
Amora pergi ke sebuah kafe, di sana dia duduk sendirian di salah satu meja yang berada di balkon. Menikmati semilir angin dari balkon kafe, cukup membuat pikirannya tenang.
Ingatan Amora kembali pada kejadian di kantor tadi. Dia menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Mengingat bagaimana Prince begitu perhatian pada Luna, entah kenapa Amora tidak menyukainya. Bagaimana pun juga Prince adalah suaminya dan mereka menikah secara sah baik agama mau pun negara. Berbeda dengan Luna, dia adalah istri Prince yang pertama tapi mereka menikah di bawah catatan sipil.
Meskipun Amora tidak mencintai Prince, tapi itu bukan berarti harga dirinya bisa diinjak-injak oleh mereka kan?
"Wanita licik itu, dia harus kusingkirkan agar tidak menjadi hama pengganggu," gumam Amora, dia akan mencari cara untuk menyingkirkan Luna agar tidak mendekati Prince lagi.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Amora teringat akan kejadian pagi tadi saat dia baru bangun dari tidurnya. Wajah Prince yang sangat tampan dan memesona saat bangun tidur, selalu menari-nari di pelupuk mata. Tanpa sadar, Amora malah tersenyum sendiri saat mengingat di mana Prince memeluknya sepanjang malam.
"Astaga, kenapa aku memikirkannya? Sadar, Amora ... kau itu tidak berarti apa-apa baginya. Dia hanya mencintai Luna, bukan dirimu." Amora yang berbicara dengan dirinya sendiri, tanpa sadar sudah menarik perhatian pengunjung lain yang duduk tak jauh dari mejanya.
"Kasian sekali, cantik-cantik tapi otaknya miring," ucap salah satu pengunjung yang melihat sikap Amora.
Amora yang sedang merenung, dia dikejutkan oleh kehadiran seorang laki-laki berparas tampan.
"Apa aku boleh duduk di sini?"
Amora yang tadinya menatap kosong ke depan, dia mengangkat wajah dan melihat sosok pria yang tak asing di matanya.
Dia mengernyit saat mengenali Dave—pria yang berdiri di seberangnya.
"Aku sendirian, jadi kau tidak perlu sungkan untuk duduk bersamaku," ucap Amora, dia mengulas senyum tipis di wajahnya, dan itu membuat Dave terpesona.
"Aku tidak menyangka jika akan bertemu denganmu lagi di sini, Nona ...." Dave menjeda kalimatnya.
"Amora, kau melupakan namaku?" timpal Amora, dia menatap Dave yang melempar senyum ke arahnya.
"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku bisa melupakan wanita cantik sepertimu?" Dave yang bahkan jarang sekali menggoda perempuan, entah kenapa jika melihat Amora, dia rasanya ingin tahu lebih banyak tentang Amora.
"Thanks atas pujianmu, Dave. Tapi, maaf ... kau bukan tipeku, lagi pula aku sudah bersuami."
Dave terkekeh mendengar Amora yang ternyata pandai berkelakar.
"Suami? Apakah suamimu yang bernama Prince itu?"
__ADS_1
Amora tidak terkejut, sebab semua orang tahu jika dia dan Prince telah menikah. Mungkin saja Dave mengetahuinya dari orang lain.
"Tepat sekali, Dave."
"Kenapa kau mau menikah dengannya, Amora? Maaf, aku bukan bermaksud untuk mengusik privasimu," Dave menatap lekat wajah Amora.
Amora menyesap minumannya sedikit, dia membalas tatapan Dave yang terasa aneh baginya.
"Itu karena kesepakatan kedua keluarga kami, Dave. Dan aku tidak bisa menolaknya," jawab Amora santai.
"Apa kau tidak tahu bahwa sebelumnya Prince juga sudah menikahi perempuan lain? Bahkan wanita itu sedang hamil saat ini." Amora mendelik ke arah Dave, ekor matanya memicing.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang kehidupanku, Dave. Apa kau seorang detektif?" Amora tersenyum miring.
Dave tergelak, "Sorry, aku tidak bisa diam saja kalau melihat gadis cantik sepertimu justru menjadi mainan bagi Prince."
"Sebelum kau mengatakannya, aku sudah tahu semuanya, Dave." Amora memasang ekspresi serius kali ini.
Dave tertegun, meski Amora tidak tersenyum, tapi baginya wajah gadis itu tetap terlihat cantik dan ... seksi.
"Waw ... kau sudah tahu semuanya rupanya. Jadi, aku hanya membawa berita basi buatmu." Kemudian keduanya sama-sama tergelak.
Dave menanggapinya dengan serius. "Kalau begitu kenapa kau mau menjadi istri kedua Prince, Amora? Kau sangat cantik, kau bahkan bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Termasuk ...." Dave menggantung ucapannya.
Amora mengernyitkan dahi, kemudian dia bersandar sembari melipat kedua tangan di dada. "Termasuk apa?" ucap Amora, penasaran.
"Kalau kau mau, aku bisa menggantikan posisi Prince di sisimu. Aku masih lajang dan belum menikah. Harta kekayaanku bahkan lebih banyak dari Prince. Jadi, jika kau meninggalkan Prince, aku dengan senang hati merentangkan kedua tanganku untuk menyambut kehadiranmu, Amora." Bahkan Dave memperagakan kedua tangannya yang dia rentangkan.
Melihat tingkah Dave, bukannya membuat Amora merasa tersentuh, dia justru tertawa tergelak sembari menggelengkan kepalanya.
"Jangan bercanda, Dave."
Mendengar ucapan Amora, Dave mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu. "Apakah wajahku ini wajah pelawak?" ucap Dave, serius.
Kali ini tawa Amora lebih nyaring sehingga membuat para pengunjung yang lain menoleh ke arah mereka berdua.
Dave senang melihat wanita di depannya tersenyum bahagia.
__ADS_1
***
Sebuah mobil baru saja memasuki pekarangan mansion yang sangat luas. Seorang pria turun dari mobil berwarna hitam, dia adalah Prince.
Prince baru saja pulang setelah membawa Luna ke rumah sakit, saat dia turun dari mobilnya. Prince melihat sebuah mobil sport keluaran terbaru berhenti di depan pintu gerbang.
Prince menatap mobil itu, hingga seorang perempuan muncul dari sana.
“Amora! Dengan siapa dia pulang?” gumam Prince.
Amora yang baru turun dari mobil, dia diantar pulang oleh Dave. Awalnya Amora ingin menolak, tapi Dave memaksanya untuk mengantar pulang.
“Jadi, ini rumah suamimu?” ucap Dave.
“Ya, ini rumah keluarga Prince dan aku tinggal di sini. Thanks ... karena sudah mau mengantarku pulang.” Amora tersenyum lalu dia melambaikan tangan ke arah Dave yang masih berada di dalam mobil.
Mobil Dave bergerak pelan dan mulai pergi meninggalkan Amora yang masih berdiri di depan pintu gerbang.
Kemudian Amora pun berjalan memasuki pintu gerbang, tapi ketika dia hendak menuju pintu. Seseorang memanggil namanya.
“Amora!”
Langkah Amora terhenti, dia berbalik badan dan mendapati Prince ternyata sudah pulang lebih dulu darinya.
Mendadak Amora merasa gugup saat Prince melayangkan tatapan dingin ke arahnya.
Prince berjalan mendekati Amora dengan sorot mata elang yang tajam menghujam.
“Kau ... pulang bersama siapa tadi?” ucap Prince saat dia berdiri tepat di depan Amora.
Amora membalas tatapan Prince, seolah tatapan pria itu tidak membuatnya takut sama sekali. Amora tersenyum kecut kepadanya. “Dia temanku,” ucap Amora. Saat Amora ingin pergi, Prince menahan pergelangan tangannya.
“Aku belum selesai bicara denganmu, Amora!”
Amora mendengkus, dia yang tadinya bersikap masa bodoh, kini menunjukkan ekspresi datar di depan Prince.
“Apa lagi, Prince? Apa aku tidak boleh diantar oleh orang lain?” ucap Amora dengan nada ketus.
__ADS_1
“Temanmu itu laki-laki atau perempuan?” Seolah mengabaikan kekesalan Amora yang mulai membuncah, Prince kembali bertanya.
“Dia laki-laki, namanya Dave. Kami bertemu di kafe saat aku makan siang tadi, apa kau sudah puas?” ucap Amora, dengan suara lantang. Kemudian Amora pun masuk ke rumah, meninggalkan Prince sendirian carport mobil.