Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 54


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Hubungan Prince dan Amora masih dingin. Wanita itu masih enggan untuk diajak bicara oleh Prince. Bahkan dia memilih tidur terpisah dengan Prince. Jika Prince berbaring di sisinya maka Amora memilih untuk tidur di sofa sehingga membuat Prince mengalah dan membiarkan Amora tidur di tempat tidur.


Namun, tidak seperti biasanya, Prince belum juga masuk ke kamar padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Apakah pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya?


Rasanya dia mulai penasaran. Walau dia masih kecewa dan marah dengan Prince tapi rasa peduli dan cinta itu tidak bisa hilang darinya.


Amora pergi keluar dari kamarnya, berjalan pelan melewati koridor rumah. Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan bayi. Suara Kakeknya yang sedang berbicara. Sepertinya itu dari lantai satu. Amora menengok dari lantai atas dan melihat Prince yang memakai piyama sedang menggendong putrinya yang kecil yang terus menangis.


Dia nampak sangat mencintai putrinya itu. Apakah karena Prince mencintai ibunya? Bagaimana sikap Prince nanti dengan anak yang ada dalam kandungannya? Apakah sama perhatian seperti itu?


"Kita bawa saja ke rumah sakit, Prince. Mungkin Dokter bisa menangani sakitnya," kata Kakek Liu yang duduk di depan Prince dengan wajah lelah yang penuh dengan rasa cemas.


"Bukankah Dokter juga baru pulang satu jam yang lalu dan mengatakan jika ini hanya demam biasa," ujar Prince.


Suster di dekat Prince hanya berdiri diam. Dia sedari tadi sudah berusaha menenangkan, tapi tetap saja anak itu tidak berhenti menangis. Hingga Prince mendekat dan memeriksanya.


"Obat juga tidak masuk, selalu dimuntahkan," lanjut suster yang menjaga Cinta.


Amora berjalan pelan menuruni tangga mendengar pembicaraan ketiga orang itu.


Prince berjalan bolak-balik menenangkan Cinta. Dia melihat Amora yang turun tangga, mendadak merasa khawatir.


"Hati-hati Amora, kau bisa jatuh. Kenapa tidak lewat lift saja yang bisa lebih aman."


Dia berjalan mendekati Amora mengulurkan tangan satunya untuk membantu Amora turun.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir," kata Amora.


Prince tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dia senang Amora mau menjawab pertanyaannya.


"Kenapa dengannya?" tanya Amora pada Prince menunjuk ke arah Cinta yang menangis sedari tadi.


"Dia sedang sakit panas," ujar Prince.


Amora menempelkan tangannya ke pipi Cinta.

__ADS_1


"Kenapa tidak diberi obat penurun panas?" tanya Amora dengan kesal.


"Sudah tetapi selalu dikeluarkan sampai tersedak."


Amora mengulurkan tangan, meminta Cinta pada Prince. Namun, Prince malah tertegun. Amora yang tidak sabar lantas mengambil Amora dari gendongan Prince.


Dia mengayunkan Cinta sebentar. Ajaib anak itu lantas terdiam mengendus di dada Amora dan sesekali menatapnya.


Amora tersenyum, dia lantas duduk di kursi meminta obat pada Prince. Prince memberikan sendok berisi obat untuk Cinta. Amora meraihnya. Satu tangannya memegang hidung Cinta yang kecil dan menutupnya.


"Amora apa yang kau lakukan?" tanya Prince cemas. Dia tahu Amora tidak menyukai Cinta, tapi tidak seharusnya melakukan hal itu. Cinta akan bertambah menangis nanti," sentak Prince.


Obat ditelan oleh Cinta tanpa dimuntahkan. Bayi itu nampak terkejut dengan rasa obat yang dia telan tadi. Matanya kecil membulat seketika.


"Kau terkejut, enak kan, Sayang. Rasanya sedikit aneh, tapi ini manis walau tidak semanis susu yang biasa kau minum," ujar Amora berkata pada Cinta. Anak kecil itu tersenyum dan tertawa. Tangannya digerakkan di dekat leher Cinta dan anak itu merespon dengan memegang jari Cinta.


Semua merasa lega sekarang. Berjam-jam Cinta menangis tanpa ada yang bisa menenangkannya. Begitu Amora menyentuhnya Cinta terdiam. Sepertinya, Cinta merasa nyaman berada di sisi Amora.


Senyum Amora mendadak menghilang ketika mengingat jika anak ini adalah Prince dengan wanita lain. Wanita yang pernah menjadi duri dalam pernikahannya, wanita yang dicintai oleh Prince.


"Sebenarnya kalian sudah berpengalaman atau tidak sih, menenangkan dan memberi obat anak saja tidak bisa," omel Amora mengalihkan perhatian mereka padanya. Dia menyerahkan Cinta pada suster yang ada di dekatnya.


Ketika bersama dengan suster itu lagi, Cinta kembali menangis keras. Semua menatap ke arah Amora.


"Sepertinya dia menyukaimu Amora, dia merasa tenang berada dalam dekapanmu," cetus Kakek Liu.


"Aku lelah mau tidur," kata Amora berjalan naik ke atas, hendak meninggalkan ruangan itu. Baru beberapa langkah dia berhenti.


Prince kembali menggendong Cinta dan berusaha menenangkannya. Dia menatap ke arah Amora penuh harap. Hal yang sama juga dilakukan Amora, dia sedang melihat ke arahnya juga.


Amora kembali turun ke bawah. "Kemarikan!"


Amora menggendong Cinta lagi. Mencium bau Amora membuat Cinta kembali terdiam walau masih terdengar sedikit isaknya.


"Aku akan membawanya ke kamar, aku lelah jika harus terus berdiri menggendongnya."

__ADS_1


Prince dan Kevin Liu saling bertukar tatap dan tersenyum. Kevin Liu memberi tanda pada Prince agar mengikuti Amora. Prince lantas berjalan di belakang istrinya itu.


"Jangan lupa, bawa susunya juga, aku tidak mau bolak-balik mengambilnya."


Suster langsung memberikan botol susu yang dia maksud.


"Aku akan mengambil susunya lagi kalau dia mau minum," ujar Prince.


Amora menghentikan langkahnya sejenak, sambil menahan tawa. Dia lalu berjalan lagi naik.


Prince menjaganya dari belakang. "Hati-hati, kalian sama-sama penting bagiku," kata Prince.


Amora meletakkan Cinta di tempat tidurnya serta menyelimuti dengan selimutnya sendiri. Satu tangannya memegang botol minuman dan tangan yang lain menepuk pantat kecil Cinta.


"Dia seperti kurang gizi saja, padahal ayahnya orang yang kaya," ejek Amora.


"Dia minum susunya kurang," terang Prince duduk di sisi tempat tidur yang lain.


"Mungkin dia tidak senang dengan susunya atau orangnya. Kau sepertinya harus ganti suster, orang itu sepertinya tidak sabar menjaga Cinta."


"Baiklah aku akan menggantinya. Biarkan aku yang memegang botolnya agar kau bisa berbaring," pinta Prince memegang botol yang tadinya dipegang oleh Amora. Prince lantas duduk dekat dengan Cinta sambil bersila menatap ke arah Amora.


Cinta mulai memejamkan matanya sambil menghisap susu. Amora yang mudah tertidur ketika sedang hamil ikut memejamkan matanya. Sebentar saja keduanya sudah terlelap.


Tangan Amora berada di tubuh Cinta seperti mendekapnya. Cinta sendiri memilih ngusel tidur di dada Amora.


"Kau nakal, Ayahmu yang ingin tidur seperti itu malah keduluan kau. Namun, tidak apa-apa, kali ini ayah mengalah karena kau sedang sakit."


Prince membenarkan selimut keduanya lantas ikut berbaring di sisi lain sebelah Cinta. Dia berharap Amora tidak terbangun dan marah karena hal ini.


Berdoa semoga ini awal yang baik bagi mereka berdua.


Netra Prince menatap wajah Amora yang teduh. Dia mengambil sejumput rambut yang menutupi wajah dan memasukkan ke belakang telinga Amora.


Sebuah senyum terbit di bibirnya sebelum memejamkan mata. Rasanya dia akan tidur lelap untuk malam ini.

__ADS_1


__ADS_2