Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 34


__ADS_3

"Kau jangan memancing kemarahanku," ujar Prince. Menggebrak meja.


"Aku bukan orang yang mudah untuk kau tindas seperti istrimu ini." Dave tersenyum tipis. Dia memang wakil direktur untuk perusahaan Perkasa, tapi pria ini juga punya investasi besar di sebuah perusahaan handphone produk Eropa. Kedatangannya ke Indonesia hanya untuk memperbaiki keadaan perusahaan keluarga agar tidak runtuh setelah dipegang oleh Ayah Luna atas perintah kakeknya.


"Jangan coba bermain denganku," ancam Prince menatap tajam pada Dave dengan wajah merah padam yang menakutkan.


Bukannya takut Dave malah tertawa dengan kalem. Pembawaan pria itu memang tenang.


"Aku tidak tahu mengapa Amora mau menikah denganmu, tapi aku tidak melihat cinta dimatanya untukmu." Dave menatap ke arah Amora.


"Jadi jika kau sudah tidak kuat bersamanya, datanglah padaku, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka."


Amora tersenyum, "Kau bisa membaca hatiku dan aku akan terima tawaran itu jika saatnya tiba."


Wanita itu memang sengaja seperti ingin menantang Prince. Dia tidak takut mati di tangan pria itu malah melawannya dengan terbuka. Pria kuat pun takut pada Prince sedangkan Amora nampak santai menanggapinya.


Prince memegang lengan Amora dengan keras dan membawanya pergi dari sana. Amora melihat ke belakang.


"Dave lain waktu kita bertemu lagi?" kata Amora.


"Aku akan menunggunya," seru Dave. Amora tersenyum sebelum keluar dari pintu kaca cafe.


Dave yang melihat hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia sadar jika Prince tidak akan melepaskan Amora begitu saja karena wanita itu selalu dipantau oleh Prince setiap waktu.


Dave mengangkat gelasnya pada seorang pria yang duduk di pojokan cafe dan tersenyum. Dia adalah pengawal khusus Prince untuk Amora yang ditugaskan untuk menguntitnya tanpa diketahui oleh Prince. Pria itu nampak gelagapan.


Bagaimana Dave bisa tahu? Dave faham dari gerak-geriknya.


Perlakuan berbeda dilakukan Prince pada Luna. Dia tidak pernah memberikan pengawal tambahan untuk wanita atau pun penguntitnya.


"Kau mungkin melupakanku, Amora, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu," batin Dave.


Prince meminta kunci mobil pada sopirnya Setelahnya dia mendorong tubuh Amora keras masuk ke dalam mobil.


"Jangan kasar!" seru Amora. Memegang lengannya yang memerah dan terasa sakit.

__ADS_1


"Kau yang memulainya," ujar Prince membanting pintu mobil hingga terdengar keras dan membuat tatapan semua orang yang ada di sekitar tempat itu tertuju padanya. Prince tidak perduli. Dia langsung menuju ke ruang kemudi dan duduk di samping Amora.


"Kau itu benar-benar mencari masalah denganku?" ucapnya dengan wajah tegang sambil menatap Amora tajam serasa ingin menelannya hidup-hidup.


Amora tidak perduli. Dia lebih fokus memasang seatbelt di tubuhnya. Prince yang kesal memegang pundak Amora dan mengoyaknya.


"Amora aku bicara denganmu!"


"Aku dengar, tidak perlu teriak," jawabnya santai. "Tidak perlu dengan emosi seperti ini," gumamnya melihat ke arah jendela dengan mulut di kerucutkan.


Prince tidak pernah dibuat kesal dan marah seperti ini, namun tidak bisa berbuat apapun. Wanita ini benar-benar pandai mengaduk perasaannya.


Prince mulai memutar kunci mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.


"Apa maksud perkataanmu pada Dave tadi?"


"Sudah terangkan jika aku menjadikan dia cadangan hidupku ke depannya. Dia kaya dan mapan tidak kalah darimu juga berkuasa. Baik pula serta lembut, tidak ada yang kurang apapun darinya. Sayangnya, aku terlambat bertemu dengannya. Jika tidak aku lebih memilih menikah dengannya dari pada kau!" jelas Amora jujur.


Prince yang mendengar langsung menghentikan kendaraannya tiba-tiba membuat kendaraan yang di belakangnya terkejut.


Terdengar omelan dan kemarahan dari semua orang. Amora menurunkan kaca mobil dan meminta maaf pada semua orang.


Amora nampak santai saja tidak terlihat takut, tidak seperti wanita lainnya.


"Kau salah jika akan membuatku takut dengan yang kau lakukan. Aku sudah terbiasa hidup dalam rasa sakit yang hampir mengambil nyawa, hingga apapun yang kau lakukan tidak akan membuatku gentar dan takut." Amora melirik ke arah Prince.


Prince tertawa, dia lantas menurunkan kecepatannya. "Aku lupa dengan itu."


"Kadang aku pikir mati itu lebih baik daripada hidup dengan keadaan ini."


Prince terdiam. Hanya jakunnya saja yang bergerak naik dan turun.


Sampai di rumah, Amora turun terlebih dahulu meninggalkan Prince sendiri. Dia menyapa Kakek Liu terlebih dahulu sebelum naik ke kamarnya.


Prince yang berjalan di belakang di sapa oleh pria tua itu.

__ADS_1


"Apakah kalian bertengkar lagi?'' tanya Kakek Liu.


"Biasanya kan," jawab Prince tidak peduli, terus melewati Kakek Liu.


"Jangan buat itu sebagai hal biasa karena kau akan merasa kehilangan itu bila dia sudah tidak bersamamu lagi."


Sejenak Prince menghentikan langkahnya. Lantas melanjutkannya.


Di atas Amora langsung menuju kamar mandi dan melepaskan pakaiannya. Dia ingin mendinginkan tubuh dan pikirannya di bawah guyuran shower.


Tiba-tiba, seseorang memeluknya dari belakang.


"Berani sekali kau padaku, kucing liarku," kata Prince sebelum ******* habis bibir Amora.


Amora yang sudah lemas di bawa ke kamar oleh Prince. Di letakkan di atas tempat tidur dengan lembut baru mengeringkan tubuh serta rambut wanita itu.


Mata Amora terpejam membiarkan Prince melakukan apapun dengan tubuhnya. Dia merasa lelah batin dan fisik. Dia butuh tidur.


Prince mengamati Amora yang tertidur pulas seraya memikirkan semuanya. Kenapa dia tidak rela jika Amora di dekati pria lain padahal dia sendiri yang mengatakan akan mengakhiri ini setelah wanita itu melahirkan penerusnya.


Tangannya membelai wajah Amora yang putih bersih tanpa noda. Terlihat polos dan kalem ketika sedang terpejam tapi akan berbeda ketika mata itu terbuka. Penuh manipulasi.


Sebuah pesan menghampiri handphonenya. Di saat itu pula, Amora memeluk pinggang Prince.


Prince menaikkan satu alis ke atas ketika membacanya. Lalu bergerak, sayangnya tangan Amora memeluknya dengan erat.


"Jangan pergi malam, ini. Temani aku," pinta Amora.


Prince memiringkan tubuhnya dan mengusap pipi Amora lagi. Amora membuka matanya, menatap Prince penuh harap.


Prince tersenyum tipis. Lalu berbisik, "Aku ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan."


"Aku bisa kau tinggalkan begitu mudah begitu," kata Amora dengan wajah penuh kekecewaan. Dia merasa seperti barang yang habis sepah dibuang. Prince pergi setelah menyesap madunya dan akan kembali ketika pria itu butuh.


Amora menyingkirkan tangan Prince dari pipinya dan tidur membelakangi pria itu.

__ADS_1


"Kau marah?" seloroh Prince memeluk Amora dari belakang.


"Apakah aku punya hak itu?" balik Amora tercekat. Suaranya menyiratkan rasa sakit yang dia rasakan. Dia pikir itu dari Luna yang ingin Prince datang menemuinya. Perkataan Prince hanya kebohongan semata yang tidak akan dia percaya.


__ADS_2