Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab 51


__ADS_3

Waktu berputar begitu cepat. Tanpa sadar, tiga bulan telah berlalu. Suasana pagi hari sangat nyaman dan menenangkan. Matahari pun menampakkan dirinya secara malu-malu. Di salah satu meja restoran terlihat seorang wanita yang sedang menikmati sarapannya.


Kondisi sekitar restoran masih tampak lengang. Akan tetapi sepagi itu seorang wanita sudah menikmati sarapannya dengan santai. Ada banyak menu yang sudah ia pesan. Wanita itu sesekali menganggukkan kepala.


"Nona, bukankah kau sudah makan terlalu banyak?" Seorang gadis berkuncir dua mengenakan seragam karyawan restoran menegur wanita yang sedang menikmati sarapan. Sepertinya mereka tampak dekat. Terbukti dari gadis pelayan tersebut yang berani menegur tamu.


Wanita yang ditegur itupun menggelengkan kepala. Mulutnya masih penuh dengan makanan. "Aku sangat lapar, Nina. Kau tahu semalam aku hampir mati kelaparan? Tidak ada makanan di kamarku. Bahkan tidak ada cemilan apapun di kamarku."


Gadis pelayan bernama Nina itu memutar bola mata. "Saya hanya khawatir pada Anda kalau Anda terlalu banyak makan, Nona. Tapi bukan hanya saya saja yang takut Anda sakit perut. Teman-teman yang lain juga khawatir pada Anda."


"Nina, apa kau tidak memiliki pekerjaan lain? Kau sudah berdiri di sana lebih dari 15 menit!" kesal wanita itu.


"Maafkan saya, Nona Amora. Jika Anda tidak nyaman pada teguran saya, lebih baik Anda protes pada Monica. Dia yang menyuruh saya untuk mengingatkan Anda. Bukankah Anda sedang hamil? Apa Anda sedang berpura-pura lupa?" Kata-kata Nina membuat Amora menghentikan kunyahnya.


Wanita itu seperti tertampar oleh Nina. Memang beberapa waktu lalu ia masuk ke rumah sakit sebab makan terlalu sembarangan. Sehingga membuat perutnya kram.


Tentunya semua karyawan yang bekerja di resort mengkhawatirkannya. Terlebih mereka semua sangat dekat. Amora memang pandai bergaul. Wanita itu tidak memilih dalam berteman.


"Anda sudah mengingatnya, Nona? Sepertinya ingatan Anda sudah lebih baik. Silahkan Anda selesaikan satu piring menu itu dan kembalilah ke kamar Anda." Nina tersenyum melihat respon Amora.


"Baik, baik. Aku sudah selesai, Nina. Terima kasih atas sarapannya. Puas Nina?" Amora meneguk susu untuk ibu hamil hingga tandas. Kelakuan Amora itu cukup membuat Nina senang.


"Selamat beristirahat, Nona. Kembalilah ke sini ketika siang hari. Kami akan menyiapkan menu makan siang yang spesial untuk Anda," ucap Nina.

__ADS_1


Amora berdiri. Ia menatap kesal pada Nina yang sedang merayakan kemenangannya. Dengan kesal, Amora pun meninggalkan mejanya. Sedangkan Nina, ia mulai membereskan peralatan makan bekas sarapan pagi Amora.


Amora berjalan masuk ke kamar di sebuah resort milik keluarganya dengan santai. Itu merupakan kamar yang ia tempati selama berada di sana. Akan tetapi mendadak tubuh Amora membeku. Wanita itu terkejut ketika menemukan Prince sudah berada di dalam kamarnya.


"Prince?" Amora menyebut nama Prince dengan nada lirih.


Dengan cepat Amora menundukkan kepala. Otaknya berpikir keras mengapa Prince bisa menemukan dirinya. Prince yang melihat Amora syok dengan kedatangan dirinya itu tersenyum. Laki-laki itu berdiri dan berjalan mendekati Amora.


"Amora, sudah lama ya kita tidak bertemu," sapa Prince. Laki-laki itu berbasa-basi sebentar. Ingin rasanya ia memeluk Amora yang masih kaget itu dan membawanya masuk ke dalam dekapannya.


"Kau? Ba-bagaimana bisa kau berada di sini?'' tanya Amora.


Amora tidak terlalu terkejut. Karena dia tahu Prince bisa melakukan apapun dan mengetahui apapun. Amora sangat tahu sejauh mana kekuasaan Prince. Bahkan tanpa sepengetahuan Amora, Prince menjebloskan neneknya, Nenek Tara yang telah meracuninya selama ini ke dalam penjara.


"Untuk apa kau datang ke sini, Prince?" tanya Amora.


Prince menatap lekat wanita yang dirindukannya. Selama tiga bulan ini, Prince menahan gejolak rindu yang menbara pada Amora. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan senang seorang Prince ketika bertemu Amora untuk pertama kalinya. Perasaan yang menggetarkan hatinya dan meluruhkan ego.


"Apakah kau sudah merasa cukup berliburnya, Amora? Ayo kita kembali ke rumah. Sudah cukup waktu untukmu bersenang-senang, Sayang," ucap Prince.


"Maaf, Prince. Aku sudah memilih jalan ini. Tidak seharusnya aku menjadi duri dalam bahagiamu bersama Luna." Amora menolak.


"Kau harus pulang bersamaku, Amora. Apa kau lupa kalau aku tidak pernah menerima penghinaan ataupun penolakan dari siapapun? Sebagai istriku seharusnya kau paham bagaimana karakter suamimu, Amora," papar Prince.

__ADS_1


"Tidak, Prince. Aku sudah bahagia di sini. Aku tidak ingin lagi terluka. Lebih baik aku sendiri menikmati hidup tanpa harus merasa bahwa aku tidak berguna. Bukankah lebih baik kau hidup bersama Luna? Kalian akan bahagia tanpa aku. Bersama dengan semua cinta yang kalian miliki." Kedua mata Amora berkaca-kaca. Cepat-cepat Amora memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Prince melihat kesedihannya.


"Amora, berhentilah keras kepala. Aku datang untuk membawamu pulang. Bukan berdebat ataupun bertengkar. Aku akan menjelaskan semuanya setelah kita kembali pulang ke rumah." Prince menarik tangan Amora. Ia akan membawa Amora dengan paksa.


"Prince!" Amora membentak Prince dan mengibaskan tangan suaminya dengan kasar.


Wanita itu bersikeras menolak. Ia tidak ingin mendapatkan luka baru lagi dari Prince. Lagipula bukankah pria itu tidak mencintainya? Prince hanya mencintai istri pertamanya, Luna. Ingatan Amora kini terlempar jauh saat dulu Prince mengakui perasaannya. Rasa sakit hati kembali hadir di relung hati Amora.


"Apakah kau sudah mendapatkan surat gugatan cerai dariku? Sebab seharusnya hari ini merupakan sidang pertama perceraian kita. Aku tidak akan hadir. Supaya perceraian kita selesai dengan cepat." Amora menatap nyalang pada Prince yang terdiam. Wanita itu tidak akan terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Prince langsung memeluk Amora erat. Membuat Amora kaget dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Prince. Namun, Prince justru mengeratkan pelukannya. Ia sudah menantikan momen ini untuk waktu lama. Prince tidak ingin kehilangan Amora lagi.


"Aku membiarkanmu pergi sejenak bukan berarti aku mau melepaskanmu selamanya, Amora," kata Prince.


Hening. Amora tidak menjawab. Prince mulai berani mencium tengkuk leher Amora. Membuat Amora bergidik ngeri sebab secara tiba-tiba Prince memeluknya. Sekarang, Amora tidak lagi memberontak. Ia ingin mendengarkan isi hati Prince.


"Lagipula bagaimana bisa aku melepaskan istriku yang sedang hamil anakku?" Prince tersenyum.


Ia bisa menduga bahwa Amora berniat untuk menyembunyikan kabar tentang kehamilannya. Prince bisa merasakan tubuh Amora menegang. Dengan pelan Prince mengusap lembut perut Amora. Senyuman Prince semakin lebar.


"Ini baru anakku," kata Prince.


Amora terkejut karena Prince tahu tentang kehamilannya. Jantung Amora semakin berpacu kencang. Tidak menduga bahwa semua akan di luar dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2