Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 33


__ADS_3

Amora mondar-mandir di depan Essa. Dia menceritakan tentang masalah hidupnya pada saudara kembarnya.


Wajahnya yang biasa terlihat tenang nampak berapi-api. Essa bisa memahami itu. Bagaimana pun dia tidak terima jika adiknya diperlakukan seperti itu, tapi jika tidak nyawa adiknya juga dalam bahaya.


"Aku tidak mengerti jalan pikiran Prince," gerutu Amora.


Essa menarik tangan Amora dan mendudukannya di sisinya. Mereka saling berhadapan.


"Dengarkan aku, pernikahan tanpa cinta itu hampa, sedangkan perceraian tidak juga membawa kebahagiaan," kata Essa.


"Tumben pikiranmu dewasa." Amora memegang dahi Essa sambil tersenyum. Essa meraihnya, dia melihat Amora dengan serius.


"Dengarkan aku. Mungkin Prince belum mencintaimu saat ini, namun aku yakin kau bisa membuatnya jatuh cinta."


Amora duduk bersandar di sofa sambil menerawang jauh. Dia menarik nafas dalam.


"Aku tidak yakin tapi aku akan berusaha. Itu juga pikiranku. Oleh karena itu, aku memanggilmu."


"Prince berjanji akan membantumu mendapatkan uang tanpa harus menjual saham orang tua kita. Syaratnya kau harus mengembalikan uang itu dalam waktu dua tahun jika tidak saham itu akan jadi jaminannya."


"Kau juga jadi jaminannya juga kah?" balik Essa.


" Maksudmu?" Amora tidak mengerti dengan perkataan Essa. Sejenak dia berpikir dan menganggukkan kepala.


"Kau paham kan maksudku kan? Prince ingin agar kau tetap di sampingnya dengan memberikan uang itu. Selama kau bersamanya maka tidak ada jaminan. Dua tahun yang dia butuhkan untuk meyakinkanmu untuk bersamanya."


"Jika aku tidak mau?"


"Maka saham keluarga Chandra akan jadi jaminannya. Aku tahu untuk menerima bantuan Prince jika seperti itu. Lebih baik aku tidak mengambilnya."


Amora menundukkan pandangannya. Menghela nafas panjang. Bertanya dalam hati apakah seperti itu rencana Prince, bukan karena dia ingin membantu Essa sepenuh hati.


"Prince orang yang perhitungan. Dia licik Amora."


Amora mengangguk. "Aku tidak perduli dengan kelicikan pria itu yang aku butuhkan saat ini adalah menyingkirkan Luna. Aku tahu trek hidup Luna bukan wanita baik-baik. Kakak kenal kan dunia permodelan, sangat besar kemungkinannya Luna masuk ke lubang hitam dunia itu."


"Tidak semuanya model seperti itu, Amora.


Amora menyipitkan matanya. "Pokoknya aku yakin Luna tidak sebersih itu. Hm aku dengar juga jika keluarga Perkasa sedang bermasalah dengan KPK terkait proyek pengadaan bahan baku untuk jalan di daerah X. Secara tidak langsung itu akan berimbas pada proyek lainnya yang mungkin akan mangkrak. Otomatis mereka butuh dana besar untuk menguatkan perusahaan mereka."


Perkasa Karya adalah perusahaan yang memasok bahan untuk jalanan. Seorang pimpinan daerah tertangkap dengan bukti uang yang ditransfer ke rekening pribadi karena penggelapan proyek penghalusan jalan di setiap daerah. Sedangkan proyek itu yang menggarap dan mengadakan bahannya dari perusahaan Perkasa. Padahal banyak proyek yang bodong dan juga yang pengerjaan asal-asalan. Itu membuat Perusahaan Perkasa sedang diinvestigasi terkait dengan dana perbaikan jalan.

__ADS_1


"Jika Luna bisa menjerat Prince maka mereka tidak akan khawatir dengan perusahaan itu. Sedangkan kau adalah halangan terbesar bagi langkah Luna untuk bisa mendapatkan Prince."


"Ya. Dia sangat licik."


"Sebenarnya Luna dan Prince itu sama-sama licik."


"Aku setuju itu," jawab Amora.


"Kau juga licik." Essa tersenyum licik. Amora membalasnya dengan anggukan dan senyuman.


"Itu baru namanya Amora."


***


"Dave, kau kah itu?" sapa Amora mendekat ke arah Dave yang sedang duduk sendiri di kedai kopi langganan mereka.


"Akhirnya aku bisa melihatmu juga," kata Dave menarik tangan Amora untuk duduk di depannya.


"Apa kau merindukanku?" tanya Amora.


"Bagaimana menurutmu?" balik Dave menyesap kopinya.


"Cappucino Latte," pesan Amora.


"Andai kita bertemu lebih awal mungkin aku akan mengejarmu terlebih dahulu daripada Prince. Dia terlalu bodoh untuk mengabaikan wanita baik sepertimu," ungkap Dave.


"Kenapa dia bodoh, dia pintar karena menikahiku," kata Amora santai sambil menyesap kopinya.


"Huh, aku kira kau tahu hubungan dia dengan wanita lain?''


"Biasa bagi seorang pria untuk mencari wanita sebagai pelampiasan seksnya, tapi dia akan selalu kembali pada istri sahnya."


Dave tidak percaya dengan kata-kata Amora. Bagaimana bisa dia sesantai itu menanggapi hubungan Prince dengan Luna. Seharusnya wanita itu akan marah jika cintanya di rebut oleh orang lain.


"Apakah kau tidak mencintainya?" selidik Dave.


"Kami menikah karena perjodohan. Saat ini cinta belum datang entah besok."


"Kalau begitu jangan cintai dia jika hanya berujung pada rasa sakit."


"Lalu aku harus mencintai siapa? Apa kau?" balik Amora dengan tatapan menjerat.

__ADS_1


Dave tertawa. "Kau sangat menarik Amora. Aku tahu kau tidak sebodoh itu untuk tahu kelakuan Prince di belakangmu."


"Apakah aku harus menangis karena itu? Aku bukan wanita seperti itu yang akan meratapi nasib begitu saja."


"Kau seorang pejuang, aku bisa melihatnya. Wanita yang mengagumkan dan seharusnya dipertahankan bukannya di abaikan. Andai aku suami maka aku tidak akan membiarkan kau sendiri dengan pria lain."


"Kau sangat pandai memuji, aku suka dengan rayuanmu itu. Tulus dan menyentuh perasaanku."


Seorang tiba-tiba memegang pundak Amora. Jantung Amora berhenti berdetak. Dia tahu siapa itu tanpa harus menoleh.


"Apakah kau sudah selesai bersenang-senangnya?''


Amora memegang tangan Prince dengan santai mengabaikan tatapan tajam pria itu.


"Hai Prince, kau pasti sangat mengenal temanku ini.''


"Ya, kami saling mengenal karena kau," balas Prince tidak senang.


Amora tertawa kecil sambil menutup mulutnya. "Kau masih ingat itu?"


Prince dan Dave saling menatap tajam untuk sesaat. Mereka sama-sama tidak mengalah membuat Lisa kebingungan.


"Prince, kau mau apa? Biar aku pesankan." Amora berusaha untuk mengalihkan perhatian Prince.


Tanpa aba-aba Prince langsung mencium bibir Amora yang merah. Membuat wajah wanita itu memerah. Ini tempat umum dan Prince melakukan hal yang seharusnya tidak dipertontonkan pada khalayak ramai.


Dave melihat ke arah lain dengan wajah tidak senang. Bagaimana dia sudah merasa tertarik dengan Amora dari awal hanya saja wanita itu ternyata adalah istri dari lawannya.


Setelahnya, Prince mengusap bibir Amora yang basah karena ulahnya. "Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku harus pulang kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang belum selesai. Kau tahu, asistenku tidak berangkat bekerja karena asik mengobrol dengan pria lain yang bukan suaminya," sindir Prince.


Amora nampak santai saja menanggapinya. "Mungkin bayaran asistenku kurang hingga dia tidak becus dalam bekerja."


"Oh, begitukah? Jika begitu mengapa dia mau melamar ke perusahaanku."


"Karena bosnya tampan jadi bisa sekalian cuci muka, tapi sayangnya bosnya adalah pria galak yang akan memakannya sampai habis tidak bertulang," balas Dave.


Prince mengepalkan tangan kesal.


.


''

__ADS_1


__ADS_2