
Hingga polisi pun akhirnya datang untuk membawa preman-preman itu ke kantor polisi. Prince sangat yakin bahwa orang-orang itu sengaja dikirim ke kantornya oleh seseorang.
Pandangan Amora beralih pada beberapa pria yang tergeletak di lantai lobi. Pikirannya mendadak takut, karena mengingat kejadian tadi malam. Wajah mereka babak belur, itu karena dihajar habis-habisan oleh Prince.
Prince yang sudah berjalan lebih dulu, dia merasa bahwa Amora belum mengikutinya dari belakang. Prince menoleh, benar saja ... gadis itu masih membeku di tempatnya.
Kesal, Prince mendekati Amora yang terdiam membisu dengan tatapan pada beberapa preman tadi.
"Amora! Kau kenapa?" tanya Prince, dia melambaikan tangannya di depan wajah Amora.
Namun, Amora enggan menanggapi dan semakin menatap serius pada preman-preman itu.
Prince mulai menyadari bahwa Amora saat ini tengah shock berat. Lalu Prince menggandeng Amora dan menggenggam tangannya dengan erat.
Amora tersentak, dia mendongak dan menatap Prince yang lebih tinggi darinya.
Amora merasa ada begitu banyak kupu-kupu terbang, keluar dari tubuhnya.
"Jangan dilihat terus, ayo, kita ke ruanganku." Prince menarik Amora, mereka menuju lift yang akan membawanya ke ruang kerja Prince.
Di dalam lift eksklusif, Amora mendadak gugup. Hanya ada dia dan Prince di dalam kotak besi itu. Sesekali Amora mencuri pandang ke arah Prince, pria itu terlihat memesona dengan bulu-bulu halus di cambangnya.
"Sedang melihat apa?"
"Hah?" Amora terkejut saat Prince tiba-tiba membalas tatapannya, dia tahu kalau saat ini Amora tengah memandanginya.
Amora gugup, dia menundukkan wajahnya karena malu.
Sedangkan Prince, pria itu merasa gemas melihat tingkah polah Amora.
Sesampainya di sana, Amora masih merasakan kupu-kupu itu berterbangan di sekitarnya. Wajahnya yang tadinya terlihat begitu tegang, kini dalam sekejap berubah menjadi binar bahagia.
Tiba-tiba saja Prince menyentak tangannya saat mereka sudah memasuki ruang kerja milik Prince.
"Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya, sepertinya sentuhanku mampu membuat bibirmu itu tersenyum," Prince berbisik di telinga Amora. Membuat wajah gadis itu berubah kemerahan. Amora tersipu malu mendengar ucapan Prince.
__ADS_1
"Prince, orang-orang tadi. Apakah ini semua ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi malam?" Amora mendongak, dia menatap serius ke arah Prince.
"Sepertinya begitu, aku akan menyelidikinya."
Prince membalas tatapan Amora dan menatapnya dengan begitu intens. "Kau tidak usah khawatir, Amora. Semua akan baik-baij saja." Prince mencoba untuk menenangkan.
Keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat, Prince mengunci pergerakan tubuh Amora. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Amora, menatap mata indah milik istrinya.
"Prince, a-aku ...."
Entah kenapa, Amora merasa kesulitan bernapas jika melihat wajah Prince sedekat ini.
"Ada apa, hem?" Prince mencoba untuk menggoda Amora. Dia lebih mendekatkan wajahnya lagi, dan itu berhasil membuat jantung Amora hampir keluar dari sarangnya.
Namun, sialnya ... saat kedua insan itu saling beradu pandang, tiba-tiba saja seseorang masuk ke ruangan.
"Prince!" seru Luna
Amora dan Prince langsung menoleh ke arah pintu, di mana seorang wanita yang berpenampilan elegan muncul dari sana.
"Luna, kenapa kau kemari pagi-pagi sekali?" ucap Prince.
Sebelum menjawab pertanyaan pria itu, Luna melirik ke arah Amora dengan tatapan menusuk. Dia yang sempat melihat adegan Amora dan Prince yang saling menatap tadi, membuat amarah di dalam hatinya membuncah. Luna membenci itu.
Tiba-tiba saja Luna menghambur ke dalam pelukan Prince, "Prince, apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau melukai Boris?" ucap Luna, dengan menangis di dalam pelukan Prince.
Prince yang sudah paham maksud kedatangan Luna kemari, dia pun merasa bersalah pada wanita itu. Prince kemudian membalas pelukan Luna dan mengusap punggungnya.
Namun, tanpa Prince ketahui, Luna bukannya menangis, dia justru tersenyum licik ke arah Amora.
Amora yang menyadari bahwa Luna hanya bersandiwara, dia mengepalkan kedua tangannya.
Amora mendengkus, kesal melihat Luna yang mencari perhatian Prince.
"Luna, duduklah!" Bahkan Prince membawa Luna dan mendudukkan tubuh wanita itu di sana. Membuat hati Amora semakin meradang melihatnya.
__ADS_1
Tidak sampai di situ, Luna kembali menghambur ke dalam pelukan Prince, di sana dia kembali terisak. Sedangkan Prince, dia tidak menyadari jika wanita itu tengah berakting. Hanya Amora saja yang dapat melihat topeng yang dipakai oleh Luna.
"Menjijikkan!" gumam Amora, dia menatap nyalang ke arah Luna yang masih menempel di tubuh Prince.
Luna kemudian melirik ke arah Amora yang sejak tadi masih terdiam di dekat meja kerja Prince.
"Amora ... kenapa kau diam di sana? Kemarilah, ikut duduk bersama kami," ucap Luna dengan suara lembut penuh kasih sayang.
Bahkan dia menampilkan senyum manis di depan Prince dan juga Amora.
Amora yang melihat Luna, dia memutar bole mata dengan malas.
"Tidak, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu, Prince ... apa kau ingin aku membuatkan sesuatu untukmu?" Amora berharap Prince menahannya agar tetap di sini. Meskipun dia sendiri tidak tahan melihat kedekatan Luna dengan Prince yang semakin intens.
"Tidak perlu, kau buatkan saja untuk Luna," jawab Prince, acuh tak acuh.
Amora menghela napas panjang, apanya yang dia harapkan tak sesuai kenyataan. Baiklah, daripada harus menjadi obat nyamuk. Mungkin sebaiknya dia keluar untuk menenangkan diri.
Melihat Amora yang sudah pergi, Luna tersenyum, dia merasa puas karena wanita itu telah sadar akan kedudukannya sebagai istri kedua Prince.
"Amora sangat baik, Prince. Aku menyukainya."
"Benarkah?" Bahkan Prince tidak meminta pendapat Luna tentang Amora. Dia merasa kagum pada Luna yang tidak terlihat cemburu sama sekali.
Luna yang masih tersenyum manis di hadapan Prince, dia ternyata mengumpat di dalam hatinya.
'Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan pada wanita itu. Dia sudah berani mendekati Prince-ku ... dan aku tidak suka jika ada yang mencoba mendekati mainanku.'
Sementara Amora yang sudah berada di pantry. Dia sibuk mencari cangkir untuk membuatkan minuman.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Amora berjingkat kaget saat seorang perempuan paruh baya menghampirinya. Perempuan itu adalah kepala OB di kantor Prince.
“Aku ingin membuat teh hangat, dan aku tidak tahu di mana semua bahan yang kuperlukan,” jawab Amora.
Wanita itu tersenyum kepada Amora, “Biar saya saja, Nyonya. Apakah teh ini untuk Tuan Prince?” tanya wanita itu. “Kalau untuk Tuan Prince, beliau menyukai teh yang dibuat dengan air yang baru saja mendidih,” lanjutnya, ia sangat cekatan dalam menuang air panas ke cangkir dan teh celup di sana. Sedangkan Amora hanya memerhatikannya saja.
__ADS_1
“Ya, teh itu untuk Prince.” Tiba-tiba saja Amora mendapatkan ide untuk membalas sakit hatinya pada Luna. Dia tersenyum menyeringai, membayangkan apa yang akan dilakukannya pada Luna sebentar lagi.