Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 48


__ADS_3

Semenjak kepergian Essa membuat Prince sedikit berubah. Pria itu kini lebih sering menemani atau ditemani oleh Amora, bahkan hingga Amora sadar kalau Prince seperti tidak pernah lagi menemui Luna.


Kini, Amora menemani Prince untuk melakukan transaksi bersama dengan seseorang di dermaga. Mereka berdiri di pantai sambil melihat pemandangan laut di malam hari.


Angin malam yang kencang berhembus, menerpa rambut Amora yang panjang dan lurus sehingga membuatnya berantakan. Amora sibuk merapikannya.


"Amora, bolehkah, aku bertanya padamu tentang satu hal?" tanya Prince. Amora terdiam. Dia masih enggan untuk menjawab pertanyaan lelaki itu, lebih tepatnya dia lebih banyak bersikap dingin pada Prince.


Amora malah memutar tubuhnya ketika melihat Celine. "Hai, Celine," sapa Amora meninggalkan Prince sendirian.


Alfred yang melihatnya mendekat dan menepuk bahu Prince. "Emang enak dikacangin?"


"Sialan!"


"Ada apa dengan kalian?" tanya Alfred. "Sepertinya Kakak Ipar sedang mengambek," lanjutnya melihat Amora yang sedang bercerita dengan Celine. Ketika Prince menatapnya, Amora membuang wajah ke arah lain.


"Lihat, benarkan? Tidak ada yang berani padamu seperti itu sebelumnya bahkan para deretan mantan kekasihmu pun selalu manis."


Prince mengusap tengkuknya. Urusan hati memang sulit. Lebih sulit dari pada soal bisnis gelapnya ini.


"Ku pikir ini transaksiku yang terakhir dengan grup ini," ujar Prince.


"Tunggu dulu, apa maksudmu?"


"Aku ingin berhenti dari dunia gelap ini. Aku punya keluarga dan aku tidak ingin mempertaruhkan keluargaku hanya karena semua ini. Kau tahu kan bisnis ini sangat mengerikan. Tadinya aku berhasil karena aku tidak punya seseorang yang akan menjadi kelemahanku satu saat nanti. Namun, kini aku punya dua istri dan mungkin dua anak. Aku tidak ingin mereka semua terluka karena pekerjaanku ini."


"Prince kau telah berhasil sejauh ini," kata Alfred.


Prince tersenyum sinis. Teringat akan kelicikannya yang membuat dia bisa bertahan sampai saat ini. Dia takut apa yang dia lakukan dulu menuai karma pada keluarganya.


"Apakah karena wanita itu?" tanya Alfred tidak senang.


"Aku hanya ingin hidup tenang. Semuanya kupasrahkan padamu mulai saat ini. Kau yang jadi leader semuanya."


Tatapan keduanya kini beralih pada sebuah kapal yang hendak berlabuh ke dermaga. Kapal itu perlahan mulai mendekat.


"Lihat, Mr Davidson datang bersama dengan anak buahnya. Lho, bukankah itu Boris?" tanya Alfred.


"Sepertinya ini tidak akan baik," seloroh Alfred. Prince yang melihat itu langsung bersiul memanggil Celine. Dia memberi tanda pada wanita itu untuk membawa pergi Amora.


Amora dan Celine lantas pergi menjauh dari sana. "Ada apa?" tanya Amora.


"Aku tidak tahu, hanya saja aku mengerti jika Prince tidak ingin kita berada di dekat mereka."


Celine memegang lengan Amora, gaya tubuhnya seperti sedang melindunginya. Beberapa teman yang lain mulai berlari ke arah dermaga membuat hati Amora takut.


"Kita ke mobil, di sana adalah tempat teraman untuk kita saat ini," ujar Celine. Mereka langsung masuk ke dalam mobil. Celine sendiri berdiri di dekat pintu kemudi.


"Kau tadi ingin mengatakan apa?"


"Aku ingin kau membantuku mencari tahu tentang Luna dan kesehariannya di London tanpa sepengetahuan Prince."


"Maksudmu?" Celine mengerti dengan maksud Amora hanya saja dia ingin mendengar tentang perasaan wanita itu.

__ADS_1


Amora memperlihatkan sebuah foto antara Luna dan Galih. "Foto ini dibuat ketika Luna masih berhubungan dengan Prince dari informasi yang kudapatkan. Lihat Instagram mereka berdua di tanggal yang sama. Tidak ada foto bersama hanya saja, lokasi dan waktu mereka berada di tempat itu sama. Serta, kau lihat kain ini sama dengan baju Luna di foto itu, apakah itu nampak sebuah kebetulan semata?"


Celine mengangguk mengerti. "Kau ingin agar aku mengungkap siapa Luna itu?"


"Kalian orang yang pandai, tentu bisa meretas foto serta meretas sesuatu yang sudah dihapus."


"Okey, Kakak Ipar demi kedamaian hubungan kalian berdua. Hanya saja jangan katakan jika aku membantumu," kata Celine.


Amora setuju. Lantas mereka terdiam, menunggu dengan hati berdebar dan takut. Amora berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Prince.


Beberapa saat kemudian mulai terdengar letusan suara pistol membuat Amora ketakutan.


"Kau tenang saja di sini," ujar Celine masuk ke dalam mobil. Bersiap kalau sesuatu yang buruk terjadi pada kawan-kawannya dan


mereka akan kabur bersama. Jika tidak ada Amora, dia pasti akan melihat apa yang terjadi pada mereka dan membantu, namun prioritasnya saat ini keselamatan Amora.


Entah sudah berapa waktu yang mereka lalui di tempat itu. Satu detik terasa lama bagi keduanya hingga mereka melihat ada bayangan keluar dari balik kegelapan.


Prince keluar dengan wajah yang masih terlihat siaga dengan keadaan sekitar. Amora yang melihat langsung keluar dan berlari ke arah Prince. Dia memeluk lelaki itu sambil menangis.


"Aku takut sekali," ucapnya.


Prince sedikit mengangkat tubuh Amora yang jauh lebih kecil darinya dengan satu tangan. "Tenanglah, semua sudah berakhir," kata Prince.


"Tanganmu," kata Amora melihat darah yang menempel di tangannya yang memegang lengan Prince.


"Hanya sedikit luka tembak tidak berbahaya."


"Tapi ini luka," ujar Amora.


Sebuah tembakan kembali dilesatkan dari arah lainnya ke Prince. Amora yang melihat itu langsung menarik jatuh Prince dari tempatnya berdiri sehingga tembakan itu mengenai tempat kosong.


"Boris!" seru Alfred kesal. Dia langsung menembak pria itu. Sebelum Boris menarik pelatuknya. Pria itu tersungkur jatuh karena tembakan itu tepat mengenai dadanya bagian atas.


"Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Prince khawatir memeriksa Amora. Amora sendiri masih membeku di tempatnya berdiri. Pikirannya hilang untuk sesaat.


"Itu... itu ...," ucap Amora yang masih shock dengan apa yang baru dia alami tadi.


"Sudah jangan lihat dan dipikirkan."


"Prince, kau keterlaluan, kau mau membuang Luna hanya demi wanita itu? Padahal dia sedang hamil anakmu! Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkanmu," ujar Boris tersendat sebelum tidak sadarkan diri.


"Kalian urus semuanya. Aku akan membawa kembali Amora ke rumah," ucap Prince mengangkat dan menggendong tubuh Amora, pergi meninggalkan tempat itu.


Amora menatap ke arah Prince, apa arti kata-kata Boris tadi? Batin Amora.


***


Setelah malam itu, hubungan Amora dan Prince membaik. Prince bahkan selalu membawa Amora kemanapun dia pergi.


Mereka sudah lebih jarang bertengkar, lebih tepatnya, Prince menghindari masalah antara mereka. Lebih banyak bekerja dan diam dari pada berbicara yang akan membuat emosi saja. Bahkan pekerjaan kantor pun masih diselesaikan Prince di atas tempat tidur. Kecuali ketika Amora sudah berbaring baru Prince menutup alat itu.


Setengah harian ini banyak sekali tugas menumpuk apalagi ini menjelang tahun baru. Prince mengecek semua data perusahaan yang membuatnya hampir melupakan makan dan minum jika Amora tidak mengingatkannya.

__ADS_1


"Kau makan dulu, Prince," bujuk Amora.


"Sesekali panggil aku sayang atau suamiku," pinta Prince.


Amora hanya menggerakkan hidungnya tanda tidak setuju. Prince menarik tubuh Amora ke pangkuannya dan mengusap perut wanita itu.


"Apakah di sini sudah berbuah?" tanya Prince.


"Bagaimana bisa berbuah kalau aku selalu minum pil KB." batin Amora.


"Aku kira sudah," kata Prince percaya diri. "Semoga yang jadi adalah anak lelaki," imbuh Prince lagi.


Amora sekarang lebih kalem dalam menanggapi tentang Luna. Dia menggulung rambutnya ke belakang sambil mengatakan, "Bukankah Mbak Bulan itu sedang mengandung anakmu? Apa jenis kelamin anaknya?"


"Perempuan," jawab Prince.


"Apakah jika itu anak lelaki kau masih berharap aku hamil anak darimu?"


"Hmm," jawab Prince mencium pundak Amora.


"Prince...." Amora kesal karena hanya mendapatkan tanggapan seperti itu dari Prince.


"Bukankah sudah kukatakan jika dia yang akan meneruskan usaha keluarga ini. Entah itu anak perempuan ataupun lelaki. Aku tidak perduli yang ku pedulikan adalah bagaimana caranya agar kau bisa hamil anakku."


Ciuman Prince terus menjalar membuat Amora kegelian. Di saat itu, Luna masuk ke dalam ruangan itu.


"Prince, apa yang kau lakukan?" tanya Luna dengan tatapan tidak percaya.


"Pak, Bu. Maaf. Nona ini menyerobot masuk ke dalam begitu saja."


"Nona, aku ini istri pertama bosmu tahu!" sentak Luna kesal karena tidak dianggap di kantor ini. Hatinya merasa sakit hati dan iri. Dia yang selalu bersama dengan Prince tidak lebih berharga dari Amora yang baru saja bersamanya.


Amora bangkit dari pangkuan Prince dan merapikan bajunya.


"Sudah tidak, apa-apa, Karen. Kau bisa pergi sekarang."


"Terimakasih, Bu," jawab sekretaris Prince meninggalkan ruangan.


"Jadi ini sebab mengapa kau tidak pernah datang ke rumah. Setelah kau menikahinya kau lupa denganku?" tanya Luna dengan berderai air mata.


"Maaf, bukan begitu Luna, pekerjaan akhir tahun selalu menumpuk. Aku harus lembur untuk bisa menyelesaikan semuanya," kata Prince mendekat ke arah Luna. Dia lantas membawa Luna duduk di sofa.


Amora yang melihatku hanya bisa menanggapi dengan malas.


"Aku sangat haus Prince, bisakah aku meminta segelas air," pinta Luna dengan wajah tidak enak hati pada Amora.


Amora menatap tajam pada Prince.


"Biar aku panggil Karen, terlebih dahulu," ujar Prince tidak mau mengulangi kesalahannya dahulu. Dia lantas bergerak keluar.


"Jangan merasa menang dulu, Amora, kau tahu jika Prince sangat mencintaiku. Akan ku perlihatkan padamu," kata Luna lirih.


Amora tersenyum sinis. Dia lantas duduk dengan manis di kursi single satunya. Prince kembali masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Kita tunggu sebentar, Karen sedang mengambilkan minuman untukmu," ujar Prince. Luna mengangguk dan tersenyum dengan lembut.


"Cih," batin Amora kesal.


__ADS_2