Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 26 Pembalasan


__ADS_3

Ketegangan semakin mencekam saat wanita tua dengan seluruh rambut yang telah memutih keluar dari rumahnya yang megah.


"Ada apa ini? Kenapa ada polisi di rumah ini?"


Wanita tua itu adalah Nenek Tara, dia melihat Joko—putranya, dalam keadaan tangan diborgol.


"Kenapa kalian menangkap anak saya?" Wanita yang usianya sudah sepuh itu, dia menghampiri polisi yang masih menahan tubuh Joko.


"Maaf, Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas dari Nona Amora untuk menangkap Tuan Joko atas tuduhan penggelapan dana perusahaan."


Mendengar ucapan polisi itu, Nenek Tara melirik ke arah Amora yang berdiri tak jauh darinya.


"Amora, apa yang sudah kau lakukan? Dia pamanmu, tidak seharusnya kau melakukan ini terhadap keluargamu sendiri!" ucap Nenek Tara, suaranya terdengar naik beberapa oktaf.


Amora melengoskan pandangan, kedua tangannya bersedekap di dada, dia berusaha mengabaikan wanita tua yang masih terlihat segar bugar itu.


Lantas Nenek Tara mendekati putranya yang hendak dibawa masuk ke dalam mobil patroli.


"Tunggu! Kalian tidak seharusnya membawa putraku begitu saja," ucapnya memberi perintah pada polisi itu.


"Ma, tolong aku, Ma! Mereka mau memasukkan ku ke dalam penjara," Joko mengiba, berharap sang ibu dapat membebaskannya.


"Kamu tenang saja, Joko. Mama akan melakukan apa pun untuk membebaskan kamu."


Amora yang mendengar itu, rasanya dia ingin muntah begitu saja.


Nenek Tara kembali mendekati Amora, wajahnya terlihat tegang.


"Amora, kenapa kau diam saja? Nenek minta agar kau bebaskan pamanmu. Apa begini caramu memperlakukan keluargamu sendiri, hah?" ucap Nenek Tara. Dia menatap sengit ke arah Amora.


"Keluarga? Kalian memang keluargaku, Nek. Tapi, apa yang dilakukan Paman sudah kelewatan, dia telah mencuri uang perusahaan. Sekali pencuri, dia tetaplah seorang pencuri." Amora bersikap tegas, tidak ada rasa iba sama sekali pada wanita tua yang ada di depannya itu.

__ADS_1


Nenek Tara mendekati polisi itu lagi, "Pak polisi, tolong bebaskan putra saya. Ini hanya masalah biasa saja dan kami bisa menyelesaikannya secara kekeluargaan."


"Tidak!" Amora menyambar ucapan Nenek Tara.


"Kalau Nenek ingin aku menarik tuntutan kepada Paman, maka kalian harus mengembalikan apa yang telah kalian curi dariku."


Nenek Tara terdiam, dia menimbang ucapan cucunya itu.


"Kalau Nenek tidak sanggup mengembalikan semua yang sudah dicuri, jangan salahkan aku jika anak kesayangan Nenek harus mendekam di balik jeruji besi," lanjut Amora, satu sudut bibirnya terangkat. Dia puas melihat wajah pias sang nenek.


"Amora, kita bisa menyelesaikan semua ini dengan baik, kau jangan terlalu perhitungan pada pamanmu sendiri." Wajah Nenek Tara yang tadinya terlihat emosi, kini berubah menjadi sedih.


"Amora, pikirkan lagi semuanya sebelum kau mengambil keputusan yang salah. Dia pamanmu dan aku adalah nenekmu, Amora.


" Apa kau tega menjebloskan pamanmu ke penjara?" ucap Nenek Tara yang bersandiwara. Bahkan dia berpura-pura menangis di depan semua orang.


Mendengar ucapan Nenek Tara, Amora merasa kalau dirinyalah yang menjadi penjahat di sini. Namun, Amora segera mengusir perasaan kasihan pada keluarga yang telah menyusahkannya sejak dulu.


"Amora! Keterlaluan kamu, apa begini perlakuanmu sama pamanmu sendiri, hah?"


Sekarang giliran Joko yang mengangkat suara, dia sudah tidak tahan lagi melihat sikap Amora yang sok berkuasa itu. Meski kedua tangannya telah diborgol, akan tetapi itu tidak membuat Joko takut pada keponakannya sendiri.


"Memangnya salah kalau Paman mengambil sedikit uang perusahaan? Itupun karena persetujuan nenekmu, Amora. Apa kau lupa dengan hal itu?"


Amora memicingkan matanya, dia menatap nyalang ke arah Joko. Kemudian Amora tersenyum mengejek.


"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian lupa dengan apa yang pernah kalian lakukan padaku dulu?" Amora memutar balikkan sebuah fakta, dia terpaksa mengungkit masa lalunya.


"Jadi, jangan salahkan aku kalau aku membalas semua perbuatan kalian, kalian memang pantas mendapatkannya." Amora merasa emosinya sudah di ubun-ubun.


"Cukup, Amora! Cukup! Apa kau sudah puas mempermalukan kami hah?" sela Nenek Tara, mendadak dia menjadi histeris. Wanita tua itu terduduk di tanah dengan wajah menunduk

__ADS_1


.


"Memangnya apa salah kami sehingga kau tega berbuat seperti ini, Amora? Nenek akui, ini memang kesalahan Nenek yang tidak bisa mendidik putra Nenek dengan benar, sehingga Nenek juga mempunyai seorang cucu yang tega memfitnah neneknya sendiri." Tangis Nenek Tara semakin pecah, membuat beberapa orang yang melihatnya pasti akan merasa iba.


Amora bergeming, rahangnya mengetat melihat sandiwara yang telah dimainkan oleh Nenek Tara saat ini.


"Sudahlah, Nek. Nenek tidak perlu bersandiwara seperti ini. Apa Nenek pikir aku akan luluh karena melihat air mata Nenek yang penuh kepalsuan itu?"


Nenek Tara mengangkat wajah, dia merasa terkejut karena Amora tidak merubah keputusannya sama sekali.


"Sekarang aku hanya bisa memberi kalian dua pilihan, kembalikan dana perusahaan atau Paman akan kumasukkan ke penjara," ucap Amora dengan tegas.


Sedangkan seorang perempuan yang sejak tadi hanya diam membisu menyaksikan perdebatan itu. Dia beranjak masuk ke dalam rumah dan mengambil sesuatu di kamarnya. Tak lama kemudian ia kembali lagi dan menghampiri Amora.


"Amora! Mungkin ini belum seberapa dari jumlah uang yang telah diambil oleh suamiku. Tapi, setidaknya, kau bisa memikirkan perasaanku, Amora. Jangan membawanya ke kantor polisi." Istri Joko menyerahkan sejumlah uang tabungannya pada Amora dan Amora menerimanya dengan senang hati.


"Apa yang kau lakukan?" Melihat istrinya memberikan uang pada Amora, membuat Joko terkejut, begitu juga dengan Nenek Tara.


"Kita tidak punya pilihan lain, Mas. Aku melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sejak dulu. Kalau saja kau tidak menuruti perkataan mama kamu, mungkin kita tidak akan dipermalukan seperti ini," ucap istrinya Joko dengan wajah yang sedih.


Sedangkan Nenek Tara, dia menatap tidak suka pada Amora, gadis itu terlihat kegirangan karena akhirnya dia mendapatkan uang yang diinginkan.


"Aku anggap ini sepuluh persen dari yang diambil oleh Paman. Baiklah, aku akan melepaskan Paman Joko. Tapi, bukan berarti kalian bebas untuk melunasi sisanya. Kalian tetap harus membayarnya sampai lunas."


Amora yang melihat wajah ketar-ketir keluarganya sendiri, dia merasa sangat puas. Amora meminta polisi untuk melepaskan Joko dan polisi itu pun segera pergi dari kediaman Nenek Tara.


Kemudian Amora memutuskan untuk pergi dari hadapan keluarganya yang penuh tipu muslihat itu.


"Ini belum seberapa, Nek. Lihat saja, aku akan membuat kalian tidak berkutik untuk melawanku nanti," gumam Amora saat dia sudah berada dalam perjalanan menuju pulang.


Melihat Amora dan para polisi telah pergi, membuat kelegaan di hati Nenek Tara dan juga Joko.

__ADS_1


“Sialan! Anak itu berani sekali mengancam kita,” ucap Joko, dia menatap nyalang pada mobil yang baru saja meninggalkan halaman rumah.


__ADS_2