Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 30


__ADS_3

Ketika Amora sampai di ruang kerja Prince, dia menemukan sebuah paper bag ada di atas meja.


"Ganti bajumu dengan pakaian itu," perintah Prince.


"Kenapa aku harus menggantinya. Ini nyaman untukku," tolak Amora mengambil pakaian dengan tulisan sebuah merk terkenal.


"Apa kau sendiri yang tidak nyaman?" desak Amora maju ke depan. Membuat Prince gelagapan. Dia masih bersikap dingin.


"Itu untuk kebaikanmu."


Amora maju ke depan sambil membusungkan dadanya.


"Aku kira pakaianku tidak seseksi pikiranmu. Baju sekretarismu bahkan lebih ketat dan lebih tinggi panjang roknya. Kau tidak mempermasalahkan itu."


Amora berjinjit agar bisa mengimbangi tinggi Prince. Lalu berbisik di telinga pria itu.


"Dan dadaku pun katamu tidak menarik, lalu apa yang membuatmu ... tidak nyaman?"


Tangan Prince menarik pinggang Amora dan menekan ke tubuhnya. Tadinya dia merasa menyesal karena memaksakan haknya sebagai suami pada wanita itu namun melihat Amora seperti menggodanya, maka dia akan melayaninya.


"Jangan menggodaku Amora jika tidak ingin kau ikut terbakar didalamnya."


Tatapan mata mereka beradu.


"Bukankah kau yang membuatku terbakar, pergi pun hanya akan membuat luka. Lebih baik kita terbakar bersama," ujar Amora.


"Kau tidak tahu bermain dengan siapa?"


"Aku orang yang keras kepala, kau tidak akan bisa membuatku mundur."


Prince lalu mencium bibir Amora lembut dan di sambut oleh Amora. Kini dia membiarkan Prince melakukan semua hal yang dia inginkan. Menikmati kebersamaan itu bahkan menanggapi Prince dengan apa yang dia bisa.


Baju Amora mulai dibuka pria itu satu persatu. Di lempar dengan sembarangan.


"Ajari aku cara memuaskanmu," bisik Amora dengan suara serak menggoda, seraya meremas rambut Prince pelan.


Suara Amora membuat gairah pada diri Prince bangkit berkali-kali lipat. Dia tersenyum penuh kemenangan. Batinnya ternyata mudah untuk mengendalikan Amora. Tidak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


"Kau bertanya pada orang yang tepat kalau begitu," kata Prince membawa Amora yang hanya menggunakan dalaman ke kamar tersembunyi dalam ruangan itu.


Amora menurut dengan apa yang Prince katakan. Dia benar-benar membuat Prince senang dan dalam kenikmatan yang nyata.


Tubuhnya sendiri sudah lelah dan sakit menerima semua serangan Prince, tapi dia tetap tersenyum indah, tidak mengeluh dan hanya mengeluarkan suara aneh yang indah dari tenggorokannya. Suara yang membuat Prince senang karena mengira Amora menikmati semuanya.


Setelah lelah terbang ke angkasa yang menghabiskan waktu lama. Prince tertidur nyenyak dalam dekapan Amora. Seperti seorang anak yang mencari perlindungan ibunya.


Handphone Prince yang ada di nakas mulai menyala. Dengan gerakan halus dan pelan Amora berusaha untuk mengambilnya. Dia tidak ingin membuat Prince terbangun.


Ini sudah malam. Biasanya Prince akan pulang ke apartemen Luna baru tengah malam pulang ke rumah. Kini dia masih bersamanya. Luna pasti mencarinya.


Benar saja, panggilan itu dari istri tersayang Prince. Setidaknya itu yang tertulis di layar.


Amora mengaktifkan mode video setelah sebelumnya mematikan suara yang ada.


Dia lalu memasang wajah tersenyum sambil memeluk tubuh Prince. Tampilan keduanya yang tanpa pakaian dengan posisi yang intim membuat raut wajah Luna memucat. Amora tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.


Dia lalu memutuskan panggilan itu.


Meletakkannya di tempat semula. Lalu ikut terpejam bersama dengan suaminya.


Prince terbangun tengah malam dan terkejut melihat dirinya tidur di kamar kantor. Dia menoleh, menatap ke arah Amora yang ada dalam pelukannya.


Tadi sore mereka melakukan kegiatan panas. Amora itu baru mengenal tentang hubungan badan, tapi dia bisa membuat Prince menikmati semuanya. Membuat dia melupakan semua yang telah terjadi.


Dia tidak menyangka Amora yang polos bisa berubah menjadi kucing yang ganas di atas tempat tidur. Bahkan bekas cakaran wanita itu membekas di beberapa bagian tubuhnya. Sungguh wanita yang unik.


Bibirnya menyunggingkan senyum, saat melihat Amora mencari kehangatan dari tubuhnya ketika Prince bangkit untuk duduk. Tangannya memeluk dan melingkari pinggangnya. Kepalanya dia letakkan dipaha Prince. Tertidur lagi.


Tangan Prince mengusap lembut pipi Amora yang putih dan kenyal itu. Gadis kecil ini, berkembang sangat baik. Hanya sedikit kurus saja dan kini lebih baik dari pertama mereka bersama. Olah raga yang dilakukan oleh Lisa ternyata membentuk tubuhnya menjadi kencang.


Apalagi jika mengingat betapa kencang jepitannya, membuat Prince menggila karena kenikmatan itu.


Prince turun dan memakai bajunya. Dia mengambil handphonenya yang mati karena ternyata kehabisan baterai. Dia menutup tubuh polos Amora dan membawanya keluar gedung.


Amora merasakan tubuhnya diangkat oleh Prince, dia hanya mengintip sedikit lantas pura-pura tertidur lagi.

__ADS_1


Ini hari dimana Prince tidak menemui Luna. Dia akan membuat hal ini berjalan terus menerus. Membuat Prince hanya menjadi miliknya karena hanya cara itu yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan rumah tangga dan harga diri keluarganya.


Seorang Chandra tidak akan menyerah begitu mudah oleh seorang pelakor yang merusak rumah tangganya.


Di tengah perjalanan pulang. Amora membuka matanya karena rasa lapar yang mendera.


Bunyi perutnya yang meronta meminta diisi sempat di dengar Prince.


"Kau lapar?" tanya Prince menoleh.


Dengan malu Amora mengangguk. Dia menarik selimutnya yang mulai melorot ke bawah naik hingga ke dagu. Prince mengulurkan tangan mengusap kepala Amora.


"Mau makan apa?"


Mata Amora melihat ke arah jalanan melihat deretan pedagang kaki lima.


"Aku mau mi setan," kata Amora menunjuk ke sebuah gerobak.


"Ngapain beli yang ada setannya, serem kali. Beli makanan restoran saja ya," saran Prince.


"Ih ... itu kan cuma nama. Kalau tidak mau belikan aku akan membelinya sendiri," ujar Amora dengan suara manja sama seperti dulu. Wajahnya di tekuk. Hal yang sempat hilang setelah pertunangan mereka terjadi karena setelahnya Amora selalu melihatnya dengan serius, takut jika melakukan kesalahan.


"Dengan selimut itu?"


Amora melihat ke arah selimutnya. Dia tersenyum lebar.


"Kak, eh Prince tolong belikan," pinta Amora manis. Kakak panggilan untuk Prince dulu, namun semua berubah ketika Prince membawa Luna dalam kehidupan mereka.


"Okey, okey." Prince menepikan mobilnya. "Ada pakaianku di belakang, kau bisa menggunakannya. tapi bila kau suka seperti itu tidak masalah."


"Dingin, aku mau pakai baju saja," ungkap jujur Amora. Dia hendak ke belakang ketika Prince memegang tangannya.


"Jangan berubah lagi, tetap seperti ini. Aku suka dengan kau yang dulu."


"Dulu aku hanya adik kecil mu kini berbeda," balas Amora.


"Kau kini adalah istri kecilku yang manis," kata Prince sebelum keluar mobil.

__ADS_1


Amora tersenyum kecut. "Waktu yang merubah semuanya, Prince. Aku yang dulu bukan aku yang sekarang."


__ADS_2