
Seminggu berada di rumah keluarga Liu membuat Amora bosan. Dia harus mengikuti semua yang telah dijadwalkan oleh assisten pribadinya. Asisten ini sengaja dikirimkan oleh Prince untuk mengatur hidupnya. Pikir Amora.
Dari bangun tidur hingga malam semua sudah di atur. Dia seperti tidak memiliki kehidupannya sendiri yang biasa bebas.
Prince sendiri sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan urusan bisnisnya. Mungkin dia sedang honeymoon bersama dengan Bulan gerhana itu. Pikir Amora.
Setiap pagi dia diwajibkan melakukan olah raga rutin selama dua jam. Setelahnya, sudah ada orang yang menunggunya untuk mempersiapkan diri untuk menghadiri sebuah acara amal. Ataupun acara yang berhubungan dengan keluarga Liu.
Hal yang membuat dia marah adalah dia tidak punya hak atas tubuhnya sendiri. Dari ujung kaki hingga ujung rambut semuanya diatur oleh orang-orang Prince. Bahkan hanya untuk mengenakan pakaian pun harus dibantu oleh pelayan. Buruk sekali menurutnya.
Seperti hari ini, dia baru saja kembali dari pinggir kota untuk menghadiri acara peresmian sebuah sekolah untuk anak-anak miskin. Para pelayan sudah di ruang tamu untuk membantunya bersiap.
"Tidak... kali ini biarkan aku sendiri," tolak Amora.
"Namun, Nyonya muda, kami sudah menyiapkan air dengan taburan bunga mawar untuk Anda berendam. Kami juga akan memberikan anda pijatan seraya melulur agar tubuh Anda harum serta lembut."
"Untuk apa? Oh, aku tahu karena suamiku yang baik hati itu mau pulang? Akh, yang benar saja. Aku lebih baik tidak mandi."
"Nyonya, Tuan sangat menyukai kebersihan."
"Aku tidak perduli." Amora berjalan pergi ke dalam lift.
"Namun, Nyonya, Tuan muda...."
Perkataan pelayan itu terhenti karena bentakan Amora.
"Untuk apa aku perduli dengannya sedangkan dia pun tidak perduli denganku! Jangan ajari aku tentang ini itu soal dirinya karena aku yang menjalani bukan kau atau kau!"
Amora lantas memencet tombol agar lift tertutup.
Sesampainya di kamar dia melepaskan sepatu, tas, jam tangan serta blazer secara sembarangan. Lantas langsung menjatuhkan diri di tempat tidur. Dia lelah hati dan fisik padahal baru seminggu saja dia menjalaninya.
Ingin menangis tapi inilah jalan hidup yang dia pilih. Dia tidak ingin mati penasaran karena masih ingin tahu siapa yang meracuninya dulu. Untuk apa? Ayahnya saja belum bisa mengungkap orang itu.
Racun itu masih ada di tubuhnya hingga saat ini. Untuk saat tertentu, racun itu akan menyerang tubuhnya dengan hebat dan hanya obat dari keluarga Liu yang bisa membuatnya bertahan hingga sekarang.
__ADS_1
Keluarga Liu memiliki pabrik obat herbal yang sudah mendunia. Selain itu mereka mempunyai laboratorium khusus untuk menyelidiki khasiat dari tumbuhan serta hewan untuk pengobatan. Sehingga tidak heran jika mereka bisa membuatkan obat khusus untuk Amora. Namun, itu hanya untuk sakitnya saja bukan untuk menghilangkan penyakitnya secara total.
Oleh karena kelelahan, Amora mulai memejamkan matanya dan tertidur.
Prince kembali dari London ketika para pelayan menyambutnya dengan wajah tegang.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa Tuan Muda hanya saja Nyonya...," jawab salah seorang pelayan wanita melihat ke atas.
"Dimana Marry?" Prince mencari asisten Amora, lebih tepatnya pengawal pribadi yang dia rahasiakan untuk menjaga Amora jika berada di luar rumah.
"Ibu Marry sudah kembali ke rumahnya karena tadi mendapatkan telepon jika putra beliau sakit."
"Okey." Prince langsung berjalan ke kamarnya.
Ketika membuka pintu kamar, dia terkejut melihat keadaan kamarnya yang tidak seperti biasa. Sepatu hak tinggi tergeletak sembarang. Dia meletakkannya di belakang pintu. Lalu Blazer di atas kursi, jam tangan di atas tempat tidur serta stocking di atas karpet diambilnya dengan jijik sambil menutup hidung. Semua di letakkan di tempat seharusnya. Tidak lupa tas di bawah nakas.
Dia menghela nafas. Selama ini kamarnya selalu dalam keadaan rapih dan teratur. Kini setelah ada penghuni baru menjadi berantakan.
Dia menatap Amora yang tertidur lelap dengan posisi menelengkup dengan kedua tangan direnggangkan.
Mendadak handphone miliknya berdering. My Wife, nama yang tertera di sana. Prince langsung mengangkatnya.
"Hallo, Sayang," jawab Prince. "Apakah ada yang tertinggal?"
Dia berjalan ke arah balkon menjauh dari Amora.
"Kau yang tertinggal," balas Luna dengan suara manja dari balik telepon.
"Apakah waktu satu Minggu tidak cukup untukmu?"
"Kau hanya sibuk mengurus bisnis di sana dan kita bertemu ketika malam saja. Lalu kini aku sendiri di sini," ujar Luna. Bagaimanapun Luna tidak suka berbagi dengan Amora. Dia hanya ingin memiliki Prince seperti wanita lainnya.
"Kau yang sabar ya, Sayang," kata Prince.
__ADS_1
"Sampai kapan?"
"Aku tidak tahu dan tidak bisa memastikannya." Prince menatap jauh ke depan.
"Oh ... aku hanya takut, anak kita lahir tanpa namamu tertera di akte kelahirannya," jawab Luna suara yang sedih.
Prince tidak bisa menjawabnya. Mereka berdua sejenak terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Istirahatlah, kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Aku akan menghubungimu lagi besok." Prince mengakhiri pembicaraan itu tanpa menjawab pertanyaan Luna.
"Iya," jawab Luna dengan nada kecewa.
Setelahnya, Prince membalikkan tubuh dan melihat Amora duduk di pinggir tempat tidur menatapnya. Bibirnya terkatup rapat.
"Kau sudah bangun, baguslah. Kau membuat kamarku jadi seperti gudang, semua barangmu bertebaran tidak karuan. Apakah kau tidak tahu kebersihan dan kerapian," omel Prince mengalihkan perhatian Amora. Dia tidak enak jika Amora mendengar apa yang dia lakukan barusan.
"Kenapa kau kembali?"
"Apa?" Sesaat Prince tersinggung dengan kata-kata Amora.
"Kau dengar apa yang kukatakan." Amora memalingkan wajahnya ke samping.
"Ini rumahku, lebih tepatnya rumah Kakek yang akan diwariskan padaku," jawabnya dengan gaya tidak peduli dengan ekspresi dingin. Setiap gerakan pria itu selalu nampak maskulin, berkarakter dan mematikan.
"Jika kau mencintainya maka seharunya kau ada di dekatnya bukan berpura-pura peduli padahal tidak."
"Kau cemburu?"
"Tidak ... sama sekali tidak. Aku hanya merasa menjadi perebut suami orang, padahal kenyataannya kau yang berselingkuh. Namun, itu juga tidak bisa dibilang selingkuh karena kita tidak pernah menyatakan cinta. Hubungan kita sangat rumit dan aku sendiri tidak tahu, kemana ujung hubungan kita."
"Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai keturunan keluarga ini untuk menikahi wanita yang mereka pilih."
"Lalu untuk apa meneruskan jika akhirnya kau dan aku tidak bahagia."
"Banyak wanita yang jadi istri kedua, ketiga dan keempat, mereka bahagia, kau bisa jadi salah satunya karena menjadi bahagia itu pilihan kita. Aku sendiri bahagia karena punya dua istri, yang satu pemilik separuh saham Mountain dan yang satunya lagi dari keluarga Perkasa. Itu adalah sebuah pencapaian besar."
__ADS_1
"Ingin sekali kurobek mulutmu."
Prince membalikkan tubuhnya dan mencondongkan tubuh tepat ke depan wajah Amora sehingga nafas Prince menerpa wajah Amora. Lebih enak kau coba untuk menciumnya. Kita belum pernah melakukannya," ujarnya dengan suara serak menggoda.