. Aku mau keluar mengambil udara. Di sini terlalu pengap."


"Amora!" seru Prince, geram. Dia sampai meletakkan pena di meja dengan keras. 


"Apa, aku disini, kau tidak perlu berteriak."


"Sesekali menurut padaku, bisa kan!" tandas Prince tegas.

__ADS_1


"Aku hanya mau makan di luar."


"Kalau begitu, kita akan makan berdua!"


"Katamu kau sedang sibuk bekerja, jadi tidak usah menemaniku," kilah memberi alasan. "Ini sudah hampir jam makan siang, aku akan keluar mencari makanan untukmu sekalian aku makan di luar."


Hal itu malah membuat curiga Prince. Dia melihat Amora dan membaca pikirannya.


Wanita itu pasti berencana untuk pergi menemui Dave. Jika tidak, dia tidak akan sekekeh ini untuk bisa keluar dari ruangan ini.


"Bagaimana bisa, seorang istri makan di luar dan meninggalkan suaminya bekerja sendiri."


"Aku tidak bisa membiasakan diriku menjadi istrimu, takut jika aku sudah merasa nyaman ternyata aku ditinggalkan. Itu akan sakit. Aku lebih suka hidup bebas tanpa beban." 


Amora mengambil tasnya dan bangkit keluar dari meja. Dia terlihat terburu-buru.


"Amora jika kau bergerak satu langkah saja maka kau akan tahu akibatnya," ancam Prince.


"Ehm, sepertinya aku tahu. Kau mulai takut kehilanganku jadi mengurungku di sini. Artinya kau sedang jatuh cinta padaku, ha… ha… ha … sepertinya aku yang akan menang taruhan."


"Aku mengurungmu agar nama baikmu tidak akan hancur."


Amora tidak mengerti apa yang Prince katakan. Nama baik siapa yang akan hancur dengan keluarnya dia dari ruangan Prince.


"Kau mengadi-ngadi… itu cuma rekayasamu untuk mengurungku. Nama baikku akan terus ada karena aku selalu menjaganya dengan baik. Yang membuat namaku jelek adalah kau Prince. Mereka menganggapku bodoh karena mau jadi istri keduamu. Itu pasti melukai harga diri ayahku."


Prince membuka sesuatu di handphonenya. Lalu memperlihatkannya pada Amora.


"Fotomu yang duduk minum dengan pria itu tersebar di media sosial."


Untuk sesaat Amora terkejut. Namun, dia terlihat seperti baik-baik saja.

__ADS_1


"Hanya minum berdua belum terlihat sedang berselingkuh kan? Foto itu tidak menceritakan apapun, jika ada yang menyimpulkan sendiri itu adalah orang pendek akal. Sedangkan kau yang tahu kejadian aslinya dan tahu jika aku tidak seperti itu seharusnya membelaku bukannya malah mengiyakan pernyataan di berita online itu."


"Wah…. Orang yang melakukannya sungguh kurang kerjaan. Mungkin jika aku nanti bercerai darimu, Dave yang akan disalahkan. Kasihan dia, sudah tidak kenal denganku masih saja jadi kambing hitam dari kesalahan orang lain," ungkapnya dengan wajah innocent dan datar tanpa emosi. Sepertinya hal itu tidak menganggu pikiran dan hatinya.


Prince tidak percaya dengan apa yang Amora katakan. Wanita itu sudah mengatakan cerai padanya sebanyak dua kali dalam sehari ini.


Kesabaran Prince sudah habis. "Amora kau sekarang menjaga nama baik keluarganya Liu, jadi hentikan keinginanmu bertemu dengannya. Selama kau menjadi istriku aku melarangnya!"


"Kalau kau melarangku melakukan itu, maka bolehkah aku melarangmu bertemu dengan Luna. Apa yang kau lakukan juga mencederai hati Kakek dan juga menginjak harga diriku?" 


Prince terdiam.


"Sebelum semua terlambat, pilih aku atau Luna. Aku tidak mau hanya menjadi penghangat ranjangmu tanpa cinta, Prince, hidupku terlalu berharga untuk kau lukai," imbuh Amora.


"Kau jangan khawatir aku akan menemui Dave karena hari ini aku ada temu janji dengan kakakku. Mumpung dia disini aku ingin menemaninya, mungkin besok atau lusa aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Mengingat penyakit yang masih menyerangku."


"Jadi kubur keinginanmu untuk merencanakan perpisahan denganku karena tidak lama lagi pun aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku lelah Prince dan ingin menghabiskan sisa hidupku dengan bebas dan bahagia."


"Amora… aku sedang mencari cara dengan melakukan penelitian di laboratorium agar penyakitmu yang aneh tidak menyerang lagi."


Amora terharu Prince melakukan itu, tapi pikiran lain membuat rasa itu lenyap seketika.


Amora tersenyum sedih. "Tidak perlu, aku tidak ingin menghabiskan sisa hidup denganmu dengan tertekan hanya karena takut mati. Hanya kau yang punya obat itu, tapi bukan berarti kau bisa mengancamku setiap saat."


"Amora, ini bukan soal ancam mengancam. Namun, aku sudah berjanji pada ayahmu untuk selalu menjagamu. Aku tidak bisa mengingkari janjiku. Aku juga sudah mengikat janji pernikahan denganmu atas permintaan Kakek membuatku tidak bisa untuk melepaskanmu walau kau menginginkannya."


Mendengar ungkapan hati Prince membuat Amora membeku untuk seketika. Netranya memanas seketika. Hatinya terasa sesak seperti sesuatu memukulnya dengan keras.


Jadi Prince melakukan semuanya sampai saat ini karena janjinya pada ayahnya dan keinginan Kakek agar mereka bersama? Apakah hanya sebatas itu. Kebersamaan mereka dan penyatuan diri mereka tidakkah membuat hati Prince berbeda?


"Kalau sebatas itu artiku bagimu maka, maaf Prince, aku memilih mati daripada hidup bersamamu."

__ADS_1


Amora langsung berjalan meninggalkan Prince sendiri di ruangannya dengan kepala tegak. Sesampainya diluar ruangan itu air matanya tidak bisa dia bendung lagi. Amora setengah berlari menuju ke arah lift khusus Presdir. 


__ADS_2