Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 49


__ADS_3

"Prince, apa kau tahu berapa usia kehamilan Luna?" Amora memberanikan diri bertanya pada Prince.


Laki-laki itu menoleh kepada Amora yang duduk terdiam di sofa. Dahi Prince mengerut. Ia menatap tidak suka pada Amora yang justru membahas kehamilan Luna. Tentu saja Amora paham jika Prince tidak suka dengan pertanyaannya.


"Apa kau meragukan usia kehamilan Luna?" sarkas Prince.


Amora sedikit sakit hati. Sebab Prince sangat berhati-hati dengan Luna. Seolah Prince benar-benar tidak ingin membuat Luna sedih. Amora memandang Prince dengan tatapan sendu. Kedua pelupuk matanya berair. Namun, Amora segera memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.


"Tidak." Amora menggelengkan kepalanya.


Wanita itu melirik ke arah Luna yang mengejek Amora. Wanita hamil itu bersorak kegirangan karena Prince langsung membalas Amora dengan nada yang tidak ramah.


"Lalu?" Prince menunggu Amora menjawab kata-katanya. Wanita itu tampak menarik napas dalam-dalam.


"Apakah kau yakin kalau anak yang ada di dalam perut Luna adalah anakmu?" tanya Amora.


"Apa maksudmu, Amora? Apa kau meragukannya? Jangan berbicara aneh-aneh, Amora. Atau kau akan tahu akibatnya," jawab Prince.


Amora tersenyum. Lantas wanita itu dengan tenang mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Luna maupun Prince menunggu apa yang akan Amora keluarkan. Terlebih Luna. Ia berfirasat buruk sebab Amora mempertanyakan usia kandungannya.


"Sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh wanita ini? Mengapa dia ragu dengan usia kandunganku? Apakah dia tahu sesuatu? Tidak. Semuanya sangat rapi. Amora tidak mungkin tahu apa rencanaku. Kalau begitu apa yang direncanakan oleh Amora?" Luna membatin gelisah. Wanita hamil itu terus menatap Amora dengan tajam.


"Foto?" Prince menerima foto yang diberikan oleh Amora.

__ADS_1


Luna dengan was-was melirik foto apa yang diberikan Amora pada Prince. Tiba-tiba Luna merinding saat Prince berganti menatapnya dengan tajam. Luna tersenyum kaku.


"Ada apa, Prince?" tanya Luna.


Prince memperlihatkan foto Galih dan Luna ketika mereka berdua berlibur di Perancis. "Fotomu bersama laki-laki lain."


"Dari backgroundnya, bukankah itu diambil berlatar negara Perancis? Foto ini diambil dari kamera handphone, Prince. Lihat tanggalnya. Setahun lalu? Kau ingat, Prince. Setahun lalu kau dan Luna memang tinggal bersama di London. Tapi, ingatkah kau setahun lalu pulang ke Indonesia untuk menemaniku saat ayahku meninggal dunia?" Amora menjelaskannya dengan tenang.


Ia melirik Luna yang mulai panik. Wajahnya pun pucat seolah tidak ada aliran darah di tubuhnya. Sedangkan Prince berusaha mengingat semua momen yang dikatakan oleh Amora. Mimik wajah laki-laki itu mulai berubah. Pandangan matanya kembali beralih pada Luna yang duduk di sofa dengan kaku.


"Luna?" Prince menegur Luna. Laki-laki itu meremas selembar foto di tangannya. Urat lehernya pun mulai terlihat. Menandakan bahwa ia sedang menahan amarah.


Luna mencoba menggenggam tangan Prince. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Prince. Aku berani bersumpah kalau ini anakmu! Amora pasti mencari alasan untuk menghancurkan hubungan kita, Prince!"


"Bagaimana bisa kau melakukan ini, Luna?" Prince berdiri. Ia melemparkan foto tersebut tepat di wajah Luna.


Melihat kemarahan Prince, Luna menjatuhkan diri di bawah kedua kaki Prince. Wanita hamil itu memohon sambil berurai air mata. Ia menangis. Akan tetapi Prince terus berdiam diri. Laki-laki itu masih syok dengan kenyataan bahwa Luna berselingkuh darinya.


"Tidak, Prince. Aku tidak mungkin mengkhianatimu! Foto itu editan! Ingat, Prince. Aku ini istri pertamamu. Kau jangan mempercayai orang lain. Kau percaya padaku bukan? Aku sangat mencintaimu, Prince. Aku tidak mungkin mengkhianatimu." Luna memohon.


Ia berusaha untuk terus mengingatkan Prince bahwa status dirinya adalah istri pertama. Amora mengamati Luna yang terus mengatakan posisinya sebagai istri pertama. Sakit hati? Jelas. Sebab Amora juga tidak menginginkan kondisi ini.


"Kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa membawa foto itu pada ahlinya, Prince," sela Amora.

__ADS_1


"Diam kau wanita pelakor! Kau pasti berniat untuk menyingkirkan aku! Kau pasti ingin menjadi satu-satunya wanita Prince kan, Amora. Apakah kau iri dengan kehamilanku? Kau bahkan sampai sekarang belum hamil juga! Prince, dengar. Kita bahkan sudah saling mengenal lebih dulu. Mengapa kepercayaanmu padaku sangat tipis?" Luna semakin terisak.


Ia kini bertindak sebagai korban. Benar saja. Setelah mendengarkan keluhan Luna yang panjang, Prince tampak meragu. Laki-laki itu menoleh ke arah Amora yang masih duduk manis di tempatnya. Amora sadar jika Prince ragu dengan semua pengakuan yang dia berikan. Pada akhirnya Amora mengeluarkan handphonenya.


"Bagaimana kalau ini, Luna? Aku ingat beberapa waktu lalu kau mendatangi sebuah perumahan kelas menengah di daerah Bintaro. Di sana aku tidak sengaja menyenggol pot bunga sehingga pot bunga itu pecah. Kau ingat, Luna?" Amora tersenyum.


Terlihat Prince berpikir. Mungkin laki-laki itu mengingat sesuatu. Ya, Prince ingat GPS Amora berada di daerah Bintaro perumahan kelas menengah. Mata Prince terbuka lebar ketika ia sudah merangkai puzzle yang sebelumnya tidak bisa ia temukan jawabannya. Saat itu seorang laki-laki juga sedang membereskan pot bunga yang pecah.


Laki-laki asing itu juga tidak mengenal Amora. Menyadari semuanya, Prince membungkuk. Ia memungut kembali foto yang tadi dibuangnya. Prince mencoba untuk mengingat wajah laki-laki yang ia temui di perumahan Bintaro.


"Luna, mungkin kau masih tidak mau mengakui kesalahanmu. Tapi, maaf. Aku masih memiliki sesuatu." Amora memutar rekaman pembicaraan antara Luna dan Galih.


Perdebatan tentang anak yang dikandung oleh Luna. Tubuh Luna bergetar hebat. Ia tidak menyangka kalau Amora mengetahui semua yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat. Yang menjadi pertanyaan di benak Luna adalah mengapa ia sama sekali tidak menyadari kalau Amora mengikutinya ke rumah Galih.


"Bagaimana bisa kau mengkhianatiku, Lun? Apa yang kurang dariku sehingga kau berselingkuh dengan laki-laki lain? Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Bahkan aku lebih memprioritaskanmu daripada Amora sebab kau sedang hamil! Lalu apa ini? Apa ini, Lun?" bentak Prince.


Luna menggelengkan kepala. "Tidak, Prince. Bukan begitu! Aku bisa menjelaskan semuanya, Prince."


"Penjelasan apalagi, Lun? Penjelasan bahwa kau juga mengakui perselingkuhan itu? Kau bahkan sudah menghianatiku sejak lama! Apakah kau tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu? Aku bahkan bisa memberikan apapun di dunia ini untukmu, Lun! Apapun itu! Apa yang kurang dariku sehingga kau melakukannya dengan laki-laki lain?" Kata-kata Prince membuat Amora berdiri.


Jantungnya bagai ditusuk belati tak kasat mata. Wanita itu menundukkan kepala. Merasai setiap luka yang diberikan oleh Prince. Perlahan Amora berjalan mundur. Matanya berkaca-kaca memandang ke arah Luna dan Prince yang masih berdebat.


"Jadi, aku tidak memiliki tempat di hatimu, Prince?" Amora membatin sakit. Wanita itu mengusap air matanya dan berlari keluar. Amora pergi. Kepercayaannya terkoyak. Hatinya pun terluka. Dia baru menyadari bahwa keberadaannya tidaklah penting.

__ADS_1


__ADS_2