
"Cinta, hati-hati, nanti jatuh," ujar Amora ketika Cinta mencoba berjalan mendekati Amora yang sedang duduk memangku Star.
Amora sendiri sedang menjemur Star, sedangkan Cinta menemaninya sambil ikut bermain. Bik Yani menemani keduanya. Kakek Liu sedang olahraga dengan cara berjalan mengelilingi rumah.
Cinta yang baru bisa melangkah tertawa mendekati Amora. Berkali-kali dia jatuh tapi dia bangun kembali dengan semangat. Dia tidak mau dibantu oleh Mbak Lulu yang merawatnya.
Hingga dia bisa meraih tangan Amora dan memeluknya.
"Wah, Kak Cinta sudah pandai berjalan," seru Bik Yani membawakan jus jeruk untuk mereka.
Cinta tepuk tangan bangga.
Cinta mendekati Star. "Ek," panggil Cinta.
Star sendiri sedang berbaring telengkup di paha Amora. Cinta menunduk dan mencium Star. Amora yang melihat mengusap lembut rambut Cinta.
"Hai, Amora," sapa Luna tiba-tiba membuat Amora terkejut. Dia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Luna yang sudah berdiri di depannya.
"Luna, kau?" balik Amora.
"Ya, aku datang kemari untuk melihat anakku," kata Luna menatap ke arah Cinta yang terlihat takut pada Luna. Anak itu memeluk tangan Amora erat.
"Kau jangan khawatir karena aku tidak akan membuat keributan. Sebelum masuk aku sudah meminta ijin pada Kakek Liu," terang Luna menahan sedihnya.
Amora menghela nafasnya melihat dari kejauhan Kakek Liu yang sedang mengawasi mereka dari pos satpam. Dia merasa sedikit tenang tapi belum benar-benar merasa aman.
"Duduklah," kata Amora mempersilahkan Luna untuk duduk. Dia mencoba untuk bersikap wajar.
Luna lalu duduk di salah satu kursi sambil menatap ke arah Cinta yang masih bergelayut di tubuh Amora.
"Amora sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena telah membuatmu repot dengan anakku," ungkap Luna.
"Aku merasa tidak direpotkan oleh Cinta, malah merasa senang dengan kehadirannya," terang Amora.
"Aku senang kau bisa menerima Cinta dengan tangan terbuka dan juga bisa memberikan cinta yang tidak bisa kuberikan." Luna menyeka air matanya yang mulai membasah pipi.
__ADS_1
Amora menarik nafasnya dalam. Bukan tidak dia bersimpati pada Luna, namun wanita itu sudah sering berakting di depan Amora sehingga Amora tidak bisa mempercayai perkataan Luna begitu saja.
"Terimakasih Amora. Untuk itu, aku menghargai pengorbananmu untuk Cinta."
Amora hanya terdiam seraya mengusap kepala Cinta yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak merasa bersalah karena hubungannya dengan Prince. Dia bersungguh-sungguh sangat mencintai Prince tapi aku sudah merelakannya untuk hidup bersama denganmu, Amora."
Luna sadar setelah Amora masuk ke kehidupan nya dan Prince, sikap Prince sudah berubah. Dia tidak pernah lagi mau menyentuh Luna kecuali ketika mereka bersama di London dulu. Dia tidak bermaksud membuka luka lama hanya saja ingin menerangkan pada Amora bahwa Prince memang mencintai Amora, bukan dirinya lagi karena semenjak dengan Amora Prince sudah bukan miliknya.
"Kau kenapa kemari?" seru Prince dari kejauhan dan menatap tidak senang pada Luna.
Amora dan Luna langsung menoleh ke arah Prince. Wajah Amora nampak memucat seketika. Dia takut Prince akan marah padanya.
"Prince! Ada Cinta disini!" tegur Amora membuat Dia langsung meninggal rapat tadi karena khawatir sesuatu terjadi pada Amora.
"Aku kemari hanya ingin bertemu dengan putriku sebelum berangkat ke Amerika. Jika itu salah menurutmu aku minta maaf. Namun, sebagai seorang Ibu aku tidak bisa menahan diriku untuk menemuinya. Aku belum melihatnya lagi setelah dia dilahirkan Prince. Aku harap kau mengerti."
"Kau sudah melihatnya kan, sekarang kau bisa pergi. Kedatangan mu hanya akan membawa masalah saja."
Luna lantas mendekati Cinta. Anak itu malah ketakutan dan memeluk erat Amora." Bu, atut," ucapnya tidak jelas tapi masih bisa dimengerti.
Dada Luna terasa sesak. Anaknya sendiri pun malah takut padanya. Dia tetap mendekati Cinta dan menciumnya. Cinta menepisnya sambil merengek tidak mau.
Luna menghembuskan nafas keras. Dadanya terasa sesak sekali. Dia mencoba tersenyum pada Amora tapi hanya kedutan di bibirnya saja yang ada.
"Amora aku mau pamit pergi. Cinta, mama mau pergi, kau yang baik-baik ya dengan Ibumu, jangan nakal. Jaga pula adikmu dengan baik," ujar Luna menyentuh punggung Cinta. Anak itu masih memeluk leher Amora. Menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Amora.
"Prince aku pergi," kata Luna. Dia lantas berjalan lunglai meninggalkan mereka berempat di sana.
"Luna, tunggu!" Panggil Amora. Dia tiba-tiba bisa memahami kesedihan Luna dan merasa kasihan. Dia lalu memberikan Star pada Prince dan berlari mendekati Luna sambil menggendong Cinta.
Luna membalikkan tubuhnya. Amora berhenti persis di depannya.
"Cinta, cium mama mu sebelum pergi, anak manis harus menurut pada Ibu?" Pinta Amora lembut.
__ADS_1
Sejenak Cinta merasa ragu, setelah melihat wajah Amora dia baru melakukannya. Luna mendekatkan pipinya pada Cinta. Satu kecupan mendarat di pipi Luna. Kecupan lainnya pun datang. Luna menangis bahagia.
Luna merasa terharu karena Amora menyuruh Cinta memanggilnya mama padahal Prince sendiri melarang Luna bertemu dengan anaknya.
"Jika kau ingin bertemu dengannya kau datang saja kemari. Dia juga pasti butuh mamanya," kata Amora membuat Luna tersentuh.
Luna tidak menyangka Amora yang dikenalnya sebagai wanita pintar yang licik mengatakannya. Luna pun bisa merasakan ketulusan ucapan Amora.
Luna memeluk Amora dan mengatakan terimakasih sekali lagi. Prince mendekat menyerahkan Star pada Amora, dia sendiri menggendong Cinta dengan satu tangannya.
"Prince kau memang beruntung memiliki dia," cetus Luna melihat ke arah Prince.
Prince mengangguk. Dia menyampirkan tangannya di pundak Amora. Menegaskan jika dia akan selalu ada untuk keluarganya.
Ada rasa iri yang dirasakan oleh Luna namun dia tidak iri karena Amora yang mendapatkan Prince hanya saja iri mengapa dia menyiakan hidupnya kemarin untuk melakukan perbuatan buruk.
Jika saja dia seperti Amora yang setia pada suaminya dan juga penuh kasih sayang mungkin dia masih ada bersama dengan Prince.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Dia tidak bisa terus terpuruk dengan keadaan. Dia harus bangkit dan berharap Tuhan akan memberikan jodoh yang baik untuknya ke depan.
"Selamat bertemu lagi, Cinta," kata Luna pada Cinta yang masih berada di pelukan Prince. Cinta hanya mengintip Luna.
Setelah mengatakan itu, Luna lantas melangkah pergi.
Prince dan Amora melihat kepergian Luna sambil menggendong kedua anak mereka.
"Ayo kita masuk ke rumah," ajak Prince.
"Rumah kita," ulang Amora.
"Rumah kita dan anak-anak," imbuh Prince sambil tersenyum. Mereka masuk dengan bahagia masuk ke dalam rumah itu.
Kakek Liu berdiri melihat kebersamaan Prince dan keluarganya dengan perasaan bahagia.
__ADS_1