
"Apa yang ingin kau katakan, Amora? Kau sudah tidak bisa mengelak lagi. Semua yang kau lakukan aku selalu memantaumu. Meskipun kita berjauhan, tapi aku tidak pernah melewatkan semua hal tentangmu. Aku juga yakin kalau kau berniat untuk menyembunyikan kehamilanmu ini dariku bukan?" Prince melepaskan pelukannya.
Laki-laki itu membalikkan tubuh Amora untuk menghadapnya. Kini Amora dan Prince saling bertatapan. Pupil mata Amora melebar kala Prince mendaratkan kecupan di keningnya. Prince mencium lembut di sana. Membuat Amora tak mampu berkata-kata.
"Aku tahu apa saja yang kau lakukan, Amora. Kau yang paling tahu bagaimana karakterku. Aku tahu apapun tentangmu. Juga dinner romantis bersama dengan Dave kemarin malam. Bagaimana? Kau tidak bisa membantahnya bukan?" Prince mengusap pipi Amora dengan lembut.
Wanita itu tidak berani menatap Prince. Laki-laki yang sudah mengoyak seluruh sendi kehidupannya. Pantaskah mereka berdua kembali bersama? Amora terus bertanya-tanya dalam hati.
"Kalau aku kembali padamu, bagaimana dengan hatiku yang terus terluka? Apa aku harus melihatmu bertekuk lutut pada wanita lain? Sedangkan diri ini hanyalah pemanis ranjangmu. Tidak lebih. Tidak ada hati. Tidak ada cinta diantara kita." Amora membatin seraya mengepalkan kedua tangannya.
Wajah Amora memucat. Dia seperti seorang maling yang ketahuan mencuri. Prince tersenyum. Ia kembali percaya diri saat melihat Amora terdiam. Namun, senyuman Prince lenyap ketika cairan bening perlahan turun dari sudut pelupuk mata Amora.
Tangan kanan Prince terulur. Ia ingin menghapus air mata Amora. Akan tetapi, Amora sudah terlebih dahulu menghapusnya. Amora kembali memandang Prince. Tatapan mata Amora berubah dingin. Tampak datar dan membuat Prince membeku.
"Apa kau menolak kembali padaku karena kau mencintai Dave?" tanya Prince.
"Omong kosong apa yang kau katakan? Justru kalau bisa aku tidak akan jatuh cinta. Pada siapapun." Amora menjawab sambil membalik badan.
Ia membelakangi Prince untuk menyembunyikan air mata yang terus ingin keluar. Semua ingatan Amora tentang pengakuan Prince pada Luna mendadak berkelebatan di kepalanya.
"Apa kau juga tidak ingin mencintaiku?" Prince kembali bertanya.
"Bisa saja," sahut singkat Amora.
__ADS_1
"Kenapa kau memberitahu Dave tentang kehamilanmu tetapi tidak memberitahuku? Apa kau tidak tahu kalau aku terus menunggumu datang dan memberitahuku? Aku sangat menantikan hal itu, Amora," jelas Prince.
"Aku tidak akan membiarkan Dave merebutmu dariku, Amora. Tidak akan kubiarkan laki-laki sialan itu mengambil kesempatan. Kemarin aku melihatmu tertawa lepas saat bersama dengan Dave. Mengapa sekarang kau malah menangis ketika bertemu denganku?" Dave membatin tidak terima kalau Amora dekat dengan Dave.
"Aku pikir kehidupanmu sudah sempurna, Prince. Jadi, aku tidak ingin mengganggumu," kata Amora.
"Kehidupanku akan sempurna jika kau kembali bersamaku, Amora. Sudah cukup kau bersenang-senang dan menikmati kesendirianmu. Sekarang aku menjemputmu untuk pulang bersamaku. Jangan berbicara apapun yang membuatku marah. Kau tiba-tiba pergi menghilang. Mengapa?" Prince menempelkan kepalanya di pundak Amora. Laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di sana. Dia mencium dalam-dalam aroma tubuh Amora. Prince sangat merindukan Bau tubuh Amora.
"Sudah kubilang aku tidak ingin mengganggumu dan Luna. Aku hanya istri keduamu. Jadi aku pikir akulah yang harus pergi agar kalian berdua bisa hidup bahagia bersama. Apakah aku salah karena telah mengambil keputusan itu?" Amora bertanya pada Prince tentang keputusannya.
Prince menggelengkan kepalanya. "Jangan berpikir bahwa aku bisa bahagia tanpa dirimu. Aku menginginkanmu, Amora. Tanpamu aku tidak bisa hidup dengan tenang. Bagaimana kehidupanmu tanpa diriku? Apakah kau mengalami banyak masalah ketika hamil?" Prince kembali mengusap perut Amora.
"Prince, sedikit menjauhlah. Aku tidak nyaman," pinta Amora.
"Kenapa aku harus menjauh darimu? Mengapa kau tidak nyaman denganku? Padahal aku merindukanmu, Amora," sahut Prince.
"Kenapa kau terus menolakku, Amora?" Prince akhirnya melepaskan pelukannya pada Amora. Matanya menatap nyalang pada wanita yang sangat ia rindukan itu.
Amora melengos. Ia mengabaikan pertanyaan Prince dan memilih duduk di tepian ranjang. "Aku hanya tidak nyaman."
"Tidak. Aku hanya tidak suka bila aku hanya kau jadikan penghangat tempat tidurmu. Sebab sebatas itulah kau menganggapku. Tanpa cinta dan ketulusan. Bukankah itu bagai kupu-kupu malam?" Amora membatin dan mendesah.
"Mengapa tidak nyaman? Aku ini suamimu. Apa kau lupa statusmu?" Prince meninggikan suaranya. Sebab Amora terus menolak dan menjauhinya.
__ADS_1
"Aku tidak lupa. Dan seharusnya kau juga sudah menerima surat gugatan ceraiku," pungkas Amora.
"Oh, surat itu. Aku sudah membatalkan pengajuan surat gugatanmu. Pihak sana sudah menghilangkan berkas dokumen-dokumenmu. Hanya tersisa buku nikah kita. Ini. Aku kembalikan kepada orangnya." Prince memberikan akte buku nikah milik Amora.
Mulut Amora terbuka. Matanya seketika melotot sebab Prince benar-benar melakukan sesuatu di luar nalarnya lagi. Amora mengusap wajahnya. Sia-sia sudah perjuangannya dalam mengurus gugatan cerai di pengadilan. Jika pada akhirnya Prince dengan mudahnya membatalkannya.
"Laki-laki ini! Aku tahu dia laki-laki gila, tapi aku juga tidak menyangka bahwa Prince akan segila ini. Lalu apa yang seharusnya aku lakukan? Aku tidak tahu bagaimana isi hati Prince yang sebenarnya. Sebab, Prince jarang mengutarakan hatinya. Tapi kenapa aku selalu mengingat pengakuan cinta dari Prince untuk Luna?" Amora bertanya dalam hati.
Prince menarik tubuh Amora dan mendudukkannya di pangkuannya. Amora yang malu berusaha untuk turun dari pangkuan Prince. Nihil. Usaha Amora gagal. Justru kini Prince sedang menyentuh perutnya dan sesekali mengusap lembut.
"Berapa usia kandunganmu, Amora?" tanya Prince.
"Kau pasti sudah tahu semuanya, Prince. Aku tidak perlu menjawabnya," jawab Amora.
"Tidak. Aku hanya ingin mendengarkannya darimu. Apakah itu salah? Aku ingin istriku sendiri yang mengatakannya. Katakan padaku, Amora. Berapa usia kandunganmu?" Prince kembali bertanya.
"Tiga belas Minggu." Amora menjawab malas.
Prince mulai berbicara pada calon bayinya. Ia memperkenalkan diri sebagai calon ayahnya. Lalu Prince juga menyapa. Sesekali Prince tersenyum menatap Amora yang memilih bungkam dan tidak bergerak. Prince yang menyadari Amora lebih banyak diam, ia memandang istrinya.
"Tapi, ini sedikit aneh, Prince. Begini, aku kan sudah memakai obat anti hamil. Lalu bagaimana aku bisa hamil, Prince?" tanya Amora.
"Aku menukar obat anti hamil itu dengan obat penyubur," jawab Prince.
__ADS_1
Amora teringat jika Prince punya pabrik obat dan jamu terbesar di Asia Tenggara. Mata bulat Amora melebar. Sungguh ia tidak menyadari hal itu. Pantas saja Amora bisa hamil. Sedangkan Amora selalu ingat untuk meminum obat anti hamil itu.
"Jadi, dia bahkan tahu semuanya? Ini memalukan." Amora membatin malu karena ketahuan memakai KB.