
Di sebuah klub malam yang berada di pusat kota. Seorang perempuan duduk di stoolbar, ia menatap seorang pria yang tidak sendirian berada di seberang, tak jauh dari tempatnya berada. Seorang pria yang tidak lain adalah Prince, suaminya sendiri. Prince tidak sendirian, melainkan bersama ketiga temannya, juga Mike, asistennya yang selalu setia mendampinginya.
Amora mengembuskan napas kasar, dia benar-benar jengkel karena Prince bersikap acuh tak acuh padanya. Bahkan pria itu juga yang memintanya untuk duduk di tempat lain.
Mencoba mengabaikan Prince dan rekan-rekannya, Amora memanggil bartender dan meminta vodka. Bahkan dia tidak peduli jika saat ini Prince diam-diam, melihat apa yang sedang dilakukannya. Amora meneguk vodka, untuk menghilangkan kekesalannya.
Amora kembali menatap ke arah tempat Prince. Di sana dia melihat Prince seperti sibuk bernegosiasi dengan rekan bisnisnya dalam pembelian senjata ilegal.
"Maaf, Tuan Boris. Saya sudah menawarkan harga khusus untuk Anda, dan tidak ada penawaran lagi," ucap Prince, dengan sikap tenangnya.
Boris melirik ke arah Erick dan Robert, namun kedua rekannya itu malah bersikap acuh tak acuh.
"Come on, Tuan Prince. Menurutku harganya tidak sebanding dengan barang yang kau jual. Lagi pula, kau sudah banyak mendapatkan untung jika menjualnya padaku."
Prince lantas tersenyum misterius, "Kalau tidak mau ya sudah, aku masih punya pembeli yang lebih profesional dari pada Anda."
Boris mendengkus, tak ada pilihan lain, pria angkuh itu pun akhirnya menyetujui dengan harga yang ditawarkan.
Untuk merayakan kesepakatan mereka, Boris mengajak Prince bersenang-senang sebentar. Bahkan pria itu mengundang beberapa wanita yang berpakaian sangat seksi untuk ikut serta dalam pesta kecilnya dan Prince tidak menolaknya sama sekali.
Amora yang melihat lima orang wanita masuk bergabung di sana, seketika itu pula hatinya mendidih.
Amora beranjak dan dia mendekati Disc Jockey, Amora menari di samping DJ tersebut dan membuat beberapa pengunjung bertepuk tangan ke arahnya.
"Ayolah, Tuan Prince. Kuharap kau adalah pria normal, ha ha ha," seloroh Boris. Bahkan di atas pahanya ada seorang perempuan ****** yang sudah duduk menghadap dirinya, sehingga aset pribadi yang seperti hendak tersembul keluar terlihat sangat menggoda pria tersebut.
Sedangkan Mike, pria itu sejak tadi berusaha menghindari godaan wanita penjaja.
__ADS_1
"Ayolah, Tuan. Jangan malu-malu untuk menyentuhku. Kau bisa melakukan sesuka hatimu." Mendengar ucapan perempuan itu, Mike yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya membenamkan wajahnya di antara dua gundukan kembar. Dia layaknya seorang bayi yang sangat kehausan.
Prince yang melihat Mike, hanya menggeleng kecil.
Sementara di dekat Prince, seorang perempuan yang hanya mengenakan penutup dua bukit kembar dan g-string, ia menggoda Prince dan duduk di pangkuan pria itu. Prince tetap bersikap tenang, meski sebenarnya dia sedikit risi karena wanita itu terus saja menyentuh area sensitifnya. Namun, Prince tetap tidak goyah.
Kemudian Prince melihat ke arah Amora yang sejak tadi menatap nyalang padanya. Prince mengabaikan tatapan itu. Dia harus bersikap profesional dan tidak ingin ada yang tahu, bahwa Amora adalah istrinya.
Amora yang kadung diliputi rasa kesal karena diabaikan, beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan menuju ke atas panggung. Dari sini, Prince mengawasi apa yang hendak dilakukan Amora.
Tanpa diduga, Amora yang sudah berada di atas panggung kecil. Tiba-tiba saja dia menari dengan gaya erostis ditambah lagi dia hanya mengenakan rok mini dan heels. Menambah point untuk tubuhnya yang molek dan seksi.
Amora menatap ke arah Prince dengan tatapan menantang, kemudian dia menari dan meliukkan tubuhnya di sebuah tiang. Tarian erotisnya berhasil membuat para pengunjung terpesona, sebagian dari mereka adalah para lelaki hidung belang, melihat gerakan Amora yang begitu memikat, tak ayal membuat mereka bersorak kegirangan. Sebagian bahkan melemparkan uang ke arah Amora.
Kini semua tatapan tertuju pada Amora yang masih enggan untuk turun dari panggung. Dia semakin menggila di atas sana dengan menari lincah.
Boris melihat Amora, lantas dia menoleh ke arah Prince. "Hei, bukankah wanita itu yang bersama denganmu tadi?" ucap Boris seraya menunjuk ke arah panggung.
Boris tersenyum menyeringai, "Dia sangat seksi, akan sayang jika tidak ada yang menikmati tubuhnya."
Mendengar ucapan Boris, Prince mengetatkan rahang dan kedua tangannya mengepal. Lantas dia menyingkirkan perempuan binal yang sejak tadi berada di pangkuan.
Akan tetapi, Prince menimbang apa yang hendak dia lakukan kepada Boris. Dia tidak ingin kesepakatan yang baru saja mereka lakukan batal begitu saja, jika mereka tahu bahwa Amora adalah istrinya.
"Prince, kau bersenang-senanglah dengan wanita yang ada di sini, aku akan kembali lagi." Boris mengedipkan sebelah mata kepada Prince.
Prince hanya terdiam, tidak merespons ucapan Boris. Sedangkan Erick dan Robert, kedua temannya itu justru telah mendapatkan wanita yang akan mereka tiduri malam ini. Mereka telah memboking kamar VIP yang ada di klub ini.
__ADS_1
Boris beranjak dari tempatnya dan menghampiri Amora yang masih menari erotis di atas panggung.
"Hei, Seksi ... kau terlihat sangat menggairahkan malam ini," ucap Boris, vulgar.
Amora yang terkejut melihat Boris tiba-tiba ada di hadapannya, mendadak dia menghentikan gerakannya, dan menatap nyalang ke arah Boris.
"Jangan melihatku seperti itu, aku akan membayarmu berapa pun yang kau mau, asal kau mau memberiku kepuasan malam ini. Bagaimana hem?" Boris tersenyum menyeringai ke arah Amora.
Amora menghela napas, dia berusaha untuk mengabaikan Boris.
Merasa diabaikan, Boris mendadak emosi, lantas dia menarik pinggang Amora hingga tubuh keduanya menempel.
"Menjauh dariku, sialan!"
Bukan hanya itu, bahkan Amora juga melayangkan tamparan keras ke wajah Boris, sehingga membuat tangannya kebas karena terlalu kuat menamparnya.
Boris yang memegangi pipinya panas, tamparan itu tidak begitu keras dia rasakan hanya saja rasa malu karena ditolak di depan semua orang membuat harga dirinya jatuh. Dia lantas dia menatap nyalang ke arah Amora.
"Kau! Berani sekali kau menamparku, hah?!" bentak Boris. Dia kembali mendekati Amora dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan cukup kuat.
Amora meringis kesakitan, sebisa mungkin dia mencoba untuk menyentak pergelangan tangannya dari cekalan Boris.
"Le-lepaskan aku, Brengsek! Aakh ...." Amora meringis kembali saat Boris menekan pergelangan tangannya. Itu terasa nyeri sekali.
Para pengunjung yang melihat adegan itu pun mengabaikan dan melanjutkan aktivitas mereka kembali. Seolah tidak peduli dengan apa yang menimpa Amora saat ini.
"Kau itu perempuan murahan, kenapa harus bersikap sok suci di depanku, hah?!" Ucapan Boris membuat hati Amora mendidih. Dia ingin melawan, tapi tenaga pria itu justru lebih kuat dibanding dirinya.
__ADS_1
"Akan kutunjukkan padamu siapa Boris sebenarnya."
Saat Boris hendak menyeret Amora turun dari panggung, tiba-tiba saja dia dihalangi oleh sosok pria yang melempar sorot tajam ke arahnya. Mendadak gerakan Boris terhenti, "Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Boris.