
Amora langsung melemparkan tas ditangannya ke sebuah kursi dan duduk. Wajahnya ditekuk seperti orang yang sedang dalam kesulitan. Netranya menerawang ke depan. Teringat perkataan Prince membuat dia murka. Kakinya menendang meja di depannya dengan kuat sehingga menimbulkan suara deritan yang keras walau tidak sampai jatuh.
Essa yang baru saja masuk ruangan itu terkejut. Kakinya mundur selangkah ke belakang. Tidak biasanya adiknya diluar kendali seperti ini. Biasanya walau masalah sebesar apapun dia tetap terlihat tenang paling hanya mondar-mandir mencari ide atau cara.
"Ada apa, Sayangku, Cintaku, belahan hatiku, saudara kembarku," tanya Essa melemparkan dirinya di sebelah Amora.
Bukannya mengatakan apapun Amora malah berteriak kesal sambil mengacaukan rambutnya sendiri.
"Prince?" Amora yang ditanya memeluk tubuh Essa dan menangis. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan setelah meninggalnya sang ayah.
Essa mengusap punggung Amora dengan penuh kasih sayang. Bukannya berhenti, Amora malah menangis keras.
"Ada apa, Sayang?" tanya Essa lebay.
Setelah beberapa saat baru Amora berhenti menangis. Dia meminum segelas air yang pelayan bawakan untuknya.
"Ada apa?"
"Ternyata patah hati rasanya sakit sekali. Sewaktu sebelum menikah dengan Prince, rasanya kecewa tapi tidak sesakit sekarang," ungkap Amora.
"Lantas apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Essa.
"Aku tidak ingin apapun, tidak punya semangat hidup dan aku lelah bertahan. Untuk apa coba, Kak?"
Amora menerawang jauh ke depan seraya menghela nafas dalam. Akh, ini sungguh mengguncang hatinya.
Pernyataan Prince membuat semangatnya hancur berkeping-keping. Tadinya masih ada titik yang masih membara setelah Kakek Liu memberi dukungan untuknya. Kini setelah semua yang terjadi dan Prince tetap tidak melihat pengorbanannya, dia mulai merasa putus asa.
"Kau jangan pernah mengatakan itu lagi. Pada kenyataannya apa yang kau lakukan itu adalah sesuatu yang harusnya kau lakukan sebagai istri sah Prince."
__ADS_1
Amora menatap tidak percaya pada kakaknya. Dulu kakaknya sangat membenci Prince, kenapa sekarang malah mendukungnya? Ini ada yang salah.
Amora memegang kepala Essa dengan wajah serius.
"Kak, otakmu tidak bergeser kan? Atau kau baru saja mengalami kecelakaan? Sepertinya ada yang salah dengan isi otakmu itu," ujarnya membuat Essa kesal.
Dia memegang tangan Amora dan disatukan di depannya. Menatap Amora dalam.
"Dengarkan aku kali ini. Mungkin aku bukan kakak yang baik untukmu, selalu membuatmu kesulitan dan tidak pernah membantumu karena sibuk dengan duniaku sendiri."
Amora mengangguk dengan mantap.
"Namun, aku selalu ingin kau aman dan bahagia. Kau akan aman jika bersama dengan Prince karena pria itu kuat dan bisa menjagamu."
Amora menggelengkan kepalanya. "Tidak, bersamanya hanya membuat hatiku sakit, aku tidak mau itu, lebih baik penyakitku kambuh dan aku mati saja. Semua akan selesai dan aku bisa bertemu dengan ayah dan ibu lagi," ungkap sedih Amora.
"Amora, sudah kukatakan jangan berkata tentang kematian lagi," bentak Essa untuk sesaat. Setelahnya, dia kembali bicara dengan tenang.
"Apa kau akan menyerah seperti seorang pengecut atau kau ingin memenangkan permainannya?" komentar Essa.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin melupakan kesedihan ini," ujar Amora sambil menyeka cairan dari hidungnya dengan tissue yang dia ambil di meja.
"Rasa kecewa itu datang jika kita terlalu berharap pada satu hal namun tidak mencapainya. Rasa sakit itu datang karena hatimu yang tidak pernah hidup untuk seseorang kini mulai berdetak untuknya,'' lanjut Essa sambil menunjuk dada Amora.
"Kau merasakan sakit ketika kau tidak mendapatkan apa yang kau harapkan datang dari dirinya. Bertepuk tangan itu harus dengan dua tangan, tidak bisa salah satu. Butuh dua kaki untuk berjalan menjalani mahligai rumah tangga. Jika hanya salah satu bagian tubuh saja yang berusaha sedangkan yang lain tidak searah maka keduanya akan jatuh bersamaan."
"Kau paham?'' tanya Essa. Amora menggelengkan kepala.
"Dalam sebuah rumah tangga, kalian adalah satu tubuh dan jiwa. Jika antara anggota tubuh satu dengan yang lainnya berbeda arah dan tujuan, maka tidak akan tercapai suatu tujuan. Paru-paru boleh dua tapi jantung tetap satu. Kalian mungkin dua manusia tapi kalian harus satu hati, saling berdetak untuk satu sama lain."
__ADS_1
Amora terdiam.
"Itu tidak akan bisa terjadi jika tidak ada cinta diantara kami," gumam Amora.
"Jangan bodohi aku Amora, kau itu memang mencintainya. Dulu kau mungkin hanya mengaguminya tapi kini aku tahu kau mulai sadar jika kekaguman itu berubah menjadi rasa cinta. Rasa cinta yang kau rasakan ketika bersamanya menikmati penyatuan kalian. Kau tidak rela jika apa yang kau rasakan dirasakan wanita lainnya, kau ingin Prince hanya milikmu seorang. Begitukan?" terang Essa panjang lebar.
"Bagaimana kau tahu perasaanku seperti itu?'' tanya Amora dengan wajah polosnya.
"Tadi kau bilang kau sakit bila wanita lain menyentuh Prince," ujar Essa yang heran dengan tingkah laku adiknya yang tiba-tiba bodoh ketika berurusan dengan cinta.
Biasanya dia akan punya seribu akal untuk mengatasi semua masalah kini mendadak otaknya tidak bisa berpikir.
Memang cinta itu unik. Bisa membuat seseorang kehilangan semua termasuk otak dan pikirannya. Untung saja dia belum pernah mencintai wanita hingga sampai tergila-gila.
Amora sendiri masih larut dalam pikirannya. Apakah dia memang sudah mencintai Prince. Kepalanya di benturkan di kursi sofa berkali-kali, merasa bodoh.
"Makanya, aku memilih berpisah saja," ujar Amora putus asa.
"Selama hidupmu yang sudah sampai umur 21 tahun ini, kau baru mengenal cinta saat ini. Setelah baru mengenalnya selama beberapa bulan saja kau sudah menyerah, itu bukan Amora yang ku kenal."
"Kakak, aku harus bagaimana? Hatiku merana, gundah, galau dan menderita," ucap Amora dengan gaya berlebihan.
"Amora, bukankah sudah bersama dengan Prince dan melakukan hubungan intim?"
Wajah Amora memerah, memberikan jawaban sendiri tanpa mengatakannya.
"Apa kau tidak takut hamil? Jika kau hamil dan berpisah dengan Prince kasihan anakmu, hidup tanpa ayah di sisinya."
"Kau kira adikmu sebodoh itu, mau saja hamil dan dibodohi pria itu?" ungkap Amora.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Essa. Dia langsung mengerti.
"Jaman sekarang bukan seperti jaman dahulu. Tanpa diajari pun aku tahu jika aku harus mengamankan diriku sendiri," ujar Amora. "Aku tidak mau hamil sebelum wanita itu pergi dari kehidupan Prince!"