
"Sialan," ujar Prince kesal karena ada orang asing yang ikut urusannya. Dia mendorong tubuh Dave yang menghalangi jalannya. Dave tidak bergeming.
Kemarahan Prince memuncak, dengan satu tangannya dia memukul keras wajah Dave. Hanya saja Dave lebih gesit, sehingga pukulan hanya mengenai udara saja.
Mengetahui hal itu, Prince kembali melayangkan pukulan kedua tapi Dave menangkisnya, setelahnya terjadi perkelahian hebat. Keduanya sama-sama kuat.
Amora menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari Prince.
Di saat yang sama, anak buah Prince sudah datang untuk membantu bosnya, tapi Prince menolak. Dia mereka berdua menyeka darah yang keluar dari bibir dan hidung.
Ketika sebuah tendangan hampir di layangkan oleh Dave, suara sirine mobil membuat perkelahian mobil terhenti.
Dua orang polisi turun dari mobil dan memeriksa keadaan.
"Tuan Liu dan Tuan Perkasa," panggil Polisi itu yang mengenal keduanya.
Prince menaikkan satu alisnya ke atas. Baru tahu jika lawannya itu ada hubungan keluarga dengan Luna. Dia menjadi penasaran siapa lawannya kali ini.
"Maaf kami tidak bermaksud melakukan keributan di pinggir jalan. Hanya saja ada sedikit perselisihan. Kami akan sudah membicarakannya dan menemui titik terang," ujar Prince.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Muda. Saya harap kekacauan ini segera berakhir karena kalian menghalangi jalan pengendara lainnya."
"Hmm mobil kalian?"
"Nah, ini mobil kami saling bersenggolan tapi akan dibicarakan secara kekeluargaan," lanjut Dave melirik ke arah Prince. Sejenak ingatannya kembali akan gadis muda yang tadi dia tolong. Kemana dia? Netra Dave mencari sekitar.
Prince juga segera sadar jika Amora telah menghilang.
Kedua Polisi langsung pergi setelahnya. Keluarga Liu dan Keluarga Perkasa adalah orang yang berpengaruh di daerah ini jadi Polisi itu tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka lebih jauh karena suasana di rasa sudah kondusif.
"Sialan, bagaimanapun kalian bisa kehilangan wanita itu," umpat Prince kesal.
Anak buah Prince saling menatap satu sama lain, mereka sudah tidak melihat keberadaan Amora sedari tadi.
"Bodoh!" Prince kesal pada anak buahnya. Sedangkan Dave tertawa mengejek.
"Perlakukan wanita dengan baik maka dia akan menurut," ujar Dave sebelum masuk ke dalam mobil.
Amora sendiri pergi pulang kembali ke rumahnya dengan memakai ojek pinggir jalan. Dia mengabaikan motor milik Essa di jalan. Pasti saudaranya itu akan memarahinya habis-habisan nanti. Berharap semoga motor itu tidak hilang diambil orang asing. Sayang motor itu harganya ratusan juga karena motor balap.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Bik Yuni langsung menyambutnya dengan wajah cemas.
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Bik Yuni.
"Ya, aku masih hidup dan bisa pulang. Dimana Essa, apakah penjahat itu membawanya pergi."
"Aku tidak selemah itu hingga harus dibawa pergi oleh penjahat itu."
"Aku heran dengan caramu bisa lolos dari malaikat maut itu," sarkas Essa.
"Ada yang menolongku," jawab Amora. Dia melihat wajah kakaknya penuh luka biru dan keunguan. Prince pasti telah memukulnya habis-habisnya.
"Kak, kau?" Amora hendak menyentuh wajah Essa namun Essa menyingkir.
"Ini hanya luka kecil. Bagiku yang penting kau bisa selamat."
"Prince apakah dia akan kemari lagi?"
"Sebaiknya kita bersembunyi saja di villa Bogor."
"Ide bagus, Kak." Mereka lalu memutuskan untuk pergi bersembunyi di sana.
Sedangkan Prince memilih pergi ke apartemennya. Dengan frustasi, dia mendudukkan diri di kursi malas sambil menikmati segelas minuman. Dia tidak menyangka Amora yang terlihat lugu sangat sulit untuk dia taklukkan.
Luna yang sedang menginap ditempat itu lantas turun untuk menemui kekasihnya yang baru saja kembali.
Dia memeluk Prince dari belakang, tapi pria itu malah seperti menghindari untuk dicium.
"Ada apa? Apakah ada masalah lagi dengan Amora?" tanya Luna. "Wajahmu."
Ada bekas luka di dekat bibir Prince akibat pukulan Dave tadi.
"Ini hanya luka kecil dan aku sudah mengobatinya sendiri."
"Prince ...."
Luna lantas memilih untuk duduk di samping Prince. Memeriksa luka pria itu dengan khawatir.
"Amora itu seperti belut yang sulit untuk aku pegang, terlalu licin," tutur Prince. Luna tidak suka jika Prince membahas tentang wanita itu karena Amora akan menjadi istri Prince. Walau begitu dia harus sabar agar bisa memiliki pria itu seutuhnya.
__ADS_1
"Kenapa kau bersikeras untuk menikahinya?"
"Sudah kukatakan jika Kakek hanya akan menyerahkan perusahaannya padaku bila menikahi Amora, jika aku tidak mau maka cucu Kakek lainnya yang akan menikah dengannya, mungkin William atau Bram."
Luna menghela nafas. Dia tahu jika Mountain adalah perusahaan besar yang sayang untuk dilepaskan. Empat puluh besar sahamnya adalah milik keluarga Candra lebih tepatnya milik Ayah Amora. Jika mereka bersatu maka kedudukan Prince akan kuat nantinya di perusahaan itu.
Sedangkan perusahan milik keluarga Perkasa memang besar tapi sahamnya sebagian besar telah dimiliki oleh orang luar. Ayahnya hanya memegang tiga puluh persen dan tiga puluh persen lainnya telah diserahkan pada Dave, sepupunya.
"Mungkin kau harus sedikit memaksanya untuk mau menikah denganmu. Tiga tahun yang lalu mungkin Amora gadis lugu yang bodoh tapi tiga tahun berikutnya dia telah belajar banyak di universitas, ada hal-hal yang tidak kau tahu tentangnya. Mungkin juga dia sudah punya kekasih sehingga dia tidak mempermasalahkan batalnya pertunanganmu dengannya. Dia juga tidak terlihat sedih."
Itulah yang membuat Prince kesal. Amora nampak tidak perduli dengan pembatalan pernikahan ini. Padahal setahunya, Amora mencintainya dan menuruti semua yang dia inginkan.
Prince memukulkan tangannya yang digenggam pada pegangan kursi dengan keras. Sambil menarik nafas panjang.
Luna bergelayut manja pada Prince. "Namun, setelah kau menikahi Amora, kau harus tetap mendahulukan aku daripadanya. Dia hanya bidak untuk jalanmu menuju kejayaan.
Prince menoleh ke arah Luna dan tersenyum sangat tipis penuh rahasia. Tidak ada yang bisa mengaturnya. Apalagi seorang wanita.
"Prince, kita belum memeriksakan kandunganku lagi. Aku ingin melihat perkembangannya," ucap Luna dengan lemah lembut. Tangan Prince diletakkan di perutnya.
"Kau pergi saja bersama Rony, aku harus menyelesaikan masalah Amora ini secepatnya. Sialnya di Essa datang dan merusak rencanaku. Amora yang sudah hampir di tanganku juga lolos karena pemuda yang sok jadi pahlawan. Aku kira pemuda itu adalah saudaramu karena nama belakangnya Perkasa."
"Siapa, aku punya lima sepupu lelaki."
"Dave, apakah kau mengenalnya?" tanya Prince.
"Dave, dia itu anak dari Pamanku. Dia wakil direktur perusahaan."
"Gayanya sok pahlawan. Aku tidak menyukainya."
"Dia pria yang baik dan tampan, semua wanita akan suka padanya. Wajar bila kau tidak menyukainya."
"Apa maksudmu?" tanya Prince tidak senang.
"Maksudku adalah kau tidak senang karena merasa punya saingan."
"Dia bukan sainganku. Kami beda level," ujar Prince tersinggung dengan kata-kata Luna.
"Katamu dia membantu Amora. Apakah mereka saling kenal sebelumnya? Wah jangan-jangan Amora sebenarnya punya hubungan dengannya makanya dia menolakmu."
__ADS_1
"Amora tidak bisa tidak menikah denganku karena aku adalah hidupnya. Tanpaku dia akan mati."