
Amora terdiam. Tertunduk lesu enggan untuk menimpali ucapan Prince.
"Kau kira menjadi diriku itu mudah?"
Bukankah yang membuat sulit itu Prince sendiri? Pikir Amora dalam hati. Dia memainkan jarinya seolah tidak perduli dengan ucapan Prince. Hatinya sudah terlalu sakit karena dikhianati pria itu. Tiga tahun menunggu dengan seribu mimpi yang terukir diangannya dan Prince menghancurkannya begitu mudah. Seolah Amora hanya boneka untuknya.
"Lalu apakah menjadi aku juga mudah. Kau menentukan pilihanmu sendiri untuk bisa hidup bahagia dengan Luna serta calon anak kalian. Sedangkan aku? Kau tidak memberiku pilihan untuk bahagia. Yang ada hanya mati atau hidup menjadi tawananmu."
"Kau tahu mengapa orang tuaku menamakanku Amora? Karena mereka ingin aku menebar cinta dan hidup dalam gelimang cinta. Nyatanya aku harus bertahan hidup sendiri di tengah duri kehidupan yang ada di setiap langkah hidupku. Lalu apa artinya dirimu bagiku? Tidak ada. Kau hanya suami diatas kertas tidak lebih."
"Jika kau mau meminta hakmu maka aku terlebih dahulu minta hakku untuk dicintai. Jika kau tidak bisa dengan lugas dan terang aku katakan padamu jika aku memilih mati daripada melayani pria yang pikirannya ada wanita lain."
Wajah Prince mengeras. Dia melempar benda yang ada di dekatnya hingga membuat Amora terkejut.
Dia lalu menarik lengan kecil Amora, agar bisa menatap wajahnya dengan jelas.
"Aku pun tidak ingin hidup seperti ini. Aku ingin hidup tenang bersama cintaku, namun aku pun punya perjanjian dengan Kakek agar memberikannya keturunan darimu. Setelah itu, aku baru bebas untuk menentukan hidupku ke depan. Kau pun bisa hidup bebas setelahnya, jadi agar kita sama-sama lepas dari penderitaan ini, kita buat anak dan selesaikan semua masalah kita."
__ADS_1
Prince mengungkung tubuh Amora dan menekan dibawahnya.
"Tidak Prince, jangan coba-coba menyentuhku!" seru Amora melawan.
Dia menendang Prince dengan keras, tapi pria itu bisa menahan kaki Amora lebih masuk ke dalam tempat tidur. Sedangkan tangannya mulai merobek baju Amora sehingga semua kancing baju terlempar berantakan.
Telur telah terkelupas dari kulitnya. Dan semua dilakukan dengan paksaan. Amora tidak menyangka Prince benar-benar melakukan hal ini. Ini adalah sebuah pelecehan dan sangat buruk.
Prince sendiri mengira jika dia hanya perlu melakukan ini sekali saja. Namun, kemurnian Amora membuat dia terlena. Mendapatkan rasa tersendiri yang dia tidak tahu apa itu. Sesuatu yang dia pikir akan membuat dia merasa bersalah pada Luna, malah membuat dia melupakan wanita itu.
Air mata yang membasahi pipi Amora membuat Prince menghentikan gerakannya sejenak. Dia mencium pipi Amora dengan lembut.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, agar kau terbiasa dan nyaman," bisiknya.
"Aku membencimu, Prince," geram Amora.
"Ini untuk kebaikan kita karena aku juga tidak ingin menawan hidupmu lebih lama," ujar Prince.
__ADS_1
Begitu banyak kebencian yang Amora rasakan pada Prince. Rasa sakit tubuhnya tidak lebih sakit dari hatinya. Tangan Amora meremas seprai dengan kuat. Hingga darah akhirnya menetes diseprai ikut membasahi tangannya.
Sebuah erangan keras terdengar keluar dari tenggorokan Prince. Setelah itu dia menatap Amora dengan ekspresi yang Amora tidak mengerti.
"Terimakasih telah menjaganya untukku. Walau tidak seperti yang kau bayangkan."
"Kenapa kau harus melakukan ini, menghancurkan aku?" isaknya.
Prince menjatuhkan tubuhnya ke samping Amora. "Aku lelah dan ingin cepat mengakhiri semuanya." Prince menoleh ke arah Amora.
"Maaf bila aku harus mengorbanmu, tapi aku akan berjanji tetap akan menjagamu sampai kau punya pengganti diriku suatu hari nanti."
Amora terlalu lelah untuk menjawab ucapan Prince. Dia tertidur kemudian. Sedangkan, Prince menatap Amora lekat.
Wanita ini hanya dia anggap adik selama ini. Hanya saja kedua orang tua mereka menginginkan pernikahan ini terjadi. Memaksa keduanya untuk hidup dalam penderitaan. Prince ingin segera mengakhirinya. Dia tidak tega melihat Luna hidup sendiri tanpa dukungan dari siapapun. Keluarganya pun telah menghindarinya karena insiden penembakan Boris.
Luna hanya punya dia seorang dan dia wanita yang lemah. Berbeda dengan Amora, walau dia menderita suatu penyakit Amora adalah wanita kuat yang selalu bisa mengatasi masalahnya. Dia juga wanita kaya yang bisa hidup mewah tanpa harus bekerja.
__ADS_1
Dia tidak bisa menyatukan dua istrinya. Namun, dia akan memastikan keduanya akan bahagia. Amora berhak bahagia karena itu dia akan membebaskannya kelak setelah pewaris keluarga ini lahir. Dia nanti akan mempunyai pria yang bisa mencintai wanita itu, dan yang jelas bukan dirinya.