
Amora memilih mengikuti Celine ke belakang dari pada duduk diam. Celine memperlihatkan kulkas yang penuh dengan makanan instan serta minuman.
"Darimana kalian bisa mendapatkan listrik? Padahal di sini adalah gedung tua yang tidak terpakai?" tanya Amora.
"Tentu saja dari pemerintah, hanya saja lewat orang dalam tentunya. Seperti yang kau katakan jika gedung ini tidak beroperasi bukan berarti tidak bisa kita gunakan. Bangunan ini milik keluarga Kak Prince, hanya saja terbengkalai."
Amora menganggukkan kepalanya. Dia mengambil sebotol minuman jus jambu biji. Lalu membukanya.
"Kak Prince tidak pernah membawa seorang wanita pun ke dalam sini, baru hanya kau," terang Celine.
"Tidak dengan Luna?"
"Dia ... aku tidak tahu hubungan mereka itu seperti apa karena Kakak sangat merahasiakan itu. Dia tidak suka jika urusan pribadinya diketahui oleh orang lain karena itu sama saja memberitahukan kelemahannya.
"Maksudmu?"
Celine hanya tersenyum tipis saja. "Apakah kau ingin makan sesuatu?" tawarnya. Amora menggelengkan kepala.
Amora memperhatikan Prince yang sedang bekerja. Pekerjaan sampingan yang gelap dan berbahaya. Amora tidak suka itu, tapi dia tidak bisa mencampuri urusan Prince.
Rasa kantuk mulai menjalarnya karena ini sudah hampir pagi dan Prince belum selesai juga dengan pekerjaannya.
Dia tersenyum sendiri teringat akan pikiran jeleknya pada Prince. Lelaki itu memang misterius, selalu membuatnya terkejut dengan apa yang dia lakukan.
Kelopak mata Amora mulai berat. Dia lantas tertidur.
***
Dave memegang tongkatnya dengan kuat. Fokus dengan bola yang ada di depan matanya. Kembali lagi melihat kejauhan.
Menyipit mata, konsentrasi lalu dipukul bola itu.
"Dave aku sedang mencarimu, ternyata kau di sini," teriak Luna dari kejauhan membuat konsentrasi Dave hilang. Bola lantas masuk ke dalam aliran sungai. Seorang wanita yang berprofesi sebagai Caddy golf lantas mencari bola itu.
Dave sendiri terlihat kesal dengan Luna.
"Maaf," kata wanita itu mendekat.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Dave kembali memukul satu bola lagi ke lubang terdekat. Bola itu masuk ke dalam lubang.
"Aku merindukanmu, sudah lama kita tidak berjumpa." Luna mencoba berbasa-basi sedikit.
__ADS_1
"Biasanya juga kita tidak bertemu dan kau tidak pernah pula merindukan aku," ungkap Dave dingin.
Dave membersihkan stik golf miliknya. Lantas memasukkannya ke keranjang dan menyuruh Caddy golf untuk membawakannya.
Permainan kesukaannya kali ini terganggu karena kehadiran Luna. Wanita di depannya membuat moodnya hancur seketika.
Luna yang mengikuti Dave, tanpa sengaja kakinya keselip dan hampir jatuh. Dengan sigap Dave membantunya.
"Hati-hati kau sedang hamil."
"Kau perduli juga denganku?" ujar Luna tersenyum membuat Dave kembali melepas pegangannya dan bergerak menjauh. Luna dengan semangat empat puluh lima mengikutinya.
Dave berhenti di tempat peristirahatan sambil melihat pemandangan golf di depan matanya.
Dia melepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi dia gunakan dan menggodok di bajunya.
"Prince, bagaimana keadaanmu?"
"Langsung saja, Luna. Aku tahu kau kemari bukan untuk hanya berbasa-basi tentang kabarku," ucapnya tanpa ekspresi tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Inilah Dave, orangnya tinggi hati dan seperti tidak memerlukan orang lain. Dia tipe orang yang irit bicara dan suka pada pokok permasalahan. Sekali mengatakan sesuatu akan terdengar pedas.
Luna menghela nafasnya. Merangkai kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Sebuah senyuman tipis terbit di bibirnya.
"Buruk dan itu semua karena ayahmu melakukan kesalahan."
Luna langsung melengos dan mengerutkan bibir. Berbicaralah dengan Prince akan selalu terlihat salah.
"Dia hanya bekerja sama dengan orang yang salah dan dibodohi."
Prince tertawa kecil mengejek, "Apa kau yakin? Bukan karena ayahmu yang salah dan bodoh?"
Luna memanyunkan bibirnya. Sulit jika berbicara dengan Dave. Dia mulai merasa putus asa sebelum berbicara.
"Terserah apa katamu, Dave yang penting kau di sini saat ini untuk membantu perusahaan itu untuk bangkit."
"Kenapa kau tidak meminta pada Prince saja untuk membantu? Dia bisa menginvestasikan banyak dana ke perusahaan milik kita."
Luna memainkan kakinya, memeras otak untuk menyampaikan keinginannya. Dia harus bisa membujuk Prince agar keinginannya bisa terwujud hanya Prince satu-satunya harapannya saat ini.
Seorang pelayan mendekat dan memberikan pesanan minuman. Prince meminumnya terlebih dahulu sambil melihat handphone di tangan. Membalas chat yang masuk. Seolah tidak perduli dengan keberadaan Luna.
__ADS_1
"Prince, aku dengar dari Kak Boris bahwa kau berhubungan dekat dengan Amora, apa itu benar?"
"Jadi kau kemari karena hal itu? Ternyata Boris itu tukang ghibah juga."
'Salah lagi kan?'
Berbicara dengan Dave adalah sesuatu yang paling Luna hindari karena seperti ini jadinya. Untungnya selama ini Dave dan keluarganya tinggal jauh dari kehidupannya sehingga tidak perlu sering berjumpa.
"Dave, apakah kau mencintai Amora?" tanya Luna langsung membuat Dave menyemburkan minuman ke depan, membuat Luna ikut terkejut.
"Maaf ... maaf," kata Luna merasa tidak enak.
Setelahnya, mereka kembali berbicara.
"Amora itu wanita baik yang tidak perlu untuk kalian permainanku. Padahal kau itu wanita seharusnya tahu bagaimana dengan perasaannya. Terus terang aku benci dengan apa yang kau dan Prince lakukan."
Luna menggenggam dompet yang ada di tangannya. Dia lantas menangis di depan Dave.
"Aku juga tidak mau seperti ini, tapi aku bisa apa? Aku mencintai Prince tapi keluarganya tidak merestui kami," tutur Luna dengan terisak.
"Tapi tidak perlu memaksa Amora untuk menikah dengan Prince."
"Itu syarat yang Kakeknya berikan jika mau aku diterima di keluarganya."
Untuk sesaat mereka terdiam.
"Kau tahukan bagaimana perasaanku? Sesak dan sakit, apalagi saat ini aku sedang mengandung."
Luna menyeka air matanya. Dave melihat ke sekitar lalu menatap malas ke arah Luna.
"Sudah jangan menangis. Orang-orang kira aku sedang melakukan hal buruk pada wanita hamil."
Namun, bukannya diam. Luna malah menambah tangisannya yang membuat Prince mengajaknya keluar dari tempat itu karena menanggung rasa malu melihat orang yang berbisik sambil melihat ke arah mereka.
"Okey, katakan apa maumu menemuiku. Kukira bukan karena sesi curhat saja kan?" tegasnya.
"Bukan seperti itu, Prince, aku tahu kau itu orang baik yang tidak ingin melihat kedzoliman yang terjadi. Suamiku memang memaksa Amora untuk hamil anaknya karena hanya itu satu-satunya jalan agar dia mendapatkan hak sepenuhnya atas warisan yang Kakek Liu punyai. Setelah itu, dia berencana akan menceraikan Amora."
Dave malah tertawa keras. "Kau takut jika bukannya menceraikan Amora, malah Prince menceraikanmu. Takut jika Prince sadar bahwa Amora itu berkali lipat lebih baik darimu?"
"Prince kenapa kau malah merendahkan ku?" balik Luna kesal.
__ADS_1
"Kalau kau yakin Prince mencintaimu, kau tidak akan datang padaku!"
Pernyataan Dave benar-benar menohok dirinya. Luna tidak yakin jika Dave akan membantunya.