
Tepatnya di belahan bumi yang lain, seorang laki-laki sedang termenung di tempatnya. Wajahnya bagai pahatan bak dewa yunani itu begitu mempesona bagi semua kaum hawa yang melihatnya.
Namun, nyali mereka menciut seketika saat melihat mimik wajah laki-laki tampan itu tidak ramah. Tangannya masih setia memandang ponsel yang sedang menampilkan satu aplikasi yaitu GPS. Prince, laki-laki yang dingin itu terus menatap ponselnya tanpa berkedip. Hingga ia sadar bahwa ada yang janggal.
"Kemana Amora? Mengapa dia pergi ke perumahan di daerah Bintaro? Apa yang membuatnya harus pergi ke sana?" Prince terus bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawaban.
Walau begitu matanya terus mengawasi pergerakan dari GPS yang ada di ponsel Amora. Mendadak hatinya diliputi resah gelisah. Ia terus saja menyimak kemana saja arah GPS milik Amora bergerak. Hingga satu pemikiran terlintas di kepala Prince.
"Apakah Amora bertemu dengan Dave? Tapi mengapa harus di perumahan kelas menengah? Dave tidak mungkin berada di sana. Namun, bisa saja itu hanya akal-akalan Dave dan Amora kan? Sial! Aku tidak bisa membiarkan ini," gerutu Prince.
Laki-laki itu menyimpan kembali ponselnya. Lalu berjalan keluar dari restoran. Supir Prince telah menunggunya. Tanpa membuang waktu Prince segera masuk ke dalam mobil.
"Kita kemana, Tuan?" tanya sang supir.
"Ke perumahan daerah Bintaro. Apa kau bisa membawa mobil ini dengan cepat ke sana?" pinta Prince.
"Baik, Tuan."
"Amora, awas saja jika kau sampai membohongiku. Pun juga kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak akan tinggal diam." Prince membatin diliputi amarah.
Sang supir membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin mengecewakan Prince yang terlihat sedang menahan amarah. Ia tidak ingin mendapatkan amukan dari majikannya yang terkenal dingin itu. Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang berdebu.
Hingga tak lama kemudian mobil Prince sudah sampai di rumah Galih. Dari luar pintu gerbang, Prince dapat melihat Galih yang sedang membereskan pecahan pot bunga. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Prince berjalan cepat dan membuka pintu gerbang dengan kasar. Membuat Galih sontak kebingungan.
__ADS_1
Pasalnya selain ia tidak mengenal Prince secara personal, ia hanya mengetahui Prince bukanlah orang sembarangan. Terlihat dari setelan jas kerja Prince yang mahal dan elegan. Begitu Prince terus berjalan mendekat, Galih tahu kalau Prince datang bukan untuk tujuan baik.
"Apakah dia suami Luna dan wanita bernama Amora itu? Untung saja aku meminta foto suami Amora dan Luna. Setidaknya aku bisa berhati-hati dalam berbicara. Apalagi laki-laki itu seperti sedang marah. Marah karena apa? Yang jelas aku harus menyelamatkan diri." Galih berbicara dalam hati. Ia tidak ingin salah dalam mengambil tindakan. Terlebih orang yang ia hadapi saat ini merupakan salah satu dari jajaran pengusaha sukses.
"Halo? Siapa Anda? Kenapa Anda datang ke rumah orang tanpa permisi?" Galih menegur Prince dengan tenang. Seolah ia memang tidak mengenali Prince.
Sedangkan yang diberikan pertanyaan justru mengedarkan pandangan mata ke sekitar rumah Galih. Matanya menyipit dan kemudian alisnya menukik tajam. Kini pandangan mata Prince beralih pada Galih yang sedang membawa sapu.
"Apakah Amora datang ke sini?" tanya Prince.
Galih mengerutkan keningnya. Ia masih mencoba bersikap tenang meski dalam hatinya terus merutuki situasi ini. "Amora? Siapa yang Anda maksud, Tuan? Saya tidak mengenalnya. Saya juga tidak mengerti mengapa Anda tiba-tiba datang ke sini dan bertanya tentang keberadaan Amora. Saya bahkan tidak mengenal Anda."
Prince menyeringai. Membuat bulu kuduk Galih berdiri. "Kau yakin tidak tahu kalau Amora datang ke sini? Aku sudah memberi GPS pada ponsel Amora. Dan lokasinya Amora baru saja ada di rumah ini. Apa kau mau berpura-pura tidak mengenal Amora sekarang?"
"Benar, Tuan. Saya tidak tahu siapa Amora yang Anda maksud. Sejak tadi saya tidak bertemu siapapun yang bernama Amora. Lihat, saya bahkan masih membereskan ini. Tidak mungkin saya memiliki rencana untuk menyembunyikan Amora Amora itu." Galih menunjukkan pot bunga miliknya yang sudah pecah.
"Mengapa pot bungamu pecah?" tanya Prince.
Galih menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu. Karena saya berada di dalam rumah. Mungkin kucing kampung yang biasa datang ke sini. Mereka kan biasanya minta makan dari rumah ke rumah."
Prince mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu matanya menyorot tajam Galih yang terlihat masih tenang. Prince bermaksud untuk mengintimidasi Galih agar Prince mendapatkan jawaban. Namun, Galih tidak memberikan tanda-tanda bahwa ia sedang berbohong.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja setelah aku tahu kalau kau membohongiku," ancam Prince.
__ADS_1
"Anda lucu, Tuan. Saya tidak mengenal wanita bernama Amora. Juga alasan untuk apa dia datang ke rumah saya. Sedangkan saya sendiri sama sekali tidak mengenalnya. Untuk apa saya berbohong? Anda seperti sedang menuduh saya menyembunyikan wanita bernama Amora itu. Lagipula apakah Anda memiliki bukti sehingga berani memojokkan saya sampai seperti ini?" Galih terus-terusan mengelak. Ia tidak akan mengakui kebenaran yang baru saja ia temukan.
"Sial!" Prince mengumpat.
Tanpa berkata-kata lagi ia pun pergi menjauh dari rumah Galih. Berjalan meninggalkan Galih yang diam-diam bernapas lega. Galih terus mengawasi kepergian punggung Prince yang perlahan menjauh. Setelah Prince sama sekali tidak kelihatan, tubuh Galih terjatuh di lantai.
"Gila! Bagaimana bisa Luna menjadi simpanan laki-laki itu? Ini sangat mengerikan. Tapi, ada yang aneh. Mengapa laki-laki itu justru bertanya perihal Amora dan bahkan sama sekali tidak menyinggung nama Luna? Lebih anehnya lagi, laki-laki itu juga memasang GPS di ponsel Amora. Lalu bagaimana dengan Luna yang menjadi simpanannya? Biasanya simpanan akan lebih diutamakan ketimbang istri sah." Galih termenung dalam posisi duduk di lantai.
Ia seperti menemukan benang rumit. Seakan tidak memiliki ujung. Sebab sangat aneh kalau laki-laki itu lebih takut jika istri sahnya yang bertemu dengan laki-laki lain. Ketimbang istri simpanannya yang pergi menemui laki-laki lain.
Prince termenung di dalam mobil. Sedangkan sang supir terus fokus pada jalanan yang mulai padat. Prince kembali mengeluarkan ponselnya. Ia yang masih penasaran dengan keberadaan Amora membuka aplikasi GPS.
"Mengapa Amora menemui laki-laki itu? Apakah laki-laki biasa tadi selingkuhan wanita itu juga. Diam-diam ternyata Amora player juga. Sialan! Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa Amora diam-diam menemui laki-laki itu? Dasar meresahkan!" Prince terus menggerutu dalam hati.
Entah mengapa hatinya mulai tidak tenang. Prince lalu mencoba menghubungi Amora. Telepon tersambung. Dengan hati berdebar Prince menunggu Amora menjawab panggilannya.
"Ya, halo?" Rupanya Amora menjawab panggilan telepon dari Prince.
"Kau di mana?" tanya Prince tanpa basa-basi.
"Oh, aku dalam perjalanan pulang. Ada apa, Prince?" balas Amora.
Prince bernapas lega walau curiga. Namun, setidaknya Amora sedang dalam perjalanan pulang. Ia harus segera sampai ke rumah untuk melihat Amora.
__ADS_1
"Ya sudah. Kupikir kau mampir ke suatu tempat. Aku juga sedang di perjalanan pulang. Tunggu aku." Prince mematikan sambungan teleponnya. Ia lalu menarik napas dalam-dalam.