Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 25


__ADS_3

Usai bertemu dengan Essa. Amora menghubungi Prince dan mengatakan bahwa dia akan pergi ke suatu tempat. Prince tidak bertanya ke mana Amora akan pergi, sebab dia juga akan menemui kliennya.


"Kenapa kau tidak pergi bersamaku saja, Amora? Aku bisa mengantarmu," ucap Prince melalui sambungan telepon.


"Tidak perlu, Prince. Aku tidak akan lama, kalau urusannya sudah selesai, aku langsung kembali ke kantor."


Setelah menghubungi Prince, Amora memesan taksi online dan dia pun pergi meninggalkan kafe tadi.


Di depan sebuah hotel berbintang, Amora kini berdiri menatap gedung itu. Kemudian dia melangkahkan kaki; memasuki lobi dan menuju ke ruangan manajer hotel.


Sayangnya, seseorang menghentikan langkah Amora. Seorang pria berseragam putih menghampirinya.


"Nyonya, Anda tidak diizinkan ke tempat ini. Kantor ini dikhususkan untuk karyawan hotel," jelas satpam tersebut, ia melihat Amora yang baru masuk langsung menuju ke kantor.


Amora memindai petugas satpam itu dengan ekspresi datar. "Aku ingin bertemu dengan manajer hotel ini" ucap Amora tegas.


"Tapi Anda harus membuat janji dulu, Nyonya. Anda tidak dibenarkan masuk ke tempat ini tanpa izin," sahut petugas satpam itu.


Kedua alis Amora menyatu, dia berdecak kesal karena harus menghadapi satpam yang tidak tahu siapa dirinya.


"Izin? Izin sama siapa? Sama pemilik hotel ini?" tanya Amora, dia semakin memperlihatkan wajah kesalnya.


Satpam itu tersenyum sinis, "Iya, Anda harus izin dulu sebelum bertemu dengan manajer hotel ini. Kalau tidak, maka saya akan terpaksa menyeret Anda keluar," ucapnya.


Bahkan beberapa karyawan hotel yang melihat Amora dihina, mereka mengabaikannya begitu saja dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Amora terkekeh menanggapi ucapan satpam itu. Ini baru pertama kalinya dia dianggap remeh karyawan rendahan seperti satpam yang ada di hadapannya.


Hingga akhirnya, seseorang melihat Amora yang sedang berdebat dengan satpam hotel.


"Ada apa ini?" ucap pria paruh baya yang mengenakan setelan jas berwarna abu.


Kemudian ia menoleh ke arah Amora yang sedang bersedekap. "Nona, apa yang Anda lakukan di sini? Mari, ikut ke ruangan saya."


Melihat manajer hotel yang begitu hormat pada Amora, membuat satpam tadi menggaruk kepala.

__ADS_1


"Tuan, wanita ini...?"


"Apa kau tidak tau? Dia ini Nona Amora. Putri dari tuan Andi Candra."


Satpam itu membeliakkan matanya, mendadak dia menjadi gugup.


"Ma-maafkan atas kelancangan saya, Nyonya. Saya mohon Anda memaafkan saya," satpam yang tadinya bersikap arogan kepada Amora, mendadak dia seperti seekor anak kucing yang takut pada tuannya.


Amora tersenyum sinis, dia tidak menghiraukan satpam itu. "Jadi, kau masih menjabat manajer di hotel ini? Aku kau membicarakan sesuatu padamu."


Manajer itu mengangguk paham, lalu dia mengajak Amora masuk ke ruang kerjanya. Sedangkan satpam itu, dia merasa bersalah pada Amora dengan sikapnya tadi.


"Silahkan duduk, Nona Amora," pinta manajer itu. Keduanya duduk di sofa yang ada di sebuah ruangan.


Amora memindai sekeliling, semuanya tidak ada perubahan sama sekali. Sama seperti yang dulu.


"Kedatanganku ke sini hanya untuk meminta data pemasukan hotel ini."


Manajer itu terdiam, wajahnya tampak terlihat tegang. Amora menyipitkan kedua matanya.


"Kenapa kau diam?" Amora melipat tangan di dada. "Sudah setahun terakhir aku tidak mendapatkan laporan keuangan dari kalian. Sedangkan yang aku tahu, hotel ini selalu penuh bahkan tidak tersisa satu kamar pun untuk tamu yang ingin menginap."


Amora membeliakkan mata, "Maksudmu paman Joko?" tanyanya dengan mata memicing.


"Benar, Nona. Itu pun atas suruhan Nyonya Besar." Manajer itu menundukkan wajah saking takutnya akan amarah Amora yang meledak-ledak.


"Apa kau punya buktinya bahwa semua keuangan diambil oleh Paman Joko?"


"Sebentar," manajer itu beranjak dan menuju ke meja kerjanya. Dia mengambil beberapa berkas, lalu kembali pada Amora dan menyerahkan berkas itu.


"Ini semua adalah bukti bahwa Tuan Joko mengambil semua keuntungan hotel, di sana ada tanda tangan beliau dan juga nenek Anda," ucap sang manajer.


Amora meneliti berkas itu lembar demi lembar, sorot matanya semakin tajam bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya.


'Keterlaluan! Mereka enak-enak menikmati uang perusahaan, sementara aku dibiarkan menumpang di rumah Prince. Aku akan memberi perhitungan pada mereka.'

__ADS_1


Amora beranjak dari tempatnya. Tanpa pamit pada sang manajer hotel, Amora pergi begitu saja. Dia menuju ke kediaman Tara—nenek Amora.


Sebelum menuju ke kediaman Nenek Tara, Amora menghubungi pengacara juga pihak kepolisian, dia memberi laporan mengenai penggelapan uang yang telah dilakukan oleh paman dan neneknya sendiri.


***


Di sebuah mansion mewah, seorang pria yang hendak pergi. Tiba-tiba saja dia dihampiri oleh beberapa lelaki berpakaian seragam polisi.


"Selamat siang, apa benar Anda yang bernama Joko?"


Pria itu meninggikan kedua alisnya, "Iya, benar. Ada apa Pak polisi datang kemari?"


Tanpa pemberitahuan, polisi itu langsung meringkus Joko.


"Apa-apaan ini!" bentak Joko saat polisi itu sudah menahannya agar tidak kabur.


Sebuah mobil memasuki halaman dan seorang wanita turun dari mobil tersebut. Dia bersama pengacaranya kemudian menghampiri Joko yang sudah diringkus oleh polisi.


Joko menyorot tajam pada Amora, "Brengsek! Apa ini ulahmu hah?!" teriak Joko, dia tidak terima diperlakukan seperti seorang buronan.


Amora tergelak, "Kau pantas mendapatkannya, Paman. Kalian telah mencuri sesuatu dariku dan aku akan menuntut kalian semua."


Joko berdecih, dia memberontak, agar polisi itu melepaskannya. Namun, semakin Joko berusaha untuk membebaskan diri, polisi itu justru memborgol kedua tangannya.


Mendengar suara keributan dari luar rumah, membuat Laras dan Denise bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Keduanya terkejut saat melihat ayah mereka telah ditangkap polisi.


"Lepaskan aku, Amora! Kau tidak berhak memperlakukanku seperti ini!" Joko semakin emosi karena Amora menatapnya dengan wajah menyeringai.


"Aku akan melepaskan Paman, kalau Paman dan nenek mengembalikan uang yang telah kalian curi," ucap Amora, dengan wajah tenang.


Joko mendengkus, dia menatap nyalang ke arah Amora. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Apa begini caramu membalas budi padaku, hah?"


Amora membalas tatapan Joko dengan sengit, "Baiklah kalau Paman tidak mau mengembalikan uangku. Jangan salahkan aku kalau Paman harus mendekam di balik jeruji besi," ucap Amora yang memberi peringatan.


"Amora, apa yang kau lakukan pada ayah kami?"

__ADS_1


Amora dan Joko menoleh, di sana ada Denise dan Laras yang baru keluar dari rumah.


"Wah, lihatlah ... kebetulan sekali, kita bisa reunian di sini. Halo, sepupuku. Bagaimana kabar kalian?" Amora melambaikan tangannya pada dua kakak beradik itu.


__ADS_2