
Setelah tubuh Amora tidak menggigil lagi, Prince bangkit. Dia memakai pakaiannya lagi dan berjalan keluar dari kamarnya.
Langkah kakinya yang tegas terdengar jelas. Aura wibawa jelas terpancar dan membuat semua pelayan di rumah besar Chandra menunduk dan memberi hormat serta segan pada dirinya.
Essa masih di ruang keluarga menonton acara bola. Dia menoleh setelah ke belakang.
"Bagaimana keadaan kembaranku?"
Prince duduk di kursi single yang bersebelahan dengan Essa. Netranya seperti mencari sesuatu.
"Sudah lebih baik."
"Apakah rumah ini dilengkapi dengan CCTV?" tanya Prince.
"Ada, tapi tidak setiap sudut rumah ada CCTV-nya," jelas Essa.
Tiga buah kerutan di antara alis Essa terlihat jelas ketika Prince seperti sedang meneliti keadaan rumahnya.
"Apa kau mencurigai sesuatu?"
"Selama bersamaku, Amora tidak pernah kambuh penyakitnya, tapi ketika masuk ke rumah ini, dia kembali sakit," jelas Prince.
Essa nampak terkejut dengan pernyataan dari Prince mengenai hal itu. Benarkah selama ini Amora bukan sakit karena efek dari racun yang dulu sewaktu kecil dia minum. Namun, ada seseorang yang masih berusaha untuk mencelakainya?
"Dia belum makan sedari tadi, hanya minum segelas air mineral dan jus jeruk. Oh, tunggu, aku akan memanggil pelayan yang membuatkan jus jeruk untuknya." Essa mencoba mengingat apa yang mereka lakukan sedari tadi.
"Dari siang hingga sore dia belum makan? Lalu apa yang kalian lakukan sehingga kau tidak menawari adikmu makan? Saudara macam apa itu yang tidak memperdulikan saudarinya?" tuduh Prince.
Wajah Essa memerah karena marah mendengar tuduhan Prince. Setengah hari, dia berusaha menenangkan Amora yang menangisi nasibnya sendiri setelah apa yang Prince lakukan.
"Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau lakukan sendiri!" balik Essa.
Prince menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Seharusnya kau bertanya sendiri kenapa sampai Amora datang kemari."
Prince ingat jika mereka tadi bertengkar. Amora marah dan pergi. Apakah wanita itu mencurahkan isi hatinya pada Essa.
__ADS_1
"Aku perlu CCTV di dapur dan ruangan ini jika ada."
"Okey, kita ke ruang monitor." Essa segera bangkit mengajak Prince ke ruangan Monitor. Dia sebenarnya masih kesal pada Prince, hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu. Pria selalu berpikir dahulu sebelum bertindak.
Mereka pergi ke ruang monitor. Di sana, mereka lalu melihat kejadian demi kejadian di dalam rumah. Essa sengaja memperlihatkan pada Prince saat Amora menangis tadi. Walau tidak ada suaranya tapi terlihat jelas ekspresi adiknya itu.
Prince mengatupkan bibirnya ketat ketika melihatnya. Dia menelan salivanya dengan sulit. Mungkin apa yang dia katakan tadi terlihat keterlaluan sampai membuat Amora yang tegar akhirnya terluka.
Hingga sampai di adegan Amora meminum segelas air jeruk, Prince memperhatikan ekspresi pelayan yang memberikan. Dia nampak serius. Lantas ke arah dapur.
Dapur terlihat ramai dan tidak ada yang mencurigakan. Jus itu dibuat sebagai mana mestinya. Tapi dia merasa, ini ada yang salah.
Dia memutar lagi kejadian di ruang keluarga dan dapur sampai berkali-kali. Hingga dia menemukan sesuatu di sana.
"Kau lihat ekspresi pelayan itu saat menatap ke arah Amora. Nampak mencurigakan."
Essa yang tadinya tidak melihat kesalahan apapun mulai mengamati. Mata tajam Prince memang tidak salah.
"Sedangkan di dapur ini, lihat! Gelas itu tidak diambil dari tempat gelas tapi dari balik bajunya."
Wajah Essa langsung memucat. Benar, apa yang dikatakannya oleh Prince. Semua seperti sudah direncanakan.
"Dimana Mba Sih, berada?" tanya Essa pada pelayan yang ditemuinya. Semua pelayan yang lain saling melihat.
"Mba Sih sedari tadi tidak terlihat. Tunggu akan kami cari," jawab salah satu pelayan senior yang menjadi leader di rumah ini.
"Mba Sih? sudah tidak ada di kamarnya," kata pelayan itu setelah pergi mencari pelayan yang Prince maksud. "Kata penjaga, setengah jam yang lalu dia baru saja pergi keluar katanya untuk membeli obat."
"Sial!" umpat Essa kesal.
"Tenanglah, kita akan menemukan pelakunya. Serahkan itu padaku," kata Prince. Dia lantas menghubungi anak buahnya.
***
Sinar matahari yang sudah mulai terasa panas masuk ke kamar Amora. Wanita itu mulai menggerakkan kelopak matanya ketika merasakan sesuatu yang basah menempel di wajahnya.
Matanya terbuka melihat ada Prince tersenyum di depannya. Dia mengerjap.
__ADS_1
"Apakah aku sudah mati? Dan kau malaikat maut kenapa mirip sekali dengan suamiku? Apakah tidak bisa memiliki wajah yang lain?" tanyanya setengah tidak sadar.
Prince yang melihat itu menjadi gemas. Ingin rasanya dia menggigit hidung Amora yang kecil dan tinggi.
Pria itu hanya diam, melanjutkan pekerjaannya membersihkan tubuh Amora.
"Prince ini kau, bukan malaikat?" Amora mulai tersadar. Dia lantas mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa sakit semuanya.
"Baru sebentar saja pergi dariku sudah seperti ini!" gumam Prince kesal. Dia melemparkan handuk yang baru dia pakai ke baskom. Lalu mulai mengambil pakaian kering dan handuk untuk Amora.
Amora menekuk wajahnya dalam. Rasa kecewanya pada Prince belum usai. Namun, melihat perlakuan Prince yang merawatnya dengan telaten, membuat dia terdiam.
"Sudah kukatakan tetap bersamaku, maka kau akan aman!"
Prince membantu Amora bangkit untuk bisa memasukkan gaun tidur di tubuhnya.
"Kalau kau mau marah-marah pergi saja. Aku juga lebih baik mati daripada bertemu denganmu lagi," Amora merasa sesak dan terluka ketika mengatakannya.
"Sudah kukatakan jika aku menentukan kapan kau mati dan hidup. Perjanjian kita belum selesai dan kau tidak boleh pergi darimanapun sebelum menyelesaikannya. Kau harus hamil anak kita!" Prince menyandarkan tubuh Amora di sandaran tempat tidur.
Amora menajamkan matanya marah. Prince sendiri memegang dagu Amora dengan lembut. Amora memalingkan wajah ke samping.
"Aku tahu kau marah padaku, tapi tak apa. Yang penting bagiku, kau hamil nantinya."
"Untuk apa melahirkan anak jika akhirnya anak itu akan hidup tanpa orang tua yang lengkap?" celetuk Amora sedih.
"Kalau begitu, tetap bersamaku untuk membesarkannya," kata Prince.
Amora meneteskan air matanya sambil menggelengkan kepala. Dia tidak bisa meneruskan hubungan ini berpura-pura untuk tegar padahal dia tidak sekuat itu.
"Jangan menangis, kau jelek bila seperti ini," kata Prince mengusap air mata Amora.
"Aku ingin di sini saja. Kau pergilah!" ucap serak Amora. Dia tidak menginginkan Prince ada di dekatnya. Hal itu malah membuat luka Amora lebih dalam lagi.
Dia sadar jika pengaruh Prince sangat besar baginya. Pria tua yang umurnya jauh dari Amora ini selalu bisa membuatnya takluk dalam segi apapun. Hal itu tidak membuat hati Amora senang ataupun bahagia. Tapi dia merasa tenang di dekat Prince dan nyaman. Itu jika bayangan Mbak Bulan tidak ada di antara mereka.
"Tidak tanpa dirimu. Pria tua itu akan menodongkan pistol jika aku membiarkanmu tetap di sini." Mereka saling menatap.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Prince memeluk Amora. "Tetap di sampingku, walau aku tidak seperti pria yang kau inginkan dan harapkan. Setidaknya kau akan aman bersamaku."
Amora menangis dalam pelukan Prince. Untuk apa dia bertahan dalam rumah tangga ini jika tanpa cinta didalamnya.