
“Amora, jika kau memang membutuhkan uang untuk Essa, aku bisa membantumu,” ujar Prince sambil makan Ayam Goreng srundeng dengan sambal bersama dengan Amora di dalam mobil.
Amora tidak menyangka Prince yang selalu hidup dalam kemewahan tidak menolaknya. Bahkan mereka makan dengan santai sambil menikmati bintang dan bulan di langit malam yang cerah.
“Aku tidak ingin hutang balas budi padamu,” tolak Amora. Membuat Prince menghentikan suapannya. Dia menoleh pada wanita itu.
“Aku suamimu, aku bertanggungjawab pada hidupmu. Masalahmu adalah masalahku juga.”
Amora terdiam sejenak. “Aku tidak bisa membiasakan diriku denganmu. Kita tidak tahu sampai kapan pernikahan ini akan terus berjalan. Kau bilang sampai aku punya anak darimu, maka kau akan melepaskanku.”
“Kalau begitu tetaplah di sampingku,” kata
Prince membuat Amora terkejut sejenak. Namun, detik kemudian dia tertawa keras.
“Disampingmu dan menjadi istri keduamu, yang benar saja Prince. Jika kau inginkan aku tetap di sisimu maka singkirkan Luna. Jika tidak, maaf, aku tidak akan mengalah hanya karena ingin selalu bersamamu. Walau itu karena cinta, aku tidak akan pernah melakukannya.”
Amora menyatakan perasaannya dan kejujurannya yang tidak bersedia dimadu oleh Prince. Tadinya dia senang Prince ingin mereka tetap bersama, tapi seketika kesenangan itu lekas hilang ketika teringat akan Luna.
Nafsu makannya hilang seketika. Dia meletakkan makannya sembarangan di atas dashboard dan mengambil air mineral. Meneguknya untuk mengatasi kemarahannya.
Prince menatapnya lekat. Lantas tersenyum. "Apakah kau cemburu jika aku bersama dengan Luna?" tanya Prince.
"Aku tidak suka itu," balik Amora menatap Julian.
"Aku mencintai Luna dan tidak bisa meninggalkannya," ujar Prince sekali lagi yang membuat Amora bertambah kesal.
"Hentikan pembicaraan tentang wanita itu. Aku tidak mau kau membicarakannya jika sedang bersamaku. Terus terang aku muak. Harap kau menghargai perasaanku," ujar Amora tegas.
Prince menghela nafas. Apa yang Amora katakan memang benar. Jika dia jadi Amora pun tidak akan menerima itu begitu saja. Namun, dia tidak bisa meninggalkan Luna untuk bisa hidup bersama dengan Amora.
"Baiklah, cantik. Aku tidak akan membicarakan tentang dia ketika kita bersama. Satu lagi, kau bisa meminta bantuanku apapun jika itu memang diperlukan. Soal Essa, aku tahu kau hanya mendapatkan uang berapa ratus juta saja dari pamanmu. Untuk itu, aku akan memberikan pinjaman uang pada Essa sebanyak yang dia butuhkan. Pinjaman tanpa bunga dan akan dibayarkan setelah dua tahun. Jika dalam waktu itu dia belum bisa melunasinya maka saham warisan miliknya yang akan jadi jaminannya," terang Prince.
__ADS_1
"Aku bisa mengatasi itu sendiri, aku masih punya uang di bank dan juga uang satu juta dolar darimu," ujar Amora.
"Kau bisa menggunakan uang itu untuk kesenanganmu tapi aku tidak rela jika kau memberikannya untuk orang lain walau itu hakmu. Aku memberikannya untuk jaminan hidupmu ke depannya," jelas Prince walau dia tahu jika Amora tidak benar-benar membutuhkannya karena uang pendapatan dari perusahaan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Itu mahar untukmu, hadiah dariku karena kau mau berkorban untuk keluargamu dan aku," ujar Prince.
"Andai kau bisa mencintaiku Prince mungkin itu akan indah sayangnya kau hanya butuh tubuhku saja."
"Kita bisa belajar memulainya."
Amora menggelengkan kepalanya. "Hatimu itu satu dan sudah diberikan untuk Luna maka aku tidak bisa menempatinya. Sepertinya aku akan mencari hati yang lain yang bisa menampungku," ujar Amora.
Prince memegang bahu Amora kuat dan memaksanya untuk menatap ke arahnya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah serasa mencengkeram diri Amora.
"Kau tidak bisa menjadi milik pria lain selama bersamaku, Amora. Kau hanya milikku," tandasnya.
Amora bergerak duduk di pangkuan Prince dengan posisi berhadapan. Wajahnya ada di atas wajah Prince.
"Bagaimana jika kita bertaruh, jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku dalam waktu seratus hari maka tinggalkan Luna. Jika tidak maka kau harus melepaskan aku, aku akan cari kebahagiaanku sendiri," tantang Amora.
"Huh, itu kau yang untung, mempunyai dua istri, aku tidak mau," rajuk Amora.
"Apakah itu artinya kau tidak percaya diri bisa membuatku mencintaimu?'' balik Prince, membuat Amora berpikir ulang. Bibir pria itu dengan kasar menyesap leher Amora kuat. Membuat wanita itu mendesis.
"Aku tahu kau mencintaiku, Amora, kau hanya ingin menutupi perasaanmu saja," bisik Prince lagi.
"Kau sangat percaya diri sekali?" Tangan Amora mulai bergerak nakal di tubuh Prince bagian bawah membuat pria itu mengerang.
"Seratus hari dan kita buktikan siapa yang jatuh cinta terlebih dahulu, yang kalah yang akan menuruti yang menang dan aku yakin sekali tidak sampai satu bulan kau akan mengatakan mencintaiku," ujar Prince sangat percaya diri. Selama ini semua wanita bertekuk lutut di depannya.
"Kau salah." Amora membuang kaos yang melekat di tubuhnya membuat Prince gelagapan takut ada yang melihat.
__ADS_1
Prince langsung mematikan lampu dan menutupi tubuh Amora dengan selimut yang tersampir di belakang.
"Amora kau gila! Bagaimana jika ada yang melihat." Amora tertawa kencang.
"Aku tahu kau akan melindungiku karena tidak rela jika tubuhku dilihat orang lain. Itu adalah benih cinta yang sudah ada di dirimu, Sayang." Amora tersenyum penuh kemenangan di antara selimut yang menutupi tubuhnya.
Wanita harus pintar mengambil hati lelaki untuk dapat menakhlukannya. Begitu juga dengan yang Amora lakukan. Ini permainannya dengan Prince akan dia lakukan dengan cantik.
Dia juga akan menjadi Amora lainnya yang akan membuat Luna pergi dari hidup Prince selamanya. Dia yakin Luna bukan wanita baik yang tulus mencintai Prince.
"Kau harus takut kalah karena aku akan membuat itu menjadi rasa cinta," sambung Amora.
"Dasar, anak nakal!"
"Nakal untuk suami sendiri tidak mengapa kan?"
Prince menggelengkan kepalanya. Dia rasa dia mulai menyukai Amora yang manja dan agresif serta ekspresif. Dia selalu mengatakan apa yang dia rasakan tanpa rasa takut.
Sesampainya di rumah, mereka melakukan kegiatan suami istri lagi untuk yang kesekian kali. Tidak ada rasa bosan untuk Prince, dia menikmatinya. Sedangkan Amora merasa lelah karena melayani Prince yang punya stamina kuat. Ini kali keempatnya mereka melakukan hal itu.
Amora bergelung manja pada Prince ketika mendengar suara nada panggilan dari handphone Prince berbunyi. Pikirkan buruknya mulai merasuki jiwa. Itu pasti dari wanita itu.
Ingin sekali Amora menyingkirkan wanita itu, namun tidak bisa. Dia selalu membuat hidupnya resah dan susah. Membuat kebersamaannya dengan Prince terganggu.
Prince langsung membuka mata dan meraih handphonenya. Dia bangkit dan berjalan ke balkon luar.
Entah apa yang mereka bicarakan. Nampaknya Prince terlihat serius menanggapinya.
Tidak lama kemudian dengan wajah cemas Prince masuk dan memakai bajunya. Tanpa bicara ataupun pamit dia pergi meninggalkan Amora.
“Sial!” batin Amora. Dia berpikir sebenarnya guna-guna apa yang digunakan oleh Luna sehingga pria itu selalu menurut padanya dan menutup mata pada segala hal.
__ADS_1
Amora langsung menghubungi saudaranya.
"Kakak, aku butuh bantuanmu untuk melakukan satu hal!"