
"Sepertinya kau salah tempat dengan pakaian seperti itu. Jika sekarang kau berada di daratan Eropa itu akan berguna jika sekarang lebih berguna kau tidak pakai pakaian," ledek Prince.
"Aku hanya mengantisipasi dari dirimu yang akan jadi predator."
"Sudah kukatakan jika aku tidak tertarik memangsa tubuhmu, kau itu seperti tulang tanpa daging dan lemak. Tidak akan enak jika pegang atau dinaiki," ejek Prince sekali lagi.
"Kurang ajar, mulut sama pikiranmu sama busuknya," sungut Amora. "Lagipula kau itu bukan tipeku. Wajahmu dingin dan seram lebih cocok jadi mafia."
"Lebih baik kau tahu aku dari awal daripada aku berpura-pura baik nyatanya aku hanya perlu menghisap madumu untuk sekedar membuat posisiku aman." Setelah itu Prince membalikkan tubuh memunggungi Amora.
Nampak jelas sekali tato naga yang cantik seperti menatap ke arah Amora dan seperti mengejeknya.
Amora mulai frustasi dan putus asa. Menggaruk kepalanya dengan kesal. Dia butuh remote untuk mendinginkan ruangan yang seperti oven, tapi remote itu dipeluk oleh Price di dalam dadanya yang tanpa penutup.
Sekarang pilihannya hanya dua, tidur dengan kepanasan tapi merasa aman atau melepaskan pakaiannya. Pilihan ketiga adalah mengambil remote itu, rasanya tidak mungkin karena dia harus menyentuh pria itu. Tubuh yang mungkin tadi telah disentuh mbak Bulan.
Dia menyapukan pandangannya ke sekitar dan mencari cara agar keluar dari masalah ini. Akhirnya dia mengambil bantal dan membuka pintu balkon kamar. Mulai mencari tempat tidur yang dingin.
"Akh, ini lebih baik dari pada tidur bersama bekas wanita lain. Jijik," gumamnya lirih sambil tersenyum senang ketika membaringkan diri di lantai marmer. Angin dari balkon menyentuh tubuhnya dan membuat rasa gerahnya hilang seketika.
"Semua permasalahan ada solusinya jika memakai otak." Amora memejamkan mata dan tertidur setelahnya. Dia sangat lelah hari ini dan ingin bermimpi indah melupakan kenangan buruk di hari pernikahannya.
Pagi harinya tatkala sinar matahari masuk melalui jendela besar di ruangan itu yang telah terbuka lebar.
Sinar matahari itu membuat Amora terganggu. Dia menutup mata dengan salah satu tangannya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelahnya, dia membuka mata lebar dan melihat sosok tinggi dan tegap sedang berlari dengan tubuh penuh keringat di treadmill. Nampak seksi sebenarnya dan memikat serta memanjakan mata Amora.
"Kau sudah bangun pemalas?" ujar Prince tanpa melihat ke arahnya.
"Hmmm," jawab Amora mengulet. Sedetik kemudian dia merasa ada yang aneh. Bukannya tadi malam dia tidur di lantai? Amora menurunkan tatapannya ke bawah.
Akh, dia hanya memakai gaun tidur yang hanya memakai tali tipis. Merasakan apakah tubuh bagian bawahnya sakit atau tidak. Dia meringis sedikit karena merasa tidak ada yang salah. Untunglah dia masih virgin sampai saat ini.
Amora menatap tajam ke arah Prince dengan semua tuduhan yang hendak dia lontarkan. "Kau mengapa ... ." Amora tidak tahu harus berkata apa. Apakah dia harus mengatakan jika Prince yang melepaskan pakaiannya? Itu terlalu sulit untuk dia ucapkan.
__ADS_1
Prince menghentikan larinya. Dia lantas mengambil handuk sambil berjalan ke dekat Amora.
"Aku apa?" tanyanya dingin.
"Tadi malam aku tidur di lantai dengan lima stel pakaian kenapa aku jadi memakai ini saja? Apa ini permainan licikmu?"
"Ck, mana mungkin aku mau melepaskan pakaianmu, untuk apa? Aku tidak akan bernafsu. Kau sendiri yang membuka pakaianmu tanpa kau sadari dan berjalan tidur di sebelahku."
Prince menunjuk pada tumpukan baju yang menyebar di sudut-sudut kamar.
"Aku melakukannya dan tidur sambil berjalan? Rasanya tidak mungkin. Kalau sedikit mendengkur iya tapi untuk merelakan tubuhku terlihat padamu itu khayal.
"Kau lupa siapa yang menggantikan pakaianmu saat kau pingsan beberapa hari yang lalu?"
"Apakah kau?" tanya Amora tidak percaya.
"Lantas siapa? Tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar ini. Ini tempat privasiku."
"Bukankah kau punya tahi lalat dipangkal.pahamu?" celetuk Prince sebelum masuk kamar mandi dan menutup pintu.
Amora melihat bawah tubuhnya secara otomatis. Air mukanya berubah memucat. Dia melihat ke arah pintu kamar mandi dan melemparkan bantal kesana.
"Prince! Dasar kau, tukang intip, doyan wanita dan mesum. Sial aku bertemu denganmu," teriak Amora dengan wajah memerah.
"Lebih baik doyan wanita dari pada main pedang-pedangan, setidaknya aku lihai dan normal."
"Akh...," teriak Amora marah sambil melempar selimut kamar.
Satu jam kemudian mereka sudah ada di ruang makan untuk sarapan bersama Kakek Liu.
Pria tua yang terlihat berwibawa itu menatap ke arah cucu mantunya yang tidak bersemangat hari ini. Makan terkesan sedang cemberut.
"Kalau malam pertama memang sakit Amora," ujar Kakek Liu yang berpikir salah mengenai keadaan Amora.
__ADS_1
Prince yang sedang minum kopi tersedak dan Amora tertegun.
"Apakah Prince terlalu lemah sehingga kau nampak tidak bahagia?"
Prince dan Amor saling bertukar tatap. Amora menahan tawanya dengan cara menghela nafas. Sedangkan, Prince menunduk sambil memotong sandwich dengan kesal. Lemah? Mana ada dia lemah. Dia adalah pria kuat di dunia nyata maupun di ranjang. Tidak ada yang ragu dengan kemampuannya. Semua wanita akan berebut untuk bisa bersamanya. Sayangnya, dia hanya mau dengan wanita yang masih bersih bukan wanita bekasan pria lainnya.
"Mana mungkin cucumu ini lemah Kek. Semua resep rahasia keluarga ini untuk keperkasaan yang sudah terkenal secara turun temurun sudah kuminum semuanya. Kakek juga masih meminumnya sampai sekarang kan?" balik Prince.
"Kakek yang benar, dia semalam baru setengah masuk dan pingsan, tidak bisa bangkit lagi," sela Amora yang membuat wajah Prince memucat. Pelayan yang ada di rumah ini hampir tertawa keras jika tidak menutup mulutnya.
"Aku sudah punya bukti jika aku perkasa. Kali ini Luna sedang hamil anakku. Itu sebuah kenyataan yang tidak bisa kau bantah. Aku sendiri tidak tertarik dengan tubuhmu yang yang datar sehingga nafsuku turun drastis, tidak bisa dipaksakan lebih lanjut."
"Kau!" Amora mengeram kesal. Sedangkan Prince tersenyum penuh ejekan.
Amora melengos.
"Aku minta kakek siapkan satu orang untuk bisa membuat Nona keluarga Chandra ini seksi dan bisa membuat diriku berhasrat dengannya. Jika tidak, syarat agar Amora bisa hamil dalam waktu sebulan itu akan sulit tercapai."
Ini sebuah penghinaan besar untuk Amora, verbal abuse. Dia tidak terima dengan apa yang Prince katakan.
"Baiklah aku akan mendatangkan satu instruktur untuk datang kemari. Dia akan berolahraga sedikitnya dua jam sehari serta makan makanan bergizi."
"Mungkin bagian depannya perlu di operasi juga biar sedikit berisi," lanjut Prince.
"Prince, kau keterlaluan!"
"Aku pria normal yang suka dengan wanita seksi dan menarik. Jika kau berpenampilan seperti ibu-ibu pada umumnya dapat dipastikan aku tidak akan tertarik padamu. Maka jangan salahkan aku jika aku...."
"Menikah lagi? Atau selingkuh? Silahkan, aku juga akan cari pria yang mencintaiku apa adanya. Kau terlalu meremehkan ku, Prince jangan menyesal jika aku mencintai pria lain karena suamiku sendiri selalu merendahkan istrinya!" Amora bangkit dan pergi meninggalkan ruang makan itu.
"Amora itu berlian yang tidak bisa kau bandingkan dengan barang imitasi diluaran. Kali ini kau mungkin menikah karena terpaksa tetapi Kakek yakin kau akan bisa mencintainya dengan sepenuh hati," ujar Kakek Liu.
"Cinta tidak bisa dipaksakan karena hati itu satu dan aku sudah memilih Luna sebagai pemilik hatiku. Aku dari dulu hanya bisa menganggapnya sebagai adik tidak lebih, tapi kalian para orang tua ingin agar aku tetap menikahinya. Itu hanya akan melukai kami bertiga."
__ADS_1