
"Rasa takut dan sesal, itu yang kurasakan waktu itu. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Walau pendarahan itu tidak membuat luka di rahim Luna, tapi membuat Luna harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Dokter mewanti agar aku merawatnya dengan baik dan tidak membuatnya stress. Hal itu membuat aku mesti menemaninya di rumah sakit sampai keadaannya membaik."
Prince melihat ke arah baby Cinta yang sedang menatap keduanya sambil tersenyum senang. Kedua tangan anak itu terus bergerak-gerak. Tangan Prince memegang tangan Baby Cinta.
"Bukannya membaik, keadaan Luna malah bertambah drop. Mungkin karena aku terkesan tidak peduli dengannya. Aku hanya menemaninya tapi pikiranku selalu tertuju padamu. Hal itu munhkin yang membuat Luna kecewa padaku. Hingga pada akhirnya dilakukan operasi darurat di Minggu kedua setelah kejadian itu."
"Pikiranku kacau, Amora. Operasi itu berjalan lancar. Luna mengalami Baby blues, selalu menangis setiap saat. Orang tuanya datang untuk merawat Luna. Sedangkan, Baby Cinta lahir prematur dan keadaannya sangat lemah. Dia butuh banyak perhatian. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dan pergi menemuimu."
Amora menatap Prince dengan dalam.
"Tidak, jangan pikir aku lebih mementingkan Luna dan Cinta darimu. Aku pun sangat mengkhawatirkanmu karena itu aku selalu mengawasimu dua puluh empat jam tanpa kau ketahui. Pelayan yang ada di resort sebagian adalah orangku yang kupercaya untuk menjagamu."
Amora menaikkan kedua alisnya keatas. Dia tidak heran Prince bisa melakukan itu, hanya saja perhatiannya yang tidak dia kira akan membuat Amora kaget.
Yang dia rasakan selama ini, Prince tidak perduli dengannya. Bahkan baru datang setelah tiga bulan lamanya. Walau Amora yang pergi tapi dia juga menunggu kedatangan Prince. Namun, selama menunggu itu yang ada hanya rasa kecewa. Dia mengira Prince lebih memilih Luna ketimbang dirinya. Hingga ketika Prince datang dia baru tahu jika hubungan Prince dan Luna sudah putus semenjak hari itu.
Apakah benar, selama ini Prince selalu mengawasinya. Amora mencoba mengingat semuanya.
Dia ingat ketika dia hendak terjatuh ada orang yang menolongnya. Ketika dia kehujanan tiba-tiba ada yang datang dan memberinya payung. Ketika dia ingin menyeberang, ada yang membantunya dan banyak hal lainnya yang dia kira itu hanya sebuah kebetulan kecil ternyata itu adalah bentuk perhatian dari Prince.
Prince lantas mengeluarkan sebuah cincin dari dalam saku bajunya. Cincin pernikahan yang dia buang ke laut waktu dia marah pada Prince.
"Apakah kau membuat cincin baru yang sama persis?" tanya Amora menatap cincin itu.
"Yang pertama itu yang asli dan tidak ternilai harganya. Walau diganti dengan yang sama akan berbeda."
Amora tidak mengerti dengan perkataan Prince. Apakah maksudnya ini cincin asli pernikahan mereka?
Itu tidak mungkin kan? Amora menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kau pikir itu tidak mungkin terjadi setelah kau membuangnya ke laut?"
Amora menutup mulutnya. Prince tahu itu.
"Aku sengaja memasang GPS mini ke dalam cincin ini, agar aku selalu tahu dimana lokasi keberadaanmu. Jadi ketika kau membuangnya aku bisa menemukannya walau aku harus menyelam selama tiga hari baru bisa mendapatkannya lagi dengan susah payah."
"Prince… ." Amora merasa terharu dengan apa yang Prince lakukan.
"Tidak jangan panggil itu, panggil suamiku, atau sayang," kata Prince menyematkan cincin itu lagi ke jari Amora.
Amora menyentuh cincin itu. Dia tidak menyangka jika cincin yang dia buang jauh itu bisa melingkar lagi di jarinya.
"Aku sadar jika kehilanganmu adakah sesuatu yang sangat kutakutkan. Aku tidak ingin itu terjadi lagi di kemudian hari," ungkap Prince.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Maukah kau kembali lagi ke kehidupanku dan memulai semua dari awal?"
Amora tidak menjawab ucapan Prince, namun pelukannya memberi isyarat jika dia menerima kembali Prince.
"Sepertinya dia tahu jika ayah dan ibunya baikan."
Amora terdiam hanya menatap ke arah Cinta dengan tatapan yang sukar ditebak.
Prince sendiri takut menebak pemikiran Cinta. Melihat dia ada di rumah ini sudah membuatnya senang. Dia tidak ingin menambah masalah lagi antara keduanya.
"Apakah kau mau jadi ibunya Amora?" tanya Prince penuh harap. Namun,dia sendiri takut jika Amora menolaknya.
Dadanya terasa berdegub kencang menunggu jawaban Amora.
"Aku hanya akan membantu kau merawatnya, tapi tidak bisa mencintainya sebagai seorang anak sendiri," jawab jujur Amora. Dia bukan ibunya Cinta tapi dia akan merawat Baby Cinta dengan baik. Ini untuk mengurangi rasa bersalahnya karena memisahkan Cinta dari ibunya.
__ADS_1
"Kau ingin dia memanggilku Ibu? Padahal aku bukan ibunya," lanjut Amora. "Apa kau tidak takut aku akan mencelakainya?"
Kaki Prince lemas seketika. Harapannya untuk bisa hidup bersama dengan Amora dan putrinya seperti hal yang tidak mungkin. Mungkin dia harus memilih satu diantara keduanya.
"Aku percaya kau tidak akan mencelakai anakku," tandas Prince. Dia lalu menggendongnya Cinta.
"Kalau kau mau menerimanya sebagai anak, aku akan bahagia, Amora. Tapi aku tidak bisa memaksakannya. Bagiku, hanya kau yang akan dipanggilnya ibu oleh anak-anakku kelak. Jika kau tidak suka, aku akan memberikannya pada Luna untuk dia rawat."
Amora terkejut dengan perkataan Prince. Dia sangat menyayangi Cinta tapi dia mau menyerahkannya pada Luna jika Amora tidak menginginkannya. Sebesar itukah cinta Prince untuknya?
"Aku tahu kau sangat menyayangi Cinta?" celetuk Amora.
Prince menarik dua sudut bibirnya dengan kaku. Tangannya menyentuh pipi Cinta dengan lembut dan menatap anak itu dengan sedih.
"Tidak lebih besar dari cintaku padamu, aku tidak ingin kehilanganmu dan anak kita."
Ungkapnya yang membuat Amora terkejut sekali lagi serta merasa tersentuh. Dia tahu bahwa akan berat bagi Prince untuk kehilangan anak pertamanya, tapi dia mau mengorbankannya untuk kebahagiaan Amora. Jika Prince seperti itu, mengapa dia tidak bisa melakukannya?
"Kalau begitu biarkan dia tinggal di sini. Bersama kita." Kali ini, tinggal Prince yang tertegun untuk sesaat. Dia terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang Amora katakan. Dia menengok ke arah Amora untuk meyakinkan dirinya.
Amora mengangguk. Sebuah senyuman lebar terbit di bibirnya.
"Apakah itu artinya kau mau menerima Cinta jadi bagian dari keluarga kita?" tanya Prince.
"Dengan satu syarat kau tidak boleh membawa ibunya kembali ke hadapanku," kata Amora. Prince menganggukkan kepala.
Amora meminta Cinta pada Prince. Prince memberikannya. Dia memangku Cinta.
"Kau juga tidak boleh menikah lagi!" imbuh Amora.
__ADS_1
Prince mencium kepala Amora. "Aku tidak akan pernah melakukannya. Kau saja sudah cukup bagiku." Prince sangat bahagia sekarang bisa duduk bersama dengan putri kecilnya dan Amora bersama-sama.
"Terimakasih Amora, kau memang wanita terbaik yang Tuhan kirimkan untukku."