Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 24 Perjanjian


__ADS_3

Amora melengoskan wajah saat Prince mengatakan hal itu.


"Prince, kau tahu bahwa kita menikah tidak didasari oleh cinta. Bahkan kau juga mencintai Luna kan?" Amora mendelik ke arah Prince.


"Lalu?"


"Aku tidak mau melakukannya tanpa ada rasa cinta di antara kita, karna itu hanya akan meninggalkan rasa sakit di hatiku, Prince."


Prince terdiam, dia mengamati wajah Amora yang tertunduk lesu.


"Kalau begitu beri aku waktu," ucap Prince pada akhirnya.


Amora mendongak dan menatap lekat ke arah Prince. Dahinya mengernyit dalam seolah tidak mengerti apa yang diucapkan Prince barusan.


"Apa maksudmu?" tanya Amora.


"Beri aku waktu untuk membuatmu mencintaiku, Amora."


Amora bergeming, bibirnya mengatup dapat. Setelah itu dia tidak bertanya lagi.


"Tidurlah, besok kita akan kembali bekerja. Kau harus mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapiku esok hari," namun Prince tidak mau menjauhkan diri dari Amora. Bahkan pria itu memeluk tubuh Amora saat ingin tidur.


"Prince, singkirkan tanganmu!" ucap Amora, dia merasa risi dengan perlakuan Prince.


"Aku hanya memelukmu, Amora. Kau tenang saja, aku memegang ucapanku. Sebelum kau menerimaku di hatimu, maka aku akan sabar menunggu sampai waktu itu tiba. Suatu saat nanti, kau akan mencintaiku." Prince tersenyum sinis, lantas dia pun memejamkan kedua mata.


Amora yang menyadari Prince langsung terlelap dalam hitungan menit, dia menyusul pria itu untuk tidur.


'Maafkan aku, Prince!' gumam Amora dalam hati.


*** 


Keesokan hari, seperti biasa. Amora dan Prince berangkat ke kantor bersama-sama.


Namun, ada yang berbeda. Semenjak Prince mengajak Amora untuk bercinta, Amora menjadi canggung saat berada di dekat pria itu. Bahkan ketika keduanya berada di dalam mobil yang sama.


Selema perjalanan menuju kantor, keduanya saling membisu. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir masing-masing.


Mobil yang dikendarai Prince kemudian berhenti tepat di depan lobi kantor. Amora yang sadar bahwa mereka telah tiba di kantor, dia pun mencoba melepaskan safetybelt yang melilit di tubuhnya. Namun ... entah kenapa sabuk pengaman itu justru sulit untuk dilepaskan oleh Amora.


"Ada apa?" Prince yang melihat Amora kepayahan membuka sabuk pengaman, dia pun mendekat dan membantu Amora.


Wajah keduanya begitu dekat, bahkan kedua ujung hidung mereka hampir menempel. Amora menahan napasnya agar tidak menyapu wajah tampan Prince. Aroma musk yang dipakai Prince membuat Aroma merasa sesak. Dia sendiri tidak tahu mengapa setiap kali berada di dekat Prince, membuat detak jantungnya sulit sekali untuk dikontrol.

__ADS_1


"Sudah!"


Amora tersentak saat Prince sudah selesai melepas safetybelt dan Pria itu segera turun dari mobil.


Melihat Prince sudah keluar lebih dulu, Amora mengembuskan napas kasar, dia merutuki kebodohannya sendiri yang selalu gugup jika berada di dekat Prince.


Keduanya sama-sama memasuki gedung perkantoran. Seperti biasa, Amora akan melakukan pekerjaannya. Mendampingi Prince, melakukan apa saja yang dibutuhkan oleh suaminya. Dari membuatkan kopi, menyiapkan dokumen untuk keperluan meeting, juga merapikan meja kerja Prince.


Saat Amora tengah merapikan meja kerja, sebuah panggilan masuk ke ponsel miliknya.


Gegas Amora meriah benda pipih berteknologi itu, untuk mengetahui siapakah yang meneleponnya. Saat tahu bahwa yang menelepon adalah kakaknya—Essa. Amora segera menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga.


"Halo, Kak. Ada apa meneleponku?" sapa Amora lebih dulu.


"Amora, apa kita bisa bertemu? Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu." Terdengar suara bariton di ujung sana.


Amora melirik jam dinding, mungkin tidak ada salahnya dia bertemu dengan Essa di saat jam makan siang nanti.


"Baiklah ... siang nanti aku tunggu di kafe yang ada di seberang kantor."


Usai berbicara dengan Essa melalui telpon, Amora melihat Prince baru saja masuk ke ruangan. Pria itu baru selesai bertemu dengan klien di ruang meeting.


"Ada apa?" tanya Prince pada Amora.


Prince menaikkan satu alisnya, "Apa sesuatu telah terjadi?"


Amora mengedikkan kedua bahu, "Entahlah ... aku akan menemuinya nanti saat jam makan siang." Dia menatap Prince yang mulai duduk di kursi kerja.


"Baiklah, kau kuizinkan untuk menemui kakakmu."


Seketika itu sebuah senyuman terbit di wajahnya.


Jam makan siang pun tiba. Sesuai janji, Amora menunggu kedatangan Essa. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu akhirnya tiba. Essa duduk di seberang Amora.


"Amora, bagaimana kabarmu?" tanya Essa.


"Seperti yang Kakak lihat, semuanya baik dan aku masih hidup," ucap Amora sembari menyengir kuda.


Essa terkekeh menanggapi selorohan sang adik.


"Apa Prince masih menyulitkanmu? Apa dia semakin keterlaluan padamu?" Essa bertanya dengan raut wajah serius kali ini.


Amora memutar bola mata dengan malas, "Come on, Kak. Aku bukan anak kecil lagi," cibir Amora.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Luna, apa kau tidak merasa sedih jika Prince ternyata belum bisa jauh dari perempuan itu?"


Amora terdiam, dia mengalihkan perhatian ke arah lain.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Kak. Aku bisa mengatasi masalah pribadiku sendiri."


Essa mengangguk, dia pun tidak lagi bertanya mengenai privasi adiknya.


Tak lama kemudian seorang waiters datang dan memberikan buku menu pada kedua kakak adik itu.


Essa dan Amora segera memilih makanan dan minuman apa yang akan dipesan. Setelah memesan makanan masing-masing, tak lama kemudian, makanan mereka pun tiba.


Essa dan Amora memilih untuk menghabiskan makan siang mereka terlebih dulu.


"Katakan, apa yang ingin Kakak bicarakan denganku?" Amora langsung bertanya mengenai alasan Essa yang mengajaknya bertemu.


Essa mengusap dagu, "Aku perlu uang," ucap Essa to the point.


"Uang? Untuk apa?" Amora bertanya dengan penuh selidik.


"Kau tahu, aku adalah seorang pembalap dari perusahaan yang menaungiku? Aku ingin berinvestasi di sana dan menjadi bagian dari perusahaan itu," jelas Essa.


"Sepertinya Kakak membutuhkan uang yang banyak untuk berinvestasi," tebak Amora.


Essa mengangguk, membenarkan ucapan Amora.


"Aku ingin menjual sebagian sahamku padamu, Amora," ucap Essa. "Kalau kau tidak mau membelinya, maka aku akan menjual sahamku pada Prince," lanjutnya lagi.


Amora mengurut pelipisnya. "Berapa yang Kakak perlukan?"


Essa terdiam, dia menopang dagu. "Tiga puluh miliar," jawabnya.


"Itu bukan jumlah yang sedikit. Kau tidak perlu menjual saham bagianmu, Kak. Aku akan melakukan sesuatu."


"Kau ingin melakukan apa, Amora? Kau tidak berniat meracuni Prince dan mengambil seluruh hartanya kan?" seloroh Essa.


Amora tergelak mendengar ucapan Essa yang absurd. "Aku tidak selicik itu, Kak," tangkas Amora, keduanya sama-sama tergelak.


"Beri aku waktu dua minggu untuk mencari dana yang Kakak perlukan," ucap Amora.


Essa menatap serius kepada sang adik. "Kau ingin melakukan apa, Amor" tanya Essa penasaran.


Amora tersenyum misterius, "Aku akan mendapatkan uang dari seseorang."

__ADS_1


__ADS_2