Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 48


__ADS_3

"Aku berjanji padamu akan menjaga Amora dengan baik. Aku juga tidak akan melukai perasaannya lagi. Soal Luna kami sudah membahasnya berdua," jelas Prince.


Namun, jawaban dari Prince tidak serta merta membuat Essa suka. Hanya saja dia tidak bisa mengatakan keberatannya. Sebenar Amora terlalu berharga untuk Prince karena di luar banyak lelaki yang pasti akan mencintai wanita itu. Seperti Dave. Amora sedikit bercerita tentangnya.


Di bandara, Amora terus saja menangis tidak rela jika saudara satu-satunya harus pergi jauh. Tanpa Essa dia merasa hidup sendiri walau punya banyak saudara yang lain.


Apalagi Prince seperti tidak peduli padanya, hanya Luna saja yang dia perhatikan. Lantas jika Essa pergi, siapa lagi yang akan dia mintai pendapat dan mendengarkan curhatannya yang panjang dan lebar.


"Kak, aku ikut saja denganmu," pinta Amora yang mendapatkan tatapan tajam dari Prince. Amora sempat melihat tapi mengabaikannya.


"Kau sudah menikah, sudah seharusnya kau hidup dengan suamimu, bukan aku," kata Essa mencoba bijak membujuk Amora agar mau kembali pada Prince.


Walau pria itu buruk karena telah menjadikan Amora yang kedua, tapi Essa tahu hanya Prince sosok yang bisa menjaga Amora. Terbukti Prince selalu ada di saat Amora membutuhkannya.


"Amora aku harus cek in pesawat dulu, kau lihat rombonganku sudah menunggu di dalam. Mereka pasti khawatir jika aku terlambat datang."


Tangan Amora masih memegang tangan Essa. Terlalu berat untuk melepaskannya.


Essa mencium kening kembarannya. "Kau bisa menelfonku kapan pun kau mau. Kau juga bisa meminta bantuanku apapun itu. Walau kita berbeda negara tapi aku janji akan selalu ada untukmu," ungkap Essa yang tidak tega meninggalkan adiknya kali ini.


"Tenang saja, Essa, dia akan aman bersamaku," kata Prince. Essa menganggukkan kepalanya.


"Prince jaga dia dan sayangi dia. Aku titipkan adikku baik-baik padamu. Jika kau ingin mengembalikannya maka katakan padaku karena aku akan mencarikannya pria yang seratus kali lebih baik darimu. "ujar Essa.


Prince menghela nafas panjang. Dia menatap ke arah Amora. "Aku tidak akan membiarkannya diambil oleh orang lain, Essa, kau tahu itu dengan baik."


Ada rasa tidak terima jika sampai Amora dimiliki pria lain. Semenjak dulu ketika Amora masih bayi dan dia baru berumur sepuluh tahun, dia memang sudah diberitahu oleh kedua orang tuanya jika Amora akan menjadi istrinya. Dia harus menjaganya. Ketika dia hendak berpisah sebelum orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat terbang, mereka juga mengatakan hal yang sama.


Setelah orang tuanya tiada, Prince seperti ingin disingkirkan oleh keluarga dari ayahnya karena mereka ingin menguasai Mountain grup. Namun, Ayah Amora selalu menjaganya seperti anak sendiri. Bahkan ketika Prince hendak dibunuh ketika sedang berlibur di pantai, ibu Amora yang menolongnya dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai pelindung Prince. Ibu Amora meninggal dunia karena ditusuk orang.


Semenjak itu, Prince berjanji akan selalu menjaga Amora. Oleh karena janji itu, dia tidak bisa menikahi orang yang dia cintai secara sah. Dia harus tetap bersama dengan Amora apapun yang terjadi.

__ADS_1


Anak itu hanya alasan Prince agar Amora mau hamil. Dia berharap setelah mereka punya anak Amora berpikir ulang untuk pergi darinya.


Kini, dengan gampangnya Essa mau menyerahkan orang yang sedari dulu telah menjadi miliknya. Tidak akan semudah itu dia lepaskan. Batin Prince.


Setelah pesawat Essa lepas landas. Amora baru mau meninggalkan bandara. Wanita itu masih saja terlihat sedih di perjalanan hingga sampai di rumah.


Kakek Liu yang melihat kedatangan Amora, langsung menyambutnya di pintu.


Tangan kakek itu memeluk bahu Amora dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Amora, akhirnya kau kembali, Nak," sapa Kakek Liu. "Dua hari tanpa dirimu membuat rumah ini terasa seperti di kuburan. Tidak ada suara. Suamimu itu hanya menekuk wajahnya. Di tanya pun tidak mau menjawab. Sekalinya berbicara malah uring-uringan pada para pelayan. Semua yang ada di depannya tidak pernah kebetulan," tutur Kakek Liu panjang lebar sambil melihat ke arah Prince.


"Bukankah dia punya istri lain. Dia tidak perlu datang kemari jika tidak ingin," sindir Amora pada Prince.


"Kau itu ratu rumah ini, tanpa mu akan terasa hampa. Namun, bukan hanya rumah, Prince juga sepertinya merasakan itu, jika tidak untuk apa dia mencarimu dan membawamu pulang. Padahal aku tidak menyuruhnya sama sekali karena aku menghargai semua keputusanmu sekarang. Aku tidak selalu bisa mengikatmu untuk ada di dekat Prince jika kau memang tidak menginginkannya."


Amora merasa tersentuh dengan pengertian Kakek Liu. Dia memeluknya.


"Berbagi itu tidak enak, Kakek bisa memahaminya. Kau bisa menceritakan apapun pada Kakek karena orang tua ini akan selalu mau mendengarkan dan mendukungmu."


"Aku juga, jika boleh memilih aku lebih suka kau yang jadi cucuku daripada anak kurang ajar itu," seru Kakek Liu yang masih didengar oleh Prince yang sedang berjalan ke arah tangga.


"Amora, naik dan bersihkan dirimu!" suruh Prince.


Amora nampak enggan untuk mengikuti pria itu. Dia seperti ingin menjauh saja.


"Turuti, suamimu sana, dia pasti merindukanmu," bisik Kakek Liu.


Amora menatap Kakek Liu karena hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Kakek Liu menganggukkan kepala.


Dengan langkah enggan Amora mengikuti Prince.

__ADS_1


Prince yang tidak sabar dengan langkah pelan Amora dibelakangnya lalu menggandengnya naik ke lantai dan masuk ke kamar.


Kakek Liu yang melihat itu tertawa. Akhirnya, misi hidupnya akan selesai juga.


"Prince, sakit," kata Amora memegang tangannya.


Prince melihat pergelangan tangan Amora, memang terlihat memerah. Dia mengusapnya. "Hanya sedikit nanti juga hilang."


Amora mencebik kesal.


Prince menutup pintu kamar rapat dan membawa Amora duduk di pinggir ranjang. Dia duduk di sebelahnya.


"Kenapa pergi dua hari ini? Apa kau marah karena aku meninggalkanmu tempo hari?"


Amora masih terdiam dengan wajah yang ditekuk. Seperti seorang anak kecil yang sedang mengambil.


"Apakah kau cemburu karena aku pergi untuk menemui Luna?" tanya Prince pelan. Amora melirik Prince tidak senang.


Dia lantas tertawa.


"Untuk apa aku cemburu? Toh dari awal aku menikah mu karena dia butuh obat dari Prince untuk bisa bertahan hidup bukan karena cinta. Kau salah sangka kalau begitu," ujar Amora.


"Kau tidak perlu membohongi diri sendiri jika kau memang merasakan itu. Jujurlah padaku kalau kau mencintaiku."


"Kau terlalu percaya diri Tuan Liu Prince, aku tidak punya perasaan apapun denganmu. Jika aku akan jatuh cinta aku lebih memilih jatuh cinta pada pria yang hatinya bukan milik wanita lain, seperti Dave misalnya."


"Jangan pernah sebut nama pria lain di kamar kita?" Wajah Prince yang tadinya lembut berubah mengeras seketika


"Kenapa tidak boleh menyebutnya sedangkan kau boleh menyebut nama wanita lain diantara kita," tantang Amora, marah. "Dave itu lebih baik darimu. Dave bahkan mencintaiku sejak lama, sedangkan kau ...."


Perkataan Amora terhenti ketika mendapatkan serangan mendadak dari Prince di bibirnya. Tubuhnya dengan lembut di baringkan ke tempat tidur.

__ADS_1


'Tidak Amora, dari kau lahir pun sudah tertulis jika kau milikku. Tidak akan kubiarkan milikku diambil orang lain," batin Prince.


Tadinya dia pikir setelah hidup bersama dengan Luna, dia bisa melepaskan Amora suatu saat nanti. Nyatanya, semakin dia mengenal Amora dan hubungan mereka semakin dalam. Dia tidak bisa lepas darinya. Ikatan tak terlihat itu begitu kuat mengikat mereka berdua.


__ADS_2