
Deg!
Dada Amora berdetak dengan cepat. Dia lantas mendorong tubuh Prince kuat dan berdiri.
"Jauhkan tubuhmu dariku, bau wanita itu masih melekat. Aku jijik." Amora menepuk kedua tangannya.
Prince menegakkan kembali tubuhnya. Sambil menghela nafas. Di satu sisi ada wanita yang selalu mengharapkan kehadirannya namun dia tidak bisa lagi di sampingnya. Sedangkan di sini dia hanya menemukan penolakan. Dia memahami perasaan Amora.
Hanya saja permintaan kakeknya yang hanya ingin mendapatkan cucu Amora yang membuat dia harus melakukan ini. Mengabaikan perasaan mereka berdua, bahkan jika perlu sebuah pemaksaan.
"Amora, aku kira waktu seminggu itu cukup untuk membuatmu berpikir untuk kita bisa bertahan dengan keadaan."
"Kau bermimpi!" Amora berjalan menjauh. Dia lantas duduk di meja rias dan melihat wajahnya serta menyisir rambutnya.
"Ada apa? Kau tidak terima?" tanya Amora.
Prince ingin mengatakan sesuatu, tapi ditelannya kembali.
"Kau mandilah. Aku akan memanggilkan pelayan untuk menyiapkan air mandimu. Setelah itu, aku juga ingin membersihkan tubuh."
"Sebaiknya aku melakukannya di ruang spa," lanjut Amora. Wanita itu lantas keluar dari kamar.
"Pelayan siapkan bajuku," serunya yang masih terdengar oleh Prince.
Satu jam kemudian mereka bertemu kembali di ruang makan. Seperti biasa Kakek Liu berada di kursi ujung meja.
Kali ini banyak tersaji hidangan sayuran yang dimasak tanpa minyak karena Kakek sedang menghindari itu. Daging ayam tanpa lemak. Rasanya kurang gurih karena selama ini Amora suka makan makanan yang berlemak dan pedas. Namun, dia menghormati semua yang biasa dilakukan di rumah ini.
"Makanan ini bagus untuk kulitmu agar selalu terlihat segar. Sayuran ini melalui proses fermentasi sebelum dihidangkan," terang Kakek Liu. Dia menyumpit sayur sawi putih lalu di berikan ke mangkuk Amora.
"Iya Kakek, rasanya juga terasa segar." Amora tersenyum manis pada Kakek Liu. Saat melihat Prince senyumnya mendadak hilang. Dia larut lagi melihat ke arah makanan yang tersaji di depannya.
__ADS_1
"Baguslah, kau bisa menikmatinya."
Tatapan Kakek Liu sekarang tertuju pada Prince. "Prince bagaimana perusahaan kita di Inggris?"
"Baik, kita hanya perlu tambahan suplai barang ke sana. Hanya saja pemerintah sedang melarang bijih nikel ke sana."
"Turuti saja pemerintah agar mempermudah usaha kita. Kita kirim barang setengah jadi. Walau itu menambah biaya produksi tapi harganya di Eropa bisa bertambah."
"Namun, Kakek. Itu tidak semudah yang terlihat kita harus merubah mekanismenya secara keseluruhan."
"Aku atur saja."
"Baik, Kakek."
Mereka mulai melanjutkan makannya hingga hampir habis.
"Prince kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu kan?" tanya Kakek Liu.
"Ya, secepatnya kau bereskan itu agar tidak membuat masalah baru ke depannya."
"Ya, dia pergi setelah membuat kita merugi ratusan milyar. Untung saja penjualan senjata sedang bagus, jika tidak... aku tidak bisa membayangkan akan terjadi hal buruk pada perusahaan kita."
Mendengar kata penjualan senjata membuat Amora tersedak. "Kalian menjual senjata?"
"Ya, jangan terkejut dengan bisnis kita dibawah tanah Amora."
"Tapi bukankah itu hal yang dilarang?"
"Antara dilarang tetapi dibutuhkan. Seperti narkoba yang dilarang jika dijual dipasaran tapi di legalkan jika digunakan untuk obat. Kau fahamkan."
"Kakek rasa sebaiknya untuk sementara Amora kau jadikan asisten pribadi selama dia belum hamil agar tahu tentang seluk beluk bisnis kita."
__ADS_1
"Tapi Kakek!" ucap Amora dan Prince bersamaan.
"Bagaimana kalian akan saling mengenal jika jarang bertemu? Cinta datang karena terbiasa. Rumah tangga akan bertahan lama jika didasari dengan itu," ungkap Kakek Liu.
Amora dan Prince saling menatap untuk sesaat, tapi Amora membuang muka.
"Apakah karena bisnis gelap ini Kakek bersikukuh agar aku tetap menikah dengan Prince?"
Amora menatap Kakek Liu yang nampak terkejut dengan pertanyaan Amora.
"Sedikit banyak iya, tapi ini juga demi kesehatanmu Amora. Hidupmu akan aman jika bersama dengan Prince."
Itu memang benar. Dia masih butuh obat khusus yang hanya bisa dibuatkan oleh pria itu. Entah apa ramuannya tidak ada yang tahu, hanya Prince sendiri lah yang meramunya.
Namun, seperti ini juga tidak bisa membuat Amora senang dan bahagia.
"Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa."
"Aku mau," jawab Amora cepat. Dia harus mulai memikirkan rencana baru untuk memberi pelajaran pada Prince serta Luna. Mereka berdua tidak bisa dibiarkan menginjak harga dirinya serta tertawa dibalik tangisnya.
Prince tertegun untuk sesaat. "Kau yakin?"
"Aku yakin, aku lulusan manajemen keuangan dan aku mendapatkan gelar cumlaude. Bukankah itu sebuah hal yang patut kau pertimbangan nantinya Tuan Prince yang terhormat," ledek Amora.
Prince mendengus kesal. Dia tidak bisa berbuat banyak jika ada kakeknya.
"Kakek sudah menyuruh orang untuk membawakanmu obat herbal untuk diminum tadi. Itu baik untuk kesuburan. Prince kau juga harus meminumnya."
"Ayolah Kakek."
"Tidak ada tawar menawar kali ini!"
__ADS_1