
Setelah makan malam, ponsel Prince berdering. Membuat Amora yang berada di samping Prince pun ikut melirik ponsel laki-laki itu. Rupanya Luna menelpon Prince. Amora pun memutar bola mata kesal. Sebab ia tadi siang memergoki Luna bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Apa sih yang dia inginkan? Siangnya dia diam-diam bertemu dengan laki-laki lain. Bahkan membahas perihal anak yang sekarang ada di dalam kandungannya. Malamnya kenapa Luna menelpon Prince? Apakah Luna ingin Prince menemaninya? Hebat sekali dia. Dua laki-laki dalam sehari." Gerutu Amora dalam hati.
Prince melirik Amora. Membuat Amora langsung berbalik badan. Ia tidur dalam posisi membelakangi Prince. Amora kesal. Lantaran Prince kemungkinan besar akan datang ke tempat Luna.
"Ra, aku terima telpon dari Luna dulu ya. Kau tidurlah duluan. Aku sebentar saja kok," pamit Prince.
"Ya, lakukan saja apa yang kau inginkan. Dia juga istrimu," ketus Amora.
Prince yang khawatir dengan Luna pun bergegas menuju balkon. Di sana ia bisa bebas berbicara dengan Luna. Laki-laki itu melirik Amora yang sudah terbungkus selimut. Tentu saja Amora kesal sebab saat ini adalah waktu bersama Amora.
"Halo, Lun? Ada apa malam-malam menelpon?" Prince membuka percakapan.
"Prince, tidak bisakah kau datang ke rumahku? Aku sedang sakit. Aku butuh suamiku. Bisakah kau datang ke sini, Prince. Temani aku, Prince. Apa kau tidak kasihan padaku? Aku sedang hamil anakmu, Prince." Luna berbicara dengan nada manja. Wanita itu ingin mendapatkan simpati dari Prince. Agar laki-laki itu datang ke tempatnya.
"Kau sakit?" Prince mulai khawatir. Sebab perut Luna memang semakin hari bertambah besar. Tentu saja Luna dapat menebaknya.
"Iya, Prince. Aku ingin kau datang ke rumahku. Tapi, sudahlah kalau kau sedang bersama Amora. Maaf, ya. Aku mengganggumu malam-malam begini. Pasti Amora kesal. Ya sudah, aku akan diam saja di kasur. Selamat malam, Prince." Luna berpura-pura tidak enak hati pada Amora. Wanita itu sedikit menarik ulur Prince.
"Lun, tunggu! Tunggu, Lun! Jangan dimatikan dulu telponnya. Apa yang kau katakan? Tentu aku akan datang ke tempatmu. Sebentar saja, kau bisa menunggu sebentar bukan?" Prince mulai panik. Sebab Luna tidak ingin meneruskan permintaannya pada Prince.
"Tidak, Prince. Kau pasti akan kesal. Karena aku terlihat manja padamu. Aku akan minta bibi pelayan untuk membelikan martabak. Maaf, sudah mengganggumu. Selamat malam." Luna menunggu sebentar. Ia yakin Prince akan memohon.
__ADS_1
"Luna! Jangan berbicara yang tidak-tidak. Aku akan pergi sekarang ke tempatmu. Kau ingin martabak? Aku akan membelikannya. Tunggu aku, oke? Jangan menyuruh bibi pelayan. Aku yang akan membelikanmu martabak. Sudah, kau lebih baik istirahat menungguku sampai di sana." Prince menutup telponnya.
Laki-laki itu bersiap hendak ke tempat Luna. Di sisi lain, Luna sangat senang Prince akan datang. Ia turun dari ranjang dan bercermin di depan meja riasnya. Wanita itu pun memoles wajahnya agar terlihat lebih baik saat Prince sudah datang menemuinya.
"Luna, kau memang cantik. Maka dari itu Prince pasti tidak akan bisa membuangmu. Yang seharusnya ditendang adalah Amora. Bukan Luna." Luna dengan suasana hati yang senang bersiap menyambut kedatangan Prince.
Setelah memastikan wajahnya masih tampak cantik, ia memutuskan untuk naik lagi ke atas ranjang. Merebahkan diri dan kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut. Agar saat Prince datang laki-laki itu akan simpati. Luna pun menunggu dengan senang.
"Amora," panggil Prince.
Laki-laki itu mendekati Amora yang tidak bergerak. Prince pun menggoyangkan tubuh Amora dengan pelan. Namun, Amora hanya menggeliat pelan. Seolah ia sudah benar-benar tertidur.
"Kau sudah tidur, Amora? Kalau begitu aku minta maaf. Karena malam ini aku tidak bisa menepati janjiku untuk bersamamu. Luna membutuhkanku. Kau tahu kan kalau Luna sedang hamil? Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kuharap kau mengerti, Amora." Prince mencium kening Amora.
"Dasar laki-laki ingkar janji! Pergi saja sana! Kau hanya akan membuatku kesal!" Amora melemparkan bantal lainnya.
Wanita itu sangat jengkel karena Luna selalu memiliki alasan untuk membuat Prince segera datang ke menemuinya. Dada Amora pun bergerak naik turun. Sebab Amora menahan gejolak amarah yang membuncah di dadanya. Ia menggelengkan kepala pelan.
"Tidak ada gunanya untuk menyesali semua yang sudah terjadi," lirih Amora.
Entah sudah berapa lama Prince mengendarai mobil. Laki-laki itu juga sudah membeli martabak pesanan Luna. Di dalam perjalanan, Prince tersenyum. Tidak biasanya Luna menyukai makanan yang dijual di pinggir jalan itu. Mata Prince melirik pada satu kotak martabak. Seulas senyuman pun terbit di bibirnya.
"Mungkin anak papa yang ingin mencicipi martabak ini," ucap Prince senang.
__ADS_1
Laki-laki itu pun memarkir mobil di garasi. Setelahnya ia berjalan memasuki rumah yang ia beli untuk Luna. Tangannya tak lupa menenteng sekotak martabak. Dengan penuh semangat Prince masuk ke dalam kamar Luna. Laki-laki itu kembali tersenyum saat melihat Luna sudah tertidur di ranjang.
"Kau rupanya sangat penurut, Luna." Prince berjalan masuk ke dalam kamar Luna. Laki-laki itu menaruh martabak di nakas dan kemudian ia membangunkan Luna.
"Lun, aku datang. Aku sudah bawa martabak pesananmu. Hei." Prince menggoyangkan tubuh Luna pelan.
Ia tidak ingin menyakiti anak yang ada di dalam perut Luna. Tak lama kemudian Luna merenggangkan tubuhnya. Seketika wanita itu tersenyum lebar saat melihat Prince sudah berada di tempatnya.
"Ya ampun, Prince! Kau benar-benar datang? Aku pikir kau tidak akan datang ke rumah ini." Luna langsung memeluk tubuh Prince.
Wanita itu sangat senang dapat memeluk Prince. Namun, sebaliknya dengan Prince. Laki-laki itu tidak tahu mengapa ia tidak menyukai pelukan Luna. Itu terasa sangat berbeda dengan pelukan dari Amora.
"Padahal aku datang ke sini karena khawatir dengan anak yang dikandungnya. Tidak lebih. Lagipula wajar aku melakukan ini demi anakku." Prince membatin bingung dengan perasaannya.
"Sepertinya keadaanmu sudah membaik, Lun," kata Prince.
Luna menggelengkan kepala. "Tidak. Aku merasa tidak enak badan, Prince. Ngomong-ngomong, Prince. Bukankah kita sudah lama tidak melakukannya? Aku rindu padamu, Prince. Anak kita ingin dijenguk."
Prince seketika terdiam. Malam ini ia tidak menginginkan menjenguk anaknya. Padahal tadinya ia sangat bernafsu saat bersama Amora. Bahkan miliknya pun sama sekali tidak berdiri. Padahal Luna sekarang sudah mengenakan pakaian tidur yang seksi.
"Lun, lebih baik kau istirahat sekarang. Kau kan sedang tidak enak badan. Aku takut anak kita kenapa-napa." Prince dengan lembut melepaskan pelukan Luna.
"Sialan! Kenapa Prince sama sekali tidak ingin melakukannya?" kesal Luna dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa aku kalah teringat Amora?" Prince membatin dalam hati.