Istri Satu Juta Dolar

Istri Satu Juta Dolar
Bab. 50


__ADS_3

"Hatiku telah patah. Dia secara terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai Luna. Istri pertamanya. Memangnya siapa kau, Amora? Kau hanya wanita yang datang setelah mereka berdua menjalin hubungan. Bukankah kau seharusnya cukup puas karena sudah mencapai keinginanmu?" Amora membatin. Hatinya terluka atas pengakuan dari Prince.


Tanpa arah, Amora terus berjalan. Dengan pikiran yang entah, wanita itu membawa langkah kakinya menuju ke arah pantai. Dada Amora terasa sesak saat ia mengingat pengakuan dari Prince.


"Hmmm. Dunia ini indah. Tapi tidak dengan manusia. Percaya pada sesama manusia pun percuma." Amora menghapus air matanya.


Wanita itu berjalan di tepi pantai. Menikmati angin yang berhembus menerbangkan anak rambutnya. Matanya menerawang jauh. Sesekali Amora merapikan anak rambutnya. Ia mencoba untuk baik-baik saja, tapi tetap tidak bisa mencegah rasa kecewa menguasai hatinya.


Dari kejauhan seorang laki-laki tampak memperhatikan Amora. Alisnya menukik tajam. Penasaran, ia pun mengikuti kemana wanita itu pergi. Ternyata Amora menuju ke pantai. Wanita itu berjalan santai. Namun, laki-laki yang mengikuti Amora merasa bila wanita itu sedang sedih.


"Sebenarnya apa yang akan dia lakukan?" tanya Dave.


Laki-laki itu mencoba mendekat lagi pada Amora. Perlahan tapi pasti. Sepertinya wanita itu memiliki banyak beban. Sehingga Amora tidak sadar atas kedatangannya. Amora merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Sesekali wanita itu mengulum senyuman.


"Amora," panggil Dave.


Amora menoleh. "Dave?"


Dave berjalan mendekat. Laki-laki itu duduk di samping Amora yang berdiri. Melihat Dave yang duduk, Amora ikut duduk di pasir. Hamparan pasir putih yang terbentang memang menenangkan hati. Tak hanya itu, deburan ombak mengiringi setiap hembusan angin yang menyapa Amora maupun Dave.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dave.


"Aku? Sedang menikmati hidup. Kau sendiri mengapa bisa sampai di sini?" balas Amora.


"Kenapa? Aku bosan dan merokok di sana. Tapi aku melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Prince?" Dave mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun ia tidak melihat adanya Prince di sana.


"Dia sedang memiliki pekerjaan. Aku lelah dengan pekerjaan yang menumpuk. Otakku tidak sampai sana. Biarkan saja dia mencariku," sahut Amora.

__ADS_1


Dave mengamati mimik wajah Amora. Meski Amora berusaha untuk menutupi kesedihannya, Dave adalah laki-laki yang cukup peka. Apalagi ini menyangkut Amora. Tentunya Dave sangat memahami karakter dari Amora.


"Maaf, Ra. Tapi aku merasa kau sedang tidak baik-baik saja. Mengapa kau terlihat sedih?" Dave menodong Amora dengan pertanyaan yang sensitif bagi Amora.


Namun, Amora enggan untuk menjawabnya. Wanita itu memilih mengalihkan pandangan menuju ke laut. Ia tersenyum. Bagaimanapun ini masalah rumah tangganya. Amora tidak ingin orang lain ikut mencampuri urusannya.


Amora menggelengkan kepala. "Terkadang apa yang kita lihat itulah yang fana, Dave. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku teringat masa-masa keluargaku berkumpul. Di tempat ini. Mungkin aku bisa bermanja dan bersenang-senang. Aku hanya teringat bagaimana mereka menyayangiku. Sekarang semua sudah berbeda."


"Ya, benar. Semuanya berbeda, Ra. Kau memiliki madu yang menjadi duri dalam hidupmu. Di dalam sana, suamimu mungkin sedang bermanja dengan Luna. Apa itu yang membuatmu sedih?" Dave rupanya tidak tertipu. Laki-laki itu sepertinya tidak mudah untuk dibohongi.


Amora menatap Dave untuk waktu yang lama. Kemudian mata Amora kembali menatap laut yang membentang di depan matanya. Kosong. Hati Amora seperti kosong. Terngiang di telinga Amora pengakuan dari Prince yang mencintai madunya itu.


Apakah itu artinya Prince tidak mencintainya? Apakah kebersamaan mereka selama ini palsu? Begitulah benak Amora bertanya dalam hati. Padahal waktu yang mereka lalui cukup lama. Dave pun melakukan hal yang sama. Laki-laki itu mengikuti mata Amora yang menatap lurus ke depan.


"Apa kau menyesal sekarang?" Dave bertanya tanpa menoleh.


Dave berdiri. Ia mengulurkan tangan untuk Amora. "Ayo, berdiri. Di sana ada cumi-cumi bakar. Kau tidak ingin mencobanya?"


Amora menatap uluran tangan dari Dave. Wanita itu tersenyum. Lalu ia menyambut uluran tangan dari Dave. "Kalau kau yang mentraktir mungkin aku akan ikut denganmu."


"Amora, turunkan gengsimu. Kau bahkan sudah menggenggam tanganku. Apa ini? Matamu masih bisa melihatnya bukan?" Dave mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Amora. Membuat wanita itu kesal dan mencubit pinggang Dave.


"Auw! Amora! Tanganmu kenapa mencubitku? Dasar wanita tidak berhati." Dave mengusap pinggangnya yang sakit. Sesekali Dave meringis. Namun, Dave cukup lega sebab Amora tertawa.


"Kau seperti ulat menggeliat di panas terik matahari, Dave!" Amora tertawa lepas.


Melupakan sesak di hatinya untuk sejenak. Hingga tanpa sadar kini mereka telah sampai di pedagang kaki lima yang menjual gurita maupun cumi-cumi bakar. Kedua mata Amora berbinar. Karena seafood yang ada di sana berukuran besar-besar.

__ADS_1


Dave melepaskan genggaman tangan Amora. Lalu laki-laki itu menunjuk pada salah satu menu yang ada di papan. "Kau ingin yang mana, Ra? Sepertinya gurita bakar enak. Aku belum pernah mencobanya."


"Aku juga mau, Dave! Jangan lupa kalau kau yang mentraktirku ya?" Amora berbinar ketika Dave memesan pada penjualnya. Namun, Dave mengerucutkan bibirnya. Membuat Amora kembali tertawa.


"Wajahmu sangat lucu, Dave. Kenapa kau manyun begitu?" Amora menunjuk wajah Dave.


"Kau belum pernah mengajakku untuk makan enak. Seharusnya kau membelikan aku makanan. Bukan aku yang harus mentraktirmu, Ra," kesal Dave.


Akhirnya Amora mengalah. Wanita itu menghentikan tawa dan melambaikan tangan pada Dave. Hingga pesanan mereka berdua pun telah selesai. Amora dengan antusias menerima gurita bakar yang disodorkan oleh penjual.


"Amora, bisakah kau jangan norak seperti itu?" Dave menegur Amora sebab wanita itu sangat tidak sabar menerima makanannya.


"Diamlah, Dave! Kau seperti orangtua! Pak, dia yang bayar ya!" Amora juga menerima satu botol minuman dari penjual stand minuman.


Lalu dengan tanpa berdosa Amora membawa pergi makanan dan minumannya hasil dari memalak Dave. Sedangkan laki-laki itu melongo karena tanpa sepengetahuannya Amora sudah memesan minuman.


"Astaga! Apa-apaan dia? Sejak kapan dia memesan minuman?" Dave melongo di tempatnya. Sampai akhirnya ia ditodong uang dari penjual stand minuman yang ada di sampingnya.


"Mas, uangnya belum!"


Setelah membayar, Dave menggerutu sepanjang perjalanan. Matanya bergerak liar mencari sosok yang sudah membuatnya malu sebab ditagih uang minuman pesanannya. Tampak Amora menikmati gurita bakar di pantai. Wanita itu duduk dan makan seolah tanpa beban.


"Andai kau selalu tersenyum seperti itu, Amora." Dave menggumam lirih. Laki-laki itu kemudian berjalan ke tempat Amora berada.


"Kau senang? Tadinya aku ingin marah tapi tidak jadi," seloroh Dave.


Amora menganggukkan kepala. "Terima kasih, Dave. Hari ini aku senang. Setidaknya aku melewati hariku tanpa sia-sia."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, Ra. Jika kau merasa lelah maka aku akan siap untuk menjagamu," tawar Dave.


__ADS_2